
Di bawah langit malam bertabur bintang. Lampu-lampu jalan menyala, mengundang serangga yang tertarik pada cahaya berkerumun di dekatnya. Seperti halnya orang-orang yang datang mengisi keramaian festival kembang api malam ini, Luhan dan Jessica berada di antaranya. Berjalan di bawah cahaya lampion dan kerlap-kerlip lampu warna warni.
Luhan menggenggam tangan Jessica, erat. Ia takut jika kekasih-nya itu menghilang di tengah lautan manusia yang padat dan penuh sesak, ia menyesal kenapa harus menuruti keinginan Jessica untuk bergabung bersama orang-orang hanya untuk melihat pertunjukkan kembang api.
Setelah berusaha keras, akhirnya mereka berdua sampai di barisan paling depan. Perjuangan keras mereka tidak sebanding dengan keindahan yang di dapatkan. Kilatan-kilatan besar melesat dari salah satu gedung yang berada di seberang sungai Han.
Bersamaan dengan itu, Jessica dan Luhan dapat merasakan getar pada tanah yang menjadi pijakannya. Kilatan-kilatan itu melesat cepat menuju langit dan berubah menjadi berbagai warna yang menawan.
Jessica benar-benar terpukau.
Tidak berselang lama, muncul lagi kilatan-kilatan cahaya yang di susul dengan kilatan lainnya. Muncul serentak namun menuju arah yang berbeda. Menubruk langit membentuk bentuk bulat yang indah semua orang bersorak kegirangan begitu pula dengan Jessica.
"Luhan , look. Indah bukan?" serunya dengan nada meninggi.
Luhan yang semula memfokuskan arah pandangnya pada langit menoleh kesamping dan mendapati wajah Jessica yang berseri-seri. Luhan berfikir sejenak, ini adalah moment yang sangat langkah' pikirnya.
Luhan menarik tengkuk Jessica dan ******* lembut bibirnya. Apa yang mereka lakukan cukup membuat orang-orang di sana merasa terkejut, namun mereka tidak terlalu ambil pusing dan kembali memfokuskan arah pandangnya pada langit bermandikan cahaya warna-warni itu.
Luhan menutup matanya begitu pula dengan Jessica, pemuda itu ******* dan menggigit bibir gadisnya itu penuh rasa. Menyalurkan perasaan cinta yang begitu besar melalui ciuman itu.
Dan ciuman mereka berakhir saat terdengar letupan demi letupan yang kemudian melesat tinggi menuju langit. Lalu pandangan mereka kembali terpusat pada langit, Luhan menempatkan Jessica tepat di depannya berdiri.
Selanjutnya, berbagai kembang api di luncurkan dalam formasi teratur. Sebelum akhirnya menubruk langit dan membentuk berbagai butiran jatuh penuh warna. Mata Jessica berbinar , ada sorakan kagum di dalam dadanya.
Ia hanya bersorak dan melompat kecil dari tempatnya layaknya bocah TK yang baru saja di belikan mainan oleh Ibunya. Luhan mendengus geli, menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan kekasihnya itu.
Di tengah sesaknya orang , terlihat sedikitnya 5 pria berpakaian hitam formal berada di antara orang-orang itu. Mengintai dan mengawasi Jessica dari jarak yang lumayan dekat, mencoba mencari celah untuk bisa melancarkan aksinya.
Salah satu dari ke 5 orang itu mengangkat senjatanya dan mengarahkan pada Jessica, tepat sebelum timah itu di lepaskan. Luhan menoleh, kedua mata abu-abunya membulat. Dengan sigap Luhan menarik tubuh Jessica untuk menghindari terjangan peluru itu.
"Sica! Awas!"
'DOOORRR!!'
Seketika orang-orang menjadi kalang kabut. Panik dan ketakutan, suasana yang semula damai dan penuh sorakan bahagia berubah mencekam karna desiran peluru yang di lepaskan.
Luhan mengeluarkan senjata dari balik rompi hitam yang membalut tubuhnya dan melepaskan ke arah orang-orang yang ia yakini sebagai pembunuh bayaran. Dua di antaranya berhasil ia atasi, Luhan menarik Jessica untuk berlindung ketempat yang aman, karna ia tau jika memang nyawa kekasihnya itulah yang mereka incar.
Luhan menggeleng "Hanya luka kecil, tidak perlu cemas. Tetaplah di sini dan jangan pergi kemana pun apalagi melibatkan dirimu dalam bahaya. Mereka, biar aku yang menanganinya." nasehat Luhan kemudian beranjak dari hadapan Jessica.
'DORRR!!'
Luhan mencondongkan wajahnya menghindari tembakan yang di arahkan padanya. Pemuda itu menerjang salah satu orang itu dan menembak tepat di jantungnya, tersisa dua lagi. Luhan menarik pistol dari tangan lawannya dan menendang tepat di ulu hatinya.
Mengunci orang itu dengan salah satu tangannya sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menembak salah satu yang tersisa. Luhan sengaja membiarkan salah satu dari mereka tetap hidup.
"A..am..pun tuan. Kami hanya di suruh, seorang wanita membayar kami dan menugaskan kami untuk membunuh gadis bernama Jessica Jung."
"Siapa yang menyuruhmu?" tuntut Luhan penuh penekanan.
"Wanita itu bernama...!"
'Dorrr..!!'
Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya. Seseorang lebih dulu menembak kepalanya. Luhan menoleh dan mendapati siluet wanita berpakaian hitam berlari meninggalkan kerumunan. Luhan hendak mengejar orang itu namun langkahnya segera di hentikan oleh Jessica.
"Tidak perlu di kejar. Biarkan saja dia pergi, toh aku juga tidak apa-apa."
Luhan tidak mengatakan apa pun dan malah menarik Jessica kedalam pelukannya. Ia merasa lega karna gadis dalam pelukannya ini baik-baik saja "Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang."
Luhan melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Jessica "Aahh!!" Pemuda bertatto itu menggeram , meringis saat sapu tangan milik Jessica menyentuh luka di wajahnya."Tidak apa-apa, sayang. Hanya luka kecil saja." ucapnya meyakinkan.
"Meskipun hanya luka kecil saja, namun bisa fatal jika di biarkan." Jessica menempelkan plaster luka selebar dua jari orang dewasa di atas luka memanjang di bawah mata Luhan.
"Kita pulang." ucap Luhan yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica.
.......
.......
...Bersambung...