Kill & Love

Kill & Love
14: Aku Sudah Terbiasa



Tepat pukul 12 siang Luhan keluar dari kamarnya dan mendapati rumah begitu sepi, ia tidak menemukan L dan Dio di manapun selain Jessica yang sedang duduk termenung di sofa ruang tengah. Luhan memicingkan matanya melihat apa yang tengah di lakukan oleh gadis itu. Luhan hendak menghampiri Jessica namun getaran pada ponselnya menghentikan langkahnya.


"Lim Yunna?" gumamnya lirih


Penasaran kenapa gadis bermarga Im itu menghubunginya, Luhan segera menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan itu "Ada apa kau menghubungiku?" tanyanya to the poin, nada bicaranya dingin dan datar.


"Oppa, aku di Korea sekarang,"


"Kau di Korea? Bukankah kau di America?"


"Aku pulang untuk menemuimu,"


"Baiklah, besok kau boleh datang dan tinggal disini." Luhan memutuskan sambungan telfonnya dan memasukkan kembali ponsel itu kedalam saku celananya.


Yunna sendiri adalah putri dari orang tua angkatnya. Tak lama setelah kepergian nenek dan kakeknya, Luhan sempat di angkat putra oleh seorang pengusaha terkenal bermarga Lim. hampir 2 tahun Luhan tinggal dan hidup bersama mereka, tuan Lim dan putrinya yang bernama Yunna sangat baik padanya namun tidak dengan nyonya Lim.


Nyonya Lim sangat membenci Luhan dan dia pula yang mengusir pemuda malang itu dari rumahnya, karna baginya kehadiran Luhan hanya menambah beban saja. Namun diam-diam Yunna menaruh hati pada Luhan, gadis itu mencintai kakak angkatnya layaknya perasaan wanita kepada pria.


Selama ini Yunna masih sering menghubungi Luhan hanya untuk tau bagaimana kabarnya, dan setelah mereka sama-sama tumbuh dewasa, cinta yang Yunna miliki untuk Luhan semakin besar apalagi setelah dia tau jika kakak angkatnya itu tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Bahkan Yunna sudah berani mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan pada Luhan.


Berbeda dengan gadis itu. Luhan tidak pernah memiliki perasaan apa pun pada gadis itu. Karena rasa sayang Luhan pada Yunna tidak lebih dari rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Dan Yunna tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Luhan. Meskipun pemuda itu sudah berkali-kali menolaknya dan tidak pernah bersikap manis padanya namun Yunna tetap percaya jika suatu saat ia akan memenangkan hati Luhan.


"Dimana Dio dan L?"


Jessica mengangkat wajahnya dan mendapati pemuda berpenampilan serampangan berdiri di depannya dengan tatapan datarnya. Alih-alih menjawab, Jessica malah menatap mata abu-abu itu tanpa berkedip.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tegur Luhan dan segera menyadarkan Jessica.


Membuat gadis itu gelagapan dan salah tingkah "Em... itu, anu... mereka sedang keluar."


"Keluar? Kau tau kemana mereka pergi?" tanya Luhan, Jessica menggeleng cepat.


"Aku tidak tau. Karena mereka tidak mengatakan apa pun, hanya saja mereka berpesan, jika mereka akan pulang sebelum jam makan malam." ujar Jessica memaparkan. Luhan menatap wajah cantik itu dan mengangguk paham.


Luhan berjalan meninggalkan Jessica sendiri di ruang tengah, namun tidak sampai 10 menit Luhan kembali sambil menenteng sebotol red wine dan sebuah gelas yang kemudian ia letakkan di atas meja.


"Kau masih terlihat pucat, sebaiknya makan dan minum obatmu secara teratur." ucap Luhan tanpa menatap lawan bicaranya. Tatapannya hanya tertuju pada gelas yang dia mainkan di tangan kanannya.


"Berhenti melakukan sesuatu yang membuat orang lain cemas."


Jessica menengokkan kepalanya ke arah Luhan yang baru saja mengeluarkan suaranya. Jessica menatap Luhan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meskipun penampilannya serampangan, namun hal itu tidak mengurangi sedikit pun ketampanan yang Luhan miliki.


Luhan masih belum mengalihkan pandangannya dari gelasnya, kemudian ia meminum wine-nya dan menghela nafas."Maaf Lu, aku tadi hanya ingin..." Jessica tidak tau kenapa ia harus meminta maaf pada Luhan. Namun belum selesai Jessica menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Luhan memotong ucapannya.


"Bagaimana jika tadi aku tidak tiba di dapur tepat waktu? Bisa saja sesuatu yang lebih buruk menimpamu, bagaimana jika kepalamu sampai terbentur sesuatu dan kau terluka. Berhentilah bertindak ceroboh, dan pikirkan baik-baik kondisimu sebelum kau melakukan sesuatu."


Jessica menatap Luhan dengan tatapan tak terbaca. Pemuda itu kembali menghela nafas panjang dan mendesah gusar, Luhan terlihat seperti orang yang sedang..... Khawatir? Jessica menggeleng, karena tidak mungkin Luhan yang galak dan tidak terlalu menyukai dirinya tiba-tiba mencemaskan keadaannya.


Bukankah itu adalah hal yang sangat tidak mungkin meskipun tidaklah mustahil. Jessica tidak berani menjawab, gadis itu memilih diam sambil menundukkan wajahnya. Sesekali Jessica memberanikan diri untuk melirik Luhan menggunakan ekor matanya, terlihat pemuda itu meminum kembali wine-nya hingga tandas tidak tersisa.


Jessica menelan salivanya saat tiba-tiba Luhan menolehkan kepalanya, mata abu-abunya menatapnya tajam dan intens, merasa tidak sanggup. Jessica mengakhiri kontak mata itu dan menatap kearah lain, Jessica benar-benar terhipnotis oleh mata itu.


"A..aku lupa, jika tadi aku menyalahkan air di kamar mandi, se..se..per..ti..nya sudah penuh. Aku akan melihatnya dulu." kata Jessica seraya bangkit dari duduknya.


"Malam ini kemasi barang-barang mu dan pindahkan ke kamarku."


Jessica menghentikan langkahnya lalu berbalik badan, terlihat Luhan bangkit dari duduknya dan menghampiri dirinya. "Mulai besok malam kamarmu akan di tempati oleh orang lain. Adik angkatku yang baru tiba dari luar negeri dan mulai besok akan tinggal bersama kita di sini." sambung Luhan menjelaskan.


"Jika aku menempati kamarmu, lalu kau akan tidur dimana? Di rumah ini hanya ada tiga kamar saja."


"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu, aku bisa tidur di sofa. Aku mengenal gadis itu dengan sangat baik, dia tidak suka berbagi apa pun dengan orang lain termasuk kamar. Dia adalah gadis yang angkuh dan manja, aku harap kau bisa menyesuaikan diri dengannya dan jangan terkejut dengan sikapnya yang kurang baik. Dia memang seperti itu," ujar Luhan.


Jessica tersenyum lembut, gadis itu maju satu langkah dan semakin membunuh jaraknya dengan Luhan. "Kau tidak perlu mencemaskan apa pun tentang diriku, sejak kecil aku selalu di perlakukan kurang baik bahkan hingga aku dewasa. Hal semacam itu sudah terlalu biasa untuknya, sangat biasa malah." ujar Jessica.


Luhan mengulurkan tangan kirinya, jari-jarinya menghapus air mata yang membasahi pipi kanannya. Sepasang mutiara abu-abu miliknya mengunci manik Hazel milik Jessica, tatapannya melembut. Luhan meraih tengkuk Jessica dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.


.


.


Bersambung.