Kill & Love

Kill & Love
11: Dia Telah Tiada



"Jadi begitu ceritanya? Aku tidak menyangka bila mereka bisa sekejam itu padanya."


Obrolan itu hanya di dominasi oleh Dio , L dan Dokter wanita itu. Sementara Luhan memilih diam dan menjadi pendengar setia, bahkan tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibir pemuda bertatto itu. Raut wajah Luhan selalu berubah-ubah setiap mendengar cerita Dokter muda itu mengenai masa lalu Jessica. Luhan tidak pernah tau bila Jessica memiliki masa lalu yang lebih kelam darinya.


"Oya, Dokter Nunna. Memangnya dimana ayah Sica nunna? Kenapa dia diam saja melihat putrinya ditindas seperti itu? Dan kenapa juga Sica Nunna tidak melawan saat ditindas oleh kakak dan Ibu tirinya? Bukannya dia lebih berhak atas semua harta milik, Tuan Valerie?" ucap Dio menyampaikan rasa penasarannya.


"Ayah Sica meninggal sekitar 6 bulan yang lalu. Beliau meninggal karna sakit, selama 6 bulan ini aku terus mencarinya untuk menyampaikan kabar duka ini padanya. Namun Sica benar-benar seperti lenyap di telan bumi, dan alasan kenapa dia tidak melawan itu karna Sica memang tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti semua kemauan mereka,"


"Sica, selalu di ancam dan mereka akan membunuh ayahnya jika dia berani melawan. Sebenarnya dia bukanlah gadis yang lemah yang memilih pasrah ketika ditindas, namun keadaan lah yang memaksanya untuk pasrah. Selain dia adalah gadis yang kuat namun ceroboh, Sica juga ahli dalam bela diri dan dia adalah sniper yang handal."


"Aku sangat berterimakasih pada kalian bertiga karena sudah mengijinkan gadis malang itu untuk tinggal di sini dan menjaganya." wanita itu menyeka air mata yang tanpa bisa di cegah jatuh membasahi pipinya. Menceritakan hidup Jessica membuat dadanya berdenyut sakit.


Raisa dan Jessica memang tidak memiliki ikatan darah , namun mereka dekat dan hubungan mereka berdua layaknya saudara kandung. Hanya Raisa satu-satunya orang yang peduli pada semua yang menimpa hidup Jessica, dan dia adalah sahabat terbaik yang Jessica miliki.


"Mereka benar-benar ya, rasanya aku ingin sekali menggunduli kepala Ibu dan anak itu." ujar Dio berapi-api.


Dio gemas sendiri pada Ibu dan kakak tiri Jessica, rasanya dia ingin sekali menggunduli kepala mereka dan membakar mereka berdua hidup-hidup.


Kemudian Raisa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari, dia menghela nafas berat. "Oya, setelah Sica sadar. Segera minumkan obatnya, aku harus pulang sekarang."


"Ini sudah dini hari, aku akan mengantarmu pulang, Dokter." kata L seraya bangkit dari duduknya, Raisa tersenyum lalu mengangguk.


"Baiklah, asal tidak merepotkan." balasnya. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan Luhan dan Dio yang masih belum beranjak dari duduknya.


"Hoam, Hyung aku tidur dulu." kata Dio yang hanya di sikapi tatapan datar oleh Luhan.


Dio berkali-kali menguap dan segera masuk kedalam kamarnya. Luhan pun tidak mau ketinggalan, pemuda dalam balutan pakaian tanpa lengan itu bangkit dari duduknya dan bergegas pergi ke kamarnya.


Luhan menghentikan langkahnya saat melewati kamar Jessica, pintu kamar itu tidak tertutup sepenuhnya. Gadis itu sepertinya sudah sadar dari pingsannya, terlihat Jessica berusaha untuk duduk meskipun sedikit kesulitan, Jessica merasakan pusing yang luar biasa pada kepalanya.


Laki-laki terus memperhatikan Jessica dari sela-sela pintu yang terbuka. Jessica berusaha mengambil air putih yang ada di atas nakas kecil samping tempat tidurnya. Namun sepertinya Jessica sedikit kesulitan, jarinya terulur untuk meraih gelas itu sampai akhirnya....??


"Aaahhh." gelas itu jatuh begitu pula dengan Jessica.


Gadis itu terjatuh dari tempat tidurnya dan pecahan beling dari gelas itu melukai telapak tangannya. Melihat hal itu tak lantas membuat Luhan diam saja. Luhan segera menghampiri Jessica lalu mengangkat dan membaringkan di atas tempat tidur.


"Dasar ceroboh, tidak bisakah sekali saja kau tidak merepotkan orang lain. Dan lihatlah karena ulahmu ini, aku harus menunda waktu istirahatku hanya untuk membersihkan pecahan-pecahan beling ini." ujarnya di tengah kesibukannya membersihkan darah pada telapak tangan Jessica


"Tidak bisakah sekali saja kau tidak mengenaliku, apa kau tidak memiliki sedikit pun simpatik padaku? Aku sedang sakit, Luhan. Jadi jangan mengomel terus." Jessica mencerutkan bibirnya.


Luhan menatap gadis itu dan berdecak sebal."Dasar cerewet," katanya menimpali.


Luhan menatap wajah Jessica dengan tatapan tak terbaca, pemuda bertatto itu tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Jessica jika ia tau bila Ayahnya telah tiada.


Setelah membersihkan dan mengobati luka di telapak tangan Jessica, Luhan membersihkan pecahan-pecahan beling itu hingga bersih. Luhan tau bila Jessica sangat ceroboh, satu pecahan beling saja maka akibatnya akan fatal untuk Jessica.


Bisa saja gadis itu terluka lagi. Luhan meninggalkan kamar gadis itu, namun tidak lama berselang Luhan kembali dengan segelas air putih dan beberapa butir obat yang kemudian ia berikan pada Jessica.


"Minum dulu obatmu, setelah ini segera tidur. Aku tinggal dulu,"


"Luhan," pemuda itu menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Terimakasih," kata Jessica yang hanya di balas anggukan oleh Luhan. Pemuda itu melanjutkan langkahnya dan melenggang pergi.


.......


.......


"Langsung saja, untuk apa kau datang menemui kami?" tanya Luhan tanpa basa basi.


"Aku ingin kalian menghabisi seseorang." Wanita itu melemparkan beberapa foto keatas meja, Dio mengambil foto-foto itu.


Matanya membelalak, segera ia tunjukkan foto-foto itu pada Luhan dan L. Sama seperti Dio, mereka berdua pun terkejut "Dia adik tiriku, namanya Jessica. Aku ingin kalian melenyapkan gadis dalam foto itu, itu uang mukanya dan sisanya akan...."


"Kami menolaknya." Luhan menyahut cepat. Tanpa mengatakan apa pun, pemuda itu melenggang pergi.


"Apa? Kenapa?! Apa bayarannya kurang?? Aku bisa memberi kalian 3 kali lipat jika kalian berhasil melenyapkannya."


"Apa masih kurang jelas? Sekali lagi aku pertegas kan padamu, Nona Muda. Sebaiknya kau pergi dan jangan coba-coba datang lagi kemari. Bawa kembali uang-uangmu." titah Dio yang mulai berapi-api.


"Yakkkk...!!!"


"Aaahhh.." wanita itu meringis merasakan sakit yang luar biasa pada punggungnya yang di dorong kuat oleh L,


Biasanya L satu-satunya orang yang bisa bersikap tenang, namun kali ini ia pun kehilangan kesabarannya karna wanita ini.


"Aku peringatkan padamu, Nona. Kami memang seorang pembunuh bayaran, membunuh adalah pekerjaan utama kami. Tapi jika kau meminta kami membunuh gadis ini, dengan tegas kami menolaknya. Dan jangan coba-coba untuk mengusik apalagi berusaha membahayakan nyawanya, jika itu terjadi. Maka kau akan berhadapan langsung dengan kami bertiga, ingat itu." L melepaskan cengkeramannya dan sedikit mendorong tubuh gadis itu. L berbalik dan melenggang pergi.


Luhan berhenti di ujung tangga, mata abu-abunya menatap tajam gadis itu. "Ingat baik-baik apa yang kedua temanku katakan, atau kau akan kehilangan kepalamu." ucap Luhan tenang namun penuh penekanan.


Sorot matanya tajam penuh intimidasi, Luhan berbalik dan pergi begitu saja. Wanita itu di tinggalkan sendiri di ruangan itu, satu persatu meninggalkan dirinya. "AAARRKKKHHHH... Sialan kalian semua..." teriak wanita itu, suaranya membahana memenuhi seluruh penjuru ruangan.


Dan suara itu pula sampai ke telinga Jessica."Vera Kim," susah payah Jessica mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya namun sepasang tangan lebih dulu menahannya


"Mau kemana kau?" tanya orang itu, suara dingin terlewat datar itu membuat Jessica sedikit tersentak. Sontak ia mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan berdiri didepannya dalam jarak yang sangat dekat.


Jessica buru-buru mengakhiri kontak matanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jessica tanpa menatap lawan bicaranya.


Alih-alih menjawab, Luhan memberikan beberapa butir obat dan segelas putih pada Jessica. "Sudah waktunya minum obat, habiskan makan siangmu dan segera minum obatmu. Kemudian istirahat, kau sudah merepotkan semua orang." ujar Luhan.


"Kau semakin keterlaluan saja, Lu. Aku tidak tau sebanyak apa cabe yang sudah kau makan pagi ini, sampai-sampai kau mengatakan kalimat sepedas itu pada Jessica?" sahut L dari arah pintu.


Luhan berdecak lidah dan menatap pria itu kesal. "Ck, dasar cerewet." L menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya melihat sikap Luhan yang tidak pernah berubah. Bermulut tajam dan sedingin kutub utara


"Bagaimana keadaanmu?" tanya L seraya duduk di samping Jessica bersandar


"Seperti yang kau lihat, aku sudah jauh lebih baik." jawabnya. Kris membetulkan letak selimut Jessica yang sedikit tersingkap di bagian kakinya.


"Nunna, lihatlah. Aku belikan banyak buah-buahan untukmu. Kau harus makan buah yang banyak agar segera sembuh." Dio datang dengan sekeranjang penuh buah-buahan segar.


Jessica tersenyum lembut, gadis itu tak kuasa menahan air matanya. Ia sangat bahagia karna memiliki teman-teman seperti Luhan, Dio dan L.


Meskipun Luhan selalu bersikap dingin dan kasar padanya, namun Jessica percaya bila Luhan juga peduli padanya seperti L dan Dio. Tinggal 1 tahun bersamanya, sedikit banyak Jessica memahami sifat asli Luhan yang selama ini tersembunyi di balik sikap dinginnya.


.......


.......


...Bersambung....