Kill & Love

Kill & Love
30: Kau Cemburu?!



Dan setelah berkendara hampir 45 menit. Akhirnya mereka tiba di rumah. Jessica menghela nafas lega, ia sudah sangat merindukan rumah dan kasus nyaman milik Luhan.


Jessica hendak turun namun segera di cegah oleh Luhan, pemuda itu mengangkat tubuh Jessica bridal style dan membawanya masuk ke dalam rumah dengan L dan Dio mengekor di belakang mereka. JB tiba tak lama setelahnya, dan saat ini mereka berkumpul di kamar Luhan yang juga di tempati oleh Jessica.


"Sebaiknya kau berbaring saja, Jess. Dan berhentilah menjadi gadis yang keras kepala." omel JB pada Jessica. Gadis itu mendengus panjang.


"Aisshh.. kenapa kau tetap saja bawel, kau sadar tidak jika kau itu mirip nenek-nenek." cibir Jessica membuat mata JB membulat sempurna.


"MWO? Kau menyamakan aku yang tampan ini dengan nenek-nenek?" pekik JB sambil menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuknya. "Yang benar saja. Itu bisa merusak citraku sebagai pria tampan." lanjutnya.


Alih-alih merasa bersalah dan segera meminta maaf karna sudah menjahili JB. Jessica malah terkekeh membuat pemuda itu semakin kesal dibuatnya.


Tidak ingin terus-terusan mendapatkan ejekan dari sang adik, JB akhirnya memutuskan untuk pulang setelah berpamitan pada semua penghuni rumah. Di dalam ruangan itu hanya ada Jessica seorang diri karena Luhan, L dan Dio berada di ruang tamu.


Yunna yang baru saja keluar dari kamarnya tersenyum lebar melihat kepulangan Luhan. Gadis itu merapikan pakaiannya dan segera menghampiri sang pujaan hati yang sedang berbincang bersama kedua sahabatnya.


"Oppa."


Ketiganya pun menoleh. Dio mendengus melihat kedatangan gadis itu, ia begitu tidak suka melihat Yunna yang menempel terus pada Luhan, bukan karna Dio cemburu tapi ia memang-memang tidak suka saat melihat gadis itu mendekati Luhan. Di lihat dari segi mana pun, menurut Dio hanya Jessica-lah satu-satunya gadis yang cocok untuk Luhan.


"Oppa senang melihatmu akhirnya pulang. Kau tau, aku sangat tidak nyaman jika berada di rumah dengan kedua tikus menyebalkan itu. Tapi sekarang aku bahagia kau ada di sini."


"Yakk.. rubah jelek, apa maksudmu menyebutku dan L hyung tikus menyebalkan, eo?" amuk Dio karena tidak suka dengan panggilan Yunna untuknya dan L.


Yunna melipat kedua tangannya dan menatap Dio dengan mata memicing "Kenapa memangnya? Kau tidak suka? Anggap saja itu panggilan kesayanganku untuk kalian berdua.


"Oppa temani aku jalan-jalan." tanpa menunggu persetujuan Luhan lebih dulu, Yunna segera membawa Luhan meninggalkan rumah itu. Luhan mendesah berat, dengan terpaksa ia pun menuruti kemauan Yunna.


Yunna membawa Luhan ke dalam pusat perbelanjaan, tempat pertama yang mereka datangi adalah boutique yang hanya menyediakan pakaian untuk pria. Yunna menarik Luhan menuju deretan jaket dan rompi kulit dengan berbagai brand dan hasil karya desainer ternama dunia. Yunna mengambil 1 jaket dan 1 rompi kulit untuk Luhan.


"Oppa, cobalah jaket dan rompinya, aku rasa ini seukuran denganmu." ucap Yunna lalu menyerahkan keduanya pada Luhan, namun segera di tepis oleh Luhan.


"Aku tidak butuh pakaian-pakaian ini. Sebaiknya kita pulang." ujar Luhan dan pergi begitu saja. Yunna meletakkan kembali pakaian yang ia ambil ketempat semula dan bergegas menyusul Luhan yang melenggang meninggalkan boutique.


"Oppa tunggu." Yunna menahan lengan Luhan."Aku tidak mau pulang sekarang, hampir 1 bulan aku di sini tapi sekali pun kau tidak meluangkan waktumu untukku. Dan hari ini, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu."


Luhan mendesah panjang. Dengan malas pemuda itu menyentak tangan Yunna dari lengannya "Baiklah, tidak lebih dari 1 jam." Yunna tersenyum lebar dan mengangguk antusias.


.......


.......


"Aku tidak mau pulang sekarang, hampir 1 bulan aku di sini tapi sekali pun kau tidak meluangkan waktumu untukku. Dan hari ini, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu."


Luhan mendesah panjang. Dengan malas pemuda itu menyentak tangan Yoona dari lengannya "Baiklah, tidak lebih dari 1 jam." Yoona tersenyum lebar dan mengangguk antusias.


.


.


.


Jessica mengerutkan dahinya melihat keadaan rumah yang tampak sepi. Ia tidak bisa menemukan keberadaan L, Dio dan Luhan di seluruh penjuru rumah


"Kemana mereka semua pergi?" gumamnya heran. Dan panjang umur, baru saja di bicarakan mereka datang. Terlihat Dio dan L datang sambil menenteng dua kantong berisi minuman keras dan beberapa bungkus makanan ringan.


"Yunna," Dio mengangguk.


"Nunna kemarilah, aku dan L hyung membawakan makanan untukmu."


"Aku...!!"


Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian Dio dan Jessica. Luhan datang dengan Yunna memeluk lengan terbukanya manja, ketidaknyamanan terlihat jelas dari raut wajah Luhan. Berkali-kali Luhan berusaha melepaskan pelukan Yunna pada lengannya, namun lagi-lagi di halangi oleh gadis itu.


Hati Jessica berdenyut sakit melihat Luhan di peluk semesra itu oleh gadis lain. Luhan yang menyadari keberadaan Jessica langsung menghentikan langkahnya, mata abu-abunya melihat tatapan terluka Jessica yang sangat jelas di tunjukkan untuknya.


"Simpan kembali saja makanannya. Aku ada janji dengan, Bian. Mungkin sebentar lagi dia datang, aku pergi dulu. Bye."


"Nunna, tapi bahu dan punggungmu...?"


"Aku sudah tidak apa-apa." jawabnya meyakinkan.


Luhan melihat mata Jessica yang tampak berkaca-kaca saat gadis itu melewatinya. Luhan menoleh, di tepisnya tangan Yunna dan bergegas mengejar gadisnya.


"Sica tunggu..!"


Luhan menahan lengan Jessica sebelum gadis itu mencapai halaman. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku bisa menjelaskan." ucap Luhan yang terlihat sedikit panik.


Jessica menatap Luhan yang juga tengah menatapnya, gadis itu menekuk wajahnya dengan bibir sedikit merengut. "Memangnya apa yang perlu di jelaskan. Toh itu wajar, lagi pula aku tidak masalah meskipun kau jalan dengannya. Itu hakmu, lagi pula memangnya apa hakku untuk melarang mu? Bahkan aku tidak tau, kau memiliki perasaan juga padaku atau tidak." ujar Jessica merenggut kesal.


"Kau meragukan perasaanku?" Luhan menatap Jessica tidak percaya.


Jessica menggeleng. "Sama sekali tidak. Hanya saja kau terlalu kaku, selama 1 minggu kita berpacaran, sekali pun kau tidak pernah menunjukkan sikap seperti orang yang berpacaran. Kau sering mendiami ku dan bersikap acuh padaku, bahkan jika kita sedang berdua saja kau tidak pernah memperlakukanku dengan romantis seperti pasangan pada umumnya. Aku jadi meragukan perasaanmu, mungkinkah perasaanmu padaku itu palsu?" ujar Jessica panjang.


"Jadi kau menyesal?"


Lagi-lagi Jessica menggeleng. "Untuk apa disesali, toh semua juga sudah terjadi. Harus bagaimana lagi." jawab gadis itu seadanya.


Luhan mendengus panjang "Itu karena aku belum pernah berkencan sebelumnya. Seharusnya kau paham akan hal itu. Dan lagi pula, untuk apa juga kau ingin pergi menemui sahabat tiangmu itu?" sindir Luhan.


"Bukan urusanmu, dari pada kau sibuk mengurusi diriku lebih baik urusi adik angkatmu yang manja itu. Bukankah dia sangat tergila-gila padamu." timpal Jessica tak mau kalah.


Luhan memicingkan matanya. "Kau cemburu?" tebaknya asal.


"Dalam mimpimu." sahut Jessica dan langsung membuang muka.


Luhan menyeringai meremehkan. "Jika kau memang cemburu, akui saja. Tidak perlu berpura-pura juga." dengan gemas Luhan menyentil kening Jessica hingga membuat si empunya meringis karna ulahnya.


"Appoo.. sakit bodoh."


Mata abu-abu Luhan dan Jessica saling beradu pandang seolah menyiratkan kekesalan mereka. Tidak ada yang mau mengalah dalam pertandingan adu mata itu, keduanya sama-sama saling menatap tajam. Namun dalam pertandingan itu tentu tidak akan tertulis siapa yang akan kalah dan yang akan menang.


.......


.......


...Bersambung....