IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 9 FLASHBACK PART FOUR



" Lalu, jika kamu gak tau apa yang terjadi, sedang apa kamu malam - malam disini bersama Regi Sam? " tanya Wilson


Samuel terdiam sesaat


" Ayah, paman disini, dia... " ucap Regi


" Aku kesini untuk Regi " sela Samuel


" Apa? " ucap Jeje dengan nada tinggi


" Aku ingin menikahinya " ucap Samuel yang sedikit berat mengatakannya



" Samuel apa maksudmu? " tanya Natalia


" Samuel apa kau sadar yang kau ucapkan " tanya Wilson


" Paman... "


" Hentikan omong kosong ini! Kau pikir ini lelucon? " pekik Jeje


" Aku tidak bercanda! aku serius mengatakannya. Biarkan aku yang menjaga Regi "


" Tapi kenapa? Kau tau Regi sedang mengandung. Dan kau bilang itu bukan anakmu " —Natalia


" Ibu ... " —Regi


" Anak yang Regi kandung mungkin memang bukan anakku, tapi biarkan aku yang menjaganya "


" Paman... " —Regi


" Aku akan menjaga Regi, Dan aku juga yang akan bertanggung jawab atas bayi yang Regi kandung "


" Samuel kau sadar apa yang sudah kau katakan? " tanya Wilson


" Sam, kami tau kau guru Regi disekolah. Tapi, ini bukan suatu hal yang bisa kau ambil tanggung jawabnya "


" Asalkan Regi mau menerimanya, aku akan menjaganya "


" Paman... "


" Ini bukalah hal yang bisa kita putuskan dalam semalam, jadi sebaiknya kita bicarakan ini esok hari lagi. Ini sudah malam " ucap Wilson


" Baik " —Samuel


" Jeje, antar adikmu ke kamar "


" Baik ayah "


Jeje menghampiri Regi


" ayo Re... "


Jeje membantu Regi berdiri, dan membawa Regi bersamanya.


" Kalau begitu aku pamit " Samuel bangkit berdiri


" Sam, apa kau benar tidak tau siapa ayah dari bayi yang Regi kandung? " tanya Natalia memelas


" Regi yang berhak mengatakan siapa ayahnya " jawab Samuel


Natalia dan Wilson hanya bisa menghempas nafas pasrah.


...


Jeje mengantar Regi ke kamarnya


" Re, apa - apaan ini?! " kaget Jeje ketika melihat kamar Regi berantakan.


Pintu kamar Regi yang hancur, sebuah kursi yang terpelanting, sebuah tali yang tergelantung, membuat Jeje menggidik ngeri melihatnya


" Kamu mau mencoba membunuh diri hah? "


" Ng itu... "


" Lalu yang mendobrak pintu kamarmu itu Samuel? "


Regi mengangguk


" Astaga! Regi! "


Regi hanya terdiam. Melihat wajah cemas Jeje membuat rasa bersalah Regi menyeruak keluar


" Kamu ini sudah gila hah?! Kalau saja Samuel telat datang! Mungkin saat ini kakak sudah menyesal meninggalkanmu sendiri dirumah! Lagian kenapa kamu gak cerita sih! Kamu gak anggap kakak ini kakakmu lagi hah? sampai kamu frustasi mau bunuh diri! "


" Kakak jangan omeli aku lagi. Paman sudah menceramahi aku semalaman. Aku rasanya sudah puas dimarahi "


" Haish anak ini! "


" Maafkan aku kak " ucap Regi menyesal


Jeje menghela nafas, mengatur emosinya. Kini Jeje sudah lebih tenang


" Sekarang katakan, siapa ayah dari bayimu itu? "


" Aku tidak bisa mengatakannya sekarang kak "


" Kenapa? "


" Itu karena... um... "


" Apa itu anaknya Evan? "


" Eh? "


Regi tersentak ketika Jeje dengan benar menebak Evan dalam dugaannya


Jeje mengrenyitkan keningnya.


" Ternyata benar, kamu mengandung anak cecungguk itu! "


" Kak! Kumohon jangab kasih tau siapa - siapa. Ibu, ayah ataupun keluarganya Evan "


" Tapi kenapa? "


" Aku akan ceritakan alasannya. Tapi gak sekarang "


Regi menunduk sedih seakan memelas, membuat Jeje jadi merasa iba karennaya.


" Baiklah, kakak akan diam untuk saat ini "


" Terima kasih kak " Regi tersenyum pahit


" Jadi kamu tengah mengandung saat ini? Kamu mengandung keponakan ku? "


" Hm iya... " Regi tersenyum


Jeje tersenyum senang melihat senyum diwajah adiknya.


" Regi, kakak mau kamu jangan nekat seperti ini ya! Kalau ada apa - apa cerita. Kamu punya kakak, ayah dan ibu. Kita keluarga, kita akan selalu menyayangi kamu bagaimanapun kondisinya "


" Aku mengerti, aku minta maaf. Aku menyesal "


Jeje mengusap pelan kepala Regi


" Ku dengar Evan mau berangkat ke Jerman, apa sebelumnya dia tau tentang ini? "


Regi menggeleng


" Sudah ku duga. Ya apapun rencanamu kakak dan juga ayah dan ibu pasti akan mendukungmu "


" Aku sebelumnta takut kalian akan marah dan membenciku... "


" Tidak akan ada yang membencimu, kami semua menyayangimu Re "


" Ngomong - ngomong bagaimana bisa paman tau kamu berencana akan um... "


" Bunuh diri? "


" Jangan katakan kalimat mengerikan itu! "


" Maaf... Paman tadi bilang dia kesini untuk mengantar bubur. Dia mengetuk pintu tapi gak ada jawaban, lalu masuk karena rumah gak dikunci... "


" Lalu dia ke kamarmu? "


" Dia kesini karena mendengar suara tangisanku "


" Huh~ " Jeje menghela nafas panjang " Ya Tuhan, aku bersyukur Samuel datangan. Aku merasa lega. Terima kasih Tuhan "


" Paman sangat mencemaskanku tadi, aku jadi merasa bersalah sudah membuatnya khawatir tadi "


" Sudah seharusnya kamu merasa bersalah, hampir saja tadi aku mau meninju Samuel karena salah paham ini "


" Dia bilang mau menikahiku, dan bertanggung jawab atas bayi ini... "


" Dia pria yang baik, sayangnya duda "


Regi mengangguk


" Paman baik sekali. Dia pasti merasa sangat kasihan padaku "


" Sudahlah. Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Tenangkan diri. Besok kita akan bicara lagi "


Regi mengangguk


" Kakak akan menemanimu sampai kamu tertidur, jadi tenanglah "


Regi tersenyum


" Terima kasih kak "


Jeje tersenyum walau dalam hatinya merasa begitu berat.


Seakan mengerti, Jeje baru tersadar kenapa Regi akhir - akhir ini sering murung.


Regi pastilah telah melewati hari - hari yang berat. Mengandung diusia belia seperti ini pasti membuat dirinya trauma dan bingung. Regi tanggung semua itu sendiri.


Jeje kembali melihat Regi yang tengah tertidur. Jeje tatap wajah Regi.


Lingkaran sembab disekitar mata Regi seakan menjelaskan berapa banyak airmata yang Regi keluarkan.


Jeje merasa begitu iba


Jeje usap poni Regi, kesamping.


" Kakak berjanji Evan akan membayar semua ini! bagaimana bisa dia tidak sadar apa yang telah ia lakukan padamu Re! "


***


" Paman! " pekik Regi


Regi berlari menghampiri Samuel yang sedang menyiram tanaman didepan rumahnya


" Regi? " kaget Samuel


Samuel melempar selang air yang tengah ia pegang sembarang. Lalu menghampiri Regi


" Paman tolong... "


" Ada apa Re? "


" Kakak! "


" Kakak? maksudmu Jeje? "


" Iya paman, pagi - pagi sekali kakak pergi. Kata ibu Kakak mau ke bandara "


" Bandara? "


Regi mengannggum


" Mau apa Jeje kebandara? "


" Evan hari ini berangkat ke Jerman. Aku takut kakak menyusul Evan ke bandara. Aku takut kakak nekat "


" Baiklah, sekarang kita kebandara "


Samuel segera mengambil kunci mobilnya. Bersamaan Regi dan Samuel masuk kedalam mobil.


Secepat mungkin Samuel mengendari mobilnya menuju bandara.


...


Sementara itu Jeje yang sedang mengemudikan mobilnya...


" Evan! Akan ku buat kau menyesal! Kau sudah buat hidup Regi berantakan! Tidak akan kubiarkan kau pergi dengan tenang! " gumam Jeje


Jeje menambah kecepatan laju mobilnya, agar ia bisa lebih cepat sampai kebandara


...


Sementara itu di Bandara


" Mau apa si Jeje tanya kamu berangkat jam berapa " bingung Chris


" Kenapa kak? " tanya Evan


Evan baru saja selesai check in, ditemani oleh Christian kakak laki - laki Evan


" Ini tadi si Jeje telfon kakak "


" Kak Jeje? "


" Hm... "


" Kak Jeje mau apa telfon kakak? "


" Dia tanya kamu berangkat jam berapa "


" Benarkah? ada apa? "


" Entahlah "


" Apa mungkin Regi yang bertanya? "


" Regi? "


" Apa mungkin Regi berubah pikiran dan mau menyusulku kesini? "


Evan tersenyum.


" Bisa jadi, Regi gengsi tanya langsung jadi minta tolong kakaknya "


Evan tersenyum - tersenyum kecil ketika mendengar penututan Chris. Hatinya seakan berbunga - bunga.


" Apa mungkin Regi sedang dalam perjalanan kesini? " ucap Evan dalam hati dengan senang


Sementara itu


" Paman... "


" Tenanglah Re, semuanya akan baik - baik saja "


Regi terus menerus memegangi perutnya.


*** TO BE CONTINUED ***