
Sang kakek misterius tersebut sudah tidak tahan lagi dengan penghinaan dari tuan vries sehingga ia langsung mencekik leher tuan vries
"diam kamu manusia busuk".
Terlihat wajah bahagia dari tuan vries. Ia sangat puas melihat amarah di wajah sang kakek tua. Sekalipun kini ia harus menanggung resiko akan mati karena tidak bisa bernafas. Namun tiba tiba sang kakek melepaskan tangannya dari leher tuan vries. Sepertinya ia mempunyai ide lain untuk menyakiti tuan vries
"akan sangat tidak seru apabila saya langsung membunuhmu tanpa menyakiti mu terlebih dahulu, aku ingin melihat kamu merasakan penderitaan yang sangat luar biasa sebelum ajal menjemput mu". "aku tidak takut mbah ".
Kakek tua tersebut lantas mengambil pisau yang sangat tajam. Namun bukan mengarahkan pisau tersebut ke arah tuan vries, kakek tua tersebut malah mengarahkannya ke arah anak buah tuan vries.
"mau apa kamu apakan darto, jangan macam macam kamu dengan anak buah saya".
Sang kakek tua tersenyum licik
"akan lebih seru lagi apabila bukan kamu yang merasakan rasa sakit, tetapi kamu melihat penderitaan orang lain yang tidak bersalah yang harus menerima akibat dari perbuatan mu". "minggir kamu, jangan jadi pengecut, lawan mu adalah saya, jangan melibatkan darto yang tidak tau apa apa".
Sang kakek tidak mendengar apapun yang di katakan oleh tuan vries.
"berhenti kataku".
Sang kakek misterius tersebut mendekati pakde darto. ia mulai melihat lihat bagian kulit mana dari pakde darto yang ingin dia gores dengan pisau
"Hem saya mulai dari mana ya ".
Wajah psikopatnya benar benar menakutkan sekaligus memuakkan. Setelah lama berfikir akhirnya kakek jahat tersebut memilih menggores lengan pakde darto. Dengan sangat pelan ia menggores lengan pakde Darto. Darah segar mengalir dari lengan pakde Darto. Pakde darto berteriak karena merasa rasa sakit yang amat luar biasa
"ampun mbah".
"berhenti, aku mohon mbah, kasihan darto, ia tidak tau apa apa".
Kakek jahat tersebut semakin melancarkan aksinya. Sekarang ia mengincar lengan sebelah pakde darto
"yang tenang ya, nikmati rasa sakitnya ".
Darah segar meluncur dari lengan pakde darto. Teriakan pakde Darto semakin keras bertanda rasa sakitnya yang semakin parah. Tuan vries semakin tidak tega melihatnya
"cukup , jangan jadi pengecut , lawan saya sekarang".
Kakek jahat tersebut segera berbalik. Tangannya yang telah di penuhi darah kini mengincar nyawa tuan vries.
"kamu yang memintanya sendiri vries, jadi terima akibatnya".
Semakin dekat sang kakek jahat dengan tuan vries. Dan di saat sang kakek jahat akan menyerang tuan vries, sebuah pisau menancap ke arah jantung sang kakek duluan
"astaga kamu ".
Terlihat kedua tangan tuan vries sudah terlepas dari ikatan. Ternyata tuan vries sudah melepaskan ikatan tadi. Namun ia pura pura masih terikat dan menggenggam pisau di tangannya. Ia memancing sang kakek agar mendekatinya. Dan pada saat yang tepat ia menusukkan pisaunya ke arah jantung sang kakek
"selain tampan kamu juga ternyata sangat pintar , tapi sayangnya".
Sang kakek bangkit dan menarik pisau tadi dari arah jantungnya dengan sangat santai. Dan bekas luka di jantung sang kakek tersebut tertutup dan menghilang begitu saja seakan akan jantungnya sama sekali tidak pernah tertusuk pisau. Tuan vries sangat terkejut melihat hal tersebut.