
Dilihatnya seorang pria muda juga tampan dengan postur tubuh jangkung, dan berbadan bidang, tengah berdiri di bersanding bersama dirinya di pelaminan.
Ketika Evan berbicara, bibirnya yang sedikit berwarna merah muda mungil itu selalu menyelipkan senyum ramah kepada siapapun yang menyapanya.
"Tuhan, diakah pria yang Kau pilihkan untukku? Pria yang Kau pilih untuk bersamaku menjalani sisa kehidupan ku?"
Wanita mana yang tidak merasa cemas jika harus mendampingi seorang pria untuk seumur hidup, tetapi dia bahkan belum tau pasti sifat baik dan buruk pria tersebut.
Renesya hanya mengenal Evan tidak lebih dari 1 minggu sampai memutuskan untuk menikah,
Bagi Renesya, apapun yang dipilihkan oleh orang tuanya, itulah yang terbaik.
Seperti ketika Ayah dan Ibunya, memilihkan jodoh untuk Rania, kakaknya.
"semua akan baik baik saja. Lihat saja kakak, Dia bahagia dengan keluarga kecilnya". Ucap Renesya dalam hati untuk menenangkan dirinya.
Renesya selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa pilihannya tidak akan salah.
Cemas! Itulah yang sekarang dirasakan Renesya, Karena walau Evan selalu terlihat pria baik baik, nyatanya Renesya tidak tau apa apa tentang suaminya.
Evan hanyalah seorang pria asing yang langsung masuk kedalam kehidupan Renesya.
"sayang". sahut Kinanti. Seraya membelai lembut bahu Renesya.
"Ibu," sahut Renesya pelan.
"Kamu dan Evan sudah boleh meninggalkan gedung. Ada supir yang akan mengantarkan kalian ke Hotel. Sebelum besok pagi kalian akan berangkat Bulan Madu."
"Oh iya baik bu,". Renesya tersenyum pasrah dengan semua rencana yang sudah di atur.
"Nah kamu jaga baik baik pengantinmu ya!".
Om Ady Wilaga menepuk punggung Evan
Evan terkekeh tertawa
"Tentu Ayah, akan aku jaga Renesya".
Evan beraksi langsung dengan menggenggam tangan Renesya dan menatapnya.
Tatapan Evan sesaat membuat Renesya menjadi lebih yakin jika pilihannya tidak akan salah. Menikahi seorang Evan Malik bukan kesalahan dalam hidupnya.
Sampai ketika mereka tiba di Kamar Hotel...
Sebucket Sampanye terbungkus manis diatas Meja kecil bundar yang terletak di dekat jendela kamar.
"apa yang akan terjadi malam ini?".
Setidaknya itu yang Renesya pikirkan sebelum Evan melempar kemejanya dengan kasar ke atas tempat tidur.
Tanpa melepas sepatunya, Evan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur sehingga beberapa kelopak bunga hiasan itu berhamburan ke lantai.
"Ada apa ? Kenapa rasanya berubah ? Kenapa suasana yang aku rasakan berbeda ?"
"Oh mungkin Evan masih lelah. Ya wajar saja menerima tamu selama hampir 6 jam pasti membuat dirinya kelelahan" sahut Renesya dalam hati
"Evan, aku bersih bersih dulu". Sahut Renesya sambil mengambil Handuk dari dalam lemari pakaian.
"ya!" Jawab Evan yang suaranya terdengar seperi malas untuk di ucapkan.
Renesya segera masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
Butuh waktu cukup lama bagi Renesya melepaskan pernak pernik pengantin wanita dari tubuhnya dan membersihkan make up di wajahnya.
Setelah selesai mandi, memakai piyama nya, dan merapikan baju pengantinnya, Renesya berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
Betapa bingungnya Renesya ketika tidak melihat Evan di tempat tidur. Tempat terakhir Renesya lihat sebelum dirinya masuk ke kamar mandi.
"Evan". Panggil Renesya pelan.
Honeymoon suites, kamar hotel yang ditempati Renesya memang besar. Tapi tidak cukup besar untuk seseorang main hide and seek.
Segera Renesya mengambil ponselnya, dicari contact bernamakan Evan Malik. sesegera setelah menemukan namanya, Renesya langsung menghubungi Evan.
Dari sebrang Iine teleponnya, Evan menjawab
"ya!" suaranya berteriak.
Terdengar dari belakang suara Evan, lagu disko yang bergemuruh kencang.
Saat mendengar suara Diskotik perasaan Renesya berubah menjadi tidak Enak.
- Fall in Love -