
"Ahhh, pinggangku....?"
Tubuh Jessica terjatuh dari atas tempat tidur saat ia mencoba untuk bangun. Ia kelabakan saat melihat jam yang menggantung di dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Bagaimana tidak? Ia belum menyiapkan sarapan untuk 3 pemuda yang tinggal satu atap dengannya. Semalam Jessica tidak bisa tidur dengan nyenyak karna rasa nyeri pada luka di telapak kakinya.
Bangkit dari posisinya "Aaahhh... sial, kenapa sakit sekali." keluhnya sambil memegangi pinggangnya yang terasa ingin patah.
Dengan langkah tertatih, Jessica berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi kemudian bergegas pergi ke dapur. Jessica tidak ingin membuat Luhan, Dio dan L sampai mati kelaparan karena ulahnya.
Namun langkahnya terhenti saat mata Hazel-nya menangkap siluet pemuda tengah berkutat di dapur dengan posisi berdiri di depan sebuah kompor yang menyala. Jessica sangat mengenali pemuda itu, sambil menahan sakit pada pinggang dan telapak kakinya. Jessica menghampiri pemuda itu.
"Luhan....??"
Pemuda dalam balutan jeans sepanjang lutut dan kaos hitam tanpa lengan yang memperlihatkan tribal tatto di lengan kanannya mengangkat wajahnya mendengar suara yang begitu familiar berkaur di dalam telinganya. Terlihat sosok Jessica yang berjalan tertatih-tatih kearahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Luhan memicingkan matanya menatap Jessica dengan tatapan horornya "Apa kau buta? Jelas-jelas aku sedang memasak kenapa masih bertanya?"
Jessica meringis mendengar omelan Luhan yang sangat jelas di tunjukkan padanya. Jessica menghampiri Luhan kemudian berdiri di sampingnya "Boleh aku membantu?"
Luhan menoleh kearah Jessica lalu menggeleng "Tidak perlu, sebaiknya kau menunggu dan duduk manis di sana, aku tidak ingin bantuanmu hanya semakin memperlambat pekerjaanku." Luhan melirik tajam Jessica menggunakan ekor matanya. Melihat respon Luhan yang kurang bersahabat membuat Jessica merengut kesal.
Gadis itu duduk di meja makan sambil bertopang dagu, mengamati Luhan sedang memasak, menyiapkan sarapan. Melihat kemampuan memasak Luhan membuat Jessica berdecak kagum, ternyata Luhan tidak hanya pandai menggunakan senjata api, pisau dan pedang saja, namun juga pandai menggunakan spatula.
Dan setelah 1 tahun mereka tinggal bersama, ini adalah pertama kalinya bagi Jessica melihat seorang Luhan memasak dan menyiapkan sarapan untuk semua orang. Sungguh pemandangan yang sangat langkah.
"Tidak di sangka, ternyata orang mengerikan sepertimu bisa memasak juga." ujar Jessica mengungkapkan rasa kagumnya.
"Di bandingkan dirimu, kemampuan memasakku lebih baik. Karna saat papa sakit, semua pekerjaan rumah aku ambil alih, termasuk memasak. Dan setelah kematian nenek dan kakek, aku di haruskan dan di tuntut untuk bisa lebih mandiri lagi dan tidak bergantung pada orang lain."
"Aku salut padamu, kau memang sangat mengagumkan, Lu. Jika aku boleh jujur, selama ini aku menjadikanmu sebagai panutanku untuk bertahan hidup, kau adalah pria tangguh yang tidak mudah menyerah pada takdir. Aku ingat kau pernah berkata padaku 'Kau tidak bisa mendapatkan hari esok yang lebih baik jika masih memikirkan yang telah berlalu' aku memikirkannya dan terus merenungkannya. Kau benar, setelah aku melepaskan bayangan dan kenangan masa laluku yang suram. Aku merasa seperti terlahir kembali."
Luhan memandang Jessica dan tersenyum simpul. "Hidupmu akan lebih berguna jika kau dapat mengerti makna yang sebenarnya dari sebuah kehidupan." tandasnya
Jessica tersenyum simpul. "Kau benar. Dan aku merasa jika pertemuan kita malam itu bukanlah sebuah kebetulan melainkan takdir yang memang telah di tentukan."
"Hm, aku tidak yakin. Tapi biarkan takdir berjalan seperti air mengalir." kata Luhan dan mengakhiri kontak matanya.
Entah mengapa berbicara dengan Luhan seperti ini membuat perasaan Jessica begitu tenang. Meskipun dari luar Luhan terlihat dingin dan berbahaya, tapi sebenarnya dia adalah sosok pria yang hangat dan ramah setelah mengenalnya dengan baik.
Luhan meletakkan piring di tangannya saat melihat Jessica menundukkan wajahnya, Luhan menghampiri Jessica lalu memanggilnya dengan suara lembut. "Sica?" mendengar suara yang begitu dekat di telinganya.
Perlahan Jessica mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan tengah berlutut di depannya sambil menatapnya sendu "Kau menangis?" jari-jarinya menghapus air mata di wajah Jessica, alih-alih menjawab, Jessica malah menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan Luhan. "Ada apa?" nadanya begitu lembut, sangat berbeda dengan sikap-nya beberapa saat yang lalu. Gadis itu menggeleng.
"Tidak apa-apa, hanya teringat pada orang tuaku, sakit rasanya saat menyadari kini diriku sebatang kara." ujarnya parah.
Luhan menghela nafas. Meraih tengkuk Jessica dan membawa gadis itu kedalam pelukannya, Luhan sangat memahami perasaan Jessica, ia tau bagaimana sakitnya karna Luhan juga merasakan hal yang sama. Luhan selalu teringat Ayahnya dan merindukannya setiap waktu.
Selama ini Luhan terlihat tegar namun sesungguhnya ia sangatlah rapuh, Luhan selalu menyimpan rasa sakitnya sendiri dan tidak membiarkan siapa pun tau bagaimana keadaan dirinya yang sebenarnya termasuk kedua sahabatnya 'L dan Dio'
Saat di rasa mulai tenang, Luhan melepaskan pelukannya. Ia melihat wajah Jessica berurai air mata, pemuda itu mengangkat tangannya, jarinya menghapus lembut sisa air mata di wajah cantik itu.
"Tersenyumlah, kau terlihat jelek saat menangis. Aku tau bagaimana keadaanmu dan perasaanmu, namun jangan buat hal itu untukmu menjadi lemah. Kau tidak sendiri, kau memiliki aku, Dio dan L, kami bertiga adalah keluargamu."
"Jadi jangan pernah merasa ragu, saat kau membutuhkan sandaran kau boleh mendatangiku ataupun mereka berdua, karna kita ber 4 adalah keluarga. Seperti yang pernah ku tawarkan, kau boleh menganggapku sebagai kakakmu." tutur Luhan panjang lebar.
Jessica mengulum senyum kecil kemudian mengangguk. "Ya." jawabnya singkat.
Entah kenapa ada rasa tidak rela jika Luhan hanya menganggapnya sebagai seorang adik begitu pula dengan pemuda itu. Tapi untuk saat ini, mungkin itu lebih baik. Dan bagaimana tentang hubungan mereka selanjutnya. Hanya waktu yang dapat menjawabnya
Luhan bangkit dari posisinya kemudian meninggalkan Jessica dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dari tempatnya berdiri, Luhan terus mengamati gadis itu. Entah mengapa ia merasa cemas. Dari wajahnya, Luhan mengulirkan pandangannya pada perban yang melilit kaki gadis itu, perban itu terlihat masih baru seperti baru saja di ganti.
"Bagaimana keadaan kakimu? Apa sudah lebih baik?"
Jessica yang semula diam dan termenung , mengangkat wajahnya mendengar suara Luhan kembali berkaur di dalam telinganya "Masih, maaf utuk misi malam ini aku tidak bisa ikut." sesalnya, Jessica menundukkan wajahnya karna merasa tidak enak pada Luhan.
"Tidak masalah, tidak perlu di pikirkan." jawabnya seraya meletakkan dua piring berisi makanan di atas meja.
"Lu." cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Luhan.
Pemuda itu menatap datar pergelangan tangannya yang di genggam Jessica lalu beralih pada wajah cantik di depannya "Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Luhan yang segera di balas gelengan oleh Jessica.
"Lupakan saja, lagi pula aku lupa ingin mengatakan apa. Aku akan membangunkan L dan Dio dulu." ujarnya dan pergi begitu saja.
.......
.......
...Bersambung...