
Olivia pun tersenyum mendengar perkataan mas satria
"astaga mas mas, itu cuma perasaan mas saja". "mas benar benar serius dek, mas sama sekali tidak berbohong". "mas satria ". benar dek , dek olivia mas ini benar benar takut terjadi apa apa dengan dek olivia".
Olivia yang awalnya mengira kalau mas satria hanya sekedar bercanda kini mulai menganggap kecemasan mas satria ini benar benar sangat serius
"mas tidak bercanda kan ? mas tidak berbohong kan ?".
Mas satria semakin erat menggenggam tangan olivia yang membuat olivia semakin merasa khawatir
"mas serius dek, mas sedang tidak bercanda".
Olivia lantas berusaha menenangkan hati mas satria
"mas satria tenang saja, tidak akan terjadi apa apa dengan saya". "tapi dek". "tenang saja mas satria, itu hanya perasaan mas saja".
Setelah perasaan mas satria lebih tenang mas satria pun berpamitan kepada olivia
"dek olivia mas pamit pulang dulu ya ". "iya mas". "oh iya dek olivia ini ada sesuatu yang ingin mas berikan kepadamu".
Mas satria mengeluarkan kalung berbentuk kupu kupu kepada olivia
"ini dek mas ingin memberikan kalung ini kepada adek ". "astaga bagus sekali kalung ini mas".
Mas satria pun mengenakan kalung tersebut ke leher olivia
"terima kasih ya mas". "kamu suka tidak dek dengan kalungnya ?". "suka mas aku sangat suka".
Bude marni dan pakde arif hanya tersenyum melihat tingkah pola kedua sejoli tersebut
Pakde arif dan mas satria pun kembali pulang ke rumah. Namun entah mengapa ada perasaan tidak ikhlas di hati mas satria untuk meninggalkan olivia. Seakan akan ini pertemuan terakhir mereka.
Sepanjang perjalanan pulang wajah mas satria terlihat sangat gusar. Pakde arif yang berada di sebelahnya sampai menegurnya
"satria ada apa dengan dirimu kok dari tadi pakde lihat kamu terlihat gusar dan gelisah begitu". "tidak apa apa pakde". "apa kamu yakin satria". "benar pakde"
Pakde arif adalah orang tua jadi tidak mungkin ia bisa di tipu begitu saja. Ia yakin ada sesuatu yang satria sedang sembunyikan darinya
"kamu jangan berbohong satria , pakde yakin ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan, pakde ini orang tua satria, jadi kamu tentu saja tidak muda membohongi pakde".
Satria akhirnya menceritakan kegundahan serta kegelisahannya yang sedari tadi hinggap di hatinya
"pakde arif sebenarnya aku memiliki firasat buruk". "firasat buruk apa satria". "saya memiliki firasat akan terjadi sesuatu hal yang buruk yang sebentar lagi akan menimpa dek olivia".
Pakde arif hanya tertawa mendengar pernyataan dari keponakannya itu
"astaga satria satria, pakde pikir ada apa". "saya serius pakde, pakde saya takut kehilangan dek olivia ".
Pakde arif semakin kebingungan melihat keponakannya tersebut
"satria mungkin itu hanya perasaanmu saja". "tidak pakde arif".
Pakde arif pun mencoba menasihati keponakannya tersebut
"satria dengarkan pakde, kamu sampai begini mungkin karena sebentar lagi kamu akan bertunangan dan menikah, kamu jadi mudah panik sehingga muncul perasaan perasaan yang tidak tidak di hati kamu". "benarkah itu pakde arif ?". "iya satria , coba kamu tenangkan pikiran kamu dulu sejenak, setelah itu pasti semua pikiran yang aneh aneh tersebut akan pergi jauh dari pikiranmu".