
Aku memang lelah untuk memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan.
Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan selalu membuatmu bahagia.
...
pukul 10 malam
Regi keluar dari dalam kamar Katia. Ia baru saja menidurkan Katia 5 menit yang lalu.
Kebetulan kamar Katia berada di antara kamarnya dan kamar Samuel.
Dan ketika Regi keluar dari dalam kamar Katia.
Regi mendapati kamar Samuel yang terbuka sedikit.
Awalnya Regi berfikir kalau Samuel pasti sudah tertidur dan lupa menutup kamarnya dengan rapat.
Oleh karena itu, Regi berniat untuk menutup pintu kamar Samuel.
Namun ketika Regi hendak ingin menutup pintu tersebut, Regi tergoda ingin menoleh, melihat sedikit kedalam kamar Samuel.
"Eh?"
Ketika Regi lihat kedalam, kasur Samuel masih kosong. Tidak ada Samuel disana. Pemikiran Regi ternyata salah.
"Loh paman gak ada?" gumam Regi. "Paman dimana?"
Seakan tidak mau ambil pusing, Regi langsung menutup pintu kamar Samuel kembali.
Lalu Regi kembali menuju kamarnya.
Tapi tiba - tiba saja, ketika Regi ingin membuka pintu kamarnya. Regi tergelitik ingin tau dimana suaminya saat ini.
Regi kembali menyusuri ruangan. Dan dapur adalah tujuan pertamanya.
Benar saja, sesampainya Regi diruang makan, Regi melihat Samuel sedang duduk sendiri disana.
Lampu ruang makan padam, hanya satu lampu hias diatas meja makan saja yang menyala, menemani Samuel dalam keheningannya.
"Paman disini..." ucap Regi
Samuel sedikit kaget ketika mendengar suara Regi yang tiba - tiba saja memecah kehingan malamnya.
"Loh Re, kamu belum tidur?"
"Tadi Katia sempat rewel, jadi aku menyusuinya sebentar."
"Oh~..."
Regi melihat 2 kaleng bir dihadapan Samuel, dan salah satunya sudah terbuka.
"Hha~ kamu belum boleh minum ini." ucap Samuel sambil menarik pelan kedua bir-nya.
Regi hanya tersenyum tipis sambil menunduk sesaat.
"Aku akan minum orange jus saja." ucap Regi.
Regi membuka kulkas-nya dan mengeluarkan botol orange jus-nya.
"Paman kenapa belum tidur?" tanya Regi sambil beranjak duduk disebelah Samuel.
"Belum, hanya belum mengantuk." jawab Samuel sambil diselipkan senyuman tipisnya.
"Paman, apa lukanya benar sudah tidak apa - apa?" tanya Regi cemas, bahkan Regi sampai mengusap bagian pelipis mata Samuel.
Mendapatkan sentuhan dari jemari tangan Regi, Samuel merasa ada sesuatu didalam dadanya yang mendesir pelan.
Samuel meraih tangan Regi yang menyentuh wajahnya.
Lalu dalam genggaman tangan Samuel, tangan Regi diusapnya dengan lembut.
Samuel menatap lekat Regi.
"Re, aku tau pernikahan kita memang tidai wajar."
"Paman, kenapa tiba - tiba paman..."
"Tapi satu hal yang aku tau, sumpah ku dan sumpahmu saat hari itu, Bukan suatu sumpah yang untuk dipermainkan. Tapi melainkan sumpah untuk saling membahagiakan."
"..."
"Jujur saja, melihatmu menangis dan terguncang seperti tadi, itu membuatku sedih. Aku ini suami seperti apa, yang tidak bisa menjaga istriku sendiri."
"Paman... Paman tidak seharusnya berfikir begitu."
"Re, walau pernikahan ini terjadi karena situasi kita saat itu. Entah terpaksa atau bukan. Tapi, aku berharap kamu selalu bahagia didalamnya."
Regi tersenyum. Kini Regi membalas genggaman tangan Samuel.
"Paman, aku bahagia. Selama aku bersama paman, aku selalu merasa bahagia. Paman juga sudah menerima Katia, apa lagi yang bisa membuatku lebih bahagia dari ini?"
Samuel tersenyum, dan Regi juga tersenyum.
Namun tiba - tiba tatapan lekat tersebut berubah menjadi tatapan sendu yang seakan berubah menjadi medan magnet diantara mereka.
Wajah Samuel mendekat dengan wajah Regi.
Semakin dekat, dan membuat nafas Regi berderu karenanya
Kini mereka sudah dalam satu zona oksigen yang sama.
Mereka bisa saling merasakan hembusan hangat nafas mereka.
Bohong jika Regi tidak gugup saat ini. Samuel seolah akan mencium bibirnya.
"di-dia akan menciumku! Bagaimana ini? apa aku harus menolaknya? aku belum siap! ... tapi! bagaimanapun juga aku adalah istrinya. Aku tidak bisa menolaknya begitu saja."
Namun tiba - tiba saja, pikiran rasionalitas Samuel datang dan hinggap didalam kepala Samuel.
"ini gak benar! ini gak benar sama sekali. Apa aku harus melakukannya sekarang? ... demi Tuhan, apa yang sedang aku lakukan?!"
Samuel menarik mundur wajahnya.
Suasana intim diantara mereka mendadak menghilang.
"Sudah malam..."
"Eh?"
Regi mengerjap kan kedua matanya. Regi heran kenapa tiba - tiba Samuel merusak suasana diantara mereka.
Jujur saja, Regi bingung dengan sikap tarik ulur Samuel kepada dirinya.
Bukan Berarti Regi juga sudah siap untuk menjadi istri seutuhnya untuk Samuel, namun jika ini memang kewajibannya, Regi akan mulai menjalaninya. Walau secara batin Regi juga tidak siap.
"Kamu kembali lah ke kamar, istirahatlah..."
Samuel bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan, dan Regi didalamnya.
"Apa yang terjadi? bukankah tadi paman ingin menciumku?... tapi kenapa dia tiba - tiba saja..."
***
Kampus...
Regi, Jessie dan Kayla sedang berkumpul di perpustakaan untuk belajar bersama.
Tapi bukannya belajar, mereka justru asik curhat.
"Heuh?" heran Jessie.
"Kok bisa?" heran Kayla.
"Gak tau tuh..." ucap Regi malas.
"Paman mau menciummu, tapi gak jadi." sahut Jessie.
"Iya." seru Regi BT.
"Kamu kelihatan nolak kali Re." ucap Jessie.
"Enggak kok." sangkal Regi.
"Heh Re, kamu yakin paman dulu saat menikahimu gak ada rasa sama sekali ke kamu?" tanya Kayla.
"Dulu aku yakin..."
"Tapi sekarang enggak?" sambar Jessie.
Regi mendelik.
"Kalau paman tiba - tiba meminta haknya sebagai suami gimana?" tanya Kayla.
Sontak saja pertanyaan Kayla membuat wajah Regi memerah seketika.
Rasanya Regi tidak sanggup membayangkan melakukan Hal Itu dengan Samuel.
"Gila!" ucap Jessie.
"Eh kenapa gila Jess?... wajar aja kan kalau paman memintanya, pernikahan mereka sah kok, ini bukan drama kawin kontrak atau perjodohan yang suka ada di drama." ucap Kayla.
"Mereka sama - sama sadar untuk setuju menikah. ya~ walau gak saling cinta." ucap Kayla kembali.
Regi menghembuskan nafasnya dengan pasrah, setelah mendengar penuturan dari Kayla.
Apa yang Kayla katakan gak salah. Bahkan gak ada salahnya sama sekali.
Yang Kayla katakan itu kemungkinan besar memang akan terjadi. Kalau mungkin saja suatu saat nanti Samuel menginginkan pernikahan yang sesungguhnya dengan Regi.
Karena Cinta itu bisa datang kapan saja. Cinta itu ada karena terbiasa bersama.
"Re..."
"Iya Jess, kenapa?"
"Kamu masih cinta sama Evan?"
"Eh? kok tiba - tiba tanya begitu?"
"Astaga Regi, kamu beneran masih suka sama cowok brengs*k kayak gitu?" sela Kayla.
"Hush Kay, jangan bicara begitu. Gak baik." ucap Regi.
"Memang benar kok, masa ada cowok lari dari tanggung jawab begitu."
"Bukan lari, dia hanya gak ingat." ucap Regi.
"Re... Mungkin saat ini Uncle~ masih bisa menahan atau memaklumi. Tapi bagaimanapun juga dia seorang suami. Dan jangan lupa, kalau dia tetaplah seorang laki - laki." ucap Jessie.
"Apa maksudnya dia laki - laki? ... Paman kan memang laki - laki Jess~" oceh Kayla tidak paham.
"Ogeb dasar!" omel Jessie pada Kayla.
"Kay~..." sahut Regi yang juga tidak kalah kesal.
"Ish kalian ini! paman kan memang laki - laki!"
Menghadapi Kayla memang harus ekstra sabar. Otaknya yang kadang suka tidak nyambung, kadang suka buat kesal teman - teman disekitarnya.
Namu sikap polos Kayla justru yang membuat Kayla selalu terlihat istimewa. Dia menjadi yang paling jujur dalam mengutarakan perasaanya.
—TO BE CONTINUED—