
The Lily's Restaurant
Malam ini kedua keluarga berkumpul di sebuah restoran berbintang untuk makan malam bersama, menjelang hari pernikahan
" Kamu siap menyapa mereka? "
Samuel mengulurkan tangannya, untuk Regi sambut
Samuel dan Regi baru saja tiba di sebuah Restoran berbintang.
Samuel sengaja memesan tempat, untuk jamuan acara makan malam bersama, antara kedua keluarga. Keluarganya dan keluarga Regi
...
Layaknya pasangan, Regi dan Samuel melangkah bersama masuk kedalam ruangan. Ruangan yang tidak terlalu besar, namun terasa sangat eksklusif.
Kesan mewah dan hangat, layaknya jamuan makan malam bintang 5 pada umumnya, dapat Regi rasakan ketika dia mulai diarahkan menuju bangku yang memang dikhususkan untuk keluarga inti.
" Paman, apa paman yang menyiapkan semua ini? " tanya Regi berbisik
" Kau suka? "
Regi membuka matanya lebar, tersenyum dan mengangguk, secara bersamaan.
" Syukurlah " ucap Samuel berbisik ditelinga Regi
...
" Oh lihat lah bu, bagaimana bisa mereka bersikap seperti ini? " bisik Naomi ke telinga Renata
Renata mendengar apa yang Naomi katakan, namun Renata lebih memilih mengabaikannya.
" Kita semua tau apa alasan mereka menikah. Tapi kenapa mereka bersikap seolah mereka memang pasangan yang sesungguhnya? huh! menyebalkan! "
" Kamu sebaiknya diam! jangan sampai membuat keributan! bagus jika mereka pada akhirnya saling mencintai, bagaimanapun mereka akan menikah! "
" Astaga Ibu! kenapa ibu justru mendukungnya? "
Naomi mendengus kesal. Ia sebal ibunya tidak berpihak mendukungnya, menentang hubungan Regi dan Samuel.
...
" Perkenalkan, ini ibuku " ucap Samuel sambil menggenggam tangan Renata " Lalu dia adikku, Naomi "
" Perkenalkan, kami dari keluarga Regita. Saya Wilson, ayahnya Regi. Lalu ini Natalia ibunya Regi, disebelahnya Jeremy, kakak laki - lakinya Regi " Jelas Wilson
" Senang berkenalan dengan anda " ucap Renata sambil menundukan sedikit kepalanya
" Ya nyonya, kamipun juga senang bisa bertemu dengan anda "
Samuel dan Regi sedikit lega, karena acara pertemuan ini, bisa dikatakan berjalan dengan lancar. Kedua keluarga saling menyapa dengan baik.
Semua tampak baik - baik saja, kecuali satu orang! ya orang itu adalah Naomi.
Wajah Naomi sedari tadi Regi perhatikan terlihat masam, kecut dan tidak bersahabat.
Regi sedikit gusar melihatnya. Regi penasaran pikiran buruk apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Namun semakin Regi memikirkannya, Regi semakin sadar, kalau dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada semua orang. Jadi Regi memutuskan untuk mengabaikan perasannya dan juga Naomi.
...
Persiapan demi persiapan telah selesai. Semua berjalan sempurna, sesuai dengan rencana sampai pada malam sebelum hari H
Tok... Tok.. Tok, seseorang mengetuk pintu kamar Regi
" Masuk saja, pintunya gak di kunci " ucap Regi setengah berteriak
" Sayang, kamu belum tidur? "
" Ibu... "
Regi memandang ibunya dengan ragu.
" Eh ada apa? kenapa wajahmu muram seperti ini? calon pengantin gak boleh tegang begini wajahnya "
" Mudah bagi ibu bilang begitu, ini pengalaman pertama bagi Regi Bu~ "
" Owh kamu gugup... hha tenanglah, besok kamu hanya perlu berjalan di altar. Setelah itu biarkan Samuel yang melakukan sisa tugasnya "
" Paman... dia, ... dia sudah baik sekali padaku. Dia membantuku sampai sejauh ini "
Tiba - tiba Natalia menggenggam tangan Regi erat dan menatap Regi lekat.
" Re, ibu mau kamu melupakan semuanya mulai saat ini. Ibu mau besok kamu benar - benar membuka lembaran baru dalam hidupmu, bersama Samuel "
" Ibu... "
" Siapapun ayah dari anak yang kamu kandung saat ini, kenyataannya besok Samuel yang akan menjaga dan merawatnya. Ibu mau kamu sadar itu... "
Regi membuang nafasnya perlahan
" Re... "
" Ya bu... "
" Apa ibu boleh tanya sesuatu? "
" Ya tentu saja bu, ada apa? "
" Apa kamu masih mencintai Evan? "
Deg!!
" Ke- kenapa ibu bertanya tentang itu? "
" Ibu tau Evan adalah pemuda yang baik. Tapi seorang yang baik saja tidak cukup Re... "
" Apa maksud ibu? "
" Ibu hanya mau kamu bahagia bersama Samuel. Ibu mau kamu belajar menerima Sam, sebagai suami kamu. Ibu tau itu tidak mudah, tapi cobalah membuka hatimu perlahan. Ibu yakin kalian punya banyak waktu untuk saling mencoba mencintai "
" Ibu... paman dia... "
" Ibu tidak mau kamu berusaha melupakan Evan. Itu hanya akan membuatmu selalu mengingatnya. Ibu mau kamu fokus dengan Samuel dan bayimu, paham? "
Regi mengangguk.
" Anak pintar. Nah sekarang tidurlah. Besok pagi adalah harinya "
" Iya bu, terima kasih sudah membuat perasaanku lebih baik "
Natalia mengangguk pelan.
Regi dan Natalia sama - sama saling tersenyum tipis, untuk saling menguatkan satu sama lain.
***
INILAH HARINYA
Kedua pengantin tengah bersiap diruang riasnya masing - masing.
Keduanya gugup. Merasa sangat gugup!
POV SAMUEL
" ya Tuhan bagaimana bisa aku merasakan gugup lagi seperti ini? rasanya debaran ini melebihi rasa yang pernah aku rasakan sebelumnya. Aku gak sangka akhirnya aku akan menikah lagi hari ini "
Samuel merasa begitu gugup, gelisah, dan tidak tenang. Samuel tidak menyangka dia akan merasakan kembali rasa gugup itu. Rasa gugup yang melebih dari pernikahan pertamanya.
...
POV REGI
" Huuuh~ "
Entah sudah berapa kali Regi menghela nafasnya. Mencoba membuang rasa gugupnya.
Regi diharuskan tetap tenang, karena riasannya sudah terias cantik di wajahnya. Kalau dia gugup apalagi sampai berkeringat, sudah pasti riasan diwajahnya akan mudah rusak.
Jadi, Regi berusaha tetap tenang dan mencoba melepas semua kegelisahannya.
Regi berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya akan baik - baik saja.
...
Para pendamping mempelai, mulai mendatangi ruang rias pengantin satu persatu.
" Ini sudah waktunya... " ucap dari masing - masing pendamping
Regi dan Samuel dari masing - masing ruangan mereka, sontak saja menoleh.
Mereka sama - sama langsung memepersiapkan diri.
Ini saatnya Mereka bertemu di Altar!
...
Samuel dengan gagahnya berjalan pelan keluar ruangan. Samuel menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan, agar dirinya bisa merasa jauh lebih tenang.
Samuel melangkah dengan pasti dan penuh keyakinan.
Begitu Samuel masuk kedalam gereja, semua mata tamu yang datang mengarah padanya.
Beberapa dari mereka, termasuk Gwen mantan istri Samuel juga menyaksikan serta mengagumi betapa Samuel terlihat begitu gagah, dengan setelan jas hitam serta dasi kupu - kupunya.
Entah kenapa seketika itu Gwen merasa telah menjadi wanita terbodoh di dunia. Gwen berfikir bagaimana bisa dirinya melepas Samuel dalam hidupnya.
Namun penyesalan memang selalu datang di akhir. Tidak peduli betapa sakit dan terluka hatinya. Samuel tetap akan menikah dengan gadis lain.
...
Sang ayah datang menghampiri Regi, menawarkan tangannya untuk disambut dan digenggam oleh Regi
Dapat Wilson lihat dengan jelas betapa cantik wajah anak perempuannya saat ini.
Melihat wajah Regi dengan riasan pengantin, merupakan salah satu bagian dari mimpi Wilson membesarkan Regi. Wilson selalu berdoa disetiap tahunnya agar diberikan panjang umur, hanya untuk hari ini. Hari dimana dia bisa membawa Regi kedepan altar.
Wilson menatap lekat Regi, Wilson tau persis kegundahan hati Regi. Ini memang bukan pernikahan yang diharapkan. Tapi setidaknya ini merupakan pernikahan yang terbaik untuk Regi, anaknya.
" Kamu terlihat sangat cantik hari ini " ucap Wilson " Putri ayah sangat cantik, dan ayah bangga memiliki putri seperti kamu Regi... "
Regi tersenyum namun matanya berkaca - kaca
" Jangan menangis, ini hari bahagiamu. Tidak boleh ada tangisan haru. Hanya akan ada senyum bahagia "
" Ayah... "
" Ayo, Samuel telah menunggumu "
...
*** backsound ***
( isi hati Regi untuk Evan di hari pernikahannya) dan ( Andai Evan tau apa yang terjadi saat ini )
— All I Ask by Bruno Mars —
⏭️⏯️◀️⏪⏮️
***All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
'Cause what if I never love again***?
...
Pintu itu terbuka lebar
Sebuah karpet merah tergelar dengan indah menuju Altar.
Regi perlahan berjalan menghampiri Samuel yang tengah berdiri di depan Altar.
Dengan memegang tangan sang ayah, Regi berjalan dengan tenang dan beriringan. Hingga sampai pada akhirnya Regi tiba di depan Altar, dan Wilson menyerahkan tangan Regi untuk disambut oleh Samuel.
" Kalian berbahagialah. Lupakan masa lalu, dan bukalah lembaran baru " ucap Wilson pelan kepada Regi dan Samuel
Samuel membungkuk sempurna memberi hormat pada Wilson, sesaat lalu menegakan kembali punggungnya.
" Aku titip Regi padamu "
" Iya, saya akan menjaga Regi "
Wilson menepuk lengan Samuel pelan, sebelum akhirnya Wilson duduk bersama dengan tamu yang hadir lainnya.
...
Sebelum pemberkatan, secara naluri Samuel dan Regi sempat saling pandang.
Dan Seperti pasangan umum lainnya, mereka saling menggenggam tangan pasangan mereka masing masing, ketika prosesi pemberkatan dimulai
" Saya bersedia " ucap Evan, lalu ucapan yang sama Regi katakan, ketika pengambilan sumpah
" Saya bersedia "
Lalu mereka dinobatkan secara sah sebagai sepasang suami dan istri yang sah dimata agama.
*** TO BE CONTINUED ***