IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 10 FLASHBACK PART FIVE



" Apa mungkin Regi sedang dalam perjalanan kesini? " ucap Evan dalam hati dengan senang


Sementara itu


" Paman... "


" Tenanglah Re, semuanya akan baik - baik saja "



" Evan, pesawatmu sebentar lagi take off~ " ucap Chris


" Sebentar lagi kak, siapa tau benar Regi datang "


" Kalau Regi benar mau datang, pasti dia sudah sampai dari tadi! " ucap Chris sedikit kesal


...


Sementara itu diparkiran mobil...


Jeje telah memarkirkan mobilnya, setelah itu Jeje segera keluar dan menuju lobby bandara.


Rasanya tangan Jeje sudah gatal mau menonjok wajah Evan yang terbayang menyebalkan dibenaknya.


...


Berselang 5 menit Regi dan Samuel sampai dibandara.


Setelah memarkirkan mobil, Regi dan Samuel bergegas keluar mobil.


Mereka berjalan dengan cepat, dan berharap bisa bertemu dengan Jeje lebih cepat, sebelum Jeje membuat keributan.


...


" Evan, kau mau menunggu sampai kapan hah? pesawat tidak akan menunggu Regi " ucap Chris


Seketika harapan Evan untuk bertemu dengan Regi hilang, namun!


Evan kembali melihat jam tangannya


" Masih ada 2 menit lagi. Kalau Regi gak datang juga, aku akan berangkat "


Chris memutar matanya malas. Chris kesal dengan adiknya yang keras kepala itu.


...


Jeje bergerak lebih cepat.


Kedua bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Evan


...


Regi dan Samuel setengah berlari mencari keberadaan Jeje


...


Jeje tiba - tiba saja berhenti.


Rahang Jeje mengeras. Tangannya telah mengepal sempurna.


Nafasnya berderu cepat mewakili emosinya.


Sosok yang tengah berdiri didepannya tanpak polos seakan tidak bersalah.


Jeje bersiap menghajarnya


...


" Dimana dia? " gumam Samuel


" Kakak... " gumam Regi


Regi terus mengedarkan pandangannya mencari dengan cepat keberadaan kakaknya


Deg!


Regi menemukan Jeje


" Paman itu kakak! "


Regi menunjuk, lalu Samuel mengarah ke arah yang sama dengan Regi.


Samuel sama kesalnya dengan Jeje.


Dengan cepat Samuel berlari —lebih dahulu dari Regi— agar bisa menangkap Jeje


...


" Sialan!! " Jeje menarik bahu Chris kebelakang. Tangannya siap meninju Chris


Bisa terlihat jelas wajah Chris yang mendadak pucat, melihat kepalan tangan Jeje yang mengarah padanya


" Stop! "


Tepat sebelum Jeje berhasil mendaratkan pukulannya pada wajah Chris, tangan Samuel mampu menahannya, menghalangi pukulan Jeje.


" Hentikan Je! Ayo sekarang ikut denganku "


" Lepas paman! Paman lepas! "


Dengan sekuat tenaga Jeje melepaskan tangan Samuel yang menarik tubuhnya menjauh dari Chris.


Jeje terus meracau dan memukul - mukul di udara. Jeje tidak mau dihalangi untuk melampiaskan amarah dan emosinya.


" A—ada apa dengannya?! Dia sepertinya sudah gila!! " ucap Chris bingung.


Chris membenarkan kerahnya, yang sempat terangkat karena Jeje menariknya.


...


Regi melihat Samuel yang tengah menyeret Jeje. Regi segera mengikuti dan menyusul Samuel


Di luar lobby bandara Samuel melepaskan Jeje.


Samuel menatap Jeje dengan kecewa


" Kenapa kau menghangiku hah?! " teriak Jeje kesal


" Apa yang kau pikirkan hah?! " bentak Samuel kembali


Jeje terlihat sedikit takut ketika Samuel mulai membentaknya. Akan Tetapi Jeje tidak akan membiarkan ketakutannya membesar. Jeje kembali memberontak.


Jeje berusaha berlari kembali, sampai akhirnya Samuel berhasil menahannya.


" Aku akan memberi pelajaran padanya dan juga adiknya yang bajing** itu! "


Jeje lagi - lagi berusaha menerobos, namun Samuel tetap berhasil menahannya.


" Gak kakak! " pekik Regi


" Re... " Jeje pucat melihat Regi yang datang dengan airmatanya


" Kakak kenapa melakukan semua ini? Kakak bilang kakak akan mendukungku? Tapi kenapa kakak justru mau memberitau pada semuanya tentang apa yang terjadi padaku, ksnapa kakak tega?! "


" Regi, kakak... "


" Kakak mau memberi tau Evan yang sebanarnya hah?! "


" Dia harus tau apa yang telah dia lakukan padamu! Dia sudah buat kesalahan besar! "


Regi menggeleng


" Bukan dia tapi aku! "


" Apa?! "


Samuel hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar Regi mulai merendahkan dirinya kembali


...


Good morning passengers. Ladies and gentlemen, welcome onboard Flight A87 with service to Munich — Jerman


Evan meletakan tas ranselnya di kabin pesawat sesaat sebelum duduk.


Evan melihat keluar jendela pesawat


" Sampai akhir kamu gak datang Re... " ucap Evan sedih di dalam hati


Evan duduk dengan tenang. Memakai sabuk pengamannya, dan menunggu untuk pesawat lepas landas.


...


" Aku juga bersalah dalam hal ini kak! Ini bukan kasus pemerkosaan! Evan sendiri dia tidak sadar melakukan semua ini padaku! lalu bagaimana bisa aku meminta pertanggung jawabannya? " isak Regi sambil setengah berteriak


" Regi... " sesal Jeje


" Sudah cukup! " ucap Samuel


Regi menunduk memeluk dirinya sendiri.


" Regi kakak gak bermasud "


" Sudah cukup, ayo kita pulang " ucap Samuel


" Paman aku akan ikut mobil kakak " ucap Regi


" Tapi Re... " ucap Jeje


Regi menolak untuk melihat Jeje


" Baiklah, aku akan mengikuti kalian dari belakang. Jeje bawa Regi... "


" Iya baik "


...


Flight attendants, prepare for take-off


Roda pesawat mulai bergerak, pesawat mulai maju secara perlahan.


Kini pesawat siap lepas landas


Evan memejamkan matanya. Merasakan tekanan udara mulai mendorong laju pesawat terbang untuk segera mengudara.


ngggggggg—


suara dengungan menggema ditelinga Evan dikala pesawat sudah mulai berada diatas awan


Evan...! Bayangan Regi melintas di dalam pikiran Evan, tersenyum pada Evan


" Sampai jumpa lagi Regi... " lirih Evan sambil membuka matanya perlahan


...


Di tempat parkir mobil, Regi menengadah kan wajahnya melihat keatas.


Sebuah pesawat melintas pesat, menimbulkan suara hembusan angin ditelinga Regi.


Regi tidak tau pesawat itu akan menuju kemana atau apakah Evan ada didalamnya.


Namun ketika melihat pesawat itu melintas, ketika itu juga Regi tersadar kalau Evan kini sudah tidak berada berangkat pergi meninggalkannya.


Ada rasa sedih yang mendalam di dalam lubuk hati kecil Regi. Namun sialnya, Regi tidak bisa menyesali rasa sedih itu. Regi harus menerima, kalau semua ini merupakan bagian dari keputusannya.


***


Di dalam mobil


" Maafkan kakak Re~ kakak hanya merasa kamu gak perlu menanggung semua ini sendiri ... "


Regi terdiam sementara wajahnya melihat keluar jendela mobil. Regi bertingkah seolah - olah ia tidak mendengar apa yang Jeje katakan


" Re kakak minta maaf oke, kakak Emosi! "


" Kakak bahkan sudah berjanji akan mendukungku, kenapa kakak justru ingkar? "


" Jika kamu menderita, Evan setidaknya juga harus merasakan hal yang sama! Dia gak bisa seenaknya kuliah di luar negeri, sementara kamu menderita disini bersama anak kalian "


" Aku tidak mau Evan merasakan kesulitan karena anak ini... "


" Regi... "


" Anak ini mungkin saja akan menjadi penghalang bagi masa depannya "


Regi tertunduk lesu ketika mengingat alasan dirinya mempertahankan buah hatinya


***


" Regi masih bisa melanjutkan kuliahnya tahun depan. Aku akan pastikan hal itu terjadi " ucap Samuel yakin


" Kamu bisa mengurus semua itu Sam? "


" Aku yakin ku bisa "


*** TO BE CONTINUED ***