IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 33




Usiaku memang masih terlalu muda untuk memahami semua yang sedang terjadi saat ini.


Namun Usia tidak menjadi penghalang untuk membuatku belajar melihat hidupku lebih baik.


Dan aku bersyukur untuk semua itu.


—Regita Anastasia


***


"Aku pikir kamu akan berubah Re setelah kamu bilang pisah dari aku. Tapi ternyata kamu gak berubah sama sekali, kamu tetap pilih dia... Dan itu menyakitkan Re! rasanya sangat menyakitkan."


Evan menundukan wajahnya, sedikit air mata menggenang dikelopak matanya. Tidak sampai terjatuh, karena Evan buru - buru menghapusnya.


Evan berucap lirih, setiap kata yang ia katakan seakan terselip luka, yang bahkan membuat Regi bisa merasakan sakitnya.


Tapi Regi bisa apa? sudah tidak mungkin lagi Regi mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Evan dan menenangkannya.


Kini Regi telah memiliki suami yang harus ia jaga perasannya. Lalu Evan, bukankah gadis yang kemarin Regi lihat adalah kekasih barunya?


Lantas untuk apa semua ini dibahas lagi?


"Apa maksudmu bicara begitu? memang paman kenapa?"


"Haish Re! dari sekian banyak pria di kota ini, kenapa kamu justru memilih pria tua itu?!"


"Apa masalahnya denganmu? ... gadis yang bersamamu kemarin, bukankah dia kekasihmu?"


"Maksudmu Ava?"


"Aku gak tanya dan gak peduli dengan namanya! Aku bahkan tidak ingin mengkritik hubungan kalian! ... tapi kenapa kamu begini pada Paman?!"


"Bahkan sampai seperti ini kamu membelanya Re, sebenarnya apa yang dia sudah berikan padamu hah?"


"A-apa maksudmu?"


"Dulu saat kita SMA, kamu selalu mengatakan tampannya guru baru kita, kamu selalu memujinya karena sifatnya yang baik pada setiap muridnya. Aku gak suka Re! itu gak wajar!"


"Gak wajar kamu bilang?... Asal kamu tau saja, paman adalah orang yang selalu ada untukku. Dia banyak berkorban untukku!"


"Berkorban apa ha?... Kamu udah salah Re! Mana ada seorang murid yang mau menikah dengan gurunya sendiri. Dia sepantaran ayah kamu Re!"


"Dari dulu itu terus yang kamu bilang padaku! Aku gak suka mendengarnya!


"Tapi aku cinta sama kamu! aku sayang sama kamu! makanya aku bicara seperti ini! ... hampir Seumur hidupku, kita selalu bersama. Aku gak rela kalau akhirnya kamu sama dia!"


"Siapa yang akan jadi pasanganku, itu bukan urusan kamu Van."


"Seandainya kamu gak keras kepala seperti ini, mungkin saat ini kita masih bersama Re, bukannya saling menghakimi seperti ini."


"Kamu aneh Van, bukankah kamu kan sudah punya kekasih baru, sebaiknya kamu fokus saja pada hubunganmu yang sekarang!"


"Hubunganku gak ada urusannya dengan hubungan kita."


"Hubungan kita? ... hubungan apa yang kamu maksud?"


"Selama ini aku merasa ada yang aneh. Selama aku pergi apa yang terjadi Re?... kamu, Jessie, Kayla dan Darren seakan menyembunyikan sesuatu dariku."


"Apa? ... menyembunyikan?"


Evan menarik tangan Regi kedalam genggamannya, lalu menatap lekat mata Regi. Seakan mau memastikan, apakah Regi berkata jujur atau tidak.


"Re, gak ada yang lagi kamu sembunyikan dari aku kan?" tanya Evan.


Deg!


Pertanyaan Evan memicu rasa gugup dalam diri Regi.


"Gak ada... gak ada apa - apa."


"Kamu yakin?"


Regi menggigit bibirnya getir.


"Aku... um... yakin."


Regi memalingkan wajahnya. Regi tidak berani menjawab sambil menatap mata Evan.


"Sebenarnya saat itu—..." Evan membuka kembali pembicaraan.


"—Stop Van! gak ada gunanya lagi kita ngomongin masa lalu."


"Kenapa enggak? Kamu lupa siapa kita Re?"


"Kita?... gak ada kata kita Van!"


"Tentu saja ada Re, kita sahabat Re. Aku sahabat kamu, sampai kapanpun kita akan tetap sahabat Re!" ucap Evan penuh penekanan.


"Tapi Van, semua itu sudah berlalu."


"Apanya yang berlalu? Kita tumbuh besar bersama. Dari kecil kita selalu bersama - sama." ucap Evan. "Sebenarnya sampai saat inj aku masih merasa kesal karena keras kepala kamu. Seharusnya kamu ikut aku ke Jerman! Kita kuliah bersama, dan kita gak seharusnya putus seperti ini!"


"Kamu masih aja tetap maksa seperti dulu. Padahal saat ini kamu sudah ada Ava."


"Aku cinta sama kamu bukan hanya satu dua tahun! dan tentu saja perasaan itu gak mungkin bisa hilang dalam 1 tahun begitu saja, kamu tau itu."


"Tapi Van..."


Atensi Evan tiba - tiba terfokus pada cincin yang sedari tadi Regi coba tutupi.


Tanpa meminta persetujuan dari Regi, Evan menarik begitu saja tangan kanan Regi. Yang dimana cincin tersebut melingkar di jari manis Regi.


"Cincin apa ini?" tanya Evan curiga.


Evan tampak cemas. Ia tidak ingin menduga terlalu dalam, tentang pentingnya cincin ini.


"I-ini..." Regi sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan Evan.


"Jangan bilang kamu tunangan sama pria tua itu!"


"Evan!"


"Jawab Re, ini cincin apa?"


Regi bergeming sambil membungkam mulutnya sendiri. Regi bingung harus menjelaskan dari mana tentang cincin ini.


"Jawab dong Re, jangan diam begitu."


Evan mengusap pelan punggung tangan Regi, Evan berharap Regi memiliki jawaban lain dari pertanyaannya.


Namun takdir berkata lain. Kenyataannya apa yang terjadi lebih parah dari yang Evan bisa bayangkan.


"Van..." ucap Regi berat. "Aku sudah menikah." ucap Regi pelan nyaris tidak terdengar suaranya.


"... Eh apa? kamu bicara apa tadi? Menikah?" tanya Evan tidak yakin.


Regi mengangguk pelan, membenarkan penekanan dari pertanyaan Evan.


"Menikah? apanya yang menikah? siapa yang menikah?!!" bentak Evan.


Regi pun tersentak. Bahkan rasanya Regi ingin menangis.


Evan bahkan hampir tidak bisa mengontrol emosinya.


Namun Evan berusaha mencoba kembali tenang. Evan kembali meraih dan mengusap pelan tangan Regi.


"Kamu bercanda kan Re? Kamu lagi prank aku kan? kamu gak serius tentang hal ini kan?"


Regi tidak menjawab. Hanya matanya Regi saja yang bergerak pelan menatap lurus Evan.


Regi yang sedari tadi menghindari kontak mata dengan Evan, kali ini Regi dengan penuh yakin menatap mata Evan.


Perasaan Evan semakin terasa tidak enak. Evan seakan belum siap dengan jawaban yang tidak ingin ia dengar.


Regi menggeleng samar.


"Aku sudah menikah 1 tahun lalu..." sahut Regi


Tangan Evan melemas, terlalu lemas sampai melepaskan genggaman tangannya pada tangan Regi begitu saja.


"Bercanda kamu gak lucu sama sekali Re." ucap Evan sambil tertawa yang dipaksakan.


Tawa Evan terlalu terlihat dipaksakan, sehingga Regi bisa melihat dengan jelas rasa sakit yang sedang Evan coba untuk disembunyikan.


"Tapi aku gak sedang bercanda Van..."


Tawa itu memudar. Tawa diwajah Evan seketika itu menghilang, dan berganti dengan raut wajah marah serta kecewa.


Brak!!


Evan mengepalkan tangannya, lalu menggebrak meja dengannya. Sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Beberapa orang disekitar seketika menoleh. Regi dan Evan seketika menjadi pusat perhatian.


"Dengan siapa?!"


"Ap—..."


"Dengan siapa kamu menikah hah?!"


Regi tersentak ketika Evan membentaknya. Dan tanpa terasa, air mata Regi menetes karenanya.


"Paman..."


"Apa?!"


"Aku menikah dengan paman, Evan..."


Deg!


Bagaikan petir disiang bolong, peryataan Regi menjadi sambaran yang cukup menyakitkan untuk Evan.


Tubuh Evan terasa gemetar, karena menahan amarah.


Tangannya telah mengepal kuat.


"Arggghhhh!" teriak Evan frustasi. "Kamu tega Re! ... kamu tega melakukan semua ini sama aku Re!" ucap Evan emosi.


Regi terisak, berusaha menahan tangisnya.


"Sampai begini Re, kamu tega sama aku! Jadi ini yang kalian rahasiakan, hanya aku saja yang gak tau! Kamu keterlaluan Re! Apa maksudnya hah?! Apa maksudnya kamu menikah dengan dia!" pekik Evan.


Evan sudah tidak peduli dengan orang - orang yang berada disekitarnya. Evan sudah tidak peduli jika dirinya jadi bahan tontonan bahkan omongan orang lain yang melihatnya.


Perasaan Evan sudah terasa begitu hancur berantakan, karena harus menghadapi kenyataan yang sebenarnya.


—TO BE CONTINUED—