IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 30



Ini memang tidak mudah. Menjadi seorang Ibu, Istri, dan Mahasiswa dalam satu waktu, terdengar sangat tidak mudah.


Akan tetapi, Paman yang merupakan sekaligus suamiku, membuatnya terasa begitu mudah.


Dia mendukungku, dia memberikan segalanya untuk membantu mewujudkan apa yang aku inginkan.


Aku sangat bersyukur memiliki paman di dalam hidupku.


—Regi



"Sudah kamu list apa saja yang mau dibeli?" tanya Samuel.


"Yup~" jawab Regi yakin, sambil mengeluarkam ponselnya.


Samuel tengah mendorong trolley belanja, sementara Rehi berjalan disampingnya.


Satu persatu mereka mulai mengambil segala keperluan yang sudah Regi list di dalam catatan ponselnya.


Sekarang tidak hanya keperluan rumah tangga yang mereka beli, ada kelengkapan lain yang harus mereka penuhi. Yaitu kebutuhan Katia.


Kini sudah hampir 1 jam Regi dan Samuel memutar dari tempat display satu ketempat display lainnya.


"Sudah." ucap Regi, setelah memastikan sudah tidak ada lagi barang yang harus dirinya ambil untuk dibeli.


"Sudah?"


"Um paman masih ada yang mau dibeli?"


"Mungkin beberapa makanan ringan lagi?. Atau bahan masakan?"


"Benar! kenapa aku baru ingat. Semenjak kita pindah kita selalu saja beli makanan di luar. Seharusnya aku kan yang masak?"


"Hha~ kamu bisa masak Re?" tanya Samuel sedikit menggoda Regi.


Regi mendengus sebal merasa dirinya diremehkan. Padahal Regi tau kalau Samuel hanya bercanda.


"Paman meragukanku?"


Samuel tersenyum simpul. Entah kenapa melihat Regi cemberut seperti itu membuat diri Samuel tergelitik.


Regi terlihat begitu menggemaskan.


"Dulu aku selalu masak dirumah."


"Benarkah?"


"Aku dan kak Je selalu ditinggal oleh Ayah dan Ibu jika mereka ke luar kota. Jadi setiap hari, kalau bukan kak Jeje yang masak, aku yang akan memasak." ucap Regi dengan bangga.


"Hm~ ... baiklah kita beli beberapa daging dan keperluan dapur." ucap Samuel dengan semangat.


Regi tersenyum ketika Samuel menepuk kepalanya pelan, dan tersenyum kepadanya.


***


"um... kira - kira mau beli sebanyak apa ya?" bingung Regi dalam hati.


"Hm paman, kira - kira dagingnya butuh berapa banyak?" tanya Regi pelan sambil menoleh melihat kesampingnya


"Eh? paman kemana?" gumam Regi bingung.


Seingat Regi Samuel tadi berada disampingnya.


Regi menoleh melihat kesekitarnya, mencari keberadaan Samuel.


Namun tiba - tiba saja ada seseorang datang menghampiri Regi, dan menepuk pelan bahunya, membuat Regi sedikit terkejut.


Regi pun menoleh, ia berfikir Samuel lah yang menepuk bahunya.


"Regi..."


Deg!


Kedua mata Regi terbelalak melihat sosok pria yang sedang berdiri didepannya.


Sosok pria yang sudah lama tidak Regi lihat. Sosok pria yang Regi harap kehadirannya tidak datang secepat ini.


"E-Evan..." ucap Regi sedikit gagap.


Regi memandang seolah tidak percaya.


"Apa kabar? sudah lama gak ketemu." tanya Evan tersenyum.


Semburat senyum diwajah Evan, memancing kembali rasa rindu yang sudah lama Regi pendam dan Regi abaikan.


"Aku senang bisa ketemu kamu disini." ucap Evan.


"Ka—..."


"Re~ aku beli 2, rasa apel dan jeruk. Apel untukku, dan jeruk untuk— "


Ucapan Regi menggantung ketika Samuel menyelanya.


Sementara Samuel ucapannya menggantung karena melihat sosok Evan dihadapannya.


Tak berbeda dengan Samuel, tatapan Evan pun berubah ketika melihat Samuel datang menghampiri Regi.


Evan tidak suka melihat kehadirannya.


"Evan kau disini?" ucap Samuel.


Ketika mendapatkan tatapan tajam dari Evan, Samuel yang mengetahui hal itu langsung mengalihkan atensinya kepada Regi.


"Kamu sudah memilih dagingnya?" tanya Samuel.


Regi hanya menganggukan kepalanya samar.


"Ya sudah ayo~ "


Samuel menggenggam tangan Regi. Lalu beranjak pergi.


Sontak saja hal itu membuat panas hati Evan. Evan sama sekali tidak menyangka kalau Regi dan Samuel masih berhubungan.


Suara wanita asing tengah memanggil nama Evan. Regi pun menoleh.


Deg!


Seorang gadis cantik dan manis, tiba - tiba saja merangkul lengan Evan dengan manja.


Walau Regi berusaha menutup rapat perasaanya, bohong kalau Regi tidak merasa sedikit panas melihat Ava bermanja pada Evan.


"Ava~..." —Evan


"Kenapa masih berdiri disini? Aku sudah nunggu di kasir dari tadi."


Evan dan Regi saling tatap dalam diam. Mereka saling memendam rasa, namun tidak bisa berbuat apapun.


Ava pun akhirnya menyadari ada yang aneh dengan sikap Evan yang tiba - tiba diselimuti aura tidak enak.


Ava memandang gadis yang tepat ada di sebrangnya. Seorang gadis yang juga tengah menatap Evan lalu mendelik melihatnya.


"Um dia siapa?" bisik Ava ditelinga Evan.


Sontak saja Regi mengernyitkan keningnya. Ia merasa tidak suka ada Ava di dekat Evan.


Evan menoleh melihat Ava.


"Kamu mengenalnya?" tanya Ava kembali.


"Um dia Regita..." jawab Evan.


"Eh? Regi?" Ava terkesiap. Seketika Ava kembali melihat Regi.


"Re ayo cepat!"


Bersamaan dengan Ava yang menoleh melihat Regi, Samuel yang sudah berjalan terlebih dahulu menoleh kembali untuk memanggil Regi.


"Iya." sahut Regi.


Regi pun segera menyusul Samuel.


"Jadi itu Regi..." ucap Ava yang masih tampak tidak percaya.


"Iya, dia Regi." ucap Evan sambil tersenyum pahit.


"Lalu yang tadi bersamanya siapa? ayahnya?"


"Bukan." Evan menggeleng pelan. "Dia itu Samuel, kekasihnya."


"Eh? kekasih?"


"Oh jadi itu paman yang buat Regi jadi mutusin kamu?"


"Sudahlah. Gak usah dipikirkan. Ayo..."


"Oh oke..."


Bersama Ava, Evan kembali berjalan.


***


Regi dan Samuel sedang dalam perjalanan menuju rumah.


Di dalam mobil...


"Bagaimana bisa kamu bertemu dengannya?"


"Eh?... Oh itu tadi dia menghampiriku."


"Bukankah seharusnya saat ini dia ada di luar negeri?"


"Benar, aku juga gak mengerti kenapa Evan bisa ada disini."


Samuel menghempaskan nafasnya sedikit berat, membuat Regi menotis nya.


"Ada apa paman?"


"Tidak..." jawab Samuel cepat. "Aku hanya merasa kalau ini memang sudah saatnya."


"Saatnya... saatnya apa?"


"Cepat atau lambat Evan pasti tau tentang Katia."


"Gak paman. Evan tidak akan tau apa - apa."


"Kamu jangan terlalu yakin. Bagaimanapun juga kamu tau kenyataanya seperti apa."


"Paman... Apa sebaiknya kita pindah lagi saja?"


"Heuh?"


"Ku rasa, aku masih bisa menunda kuliahku 1 tahun lagi."


"Eh mana bisa, kamu baru masuk kuliah. Gak boleh menunda lagi."


"Tapi paman..."


"Kita sudah sepakat, kalau Mengurus Kuliah dan Kuliahmu sama pentingnya. Jadi jangan ditunda lagi."


"Tapi Evan..."


"Kamu tadi kan pernah bilang, jika Evan kembali tidak akan merubah apapun."


Regi hanya terdiam sambil melirik Samuel yang duduk disebelahnya.


"Jadi kita biarkan saja, kita jalani saja seperti biasanya."


Regi terdiam tidak kembali menimpali ucapan Samuel.


Jauh di dalam lubuk hati Regi, sedikitnya Regi merasa cemas.


Bagaimana jika Evan sampai tau semuanya? ... Ah tidak mungkin! semuanya akan baik - baik saja seperti yang paman katakan. Asalkan tidak ada yang memberi tau Evan, semuanya akan baik - baik saja seperti saat ini.


—TO BE CONTINUED—