Kill & Love

Kill & Love
17: Makanan Sampahh



Di sebuah dapur yang tidak terlalu besar namun sangat terawat. Terlihat Jessica yang sedang sibuk menyiapkan makan malam dengan di bantu oleh Dio.


Jessica sudah kembali sejak 2 jam yang lalu, namun ia belum melihat batang hidung Luhan berkeliaran di rumah. Dio bilang pemuda itu sedang tidur di kamar yang ia tempati bersama L karena kamarnya yang kini di tempati oleh Jessica.


Cklekkk...!!!


Decitan pintu terbuka menyita perhatian dua orang berbeda gender itu. Terlihat Yunna berjalan menuju dapur sambil sesekali menguap.


"Dimana Luhan oppa?" tanyanya tanpa basa basi.


"Dia sedang tidur di kamar." jawab Dio sedikit datar.


"Aroma apa ini? Sebenarnya makanan apa yang sedang kalian masak? Aromanya sangat menyengat, rasanya aku mau bersin dan perutku tiba-tiba terasa mual." kata Yunna sambil menutup hidung dan memegang perutnya.


Dio mendecih, menatap gadis itu tidak suka. Yunna memang memiliki wajah yang cantik, tapi Dio berani bersumpah jika gadis itu memiliki hati yang buruk. Dan Dio sangat yakin, jika gadis itu akan sangat merepotkan karna sikapnya yang sangat manja dam tidak memiliki sopan santun.


Mengabaikan Yunna dan Dio


yang saling peran dingin. Jessica kembali melanjutkan acara memasaknya. Entah sebuah kebetulan atau memang di sengaja, hampir semua masakan yang ia buat malam ini adalah makanan kesukaan Luhan.


Tepat setelah Jessica hampir menyelesaikan pekerjaannya, Luhan muncul masih dengan pakaian yang sama seperti yang ia pakai siang tadi. Luhan membuka lemari pendingin lalu mengeluarkan sebotol air mineral dan meneguknya. Luhan meletakkan botol itu di atas kulkas, lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.


"Dimana Dio dan L? Apa mereka masih belum pulang?" tanya Luhan pada satu-satunya orang yang ada di dapur.


Jessica menoleh, menatap Luhan yang juga menatap padanya "L masih belum pulang, sedangkan Dio keluar buat cari angin segar." jawab Jessica yang kemudian di balas anggukan oleh Luhan.


Merasa tertarik dengan aroma makanan yang di masak oleh Jessica, Luhan menghampiri gadis itu dan berdiri tepat di belakangnya."Apa yang sedang kau masak??" tanya Luhan tiba-tiba. Suaranya begitu dekat di telinga Jessica hingga membuat darah dalam tubuh gadis itu berdesir ringan.


Ragu-ragu Jessica berbalik badan namun tiba-tiba. "Aahhh..." kaki kirinya tergelincir tetesan minyak di lantai.


Dengan sigap Luhan menahan pinggang Jessica sebelum gadis itu jatuh menyentuh lantai. Tangan kiri Jessica mengalungi leher Luhan, sedangkan tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan Luhan. Mata mereka saling mengunci. Saling menatap, menyelami keindahan mata masing-masing.


Jantung Jessica berdebar dua kali lebih cepat dari sebelumnya, melakukan kontak mata dengan Luhan membuat hati Jessica berdebar-debar. Begitu pun sebaliknya, Luhan merasa tak karuan saat menatap mata Hazel itu.


"Ekhemmm."


Buru-buru Jessica melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Luhan mendengar deheman dari arah belakang. Terlihat Dio dan L menghampiri mereka sambil cengar cengir tidak jelas.


"Ka..li..an sudah pulang?? Sebaiknya kalian makan malam duluan saja, aku mau membersihkan diri dulu." kata Jessica dan berlalu begitu saja, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Jessica.


"Kita makan malam sama-sama," kata Luhan datar. Jessica merapatkan bibirnya kemudian mengangguk.


Di waktu bersamaan, Yunna muncul dengan pakaian yang berbeda dari yang dia pakai sebelumnya dengan sebuah tas kecil yang menggantung di bahu kirinya. "Oppa temani aku makan malam di luar, makanan-makanan itu membuatku tidak berselera sama sekali." kata Yunna sambil memeluk lengan terbuka Luhan.


"Nunna, kau mau kemana?" tanya Dio melihat Jessica meletakkan sendok dan garpunya lalu bangkit dari duduknya.


"Memangnya siapa yang mengijinkan mu untuk pergi? Duduk kembali, kita makan malam sama-sama." kata Luhan tegas.


Lagi-lagi Jessica mengangguk patuh, sementara itu Yunna tampak kesal melihat perhatian Luhan untuk Jessica "Duduklah, kita makan malam di rumah." Yunna mendengus, dengan kesal gadis itu menarik kursi di samping kiri Jessica.


"Hoek, makanan apa ini? Kenapa rasanya seperti sampah?!" Yunna memuntahkan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya lalu menatap Jessica tajam. "Yakk... sebenarnya kau itu bisa masak tidak? Makanan sampah seperti ini bisa-bisanya kau hidangkan padaku. Apa kau ingin meracuniku?" amuk Yunna pada gadis yang duduk di samping kanannya 'Jessica'.


"Memangnya apa yang salah dengan makanannya? Masakan Sica Nunna baik-baik saja. Buktinya aku, L hyung dan Luhan hyung baik-baik saja memakan masakannya. Kami tidak apa-apa." sahut Dio yang seakan tidak terima dengan penghinaan Yunna pada masakan Jessica.


"Itu karna lidah kalian sudah mati rasa, jelas-jelas rasa makanan ini sangat buruk." tegas Yunna tidak mau kalah.


"Kau saja yang terlalu melebih-lebihkan." sahut L menimpali.


"Melebih-lebihkan bagaimana?? Jelas-jelas semua makanan ini tidak ada bedanya dengan sampah."


Brakkk...!!!! Semua makanan-makanan yang semula tertata rapi di atas meja kini berserakan di lantai karna ulah Yunna. Yunna menarik ujung taplak pada meja makan dengan sengaja.


Melihat tindakan Yoona yang sudah sangat keterlaluan membuat Luhan menggeram marah "LIM YUNNA!!" bentak Luhan dengan emosi, auranya begitu mengerikan, mata abu-abunya berkilat tajam.


"Kenapa? Oppa, kenapa kau jadi menyalahkanku? Aku bersikap seperti ini karna tidak ingin kalian bertiga mati keracunan karna makanan sampah ini." ujar Yunna mencoba membela diri.


"Inilah yang paling aku tidak suka darimu. Tidak bisakah kau menghargai orang lain tanpa melukai perasaannya?"


"Memangnya berapa mahal harga dirinya?? Aku akan membelinya."


"IM YOONA...." bentak Luhan sambil menatap Yunna marah.


Jessica menarik nafas panjang dan menghelanya. Gadis itu tidak merasa marah ataupun tersinggung dengan tindakan Yunna. Ia paham betul dengan sikap gadis itu, Yunna adalah nona muda yang selalu di layani dan di perlakukan layaknya seorang Putri oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Itulah kenapa sifatnya menjadi sangat tidak terpuji.


"Sudahlah, hanya hal sepele. Tidak perlu di besar-besarkan." ucap Jessica sambil memunguti pecahan beling yang berserakan di lantai juga semua makanan yang terbuang sia-sia. Dio dan L menghampiri Jessica lalu membantu gadis itu.


"Ahhh..." namun pecahan beling itu tanpa sengaja menusuk jari telunjuk Jessica.


Darah dengan cepat mengalir dari lukanya. Luhan menarik jari telunjuk Jessica yang terluka dan menghisap darahnya lalu meludahkannya. "Dasar ceroboh, selalu saja membuat dirimu sendiri terluka." ucap Luhan lalu menutup luka itu dengan plaster.


Yunna menghentakkan kakinya kesal. Melihat perhatian Luhan untuk Jessica membuat hatinya terbakar cemburu. Berbalik badan, Yunna melenggang pergi.


.......


.......


...Bersambung...