
Sesampainya di rumah olivia langsung di marahi oleh sang papa.
"olivia de vries sudah berapa kali papa bilang kamu tidak boleh pergi ke hutan dan danau itu". "iya papa". "kamu tidak tau betapa angkernya hutan dan dan danau di sana, apa kamu mau di culik para penunggu di sana". "tidak papa". "dan buat kamu tini, kamu jangan mau di ajak olivia pergi ke hutan sana, om mengerti posisi kamu tetapi apabila sekali lagi kamu mau di ajak olivia pergi ke hutan sana, om tidak segan segan untuk memulangkan kamu ke kampung halamanmu". "tidak om de vries , jangan pecat saya , jangan pulangkan saya, saya tulang punggung keluarga, nanti makan apa ibu dan adik adikku di kampung kalau om memecat saya". "jadi kamu sekarang mengerti kan tini". "iya om". "olivia kalau kamu tidak mau tini papa pecat maka jangan ulangi lagi kesalahan yang sama". "iya papa". "sekarang kalian berdua mandi dan makan".
Dengan sedikit rasa ketakutan olivia dan tini masuk ke dalam kamar
"aduh aku takut sekali, kali ini papa benar benar marah". "aku juga takut nona olivia , aku takut di pecat sama om de vries". "maafkan aku ya tini sudah membuat kamu hampir di pecat". "iya tidak apa apa non olivia".
Tidak lama kemudian bude marni masuk ke dalam kamar mereka
"non olivia , tini kenapa kalian masih di sini, cepat mandi sana sebentar lagi waktunya makan siang". "iya bude marni".
"selamat siang papa". "silahkan duduk sayang, silahkan duduk tini". "iya om de vries".
Bude marni dan para pelayan yang lain datang membawa berbagai menu makanan. Begitu melihat menu ikan goreng di atas meja makan , pikiran olivia kembali teringat akan kejadian tadi. Sang papa yang melihat hal tersebut langsung menegur olivia
"sayang bukannya di makan malah ikannya di lihat saja, memangnya ada apa ? apa kamu sedang tidak ingin makan ikan goreng ? atau papa meminta bude marni untuk membawakan kamu menu yang lain ?". "tidak usah papa, aku mau makan ikan gorengnya kok pa".
Malam harinya olivia masih terus memikirkan peristiwa tadi. Ia masih sangat penasaran dengan ikan yang ia temui di danau tadi. Maklum usia olivia masih remaja sehingga tentu saja rasa penasarannya dan keingintahuannya sangatlah besar. Ia sampai mendatangi kamar tini dan membangunkannya.
"tini bangun ". "oh nona olivia ada apa tiba tiba membangunkan ku ?". "tini aku masih penasaran dengan ikan emas yang tadi kita temui di danau". "astaga non olivia, non olivia membangunkan ku hanya ingin mengatakan hal tersebut". "iya, maafkan aku tini tapi aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal tersebut". "tapi haruskah malam malam seperti ini juga nona , saya masih sangat mengantuk nona". "sekali lagi maafkan aku tini". "tidak apa apa nona , tapi sekarang nona tidur dulu , besok baru kita melanjutkan pembicaraan kita tentang ikan emas tersebut". "baik tini, selamat malam dan selamat tidur tini". "selamat malam nona ".