IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 16 FLASHBACK PART ELEVEN




Tok ... Tok ...


Samuel mengetuk pelan pintu kamar Seira


" Seira, apa ayah boleh masuk? " Samuel membuka pintu kamar Seira perlahan


Seira tidak menjawab, Seira yang sedang berbaring justru berbalik menghadap belakang, membelakangi Samuel.


Perlahan Samuel mendekati si kecil Seira, yang terlihat begitu menggemaskan saat sedang ngambek padanya.


" Seira ayah... "


" Ayah kenapa jahat sama ibu? "


" Apa? kenapa kamu bilang begitu? "


" Ayah mengajak teman ayah, tapi ayah gak mau ajak ibu pergi jalan - jalan bersama kita. Ayah marah sama ibu? "


" Itu gak benar sayang, Ayah gak marah sama ibumu. Um, hanya saja ayah tidak bisa mengajak ibumu jalan - jalan "


" Kenapa ayah gak bisa ajak ibu jalan - jalan bersama kita? "


" Um~ itu karena... "


Seira tertunduk lesu tidak bersemangat


" Sini coba biar ayah pangku Seira "


Samuel mengangkat Seira dan memeluk Seira erat dalam pangkuannya.


" Seira, ayah dan ibu tidak saling membenci ataupun marah. Tapi ada hal yang tidak bisa ayah dan ibu lakukan bersama "


" Kenapa? " bingung Seira " Tidak boleh apa? "


" Ada hal - hal yang hanya orang tua saja yang boleh tau. Seira cukup tau kalau ayah dan ibu sangat mencintai dan menyayangi Seira "


" Baiklah~ " ucap Seira diselipi tawa, karena Samuel bicara pada Seira sambil menggelitik perut Seira, mengajak bercanda.


Disisi lain, Regi datang bersama Gwen. Mereka tidak langsung menghampiri Samuel dan Seira. Mereka justru berdiri di sisi pintu, membiarkan ayah dan anak itu saling bicara.


" Ada hal lain yang ingin ayah katakan pada Seira "


" Ayah mau bilang apa? "


" Ayah dan bibi Regi akan menikah "


" Menikah? Ayah apa itu menikah? "


" Menikah itu, tinggal di rumah yang sama. Makan bersama dan jalan - jalan bersama "


" Kalau begitu Seira mau menikah sama ayah saja "


" Hahaha baiklah. Tapi ayah tidak akan menikahi Seira "


" Kenapa ayah gak mau? Seira kan mau tinggal dan jalan - jalan bersama Ayah "


" Bukan ayah gak mau, tapi karena Seira putri ayah, jadi Ayah tidak akan menikahi Seira. Tapi ayah akan jadi ksatria untuk Seira. Ayah akan selalu menjaga dan melindungi Seira "


" Seperti pahlawan di film kartun yang Seira tonton setiap pagi? "


" Iya seperti itu... "


" Kalau ayah gak mau menikah dengan Seira, ayah menikah saja sama Ibu, jangan sama bibi. Kan kata ibu ayah dan ibu mau satu rumah lagi. Ayah akan tinggal bersama dengan Seira lagi "


Samuel memalingkan wajahnya sedikit ke kiri, Samuel seakan sudah tidak mampu merangkai kata untuk menanggapi apa yang Seira ucapkan.


" Ayah... " Seira menengok melihat Samuel, yang sedang memangkku dan memeluknya " Ayah, kenapa ayah diam? "


" Be-benarkah ibumu bilang begitu? "


Seketika itu Regi dan Gwen tanpa sengaja bertemu pandang. Sesaat sempat saling menatap diantara mereka, namun tidak lama ketika Gwen mulai membuang muka dari Regi


" Ayah, menikah saja sama ibu. Kenapa ayah justru menikah sama bibi Regi? "


" Ayah tidak bisa menikah dengan ibu... "


" Kenapa ayah tidak bisa? Apa karena ibu sering memarahi Ayah? "


" Hhahaha tentu saja bukan karena itu. Ayah tidak bisa menikah dengan ibu karena... um, karena... "


" Apa ini masalah orang tua lagi? "


Samuel mengulum senyumnya.


" Ayah akan selalu menyayangi Seira. Sekalipun ayah menikah dengan bibi Regi. Seira bisa menginap dirumah ayah selama yang Seira mau, makan bersama selalu, dan jalan - jalan bersama ayah setiap akhir pekan "


" Benarkah? benarkah bisa begitu? "


" Tentu saja bisa. Tapi Seira harus minta ijin dulu dengan ibu, kalau mau bertemu ayah "


Seira mengangguk


" Seira mengerti "


" Anak pintar. Putri ayah yang cantik kenapa bisa begitu pintar ya? "


Samuel bicara sambil mengayun kan tubuhnya dan Seira yang didalam pelukannya, ke kanan dan ke kiri perlahan. Membuat Seira begitu nyaman dalam pelukannya.


" Regi " ucap Samuel yang baru menyadari kalau Regi berdiri di sisi ambang pintu kamar Seira


" Ha-hai Seira " ucap Regi


" Seira apa bibi Regi boleh masuk kedalam kamar Seira? " tanya Samuel


Seira mengangguk mengijinkan.


" Masuklah Re~ " ucap Samuel pelan


Perlahan Regi masuk kedalam kamar Seira


Seira hanya menunduk bingung melihat Regi memberikannya sebuah boneka.


" Ambillah, itu hadiah "


Seira mengangguk pelan, sambil menerima boneka beruang tersebut.


Regi tersenyum ketika Seira menerima dengan baik hadiah darinya


" Hayo bilang apa sama bibi Regi? "


" Terima kasih bibi Regi... "


" Iya " Regi tersenyum


" Um, aku akan menunggu diluar " ucap Regi sambil melihat ke Samuel


" Iya tunggu aku di ruang tamu saja " jawab Samuel


Regi mengangguk mengerti. Lalu Regi berjalan keluar kamar Seira.


Tepat diambang pintu Regi berhenti sesaat dan menoleh melihat Gwen yang masih berdiri disana


Regi menundukan kepalanya, seakan memberi salam pamit.


Bukannya membalas menunduk, Gwen justru mendengus kesal sambil menatap rendah Regi.


" Seira, ayah harus pulang sekarang " ucap


" Ayah mau pulang? secepat ini? "


" Ada banyak hal yang harus ayah persiapkan untuk acara pernikahan. Seira harus datang ya bersama ibu "


" Apa acara itu maksud ayah adalah pesta? "


" Benar. Maka dari itu Seira dan Ibu harus datang ya "


" Baiklah " Seira mengangguk


" Ayah harus pergi sekarang, sampai jumpa kesayangan ayah "


Samuel mencium kedua pipi Seira dan juga kening Seira secara bergantian, lalu menurunkan Seira keatas kasurnya.


" Ayah sampai jumpa " ucap Seira


Samuel tersenyum, sebelum akhirnya menutup pintu kamar Seira


...


" Kamu tega! " ucap Gwen


Samuel menoleh


" Sedang apa kamu berdiri disini? sejak kapan... "


" Kamu ayah terburuk! "


" Kumohon datanglah ke acaraku nanti bersama Seira, dia harus tau siapa Regi nantinya dihidup kita "


" Kamu sadar ga apa yang kamu barusan ucapkan? Kamu benar - benar gak mikirin perasaan aku? "


" Kita sudah bahas ini dirumahku, jangan bahas disini lagi. Aku sudah bicara dengan Seira. Jika nanti Seira bertanya padamu, kumohon bicaralah dengan dewasa dan bijaksana. Jangan membuatnya semakin bertanya "


" Jangan mengguruiku! Kamu tau apa soal membesarkan anak! "


" Syukurlah kalau kau paham. Aku dan Regi pa— "


" — Kalau mau pergi, pergi saja! gak usah pamit! "


" Baiklah! "


Samuel segera berjalan melewati Gwen. Gwen bergeming menahan gengsinya untuk tidak menoleh.


Tapi, kenyataanya Gwen tidak setegar itu! Gwen tetap menoleh dan melihat punggung Samuel yang berjalan semakin jauh darinya, tanpa menoleh kembali ke belakang.


Gwen mendengus kesal! Gwen membuka pintu kamar Seira dan masuk kedalamnya.


***


Di mobil Samuel


" Seira sangat manis. Dia punya mata seperti Gwen dan senyum seperti paman. Aku gak sangka Gwen sangat cantik. Padahal aku sering lihat wajahnya di drama tv, tapi aslinya jauh lebih kecil dan cantik " ucap Regi


" Terima kasih "


" Terima kasih? Terima kasih untuk apa paman? "


" Aku tau kamu begitu merasa canggung, tapi kamu berusaha untuk tetap tegar didepan Gwen dan Seira "


" Itu semua ku lakukan untuk paman "


" Benarkah? Wah aku merasa tersanjung "


Regi tersenyum menatap Samuel yang sedang menyetir


" Paman... "


" Ya "


" Menurut paman, apa wajah bayiku nanti akan juga memiliki wajah Evan? "


" Eh? "


Regi tertunduk sambil mengusap pelan perutnya.


" Apakah bayi ini akan memiliki wajah yang sama seperti Evan? "


Samuel terdiam. Samuel bukan kehilangan kata kali ini. Tapi Samuel entah kenapa merasa enggan menjawab kali ini.


*** TO BE CONTINUED ***