IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 17 FLASHBACK PART TWELVE



" Seira sangat manis. Dia punya mata seperti Gwen dan senyum seperti paman. Aku gak sangka Gwen sangat cantik. Padahal aku sering lihat wajahnya di drama tv, tapi aslinya jauh lebih kecil dan cantik " ucap Regi


" Menurut paman, apa wajah bayiku nanti akan juga memiliki wajah Evan? "


" Eh? "


Regi tertunduk sambil mengusap pelan perutnya.


" Apakah bayi ini akan memiliki wajah yang sama seperti Evan? "



" Paman maaf, sepertinya aku kurang pantas bertanya hal seperti ini pada paman "


Regi menolehkan sedikit pandangannya. Regi merasa salah telah berucap sesuatu yang terdengat tidak pantas.


Regi telah memutuskan akan menikah dengan Samuel, tapi kenapa justru Regi menyebut nama Evan di depan "calon suami"nya. Seketika Regi merasa bersalah


" Re, maaf aku diam bukan bermaksud untuk mengabaikanmu, hanya saja... "


" Paman gak perlu minta maaf. Ini bukan salah paman, aku yang salah tiba - tiba membicarakannya "


" Kita akan menikah, dan sebentar lagi, kita akan menjadi suami istri. Tapi... mendengar ada nama pria lain didalamnya, rasanya terlalu ... um... bisa dibilang menyedihkan jika didengar orang lain. "


" Paman maafkan aku. Aku sudah bicara salah... "


" Kita memang akan menikah, tapi kenyataan bahwa Evan adalah ayah kandung bayimu tidak akan berubah. Aku mungkin ayahnya nanti, tapi darah Evan lah yang mengalir didalam tubuhnya. Kamu jangan khawatir, aku akan tetap merawat dan menyayanginya sama seperti aku mencintai Seira. Tapi... Tapi kalau boleh ku minta satu hal, aku mau meminta padamu fokuslah pada rumah tangga ini "


" Paman... "


" Ketika ingat malam itu, aku merasakan ketakutan. Entah kenapa aku merasa takut jika saja saat itu aku telat menemukanmu. Atau aku sama sekali tidak datang ke rumahmu. Jadi kuputuskan kita menikah saja. Aku tau kamu merasa menderita menjalani semua ini dan merasa gak sanggup... "


" ... Tapi menikah apapun alasannya tetap saja menikah. Aku mau kita menjalaninya dengan benar... " ucap Samuel tegas


" Aku tau paman juga pasti kesulitan menghadapi gadis yang baru beranjak dewasa seperti ku ini. Tapi ketika kuputuskan untuk menikah dengan paman, duniaku yang sebelumnya sempat kelam, perlahan berubah menjadi terang kembali. Dan aku bersyukur untuk itu. Maafkan aku yang belum bisa berfikir dewasa ini paman... "


Samuel bisa saja menoleh sesaat walau sedang mengemudi.


Namun entah kenapa dirinya menolak untuk menoleh melihat Regi. Ada rasa yang aneh dalam hati Samuel. Marah? Kecewa? Tidak suka?


Entahlah, Samuel juga tidak mengerti bahkan setelah berulang kali memikirkannya.


Atau mungkinkah Samuel merasa cemburu?!


Halah! Rasa ke kanak - kanak an yang sudah lama Samuel tidak rasakan itu, berusaha Samuel tepis dari rasa abu - abunya didalam hatinya tersebut.


...


Tidak ada lagi pembicaraan setelah ucapan terakhir yang Regi katakan.


Samuel mengantarkan Regi pulang, lalu ia juga segera pulang tanpa bicara apapun lagi.


...


Bruuuk~


Regi menghempaskan dirinya keatas kasur empuk miliknya.


" akkkhhh!! bagaimana bisa aku berkata seperti tadi... Apa saat ini paman benar - benar marah? Aku gak pernah melihat paman semperti tadi " ucap Regi sedikit khawatir


" Re! "


Tiba - tiba pintu kamar Regi terbuka lebar. Jeje masuk kedalam kamar Regi tanpa permisi


" Kak, lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamarku "


" Eh? kenapa? biasanya juga aku langsung masuk "


" hhh~ kakak jangan ke seperti anak kecil. Aku kan sudah dewasa, mana bisa kakak menerobos masuk seperti tadi "


" Astaga, iya iya kakak tau. Kakak minta maaf kamu gak perlu marahi kakak ... "


" Ya sudah, ada apa kakak kesini? "


" Kakak penasaran bagaimana? "


" Apanya yang bagaimana? "


" Anaknya Sam? "


" Sam? "


" Maksudku calon adik ipar... "


" Heuh? adik ipar?! "


" Aneh ya menyebutnya adik ipar? Dia akan menikah dengan adikku, otomatis aku akan jadi kakak iparnya. Tapi kenapa aku merasa aku ini muda sekali untuk menyebutnya adik. Rasanya ganjal, benarkan? "


" Astaga kakak ini. Dia lebih tua dari pada kakak. Memanggilnya dengan sebutan "kakak" padanya saja, tidak sopan. Apalagi kakak memanggilnya dengan sebutan nama saja! "


Regi mengomel, sekaligus melupakan rasa emosi yang sebelumnya tengah ia pendam.


" Ya Lord, kenapa kamu terus berteriak pada kakak? memangnya tidak bisa kamu bicara dengan pelan saja? "


" Maaf kak, bukan maksud Regi berteriak pada kakak "


Regi sedikit menoleh membuang pandangannya dari Jeje.


" Re apa terjadi sesuatu? " tanya Jeje cemas


" Re, apa terjadi sesuatu dirumah mantan istrinya Samuel? eh maksudku kakak? Eh paman! "


" Kakak!! "


" Maaf aku jadi gugup menyebutnya, apa terjadi sesuatu disana? apa anaknya menolakmu lalu istrinya... "


Regi spontan menoleh menatap kesal Jeje


" Maksudku mantan istrinya melakukan sesuatu padamu? apa dia menjambakmu? "


" Kakak! kenapa kakak mengangguku? apa kakak gak tau kalau aku juga merasa berat dengan semua ini! " bentak Regi


" Astaga Regi, kamu berteriak lagi! atau jangan - jangan paman... "


" Apa? kakak mau bilang apa lagi? "


" Apa paman membatalkan pernikahan kalian, lalu mau rujuk dengan istrinya.. "


" Hiks... "


" Benarkah itu yang terjadi! Astaga Re?! apa itu yang terjadi? "


" Kakak bodoh! keluar sana! jangan temui aku lagi! "


" Eh salahkah? Lalu apa masalahnya sampai mood~ mu berubah jelek begini? Bagaimana bisa kakak tau kalau kamu diam terus "


" Hiks... hwaaa~ " Regi menangis. Regi lalu berhambur memeluk Jeje


" Re.. ada ap— "


" Kak! aku salah bicara pada paman! Hwaaa!! "


" Apa maksudmu? " ucap Jeje kaget.


Jeje menjauhkan kedua bahu Regi yang bersandar padanya.


" Aku... hiks... "


Regi bercerita tentang kejadian yang terjadi di mobil, pada saat dirinya diantar Samuel tadi.


" Astaga, jadi kamu menangis bukan karena berkelahi dengan mantan istrinya, atau di tolak oleh anaknya "


Regi menggeleng.


" Aku tidak sengaja mengungkit Evan "


" Ya, wajah saja menurutku, kalau Samuel jadi marah atau sekedar bete karena ucapanmu. Dia rela mengorbankan hidupnya, untukmu. Tapi kamu justru bicara tentang bajing*n satu itu! "


" Aku menyesal dan aku juga tidak bermaksud " ucap Regi penuh penyesalan


" Kamu sudah minta maaf pada paman? "


" Sudah... "


" Lalu paman jawab apa? "


" Dia diam saja "


" Sudah kuduga "


" Apa maksud kakak? "


" Sebaiknya kamu istirahat saja saat ini. Samuel akan baik - baik saja... "


" Tentu saja dia akan baik - baik saja. Aku yang tidak! karena aku yang salah "


" Begini, besok pagi kakak akan membantumu membuat kalian berdamai lagi "


" Heuh? kakak mau apa? "


" Sudah lihat saja besok. Sekarang kamu ganti baju, lalu istirahat "


...


07.45 am


*bunyi bel rumah*


Samuel membuka pintu rumah


" Paman... " ucap Regi yang tengah berdiri di depan rumah Samuel


" Regi " kaget Samuel " Sedang apa kamu sepagi ini ke sini? "


" Um~ ini... "


Regi menyodorkan sebuah kantungan makanan didepan Samuel


" Ayo kita sarapan bersama "


" Apa? "


Samuel terlalu terkejut sampai tidak bisa berkata - kata, karena Regi datang kerumahnya sepagi ini.


*** TO BE CONTINUED ***