
"Mundur ah, biar aku yang membereskan mereka." kata Luhan lalu melepaskan genggaman tangan Jessica.
"Apa yang kalian tunggu? Maju dan habisi nyawa gadis itu."
"Tidak semudah itu, kalian harus lebih dulu melangkahi mayatku." sahut Luhan dan menahan serangan yang mengarah padanya. Mengangkat wajahnya perlahan dan menatap pria di depannya dengan pandangan membunuh.
Tubuh pria itu terhempas dan menghantam dinding karna tendangan telak Luhan. Adu pukul antara Luhan dan para pembunuh bayaran itu pun tidak dapat terhindarkan. Pemuda itu menghalau dan menumbangkan beberapa pria yang mencoba untuk mendekati Jessica.
Kali ini Luhan tidak akan membiarkan Jessica melibatkan dirinya dalam bahaya, pemuda itu terus membayangi gadis itu dan berusaha melindunginya. Adu pukul, saling tentang mewarnai perkelahian yang sedikit tak seimbang itu. Sudah banyak di antara mereka yang berhasil Luhan tumbangkan dengan mudah.
Satu tembakan Luhan lepaskan pada pria yang hendak meng hampiri Jessica hingga tubun itu jatuh seketika setelah sebuah peluru menembus kepalanya dan kini hanya menyisakan satu orang saja yang sejak tadi memberikan perintah.
Tubuh laki-laki itu gemetar ketakutan melihat seluruh anak buahnya terkapar setelah di hajar habis-habisan oleh Luhan. Tiga di antaranya sekadat dan 1 anak buahnya meregang nyawa. Membuang senjatanya dan pergi begitu saja.
"Cihh.. dasar bajingan."
"Lu." Jessica menghampiri Jessica dan menghambur kekasihnya itu, gadis berparas barbie tersebut mengangkat wajahnya dan mendapati pelipis kiri dan tulang pipi atasnya robek karna sabetan senjata tajam mereka."Kau terluka dan berdarah. Sebaiknya kita cari apotek dulu, aku akan mengobati lukamu.
.......
.......
"Nah selesai." Jessica tersenyum tipis, luka di wajah Luhan sudah selesai ia obati dan sudah tertutup perban.
Jessica membereskan kapas berlumur darah yang ia gunakan untuk membersihkan darah dan mengobati luka di wajah Luhan kemudian membuangnya ke tempat sampah.
"Aku akan membereskan ini dan membeli minum, tunggulah di sini sebentar."
Jessica beranjak dari sisi Luhan dan hendak melangkah pergi jika saja tidak ada tangan yang menghentikan langkahnya. Terlihat Luhan mengeluarkan dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang pada Jessica.
"Gunakan uang ini untuk membeli minuman."
Jessica mendorong pelan tangan Luhan."Tidak perlu, aku membawa uang kok." tolaknya halus.
Luhan yang memang tidak suka penolakan meraih tangan Jessica kemudian meletakkan uang itu di atas telapak tangannya. "Jangan lama-lama, aku akan menunggumu di sini." Karna tidak ingin membuat luhan kecewa, dengan terpaksa Jessica pun menerima uang itu dan menggunakan uang Luhan untuk membeli minuman.
"Terimakasih."
Jessica mengambil tempat di samping Luhan. Keduanya duduk bersebelahan di bangku taman, menikmati langit malam berbintang. Tidak banyak percakapan di antara mereka, kebersamaan sepasang kekasih itu hanya di isi oleh obrolan-obrolan ringan saja.
Perlahan Jessica menyandarkan kepalanya di atas bahu lebar Luhan, pemuda itu menoleh dan mengulum senyum tipis. Mengangkat salah satu lengannya yang kemudian ia gunakan untuk memeluk bahu Jessica.
Gadis itu memandang langit dengan mata berkaca-kaca, rasa sesak seketika memenuhi ruang kosong dalam hatinya saat melihat bintang-bintang yang berpijar menghiasi langit malam. Rasa rindu yang begitu berat ia rasakan, dan ketika rindu itu datang mendera, hanya memandang bintang lah yang selalu ia lakukan.
"Aku merindukan mereka."
Luhan sedikit tersentak mendengar suara parau Jessica. Pemuda itu mengangkat wajahnya dan mendapati wajah sang kekasih basah oleh air matanya sendiri "Sica?"
"Mama dan papa sudah pergi meninggalkanku. Kini aku hidup sebatang kara dan itu rasanya menyakitkan Lu, aku... aku..." Jessica tidak melanjutkan ucapannya, menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya.
Luhan mendesah. Di raihnya bahu Jessica dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Kau tidak pernah sendiri, sayang. Kau masih memilikiku, kau juga memiliki mereka berdua serta JB, jangan pernah merasa sendiri di dunia ini. Karna bagaimana pun keadaannya kami semua tidak akan pernah meninggalkanmu. Sama sekali tidak." ujar Luhan.
Luhan mengusap punggung Jessica dengan gerakan naik turun, menggunakan kepala gadis itu sebagai sandaran dagunya. Luhan menutup matanya mendengar isakan pilu Jessica.
"Aku takut jika suatu saat satu persatu kalian akan meninggalkanku juga, aku tidak ingin kehilangan lagi Lu. Aku.. aku.."
"Sstt.. jangan katakan apa pun lagi. Tatap mataku dan katakan jika kau mempercayaiku, apa pun dan bagaimana pun keadaannya nanti aku akan tetap bersamamu."
Luhan memegang bahu Jessica dan mengunci manik Hazel-nya. Jessica tidak menemukan kebohongan sedikit pun, baik itu dalam tatapan Luhan maupun ucapannya. Jessica menurunkan tangan Luhan dari bahunya dan menghambur memeluknya. Luhan menutup matanya , dengan senang hati ia membalas pelukan sang kekasih.
.......
.......
...Bersambung...