
"Selama ini aku selalu menjaganya. Hampir seumur hidupku aku selalu menjaganya! Bagaimana bisa berakhir seperti ini?!! Bagaimana bisa dia melakukan semua ini padaku" ucap Evan kesal.
"Yang terpenting kamu sudah tau sekarang." ucap Jessie.
"Sebaiknya kamu tinggalkan Regi, Van." sambung Kayla.
...
Banyak yang sudah terjadi.
Banyak juga yang sudah kita lewati bersama.
Seandainya memang takdir kita seperti ini, haruskah aku meragukannya?
Dia kini datang kembali.
Disaat aku tidak yakin dengan perasaanku kepadamu.
Yakinkah kita akan selalu bersama?
—Samuel
***
Tiba - tiba saja mobil Evan terparkir didepan rumah Darren.
Evan menjemput paksa Darren, untuk pergi bersamanya.
di dalam mobil Evan...
"Ini kita mau kemana?" tanya Darren bingung. "Aku ada janji sama Kayla, mumpung aku ada disini, lusa kan harus kembali ke kampus."
"Regi sekarang tinggal dimana?" tanya Evan dengan datar.
"Nah kan Regi lagi!" omel Darren malas. "Kau ini keras kepala banget sih Van?! Batu tau gak?!"
"Kenapa? Apa karena dia sekarang sudah jadi istri orang lain?" ucap Evan dingin.
Seketika Darren bungkam. Darren terkejut ketika tau, kalau Evan sudah mengetahui semuanya.
"Um... Eh...itu bagaimana bisa... kau..."
"Kenapa? kau kaget sekarang hah?"
"Tunggu Van, jangan emosi dulu."
"Gimana gak emosi? selama ini kau, Jessie, Kayla, kalian menutupi hal sebesar ini dariku! Dan kau Darren, orang yang paling aku percaya, kau juga sama mau menipuku!"
"Bukan begitu Van... ini..."
"Ah sudahlah! gak penting dengar alasanmu yang udah gak penting lagi! sekarang aku sudah tau semuanya."
"Semuanya?"
"ya Semuanya."
"Apa saja yang kau tau?"
"Ha?"
"Apa Evan juga sudah tau tentang Katia?"
Darren tampak ragu, melihat Evan yang emosional seperti ini, membuat Darren setidaknya sedikit yakin kalay Evan sudah tau semuanya.
Namun Darren masih enggan membuka pembicaraan tentang Katia, terlebih dahulu. Darren takut kalau ternyata, Evan hanya tau sebatas Regi telah menikah saja.
"Van, udahlah. Percuma Regi telah menikah. Mau apa lagi?" ucap Darren.
"Ini gak benar! Ini pasti ada yang salah! Kenapa Regi harus tiba - tiba menikah? Kenapa dia menikah ketika aku gak ada disini."
"Tapi Van—..."
"Diam! tunjukan saja arah rumah Regi saat ini. Kalau kalian semua tidak ada yang mau memberitaukanku yang sebenarnya, aku akan mencari tau sendiri, tentang ini."
"Van..."
"Percuma mau menahanku! aku akan tetap pergi mencari rumah Regi, baik itu dengan atau tanpa kau Darren!"
"Jeez!"
"Sekarang kau mau kasih tau gak alamatnya dimana?"
"Iya - iya! Mereka tinggal di rumah Samuel, yang lama. Dekat rumah Regi."
"Benarkah?"
"Ya Lord Van~ kalau Kayla sampai tau aku bisa diomelinya!"
"Gak akan, Kayla begitu menyanyangimu Darren, gak mungkin dia tega memarahimu."
"Ya kalau gak Kayla, Jessie yang akan menerkamku!"
"Um kalau itu..."
"Haish!!" ucap Darren frustasi.
***
Tak lama Evan dan Darren tiba di sekitar rumah Samuel.
Evan memarkirkan mobilnya sedikit agak jauh dari depan pagar rumah Regi.
Sengaja Evan melakukan itu, agar ia bisa mengawasi situasi sekitar terlebih dahulu.
"Sepertinya si paman ada dirumah." celetuk Darren.
"Ha? maksudnya?"
Evan menoleh melihat Darren, lalu Darren juga menoleh melihat Evan.
"Itu lihat ada mobilnya, artinya dia mungkin saja ada dirumah." ucap Darren.
"Aku akan datangi dia sekarang juga! kurang ajar!" ucap Evan geram.
Belum sempat menahan Evan, Darren kini kerepotan mengejar Evan yang mendadak langsung keluar dari dalam mobilnya.
"Evan!" teriak Darren.
Emosi Evan kian memuncak, di dalam dirinya.
Tepat di depan rumah Samuel, Evan menekan tombol bel rumah tersebut.
Tak lama seseorang datang untuk membukakan pintu.
Kaget! Samuel tidak bisa menyembunyikam ekspresinya ketika melihat Evan berdiri dihadapannya.
"Evan..."
"Kau!"
Dengan penuh Emosi, Evan mengangkat kedua kerah baju milik Samuel.
"Kau apakan Regi hah?!" teriak Evan.
Bugh!
Evan melayangkan satu pukulan kencang, tepat ke wajah Samuel.
Alhasil Samuel tersungkur dengan luka di pelipis matanya.
"Evan! stop! Kau ini apa - apaan hah?!" pekik Darren sambil berusaha menjauhkan Evan dari Samuel.
"Lepas! Lepaskan aku Darren! dia pantas buat diberi pelajaran."
Evan berusaha berontak melepaskan diri dari Darren yang menahannya.
Sementara itu Samuel bangkit berdiri sambil menatap tajam Evan.
"Kau— Apa yang kau lakukan pada Regi hah?!" teriak Evan. "Apa yang kau lakukan?!"
"Bukankah itu seharusnya menjadi pertanyaanku, apa yang sedang kau lakukan?!"
Kini Samuel tidak memandang Evan sebagai mantan muridnya. Samuel kini melihat Evan sebagai sosok pemuda yang arogan dan kasar.
"Paman maaf, kami minta maaf." ucap Darren sambil menundukan kepalanya, walau tangannya masih menahan Evan disana.
Darren menyeret Evan keluar dari halaman rumah Samuel.
Tidak peduli berapa kuat Evan melawan dan meronta, Darren terus berusaha sekuat tenaga membawa Evan kembali ke mobilnya.
"Arghhh! untuk apa kau minta maaf padanya?"
Merasa Evan sudah bisa dikendalikan, Darren melepaskan Evan dari tangannya.
"Kau ini apa - apaan hah?! mana bisa kau berbuat seenaknya di rumah orang lain!" Omel Darren kesal.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa membuat perhitungan dengan pria tua bangka yang mengidap Pedofil, hah?"
"Apa pedofil ?"
"Iya pedofil, apalagi sebutannya jika buka kelainan seperti itu?"
"Eh Evan jangan bicara sembarangan! Regi bikan anak kecil, dia menikah sudah cukup umur! Orang lain bisa jadi salah paham jika mendengar kamu bicara begini."
"Kau diam disini, aku akan kembali kesana dan menghajarnya sampai dia mau melepaskan Regi."
"Eh, gak bisa!"
Darren menarik Evan kembali kedalam cengkaramannya.
"Lepas! Lepasin gak!"
"Setelah kau berjanji tidak kembali kesana dan berbuat keributan."
"Tidak bisa!"
"Kalau begitu akupun tidak bisa, aku tidak bisa membiarkanmu membuat keributan seperti ini."
"Jeez! baiklah Darren!"
Setelah Evan menyetujui persyaratan darinya, Darren melepaskan Evan kembali.
"Regi pasti dijebak olehnya, Regi pasti dipaksa menikah dengannya!" oceh Evan.
"ini semua karena dirimu sendiri Van, bukan karena paman. Tapi Regi menikah dengannya karena kamu!" jerit Darren dalam hati.
"Aku akan membuat perhitungan dengannya, dan membuat dia menceraikan Regi sekarang juga!"
"Jangan gila Van!"
"Gila?! kau pikir aku yang gila? kalian semua yang gak waras! bagaimana bisa kalian membiarkan Regi menikah dengan pria tua itu, bahkan kalian sampai bersekongkol untuk menutupinya dariku?! ada apa dengan kalian hah?!"
"Tapi Van~..."
"Arghh sudahlah!"
Evan masuk ke dalam mobilnya, disusul Darren.
Ketika Evan hendak menyalakan mesin mobilnya, sosok Regi melintas dihadapannya.
Regi berjalan santai menuju rumahnya. Tanpa menyadari kalau Evan melihatnya dari dalam mobil.
"Regi..." ucap Evan.
...
"Aku pulang" ucap Regi, seraya masuk kedalam halaman rumah.
Pintu rumah terbuka, Samuel yang membukakannya.
Senyum tipis diwajah Regi yang setiap kali ia selipkan ketika bertemu Samuel, mendadak menghilang.
"Loh paman, wajah paman ke—..."
"Regi!"
Belum sempat Regi menyelesaikan kalimatnya, Evan datang menghampiri sambil memanggil nama Regi.
Regi menoleh kebelakang.
"Evan... se... sedang apa kamu disini?"
—TO BE CONTINUED—