IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 13 FLASHBACK PART EIGHT



" Maafkan aku... "


" A-pa katamu?! Maaf?!! " pekik Gwen



" Kamu keterlaluan Sam! Kamu keterlaluan tau gak?! " teriak Gwen sambil terus memukuli bagian dada Samuel. Gwen terisak seakan mengiba pada Samuel


Takut menjadi perhatian orang lain yang melihatnya, Samuel menarik Gwen kedalam rumahnya dengan cepat, lalu menutup pintu rumahnya.


" Kenapa kamu begini?! Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?! pada Seira!! "


" Maafkan aku, aku minta maaf padamu "


" Apa kamu benar - benar akan menikahinya? kamu akan menikahi murid mu itu hah?! katakan! katakan yang benar?!! Apa kamy sungguh akan menikahi dia?! "


Gwen berteriak dan bertingkah diluar kendali. Ia terus memukuli Samuel dengan sisa tenaganya yang sudah mulai lemas. Gwen melemas.


" Gwen kamu harus tenang dulu, baru kita bisa bicara... "


" Aku gak bisa tenang! aku gak mau tenang! "


" Gwen! " bentak Samuel


Gwen terus meracau dan berteriak, membuat Samuel terpaksa membentaknya.


...


Akhirnya Gwen bisa mengendalikan emosinya.


Samuel menyuguhkan teh hangat dihadapan Gwen


" Minumlah "


" Aku tidak haus "


" Setidaknya, meminum itu bisa menenangkan hati dan pikiranmu "


" Apa?! Tenang? Setelah aku tau semua rencana konyolmu itu, kamu masih menyuruhku untuk tenang?! ... "


" Gwen, kalau kamu emosi terus, bagaimana kita bisa bicara? "


" Katakan! Katakan padaku apa maksudmu?! "


" Aku akan menikahi Regi, karena Regi... "


" Apa?! karena Regi mengandung jadi kamu mau menikahinya? memangnya itu anakmu hah?! Apa kamu sudah tidak waras! "


" Ku harap kamu bisa menerima keputusanku, dan menghormatinya "


" Kamu minta aku menghormati keputusanmu! Apa kamu sadar dengan ucapanmu? "


" Akan ada bayi yang lahir tanpa ayah. Bayi itu gak berdosa dan aku mau menolongnya, kuharap kamu mau mengerti "


" Anakmu juga tidak berdosa, Seira gak berdosa. Bagaimana kamu bisa mentelantarkan dia demi bayi orang lain?! "


" Aku gak akan menelantarkan Seira. Aku akan mebesarkan keduanya "


" Bagaimana kamu bisa setega ini Sam! " tangis Gwen kembali pecah


" Regi dan bayinya membutuhkanku saat ini, cobalah kamu mengerti Gwen! "


" Seira juga membutuhkanmu! Dia anakmu! Darah dagingmu sendiri! Tapi kenapa kamu justru memilih anak orang lain! "


" Kamu gak bisa menyamakan kondisi Regi dan Seira "


" Kenapa gak bisa? apa bedanya hah?! "


" Seira lahir sebagai anakku dan juga anakmu. Tapi jika aku tidak menolong Regi dan bayinya, Regi akan memiliki bayi yang lahir tanpa ayah "


" Regi, Regi dan Regi! Kenapa kamu memikirkannya?! Memangnya kamu siapanya hah?! "


" Dia membutuhkanku Gwen "


" Dia membutuhkanmu hah? lalu bagaimana aku? aku bagaimana?! Memangnya Aku tidak membutuhkanmu? "


Seira mengiba didepan Samuel.


Sementara Samuel hanya bisa menundukan pandangannya, tidak mampu menjawab


...


" Hwaaaa!!! " Gwen menangis dalam perjalannya menuju rumahnya


" Bagaimana bisa dia tega melakukan semuanya ini padaku dan Seira "


Gwen menangis sambil mengemudikan mobilnya. Gwen bermonolog sendiri.


" Benar! kenapa aku harus rujuk dengan pria egois seperti dia! "


" Tapi Seira... Seira kan juga anaknya! "


Gwen merasa frustasi. Tidak peduli berapa kali Gwen berusaha menguatkan hatinya, Gwen akan kembali merasa sakit hati ketika mengingat Samuel lebih memilih anak orang lain dari pada Seira, anak mereka


Gwen tidak terima dengan pernikahan ini


***


" Mari kita menikah saja " ucap Samuel


Di hadapan keluarga Regi, Samuel melamar Regi.


Samuel datang kerumah Regi, mengumpulkan semua anggota keluarga di ruang tengah.


" Pa—paman... "


Samuel tiba - tiba dengan perlahan, mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna biru dari dalam saku celana panjangannya


Samuel buka kotak tersebut, lalu terlihatlah cincin emas putih bermata biru itu.


" Jangan keras hati. Aku tau kita tidak memiliki rasa satu sama lain. Tapi anak itu butuh pengakuan. Jadi biarkan aku membantumu " ucap Samuel


Samuel menatap Regi dengan hangat, namun Regi tidak berani membalas menatap balik Samuel.


Regi justru menundukan wajahnya, sedikit berpaling.


" Tapi paman... "


" Kenapa masih ada kata tapi? "


" Paman apa paman yakin? "


" Apa kamu yakin padaku Re? "


" Aku... "


Regi kembali mengingat ketika dirinya bertemu dengan Jia beberapa hari yang lalu. Jia terlihat begitu menderita karena bayinya. Jia mendapat begitu banyak penolakan


" Apa aku bisa menahan semua penolakan itu? " ucap Regi dalam hati


Regi perlahan memberanikan diri mengangkat pandangannya, melihat Samuel


" Aku... um~ aku... "


Samuel dengan sabarnya menunggu jawaban dari Regi. Tatapannya begitu tenang seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik - baik saja


Regi mengangguk


" Iya, aku mau. Demi bayi ini, kita menikah saja " ucap Regi yakin, walau didalam hatinya masih terasa abu - abu


Samuel tersenyum tidak terlalu lebar, namun cukup mewakili perasaanya yang bangga. Regi berani berkorban demi kebaikan Bayinya.


Dan mulai detik itu Samuel berjanji, kalau pengorbanan Regi serta dirinya tidak akan sia - sia.


Samuel berjanji akan sebisa mungkin menjaga Regi dan bayinya.


" Terima kasih " ucap Samuel sambil memakaikan cincin di jari manis Regi


" Paman... "


" Kamu akan menjadi ibu yang hebat "


Regi tersenyum, walau senyumnya seperti senyuman yang dipaksakan.


" Terima kasih paman " ucap Jeje sambil membungkuk menghadap Samuel


" Sam~ " sahut Natalia


Samuel membalas membungkuk, dihadapan Watson, Natalia dan juga Jeje


" Besok saya berencana mau membawa Regi kebukit, untuk bertemu dengan ibuku " ucap Samuel, setelah menegakan kembali tubuhnya.


" Apa? " kaget Regi


" Kita akan bertemu dengan ibuku, itupun jika kamu gak keberatan "


" Ibunya paman? "


" Aku sebelumnya sudah bicara mengenai hal ini dengan ibuku, bahwa aku akan menikahi Regi " jelas Samuel


" Benarkah? " tanya Regi gugup


" Benar, dan ibuku merestuinya. Tapi sebelum pertemuan antara kedua keluarga, Ibu mau menemuimu terlebih dahulu "


Regi terlihat bingung dan tampak sedikit ragu


" Apa kamu gak keberatan, bertemu ibuku besok? "


Samuel bertanya dengan begitu pelan tanpa ada kesan memaksa, membuat Regi dengan mudah merasa yakin kalau semuanya akan baik - baik saja


Regi tersenyum


" Aku tidak keberatan sama sekali paman. Kita akan pergi besok " ucap Regi yakin


" Terima kasih " ucap Samuel


***


09.09 am


Samuel dan Regi dalam perjalanan menuju Bukit, untuk menemui Renata.


" Paman seperti apa nanti disana? "


" Oh~ um dirumahku hanya ada ibu dan adik perempuanku Naomi "


" Adik perempuan? "


" Iya, dia adik ku satu - satunya "


" Apa dia seusia kak Jeje? "


" Ha? Oh itu... hahaha apa kamu khawatir? "


" Kau khawatir paman. Bagaimana kalau adiknya paman tidak menyukaiku "


" Tenang saja dia pasti menyukaimu, lagipula dia sudah sangat dewasa untuk menentang pernikahan kakaknya "


" Jadi dia lebih tua dari kak Jeje? "


" Tahun ini usianya 29 tahun, jadi kurasa dia sudah cukup dewasa untuk peduli masalah orang lain "


" 29 tahun? "


" Berapa usia Jeje tahun ini? "


" Kakak tahun ini 23 tahun "


Samuel tersenyum tipis


" Tapi paman jauh lebih terlihat tampan dari pada kakak, aku gak yakin kalau kakak diusia paman, dia masih bisa terlihat semuda paman "


" Hahaha apa kamu sedang memujiku, Re? "


" Apa paman sedang bercanda? bagaimana bisa paman tidak menyadari kalau paman begitu tampan? hha "


Regi dan Samuel tersenyum dan tertawa bersama.


Namun sayangnya senyum dan tawa itu tidak berlangsung lama, ketika Regi mulai menyadari dirinya sudah semakin dekat mau sampai dirumah Samuel. Regi kembali gugup.


...


" Apa?! Kakak mau membawa gadis itu kesini? " pekik Naomi


" Jangan berteriak! Teriakanmu bisa membuat ibu semakin pusing, Naomi "


" Bu, bagaimana bisa Ibu membiarkan kakak membawanya kesini?! Bahkan bagaimana bisa ibu bilang akan merestui mereka? "


" Diamlah! Kamu tau kalau kakakmu itu begitu baik hatinya. Dia akan melakukan apa yang menurutnya benar "


" Apa - apaan ini?! Kakakku akan menikah dengan seorang gadis yang hamil dari pria lain "


" Naomi, jaga sikapmu! Nanti jika Sam dan Regi datang, sambut mereka dengan baik! Jangan cari masalah dengan kakakmu "


" Ibu... " ucap Naomi sedikit merengek


Terdengar suara mesin mobil yang terpakir didepan rumah.


" Mereka datang " ucap Naomi terkejut " Bagaimana ini ibu? oh astaga?! "


" Apanya yang bagaimana? cepat kita sambut mereka! "


Naomi mengangguk cepat.


*** TO BE CONTINUED ***