IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 19 FLASHBACK PART FOURTEEN



" Eh? " Darren tersenyum aneh " Kalian kenapa sih? kok nyeremin gini? Memangnya kamu mau bilang apa Re? "


" Lusa aku akan menikah... " jawab Regi datar


" Eh? "


Awalnya Darren antara sadar dan tidak sadar dengan apa yang ia dengar.


Darren mengedarkan pandangannya melihat Jessie di sebelah kirinya, dan Kayla di sebelah kanannya.


Wajah mereka sama seriusnya dengan Regi. Dan ketika itu juga Darren tersadar.


" APA?!! kamu bilang apa barusan? " Pekik Darren


" Eh! pelankan suaramu! " ucap Jessie, sambil memukul lengan Darren dengan buku menu.


Darren mengelus punggung lengannya yang sakit karena Jessie. Namun atensinya tetap pada Regi.


" Katakan sekali lagi Re, kamu mau apa? "


" Aku akan menikah, Darren... Aku akan menikah Lusa "


Tubuh Darren seketika itu melemas. Melemas tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


" Ya— Yang benar saja hah!! "


" Aku akan menikah lusa, jadi kumohon kau mau merahasiakan ini dari Evan "


" Tapi kenapa Re? kok tiba - tiba mau menikah? "


(—kelanjutan dari BAB 2 )



The Palm's Cafe


Darren baru saja datang, menyusul kedatangan Jessie dan Kayla yang sebelumnya telah sampai terlebih dahulu.


" Ini ada apa sih? Kamu juga Re, jangan berusaha membodohiku, bulan april masih jauh "


" Aku gak bercanda Darren, aku ha.. um... "


" Kamu hamil? " tebak Darren datar


Sontak saja pernyataan Darren membuat Regi terkejut. Regi belum mengatakan apa - apa. Tapi Darren bisa menebaknya dengan benar. Walau Darren ketika itu menebak asal.


" Dari ekspresimu, sepertinya aku benar! iya kan kamu hamil? "


Pletak! Jessie menjitak kepala Darren


" Auch! yak! kenapa aku dipukul?! " omel Darren pada Jessie


" Kamu bisa kan bicaranya sedikit pelan! " omel Jessie, lengkap dengan pelototan mata Jessie yang bisa dibilang cukup menyeramkan.


" Iya, iya maaf " ucap Darren, Darren kembali melihat Regi, " Jadi beneran kamu hamil Re? "


Regi mengangguk.


" Geez!! Anaknya pak guru?!! "


Pletak! Lagi - lagi Jessie melayangkan hantaman kecil ke kepala Darren.


" Damn! Jess! " —Darren


" Pelankan suaramu! " —Jessie


" Oke fine! tapi jangan dijitak lagi! sakit tau "


Darren mengusap pelan bagian kepalanya yang dijitak oleh Jessie.


" Aku memang hamil, dan akan menikah dengan paman. Tapi anak ini, dia bukan anaknya paman " ucap Regi pelan.


" Tunggu dulu, kamu buat aku bingung Re. Coba jelaskan apa yang terjadi. "


Regi tampak ragu dan khawatir jika dia harus bercerita tentang Evan dan bayinya. Darren bukan hanya sahabatnya, tapi Darren juga merupakan sahabat dekat dari Evan.


" Berjanjilah apapun yang aku katakan hari ini, tolong rahasiakan dari Evan "


" Janji? " Darren tampak bingung.


Darren bingung, dari sekian banyak orang yang ia kenal, kenapa hanya Evan saja yang disebut secara khusus dan juga dilarang mengetahui tentang ini semua.


" Tapi kenapa? bukankah kalian saling mencintai? kalian kan pacaran, lagi pula bagaimana jika Evan bertanya tentangmu, aku harus jawab apa? dia sahabat kita kan? kenapa kita harus berbohong? "


Regi kembali terisak, menahan air matanya.


" Re jangan nangis... " ucap Kayla sambil merangkul dan mengusap bahu Regi


" Sebelum aku cerita, berjanjilah kamu gak akan bilang apapun pada Evan "


" Baby!! apa susahnya bilang iya?! " pekik Kayla kesal.


" Tapi Kay... Astaga baiklah, aku berjanji tidak akan bicara apapun pada Evan. Jadi bayi itu anak siapa Re? "


" Bayi yang aku kandung adalah, anaknya Evan " jawab Regi berat.


" A-apa?! kamu bilang bayi itu anak siapa? "


Regi mengangguk pelan.


" Bayi ini anaknya Evan "


" Astaga! ya-yang benar saja! kok bisa?! maksudku bagaimana bisa kamu merahasiakan hal sebesar ini dari Evan. Lalu menikah dengan mantan guru kita? "


" Kamu sudah janji gak akan bilang apapun pada Evan! jadi kuharap kamu bisa jaga janjimu, Darren "


Darren menatap getir.


" Oh baiklah!! "


Darren menggigit bibir bawahnya, merasa hal ini bukanlah hal yang benar. Bagaimana bisa Regi menyembunyikan kebenaran, dari seseorang yang seharusnya mengetahui semuanya.


***


Disisi lain, di sebuah cafe


" Natalia " ucap wanita sebaya Natalia


" Julie... "


Natalia duduk disebuah cafe bersama Jeje disebelahnya. Ia memang tengah menunggu seseorang disana.


Jeje sudah terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Julie, apalagi melihat pria yang juga ikut datang disebelah Julie, membuat darah Jeje serasa seakan mendidih seketika


" Hai Chris " ucap Natalia


" Bibi, apa kabar? " tanya Chris sambil menundukan kepala


Benar, pria yang datang itu adalah Chris, kakak laki - laki Evan. Dan Julie adalah Ibu dari Evan.


Chris mungkin terlihat seperti baik - baik saja, tapi ketika Chris melihat Jeje, bohong kalau Chris tidak ingat kejadian di bandara 1 minggu yang lalu


" Tumben mengajakku bertemu diluar? " tanya Julie


" Maaf, sudah membuatmu datang "


" Ah tidak apa, kita juga sudah lama tidak bertemu. Hei Jeje, kamu apa kabar? Bibi dengar kamu akan sekolah di luar Negeri? "


Jeje membuang muka, seakan tidak mau melihat apalagi bertegur sapa dengan keluarga dari Evan


" Oh itu, bukan kuliah tapi bekerja. Jeje di kontrak dengan salah satu perusahaan animasi di Jepang '' Natalia menjawab mewakili Jeje


" Um~ sebenarnya aku memintamu datang kesini untuk memberikan ini "


Natalia mengeluarkan surat undangan pernikahan Regi dan Samuel, lalu memberikannya pada Julie


" Apa ini? " tanya Julie menerima undangan tersebut


" Salah satu anakku akan menikah "


" Heuh? benarkah? Jeje kamu akan menikah? Bibi bahagia mendengarnya "


" Bukan... bukan Jeje... "


" Eh apa maksudmu Nat? Kalau bukan Jeje, anakmu yang mana lagi? Tidak mungkin Regi kan? "


" Ini— um~ memang Regita yang akan menikah " ucap Natalia begitu berat


" A-apa? " Julie terlihat begitu terkejut


" Apa bi? Regita? maksud bibi Regi? " sambung Chris


" Iya Chris, Regi akan menikah lusa "


" Apa? kok bisa? Apa di keluarga kalian lagi ada masalah? "


" Apa maksud bibi? " tanya Jeje


" Apa Regi dijodohkan? " tanya Natalia " Astaga, bagaimana bisa Regi akan menikah secepat ini? "


" Julie, kuharap kamu mau tenang dulu. Aku akan ceritakan alasannya "


" I- ibu... " —Jeje


" Apa yang terjadi? ceritalah padaku " tanya Julie yang begitu penasaran


" Saat ini Regi sedang hamil— "


" Apa?!! Ha-hamil? " — pekik Julie


Natalia menganggukan kepalanya


" Awal bulan nanti, usia kandungan Regi memasuki usia 2 bulan "


" Apa? tapi bagaimana bisa? "


Buru - buru Natalia membuka undangan yang Natalia berikan sebelumnya.


Natalia seakan tidak percaya apa yang ia baca. Nama Regi tertulis sebagai nama pengantin wanita


" Samuel? siapa Samuel? apa dia yang telah meng... um " ucap Julie berat


Natalia menggeleng


" Bukan. Samuel bukan ayah dari bayi yang Regi kandung. "


" Apa?! lalu siapa pria yang telah menghamili Regi? kenapa dia tidak bertanggung jawab? "


" Karena pria itu... dia... " kini giliran Natalia yang tidak sanggup menjawab dan menjelaskan.


" Pria itu Evan " jawab Jeje tegas.


" Apa kamu bilang? Evan? " kaget Julie.


Julie dan Chris saling bertukar pandang seakan tidak percaya.


" Evan anak bibi? " tanya Julie sedikit gemetar


" Benar, Evan Adams, adalah ayah dari bayinya Regi "


" Ta-tapi... " Julie mengulum bibirnya dengan getir. Rasanya begitu lemas hingga terasa ingin pingsan seketika itu juga.


" Sebenarnya sampai saat ini Regi menolak memberi tau siapa nama ayah dari bayi yang ia tengah kandung pada ku dan Wilson. Tapi Regi mengatakan semuanya pada Jeje, lalu Jeje menceritakan semuanya padaku " jelas Natalia


" Evan!! " Julie tiba - tiba menangis terisak - isak.


" Kau yakin Evan ayahnya? Itu sebabnya kau mau memukulku dibandara hari itu? " tanya Chris yang juga suaranya terdengar bergetar.


" cih! " —Jeje


" Apa maksudmu Chris? siapa yang memukul dibandara? " tanya Julie sedikit histeris


" Andai saja saat itu Regi dan Samuel tidak datang menyusulku, sudah pasti aku akan menghajar Evan sampai mati! " gumam Jeje.


" He Jeje! bagaimana bisa kau mau memukuli adikku? Adikku tidak mungkin melakukan semua ini? "


" Apa katamu?! tidak mungkin! bajing*n kau!! "


Jeje sudah berhasil menarik kerah baju Chris namun Natalia menahan Jeje untuk tidak memukulnya.


" Jeje tenanglah! " pekik Natalia


Suasana menghening sesaat, sementara Jeje kembali duduk dan Chris membenarkan bajunya yang sempat terangkat sedikit.


" Julie, anakmu sudah memberikan banyak rasa sakit kepada anakku Regi. Diamnya Regi dan keluarga kami, tidak akan mengubah dosa yang telah Evan dan Regi lakukan. Bayi itu hidup, dan darah Evan mengalir didalam tubuhnya "


" Tapi Evan saat ini dia... " —Julie


" Aku tau, dan sekarang kamu juga tau tentang semua ini. Semua ku kembalikan kembali pada kalian. Jujur saja aku memberi taukan mu tentang pernikahan ini, karena aku menganggapmu adalah kerabatku. Disamping itu Archie dan Wilson mereka juga sudah lama bersahabat. Jadi... "


" Aku mengerti, terima kasih sudah memberi tauku "


" Ku rasa sudah tidak ada hal yang ingin ku sampaikan, jadi... aku pamit "


Natalia dan Jeje berdiri, lalu berjalan pergi meninggalkan Julie dan Chris.


Setelah Natalia dan Jeje menghilang dari jarak pandangnya, Chris langsung berbalik menatap Julie yang tengah bergeming. Tatapan Julie terlihat penuh kesedihan dan kekosongan.


" Bu bagaimana ini? apa sebaiknya kita hubungi Evan saja? "


" Hubungi Evan? "


" Evan sangat menyukai Regi, hatinya akan hancur jika tau Regi akan menikah dengan pria lain. Dan bayi itu, bagaimana jika benar itu anak Evan, bu? Chris yakin Evan belum tau tentang hal ini "


" Diamlah! Ibu tidak bisa berfikir "


" Ibu biarkan aku bicara dengan Evan "


" Jika kamu memberi tau semua ini pada adikmu, bagaimana dengan sekolahnya disana? jika Evan tau semuanya, dia pasti akan segera pulang, dan itu berarti dia akan meninggalkan kesempatannya untuk meraih cita - citanya, masa depan Evan bisa hancur karena semua ini. "


" Tapi bu... "


" Tidak! aku gak bisa melihat putraku pulang lalu menikah dan membesarkan anak tanpa masa depan! biarkan saja dia tetap besekolah disana. Regi juga akan menikah lusa, dia akan bertanggung jawab. Lagipula Evan sudah berada di Jerman saat ini. Jadi semuanya sudah terlambat! "


" Ibu! bagaimana bisa ibu sekejam ini pada Evan? hatinya pasti hancur kalau tau Regi menikah dengan orang lain!! cepat atau lambat Evan pasti akan tau tentang semua ini bu..."


" Selama tidak ada yang mengatakan apapun padanya, ibu yakin semuanya akan baik - baik saja. Lagipula Regi sudah memutuskan untuk tidak memberi taukan hal ini kepada siapapun. Dan semisal Evan pulang nanti dan dia tau semua ini, Evan pasti paham alasan kita semua merahasiakannya "


***


18.39 pm


The Lily's Restaurant


Malam ini kedua keluarga berkumpul di sebuah restoran berbintang untuk makan malam bersama, menjelang hari pernikahan


" Kamu siap menyapa mereka? "


Samuel mengulurkan tangannya, untuk Regi sambut


*** TO BE CONTINUED ***