IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 36



Kenyataanya aku mencintaimu! Itu kenyataan yang suka gak suka harus aku terima dan kamu juga!


Aku Egois? ... Cinta kadang harus diperjuangkan.


Mungkin yang kamu sebut dengan egois itu, adalah bentuk aku memperjuangkan kamu!


Kamu gak seharusnya bersamanya! Gak seharusnya!


—Evan


***



"Regi!"


Regi menoleh.


Evan datang menghampiri Regi, masuk kedalam halaman rumah Samuel.


"E-Evan... kamu kok bisa ada disini?" tanya Regi heran.


"Ayo ikut denganku!"


"Eh?"


Tiba - tiba saja Evan menarik paksa Regi, untuk mengikutinya.


"Evan kamu apa - apaan hah?"


Regi terus meronta melepaskan diri dari Evan.


Namun bagaimanapun juga Regi kalah tenaga dengan Evan.


Tubuh Regi terus terseret oleh Evan, sampai ke luar halaman rumah.


Samuel segera ingin beranjak dari posisinya, tapi tiba - tiba saja Samuel membatalkan inginnya, ketika melihat Regi terus berusaha melepaskan dirinya sendiri.


"LEPAS!" pekik Regi.


Sekuat tenaga Regi berusaha melepaskan tangannya yang dipegang kuat oleh Evan.


Dan terlepas,


Evan sengaja melepaskan tangan Regi pada akhirnya.


Evan takut jika ia terus menahan tangan Regi, sementara Regi terus berusaha menariknya, hal itu akan menyakiti Regi.


"Kamu kenapa hah? Kenapa tiba - tiba datang dan menarikku seperti ini?"


"Re, aku gak tau apa yang persisnya terjadi. Tapi aku yakin kalau kamu terpaksa menikah dengannya! iya kan?"


"Bu—..."


"Jangan menyangkalnya!"


Regi terdiam. Bahkan Darren dan Samuel juga hanya bisa terdiam menelan pil pahit kenyataan, yang dikatakan Evan, bahwa semua ini memang terjadi karena terpaksa.


"Apapun alasanya, kamu gak bisa begini Re..." ucap Evan.


Regi bergeming dengan memendam rasa sedihnya yang begitu dalam.


Semua ini memang bukan yang Regi inginkan untuk terjadi didalam kehidupannya.


Namun apa yang telah terjadi saat ini, bukanlah hal yang patut Regi sesali, karena pengorbanannya selama ini ia lakukan demi Katia.


"Pulang lah Evan, jangan ganggu aku lagi." ucap Regi.


Regi melengos kembali kedalam rumahnya. Regi tidak lagi melihat ke belakang, ia terus berjalan masuk bahkan melewati Samuel yang masih berdiri disana.


"Regi tunggu Re!"


Evan ingin menyusul Regi, tapi langkahnya berhenti ketika Samuel berdiri didepannya, sambil menatapnya dingin.


"Van, sudah ayo..." ucap Darren.


Darren berjalan menghampiri Evan, lalu menarik Evan pelan untuk segera pergi dari sana.


"Tapi Ren... Regi dia..." ucap Evan seakan tidak ingin pergi begitu saja.


"Sudahlah Van, ayo kita pulang..."


Mendapat penolakan dari Regi, membuat kekuatan Evan melemas seketika.


Evan dan Darren pergi dari rumah Samuel.


...


Sementara itu, didalam kamar Regi menangis. Bukan menangis kencang yang bersuara dengan keras.


Regi justru menangis dalam diam.


Ia terdiam, hanya saja air matanya terus menetes tanpa henti.


"hiks..." —Regi.


Tok... Tok... Tok...


Seseorang mengetuk pintu kamar Regi.


"Iya paman, masuk saja." ucap Regi dengan suaranya yang sengau akibat tangisannya.


Pintu kamar Regi perlahan terbuka.


"Re, kamu gak apa - apa?"


"I-iya paman, aku baik - baik saja."


Tidak, dimata Samuel, Regi terlihat tidak baik - baik saja.


Samuel datang dengan dengan membawa 2 lembar tisue di tangannya. Lalu Samuel berikan kepada Regi.


"Ini..."


"Terima kasih, paman."


Regi menerima tisue pemberian Samuel dengan tidak enak hati.


"Kamu yakin kamu baik - baik saja?"


Awalnya Regi ingin mengangguk, namun entah kenapa Regi tidak bisa berbohong untuk kali ini kepada Samuel. Akhirnya Regi menggeleng.


"Gak apa - apa. Gak apa - apa untuk tidak merasa baik. Kamu bisa istirahat sebelum menengok Katia."


"Um..."


Samuel sebenarnya tidak ingin membahas hal ini, namun sepertinya tanpa harus Samuel jelaskan, Regi bisa membaca situasinya.


"Aku gak apa - apa, lagipula lukanya sudah tidak sakit." ucap Samuel.


"Ini semua salahku. Salahku dari awal. Gak seharusnya aku membuat Paman banyak berkorban seperti ini..."


Air mata Regi kembali menetes, lolos begitu saja tanpa bisa Regi tahan.


"Re..."


Perlahan Samuel menungukupkan tangannya pada kedua sisi wajah Regi.


Dengan kedua ibu jarinya, Samuel mengusap pelan air mata Regi.


"Kemarilah."


Samuel menarik Regi kedalam pelukannya.


Begitu dalam pelukan Samuel, tangis Regi pecah seketika.


Didalam belai lembut Samuel, Regi menangis sejadi - jadinya.


"Katanya tidak akan menyesali semua keputusan kita, tapi kenapa kamu justru bilang begitu?"


Samuel berucap penuh kelembutan, sambil membelai pelan kepala Regi.


"Maafkan aku paman..."


"Kamu istriku Re, dan aku sudah berjanji akan membahagiakanmu." ucap Samuel didalam hati


***


Evan saat ini sedang berada di rumah Ava.


Setelah mengantarkan Darren sebelumnya, Evan langsung menghampiri Ava dirumahnya.


Evan lupa kalau sebelumnya ia sudah ada janji dengan Ava untuk mengajaknya jalan - jalan.


"Apa menikah?" tanya Ava tercengang. "Jadi mantan kamu sudah menikah?... maksudku sahabat kamu."


"..."


"Lalu paman itu, suaminya?"


"Entahlah, aku juga masih merasa bingung dengan semua keadaan ini."


"Padahal menurutku dia masih terlalu muda untuk mengambil keputusan sebesar itu."


"Aku juga gak paham, kenapa Regi bisa senekat ini."


"..."


"Aku yakin ada alasan dibalik pernikahan mereka... tapi aku gak tau apa itu, dan gak ada seorang pun yang mau memberitau ku"


"Um~... Evan,..."


"Ya?"


"Bagaimana kalau ternyata ini memang keputusan Regi sendiri?..."


"Maksudmu apa?"


"Bagaimana jika memang tidak ada alasan lain, memang mereka menikah karena mereka saling mencintai satu sama lain."


Mendengar ucapan Ava, membuat Evan mengernyitkan keningnya.


Evan tidak suka mendengarnya!


"Gak mungkin. Aku kenal siapa Regi. Aku tau kalau Regi memang mengaggumi pria tua itu. Tapi untuk menikahinya dalam waktu secepat ini, rasanya mustahil. Apa lagi, kalau benar apa yang dikatakan Regi, kalau ia menikah 1 tahun lalu, berarti dia menikah setelah putus denganku."


Kali ini Ava yang mengernyitkan keningnya. Ava tidak suka mendengar Evan tetap egois dengan pemikirannya sendiri.


Seolah - olah Evan tidak terima Regi menjadi milik orang lain.


Singkat katanya, Ava merasakan cemburu.


"Sebenarnya apa yang mau kamu permasalahkan Van?" tanya Ava sedikit sinis.


"A-apa?"


Evan sedikit terkejut ketika intonasi bicara Ava berubah sedikit dingin kepada dirinya.


"Kamu mencari tau alasan kenapa Regi menikah atau memikirkannya, itu semua untuk apa?"


"Eh?"


"Atau jangan - jangan kamu merasa tidak terima, karena Regi lebih memilih Samuel?"


"Ava..."


"Aku... Aku gak paham arah jalan pikiran kamu Van." ucap Ava sedih.


"Ava, kamu jangan salah paham. Regi sahabatku, aku takut kalau dia lagi dalam masalah saat ini."


"Aku salah paham? ... Yang benar saja Van! bagaimana bisa aku gak salah paham kalau sikap kamu begini!... Regi itu sahabat yang pernah hampir membuat kamu mau pergi meninggalkan Jerman, satu tahun lalu. Regi itu sahabat yang buat kamu selalu menangis setiap malam! Regi itu sahabat yang kamu lihat dengan cinta!"


"Ava..."


"Sekarang cinta itu kamu kasih ke aku, tapi kenapa sekarang aku merasa kalau yang kamu kasih ke aku itu bukan cinta?!"


"Bukan begitu maksud aku Va~..."


"Apa kamu masih mencintai Regi? ... Kamu masih berharap untuk kembali kepadanya?... Oh atau kamu berharap Regi yang memohon untuk kembali kepadamu?"


"Ava bukan begitu alasannya..."


"Terus apa?!... Apa alasannya?..."


"..."


"Kamu gak bisa memberikan alasannya, aku sudah duga"


Ava beranjak berdiri dari bangku taman yang sedang ia duduki.


Ava segera beranjak pergi masuk kedalam rumahnya.


Sementara Evan hanya bisa meratapi sikap Ava kepadanya, didalam diamnya


—TO BE CONTINUED—