
Kimora yang sedari tadi diam membuat Alkha bingung,dia meraih tangan istri nya.
"kamu kenapa sayang kok dari tadi diam aja?"tanya Alkha sambil sesekali fokus ke jalan.
Kimora hanya tersenyum kecil dan menggeleng.Kimora sebenarnya masih nggak percaya kalau mantan yang membuat Alkha terpuruk waktu itu adalah sahabat masa kecil nya.
"kamu mikirin apa sih yang?"tanya Alkha lagi ketika mereka sampai rumah dan Kimora masih saja diam.
"nggak mikirin apa apa kok yang"jawab Kimora kemudian dia ganti baju,ke dapur dan memasak.Sementara Alkha mandi.
"em..masakan istriku emang paling yummi,dari bau nya aja udah bikin lapar"ucap Alkha sembari memeluk Kimora dari belakang.
Kimora tersenyum "udah mandi?"tanya Kimora.Alkha mengangguk.
"kalau gitu buruan makan ke buru dingin"ucap Kimora
Alkha kemudian duduk begitu pula Kimora.Seperti biasa Alkha bermanja manja minta di suapin Kimora.Dan Kimora hanya bisa menurut.
"kamu sudah mandi Ra?"tanya Alkha
Kimora menggeleng "beresin ini dulu baru mandi"jawab Kimora membereskan piring kotor tadi.
Setelah selesai kemudian Kimora mandi dan kemudian menyusul suami nya yang sedang asyik nonton tivi.
"Kha"ucap Kimora yang duduk di samping Alkha
"iya"jawab Alkha menoleh ke istri nya.
Kimora menipiskan bibir nya,memejamkan mata nya kemudian menghela nafas.
"apa mantan yang membuat kamu terpuruk dulu,itu adalah Silvia?"tanya Kimora
Alkha terdiam sejenak "iya"jawab Alkha pelan
Kimora menunduk entah apa yang dia rasakan.Rasa bersalah kah?atau entahlah.
"tapi aku beneran nggak tahu kalau kamu kenal sama Silvia"ucap Alkha meraih tangan Kimora
"kamu nikahin aku dulu karena kamu beneran cinta aku atau cuma mau jadiin aku pelarian?"tanya Kimora
"kok kamu nanya nya gitu sih?aku beneran cinta sama kamu sayang"jawab Alkha memegang pipi Kimora.
Entah kenapa Kimora bertanya seperti ini.Tapi mau bagaimana Silvia adalah orang yang membuat Alkha terpuruk sampai seperti itu dulu,pasti Alkha sangat mencintai nya.
"kamu nggak usah mikir yang aneh aneh,aku bertemu dengan kamu di saat aku sedang terpuruk,hingga akhirnya kita bisa menjadi sepasang suami istri sampai sekarang,itu semua sudah di garis kan sama Yang Maha Kuasa"ucap Alkha menarik Kimora dalam pelukan nya.
"iya"ucap Kimora memeluk suami nya erat.
"aku harus positif thinking,Silvia adalah sahabat ku dan Alkha adalah suami aku,mereka sama sama penting dalam hidup aku"batin Kimora yang masih memeluk suami nya.
****
"brengsek lo Cel,ternyata selama ini lo sudah beristri terus gue lo anggap apa?"geram Silvia sendiri
Dia mengingat kejadian tadi sore di kafe,di saat Alkha membela Kimora ketika di sudutkan oleh Marcel.
"kenapa lo selalu beruntung sih Ra"gumam nya.
****
Pagi pagi Marcel sudah datang ke kontrakan Silvia.
"mau apa lagi lo kesini?"ketus Silvia ketika membuka pintu Marcel sudah ada di depan
"aku mau jelasin semua sayang ,aku nggak mau putus sama kamu"ucap Marcel
"tapi lo udah punya bini"ucap Silvia keras
"tapi aku juga sayang sama kamu,kita jangan putus ya?besuk aku beliin kamu apartemen deh biar kamu nggak tinggal di kontrakan kecil ini lagi"rayu Marcel
Silvia menoleh,mengerutkan dahi nya "serius?"tanya nya
Marcel mengangguk "iya"jawab Marcel
"tapi harus atas nama aku loh"ucap Silvia
Marcel hanya mengangguk dan tersenyum.Marcel sebenar nya nggak cinta sama Lidya,mereka menikah karena Lidya kaya raya.Marcel hanya menjadikan Lidya sebagai ATM berjalan nya saja untuk bersenang senang dengan gadis gadis muda di luar sana.
"makasih sayang"ucap Silvia kegirangan kemudian memeluk Marcel.
"tapi kamu juga harus rela jadi simpanan aku ya?"tanya Marcel
Silvia berpikir sejenak kemudian mengangguk "nggak apa apa lah jadi simpanan,yang penting gue bisa beli barang barang mewah,bisa makan enak"batin Silvia
Keesokan hari nya Marcel memberi tahu Silvia bahwa dia sudah membelikan Silvia sebuah apartemen.
"makasih sayang,sayang emang paling baik"ucap Silvia memeluk Marcel
"sekarang kamu beres beres,langsung pindah saja hari ini"suruh Marcel.Silvia mengangguk dan menurut.
Begitu selesai pindahan dan beberes Marcel pamit pulang karena audah waktu nya dia menjemput istri nya.
"gila gue nggak nyangka kalau akhir nya gue cuma jadi seorang simpanan"gumam Silvia agak menyesal
"tapi nggak apa lah demi kebutuhan hedonis gue"gumam nya lagi.Dia menatap keluar jendela di mana terlihat begitu banyak gedung meweh di sekitar nya.
"setidak nya gue nggak perlu capek capek kerja"ucap nya melempar tubuh nya ke atas kasur kemudian tertidur karena lelah seharian beberes dan pindahan.