IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 6



"aku mau kita pisah!".


Evan terdiam, terpaku berdiri berhadapan dengan Renesya yang meringkuk menangis di atas ranjang


Renesya segera memakai jaket dan sepatunya.


Kakinya sudah siap melangkah pergi meninggalkan Evan yang sedari tadi hanya menatap sinis Renesya.


Akan tetapi ketika Renesya akan keluar dari kamar hotel, langkahnya terhenti.


Renesya menundukan kepalanya, dan air matanya menetes tak tertahankan.


"Aku akan kemana? Akan seperti apa reaksi Ayah dan Ibu? Apakah mereka akan sedih dan kecewa, Melihat pernikahan ku yang seperti ini? Yang bahkan belum ada 1 hari ku jalani!"


Perasaan galau yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran Nesya membuatnya berfikir sebelum mengambil keputusan.


"kenapa duduk lagi ? Bukannya mau pergi ?" Ucap Evan sedikit menyindir.


Langsung saja tatapan tajam Renesya tertuju kepada Evan.


"Lebih baik mati! Dari pada harus membuat sedih dan kecewa keluargaku!"


"Baguslah, pilihan yang bagus." Evan berbicara sedikit memajukan. Bibirnya.


Renesya melepaskan jaket dan sepatunya.


Melangkah menuju ranjang hanya untuk mengambil bantal dan selimut lalu di bawanya ke sofa.


Renesya langsung berbaring dan menyelimuti dirinya.


"kamu tidur disini ?" Tanya Evan pelan


Renesya tidak menjawab


"Oke! Kalau kamu mau tidur disini!" Evan kembali ke tempat tidurnya.


1 jam kemudian.


Evan sudah terlelap dalam mimpinya, sementara Renesya tidak dapat matanya.


Rasa kesal dan kecewa Renesya mengalahkan rasa capek dan kantuknya.


Caci maki serta hujatan untuk Evan berkecamuk dipikirannya.


"baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti itu!" sesal Renesya dalam hati.


Waktu sudah menunjukan pukul 05.00 am


Tiba tiba Hp Renesya berdering.


Segera Renesya menjawab Telepon seseorang yang nomer nya tidak tersimpan di dalam kontak Ponselnya.


"Halo." Sahut Nesya


"Pagi Bu Renesya, saya Rusdi bu. Saat ini saya sudah stand by di Hotel."


"baik pak, 1 jam lagi saya turun ke Lobby, terima kasih pak Rusdy"


Setelah menutup teleponnya, Renesya terduduk di sofa.


"bulan madu ?" gumam Renesya seraya tersenyum sinis kepada dirinya sendiri. "aku tidak yakin akan seindah bulan madu pasangan yang lain."


Renesya segera bangkit, membasuh diri dan berpakaian yang rapi untuk bersiap berangkat.


Ditatapnya Evan yang masih tertidur pulas


"Evan bangun!" seru Renesya sembari menggoyangkan tubuh Evan.


"apa ?" seru Evan seraya mengusap usap matanya yang masih mengantuk.


"Kita harus berangkat ke bandara !"


"apa ?"


"kita akan ke Jepang ? Kamu ingat ?"


Evan memutar kedua bola matanya mencoba mengingat.


"Oh iya!" Evan tersadar dan segera bangkit.


"gak perlu mandi, kita sudah terlambat!"


"Iya iya!" ucap Evan malas.


Butuh waktu yang cukup lama menunggu Evan berpakaian dan bersiap.


Dan Benar saja, ketika sesampainya di bandara Evan dan Renesya bergegas terburu buru, karena waktu check in yang sudah mau tutup.


Tapi untung saja Renesya dan Evan tidak terlalu terlambat masuk kedalam pesawat.


"harusnya kamu bangunkan aku lebih awal!" Ucap Evan menggerutu.


"harusnya kamu berterima kasih! Karena aku tidak meninggalkan kamu!"


"mana mungkin kamu pergi honeymoon tanpa suami!" senyuman smirk Evan seketika membuat Nesya menatap sinis dirinya.


Setelah lepas landas, Renesya yang terlelah akhirnya tertidur.


3 jam kemudian, Renesya terbangun. Melihat jamnya hanya untuk memastikan sudah berapa lama perjalanannya menuju Tokyo berlangsung.


Renesya menoleh ketika didapati bahunya terasa berat.


Terlihat Evan terlelap di bahunya.


Hari hari honeymoon nya.


- Fall in Love -