
1 Bulan Kemudian...
Waktu kini menunjukan pukul 8 malam. Dimana Regi kembali dilarikan ke rumah sakit.
Suara roda trolley yang berputar, terdengar samar - samar ketika para perawat yang berjaga mendorong trolley tersebut dengan cepat.
Satu jam yang lalu Regi mengalami kontraksi yang sesungguhnya, karena sudah beberapa hari dalam bulan ini, Regi hanya mengalami kontraksi palsu saja.
Samuel yang kala itu sedang menyiapkan makan malam, ketika mendengar suara rintihan Regi, langsung melarikan Regi ke rumah sakit.
"Sakit... Sakit sekali... ibu.... Ibu ..argh!!" Regi meracau sendiri, selama dilarikan keruang persalinan.
Samuel terus mendampingi Regi, menuju ruang persalinan. Rasa iba menyeruak ketika Samuel melihat wajah Regi yang dipenuhi rasa sakit.
"Arghhh... arggg! sakit!!" Regi berteriak.
Memang selama kehamilan Regi, sudah banyak yang terjadi pada diri Regi. Ini disebabkan karena melemahnya fisik dan mental Regi, ketika mengandung.
Fisik karena usia Regi yang masih sangat muda.
Mental karena Regi harus menikah dini, dan menyembunyikan semua ini dari Evan, ayah kandung dari bayinya.
Tibalah mereka di ruang persalinan.
Sang perawat berjalan mendahului Samuel untuk membuka pintu.
"Maaf, tapi anda harus menunggu disini" ucap salah satu perawat yang membawa Regi.
Sementara perawat yang lain membawa trolley Regi masuk kedalam ruangan.
Pintu tertutup.
Kini Samuel harus menunggu seorang diri.
***
Sementara itu di Jerman.
"Morning~... " sapa Ava.
Evan sedang duduk di sebuah bangku taman yang berada di depan Dorm - nya.
"Morning love~..."
"Kamu panggil aku apa?" tanya Ava dengan wajah kagetnya.
Pipi Ava memerah samar, kala Evan menyapanya dengan panggilan manis.
"Love~..."
Ava mengulum senyumnya. Ia rasanya hampir mau pingsan mendengar Evan mengatakan hal semanis itu.
Tidak pernah terlintas di benak Ava kalau Evan akan berubah secepat ini kepadanya.
"Tumben kamu manis begini?" ucap Ava yang tersipu malu.
"Loh kenapa? kamu gak suka?"
"Hehehe aku menyukainya..."
Evan tersenyum sambil menepuk kepala Ava yang, Ava duduk di samping Evan.
"Kok kayaknya kamu seneng banget pagi ini, ada apa?" tanya Ava.
"Entahlah, aku hanya teringat mimpi indah semalam. Ketika aku melihat banyak sekali wajah orang yang aku rindukan, selama aku disini."
Ava memutar pelan kedua bola matanya perlahan kesebelah kanan. Berlawanan dengan Evan yang berada dikirinya
"Ada satu anak kecil, dia menarik tanganku membawa kepada mereka yang sedang aku rindukan. Semuanya terlihat bahagia, dan entah mengapa rasa bahagia itu terasa smalai saat ini." ucap Evan.
Evan menoleh melihat Ava yang terlihat sedikit getir.
"Eh kamu kenapa? kok tiba - tiba beda gitu?"
"Kamu bilang kamu memimpikan orang - orang yang sedang kamu rindukan, apa teman - temanmu juga?"
"Eh?"
"Apa Regi juga ada disana?"
Evan menatap iba pada Ava. Kini Evan paham kenapa Ava tiba - tiba saja terlihat masam padanya.
"Eh gak begitu..."
"Aku gak marah, tapi aku juga gak bisa bohong kalau aku gak cemburu."
Evan tersenyum tipis. Tangannya menarik pelan bahu Ava merapatkan dirinya dan diri Ava.
"Kamu jangan khawatir, Regi tidak ada disana. Yang kulihat hanya sosok anak perempuan kecil yang menarik tanganku, dan disana seingatku tidak ada siapa - siapa selain keluargaku."
"Benarkah?"
Evan mengangguk sambil tersenyum. dan Ava pun ikut tersenyum mendengarnya.
Tapi!
Itu semua bohong! Kenyataannya, di dalam mimpi Evan, Evan melihat semua orang yang disayanginya. Bahkan orang tua dan kakak laki - laki Regi, yaitu Jeje juga Evan lihat disana.
Semua berkumpul, lalu Regi... Ya! Regi juga ada disana. Dan kenyataannya, sosok Regi yanh paling Evan ingat dari mimpinya semam. Kala tadi Regi tersenyum tipis kepadanya.
***
Sementara itu kembali ke rumah sakit.
Waktu sudah menujukan pukul 10 malam.
"Masih belum ada kabar juga Sam?" tanya Natalia.
Samuel menggeleng pelan.
"Belum, dokter belum keluar dari dalam."
"Ini sudah hampir 2 jam, tapi kita belum mendapatkan kabar apapun." ucap Wilson cemas.
"Sam kamu gak apa - apa? wajah kamu terlihat lelah, apa gak sebaiknya kamu beli minum atau..."
Samuel menggeleng. Bagaikan menunggu kelahiran anak sendiri, Samuel enggan beranjak manjauh dari ruang UGD.
Samuel begitu cemas dengan kondisi Regi, Samuel berharap proses persalinan Regi berjalan dengan baik.
Tiba - tiba pintu ruang operasi terbuka.
Seorang dokter dengan pakaian khusus operasi, keluar dari dalam ruangan.
Kehadiran sang dokter sontak saja langsung mendapatkan perhatian dari Samuel, Natalia dan Wilson.
"Tuan Miller." sang dokter menyebut nama keluarga Samuel.
Samuel jelas langsung menghampiri sang dokter, dengan wajah cemasnya.
"Selamat, anak anda perempuan."
Samuel terdiam. Hatinya seakan timbuk kembang api yang meledak menjadi bunga - bunga.
"Perempuan dok?..." tanya Samuel kembali.
"Benar, selamat ya pak. Dan untuk sang ibu, akan segera dibawa kembali ke ruang inap."
Mendengar kabar bahagia ini Samuel merasa begitu bahagia.
Samuel merasa begitu bersyukur, karena Regi bisa melahirkan dengan selamat.
Setelah mengabarkan kabar bahagia ini, sang dokter kembali ke dalam ruang operasi.
"Syukurlah." ucap Samuel.
Kini Samuel sudah bisa bernafas lega.
"Sam..." ucap Natalia sambil menepuk pelan bahu Samuel.
Samuel menoleh melihat Natalia. Dan tiba - tiba saja Natalia memeluknya.
"Selamat ya Sam, selamat atas kelahiran putri mu dan Regi." ucap Natalia.
Deg!
Tiba - tiba saja rasanya ada sesuatu yang bergetar didalam diri Samuel. Ucapan selamat yang diucapkan Natalia kepadanya, membuat aliran darah Samuel terasa berdesir.
"Terima kasih sudah menjaga Regi selama ini, aku sebagai ayahnya Regi, hanya mampu mengucapkan terima kasih."
***
Lewat balik bilik kaca, Samuel melihat seorang bayi mungil yang berbalut kain berwarna merah muda dengan nama belakang di papan namanya.
Bayi itu sedang tertidur. Wajahnya begitu tenang, sehingga Samuel tersenyum karenanya.
Samuel jadi teringat ketika kali pertama, ia melihat Seira datang ke dunia ini.
Hari itu merupakan hari paling membahagiakan untuk Samuel. Hari dimana ia resmi menjadi seorang ayah.
Dan kini kebahagiaanya itu datang kembali, kala Regi telah melahirkan anaknya.
Meski bukan anak kandungnya, tapi entah kenapa Samuel sepertinya sudah sangat menyayangi bayi yang baru saja Regi lahirkan.
"Tuan mau membawa bayinya?" tanya seorang perawat.
"Eh?"
Samuel terkesiap ketika sang perawat menyapanya secara tiba - tiba .
"Putrinya akan diantar sebentar lagi, karena harus disusui oleh ibunya." perawat itu tersenyum.
"Oh iya..."
Perawat itu kembali masuk kedalam ruang bayi, ia menarik trolley khusus bayi milik bayi Regi, keluar dari dalam ruangan.
Samuel dan perawat tersebut berjalan beriringan sambil membawa trolley bayi tersebut.
"Selamat ya Tuan, putri anda cantik sekali. Selamat untuk kelahirannya."
Samuel tersenyum tipis. Ia merasa begitu senang.
"Terima kasih suster.. "
"Apa sudah ada nama untuk anaknya?"
"..."
—TO BE CONTINUED—