IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 32




Masih di kafe yang sama,


Namun Kayla dan Ava sedang ke toilet bersama.


Hal ini bukan mereka menjadi akrab secara tiba - tiba. Tentu saja bukan. Tapi ini hanya kebetulan, Kayla yang mau ke toilet dan Ava juga mau kesana.


Justry hal ini semakin buat mereka merasa jengkel satu sama lain. Pasalnya seperti perbuatan yang disengaja.


...


Kini hanya tinggal Darren dan Evan duduk bersama saling berhadapan.


"Ren~..."


"Oy kenapa?"


"Kenapa gak pernah bilang kalau Regi masih sama paman tua itu?!"


"Heuh?"


"Gak usah sok kaget!"


"Khmm... kok bisa tau?"


"Sudah jawab saja, kenapa gak pernah kasih updatan soal ini?"


"Van~ sebenarnya untuk apa bahas tentang Regi lagi. Kau kan sudah ada Ava."


"Um... sebenarnya itu..."


"Udah deh, sebaiknya lupakan Regi."


"Kenapa jadi tiba - tiba bilang suruh lupain?"


"Ya udah gak mungkin aja Van" jawab Darren dalam hati


Bukannya menjawab pertanyaan Evan, Darren justru mengambil cangkir kopinya lalu menyesapnya.


"Kau punya nomer ponsel Regi yang baru kan?" tanya Evan.


"Buat apa lagi?" tanya Darren heran.


"Gak usah banyak tanya. Intinnya aku mau minta. Kau mau kasih gak?"


Bingung! Lagi - lagi Darren dibuat bingung dengan situasi yang seakan mengapitnya seperti ini.


Kalau boleh jujur, Darren sendiri tidak tega pada Evan yang selalu dibuat galau tentang Regi.


Pasalnya sampai detik ini Evan pasti bertanya dalam hati, apa yang salahnya sehingga semua sahabatnya menjauhi dirinya.


Darren tidak tega tentang hal ini.


"Heh! Kok melamun?" tanya Evan.


"Iya..."


"Heuh? iya apa?"


"Akan aku kasih tau no ponsel Regi. Tapi usahakan jangan bilang dari ku." ucap Darren.


"Aneh! Kenapa begini banget sih? Emangnya salah ya kalau aku tau nomer Regi? Apa seperti dosa gitu?" bingung Evan.


"Ya... pokoknya jangan bilang tau nomer Regi dariku." ucap Darren sambil memainkan ponselnya. "Sudah ku kirim nomer kontaknya."


"Ya sudah iya. Thanks..."


Sesegera mungkin Evan menyimpan nomer ponsel Regi, yang Darren telah kirim melalui aplikasi Chatnya.


***


Sementara itu di rumah Samuel.


"Re..." panggil Samuel pelan.


"..."


Entah terlalu fokus memasak atau bukan, namun Regi tidak menjawab kala Samuel memanggil namanya.


"Regi..." panggil Samuel kembali.


Kali ini Samuel memanggil Regi tepat ketika ia berada disamping Regi.


"Pa-paman..." Regi bergidik kaget.


"Serius sekali masaknya." ucap Samuel.


"Oh ini... aku..."


Tiba - tiba saja Samuel memeluk Regi dari belakang. Lalu meletakan dagunya tepat diatas bahu Regi.


Deg! jantung Regi tiba - tiba saja berpacu dengan kencang.


"Paman... apa yang paman lakukan?..."


"Apa salah kalau aku memeluk istriku seperti ini?" ucap Samuel pelan ditelinga Regi.


"Ta-tapi paman..."


"Re, bagaimanapun aku suamimu..."


"Paman..."


Wajah Regi memerah entah karena Samuel menggodanya, atau Regi merasakan hasrat yang sama.


Tapi...


"Paman... paman..." ucap Regi.


"Eh?"


Samuel terkesiap.


Apa itu tadi baru saja? ... Ternyata buaian lembut tadi hanya ada didalam bayangan khayalan Samuel semata.


"Paman, ada apa memanggilku?" tanya Regi.


"Eh? ... Oh gak... tadi aku cium wangi sekali dapur hari ini."


"Oh aku pikir ada apa paman..." ucap Regi tersenyum.


"Kamu masak apa?"


"Karage, pamam suka kan?"


"Wah wah~ istriku memang pintar memasak." ucap Samuel.


"Ish paman jangan menggodaku."


"Hahaha... maafkan aku."


Regi tersenyum simpul.


"Ayo kita makan paman..."


"Pas sekali, aku baru saja selesai menyiapkan mejanya."


"Oh benarkah? ... Terima kasih paman."


Regi dan Samuel begitu hangat mengisi rumah tangga mereka.


Saling membantu sama lain, membuat keluarga kecil mereka terlihat begitu harmonis.


Namun keharmonisan itu tidaklah lengkap, Jika satu sisa lain dari inti rumah tangga tidak pernah dijalankan.


***


Darren : Woy


Darren : Udah hubungi Regi?


Evan : Kenapa?


Evan : Sepertinya khawatir sekali?


Darren : Van, saranku sudah aja.


Darren : Jangan penasaran lagi sama Regi.


Darren : Kan kau sudah ada Ava.


Darren : Mau apa lagi?


Evan : Oh ya Regi kuliah dimana?


Darren : —.—


Darren : Masih keras kepala juga


Darren : Udah dibilang jangan keras kepala lagi!


Evan : Dia satu kampus sama Kayla & Jessie?


Darren : Ealah Van, mau apa lagi sih?


Evan : Kenapa sih?


Evan : Kok gitu amat ngomongnya


Darren : Nih ya Van~ aku kasih tau.


Darren : Kalau Kayla sampai tau aku kasih nomer Regi padamu,


Darren : Bisa habis aku.


Evan : Aneh!


Evan : Aku tau emang ada yang aneh dari dulu semenjak aku pergi.


Evan : Gak sangka aja sampai sekarang hal itu masih!


Evan : Sebenarnya ada apa sih?


Darren : Asli Van~ gak ada apa - apa


Darren : Perasaan kamu aja itu.


Evan : Dari dulu jawabannya selalu gak ada apa - apa.


Evan : Padahal jelas - jelas kalian menyembunyikan sesuatu.


Evan : Kayla jutek gitu pasti ada alasannya.


Darren : dia lagi PMS.


Darren : Biasa cewek kan begitu.


Evan : Terserah!


Evan : Capek, mau tidur!


Darren : Yeuh dikasih tau juga.


Evan : read ✓


***


09.07 a.m


Regi baru saja keluar dari dalam kelasnya.


Wajah Regi terlihat begitu gusar, membuat auranya pagi ini terlihat tidak bercahaya.


"Katia dari tadi malam menangis terus, buat aku jadi khawatir." ucap Regi dalam hati.


"Regi."


Regi menoleh ketika seseorang memanggil namanya.


"Evan?" ucap Regi sedikit terkejut.


"Ternyata kamu kuliah disini..."


"Kamu sedang apa disini?"


"Um... udah lama gak ketemu, bisa kita ngobrol sebentar?"


"Gak bisa. Aku ada kelas."


Regi dengan tegas menolak ajakan Evan. Regi bergegas beranjak dari sana.


Namun tangan Evan dengan cepat menarik tangan Regi, menahan langkahnya.


"Mau apa lagi?... lepasin!"


Regi dengan mudah menarik kembali tangan yang sempat Evan raih dan genggam sesaat.


"Aku akan tunggu sampai kelas kamu selesai. Aku akan ikutin kamu ke kelas, dan menunggu kamu disana."


"Kamu mau apa sih?"


"Katanya mau ke kelas, sana ke kelas. Aku akan menunggu kamu."


Regi dibuat kesal oleh sikap Evan.


Ke kelas apanya, Regi bahkan baru keluar dari kelas sebelumnya.


Regi bergeming dihadapan Evan dengan raut wajahnya yang menahan kesal.


Evan pun tersenyum miring. Sudah lama ia merindukan melihat wajah Regi yang cemberut karenanya.


"Kamu mau bohongin aku ya, Poni..." ucap Evan dengan senyum miring diwajahnya.


***


Tidak jauh, disebrang kampus ada sebuah Kafe kecil yang tempatnya cukup Cozy untuk sekedar hangout.


Regi menarik nafasnya lalu menghembuskannya secara perlahan.


Kini ia tengah duduk berhadapan dengan ayah dari anak yang telah ia lahirkan. Anak yang sedang ia rahasiakan, oleh sebab itu bohong kalau Regi merasa tidak gugup saat ini.


"Oke kamu mau bicara apa?" tanya Regi yang berusaha tetap tenang.


"Kenapa kamu masih sama paman itu?"


"Ha? Apa?"


"Apa ucapanku kurang jelas?"


Regi terbungkam. Bukannya Regi tidak mendengar atau ucapann Evan kurang jelas.


Hanya saja Regi tidak menyangka Evan akan to the point kepadanya seperti ini.


"Aku pikir kamu akan berubah Re setelah bilang pisah dari aku. Ternyata kamu gak berubah sama sekali, kamu tetap pilih dia. Itu menyakitkan Re! rasanya sangat sakit."


Evan menundukan wajahnya, sedikit air mata menggenang dikelopak matanya. Tidak terjatuh, karena Evan buru - buru menghapusnya.


—TO BE CONTINUED—