IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 18 FLASHBACK PART THIRTEEN



Regi menyodorkan sebuah kantungan makanan didepan Samuel


" Ayo kita sarapan bersama "


" Apa? "


***



Samuel dan Regi sarapan dengan tenang.


Well~, sebenarnya hanya Samuel yang terlihat begitu tenang, sementara Regi tidak!


Regi merasa gelisah karena Samuel tidak bicara apapun padanya dari semejak Regi datang. Kecuali mempersilahkan masuk kedaa rumah dan sarapan bersamanya.


" Re, kenapa kamu gak makan buburnya? " tanya Samuel


" Eh? "


" Buburmu akan dingin kalau gak cepat kamu habiskan ... "


" Eh iya paman.. "


Samuel kembali menyantap buburnya dengan tenang


" Um~... " —Regi


" —Ini semua kamu yang masak? "


" A-apa? "


Regi syok, tiba - tiba Samuel bicara duluan, padahal sebelumnya, Regi mau mengatakan sesuatu sebelum Samuel menyelanya.


" Ini semua kamu yang masak? Apa kamu bangun pagi - pagi sekali? "


" I-iya " jawab Regi tidak yakin, sambil mengangguk


" Masakanmu enak " ucap Samuel tersenyum


" Se-sebenarnya kakak yang membantuku membuatkan ini semua... "


" Jeje? "


Regi mengangguk


" Aku, ... um " Regi menundukan pandangannya sesaat, sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Samuel " Masalah tadi malam... "


Samuel meletakan dengan perlahan sendoknya dan menegakan posisi duduknya.


Samuel sedikit membuang muka dari Regi, seakan malas membahasa masalah yang akan Regi ucapkan.


" Tolong paman jangan salah paham. Aku benar - benar tulus meminta maaf... "


" Jadi kamu membuatkanku semua sarapan ini sebagai ucapan maaf dari rasa bersalahmu? "


" Bu- bukan begitu juga maksudku... "


" Lalu? " Samuel menatap lurus Regi, membuat Regi salah tingkah.


Bohong jika Regi tidak berdebar melihat wajah tampan Samuel yang tengah memandanginya.


Regi menyerah. Hanya ada kata maaf dalam benaknya. Tatapan Samuel begitu mengintimidasi Regi, sampai - sampai Regi sudah tidak mampu merangkai kata


" Maafkan aku paman, sungguh aku tidak bermaksud... "


Samuel tersenyum melihat Regi yang sedang memelas didepannya


" hha~ "


" Eh? kenapa paman tertawa? " tanya Regi dalam hati


" Hhe~ " Regi tersenyum kecut dan dilengkapi dengan ekspresi bingungnya.


" Jadi semalam kamu berfikir kalau aku sebegitu marahnya, hanya karena kamu menyebut nama Evan? "


" Paman... jangan sebut namanya lagi " ucap Regi pelan


" Entah apa atau bagaimana bisa kamu bangun pagi - pagi dan masak sebanyak ini... dan semua masakannya enak. Benarkah kalian berdua yang membuatnya? "


" Sebenarnya kakak hanya membantu memberi bumbu, tapi semua masakannya aku yang membuat "


" Oh benarkah? "


Regi mengulum senyumnya dan mengangguk.


" Kita anggap saja masalah semalam tidak pernah ada. Jadi kita gak perlu membahasnya lagi, oke? "


Regi mengangguk


" Kini aku merasa jauh lebih baik " ucap Regi


" Aku senang mendengarnya, ayo cepat kamu habiskan sarapannya "


" Apa kita akan pergi? "


Samuel mengangguk


" Tadinya sehabis sarapan aku baru mau menghubungimu, kalau hari ini kita ada janji fitting baju untuk acara nanti "


" fitting ? "


" Iya, karena waktu pernikahan kita juga tinggal 3 hari lagi jadi semuanya akan serba cepat dan mendadak "


" Malam ini kita akan malam dengan kedua keluarga? "


Samuel kembali mengangguk


" Paman... "


" Ya Re, ada apa? "


Regi berfikir sejenak sebelum mengatakan apa yang ingin ia sampaikan


" Katakan saja, kamu mau apa? "


" Paman, kemarin kita sepakat bahwa yang akan hadir di acara kita hanya keluarga... tapi bolehkan aku mengundang Jessie, Kayla dan Darren? "


" Oh itu... um, kurasa itu gak masalah. Mereka sahabatmu, sudah seharusnya kita undang mereka... "


" Benarkah paman? " Regi seketika berdiri, lalu memeluk Samuel.


Regi terlalu merasa senang, sampai ia tidak peduli memeluk Samuel begitu aja.


" Re, kamu apa - apaan? kamu memelukku seperti anak kecil " ucap Samuel terkekeh


" Paman baik sekali. Aku pikir paman tidak akan mengijinkan aku mengundang teman - temanku itu "


" Kenapa kamu bisa berfikir begitu? "


" Hhe, aku pikir paman tidak suka mereka? karena sejujurnya aku terpaksa juga mengundang mereka. Mereka pecinta makanan gratis hahahah " ucap Regi bercanda


" Aku akan kasih tau kak Jeje sekarang, untuk menambah daftar undangannya "


" Oh hari ini yang akan menyebarkan undangan adalah Jeje? "


Regi mengangguk


" Ibu akan menyebarkan bersama kakak "


" Oh, Jeje yang akan menemani ibu? "


" Oh ya undangan untuk Ibunya paman dan Gwen bagaimana? "


" Serahkan saja padaku, lagi pula nanti malam kita akan makan bersama "


" Oh iya benar juga, kalau begitu aku pulang dulu ya paman... "


" Aku jemput kamu sekitar setengah jam lagi "


" Okie Dokie... "


Regi belari dengan riang menuju rumahnya. Sementara Samuel hanya bisa melihatnya sambil menggeleng kepalanya pelan.


Dimata Samuel, Regi terlihat belum pantas sama sekali menjadi seorang ibu. Ya, wajar saja usianya juga masih terbilang sangat muda, jadi wajar jika sikap Regi masih ke kanak - kanak an.


Samuel tidak menyangka akan melihat lagi senyum ceria serta riang Regi, yang sempat menghilang beberapa minggu ini. Minggu terberat yang mungkin pernah Regi jalani dalam hidupnya.


***



" Bagaimana paman? "


Regi memiringkan badannya perlahan ke kanan dan ke kiri, untuk menujukan semua detail gaun pengantinnya


" Kamu cantik, gaun itu cocok " jawab Samuel


" Benarkah? " wajah Regi terlihat merona ketika mendengar pujian dari Samuel


Samuel membenarkan Jasnya, membuat atensi Regi beralih melihatnya



" Paman juga sudah mencoba jasnya? "


" Bagaimana menurutmu? "


Regi tertegun sesaat tanpa ekspresi


" Bagaimana? apa aku cocok dengan jas ini? "


Regi mengangkat sedikit gaunnya, agar dirinya bisa berjalan mendekati Samuel


Samuel terheran ketika Regi berjalan mendekat dengannya. Regi menatap lekat kedua mata Samuel


" Bagaimana bisa calon suamiku dan calon ayah dari anakku, bisa begitu tampan seperti paman? "


" Eh? " Samuel kaget ketika Regi memegang sebelah tangannya.


" Aku pasti sangat beruntung memiliki paman bersamaku. Terima kasih ya paman... "


Samuel tiba - tiba merasa begitu malu, dan salah tingkah


" Kenapa tiba - tiba bicara begitu? Aku jadi malu mendengarnya " ucap Samuel sambil menutup setengah wajahnya dengan lengannya.


" Hahaha, wajah paman merona. Paman tampan sekali "


" Baiklah kita akan pakai baju ini nanti "


" Iya " Regi mengangguk


sementara itu —


pelayan yang membantu Regi dan Samuel fitting pakaian saling tatap melihat pembeli mereka — Regi dan Samuel —


" Paman katanya? " ucap mereka berbisik


" Apa benar itu pamannya? lebih mirip sebagai sepasang kekasih "


" Apa iya, dia menikahi pamannya? "


" Walau lebih tua umurnya, bagaimana bisa dia memanggilnya dengan sebutan paman? "


" Haish ada - ada saja kejadian dalam hidup ini "


***


The Palm's Cafe


Wajah kaget serta bingung terlihat jelas dari ketiga remaja ini. Kedua remaja yang tengah duduk bersama Regi.


Jessie dan Kayla saling pandang sesaat. Mereka seakan masih bingung dengan apa yang tengah mereka pegang. Sebuah undangan pernikahan yang baru saja Regi berikan pada mereka


" Aku tau kalian bingung, tapi— "


" Kenapa baru cerita sekarang? kenapa aku baru tau kalau kamu telah memutuskan hal besar seperti ini " tanya Jessie dengan menahan rasa sedihnya


" Maafkan aku Jess, aku yang salah. Ini terlalu terburu - buru, jadi... maafkan aku yang baru memberi taukanmu "


Jessie menangis, namun tangannya meraih tangan Regi dan menggenggamnya.


" Paman akan membahagiakanmu kan? dia berjanji begitu kan? " tanya Jessie


Regi mengangguk dengan yakin


" Iya, dia akan membahagiakan dan juga menjagaku... " Regi ikut menangis tidak bisa menahan haru, karena Jessie.


" Kalian kenapa menangis? aku kan jadi ikut sedih! "


Kayla berdiri dan merangkul kedua sahabatnya itu.


" Kalian harus datang ya " ucap Regi terisak


" Kita pasti datang. Aku senang paman bersamu, aku tau ini sulit. Tapi kita sahabat. Kita akan selalu bersama dan membantu, benarkan? " ucap Jessie disertai tangisannya yang semakin menjadi


Regi dan Kayla mengangguk


" Aku gak bisa berpidato seperti Jessie, tapi kamu tau Regi, aku sayang kamu. Kita sayang kamu... " ucap Kayla menangis


" Iya aku juga sayang kalian " ucap Regi


Sore itu di cafe, mereka bertiga saling merangkul dan menguatkan sama lain.


Cafe yang sama dengan cafe dimana dulu mereka ketika pulang sekolah selalu mampir hanya untuk sekedar minum kopi sambil melepas penat.


Cafe yang penuh kenangan. Cafe yang juga pernah menjadi saksi biksu, ketika Regi dulu pernah kedapatan oleh Evan menatap Samuel secara diam - diam.


Cafe penuh kenangan diantara Regi, Evan, Jessie, Darren dan Kayla


*** TO BE CONTINUED ***