IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 11 FLASHBACK PART SIX



" Regi masih bisa melanjutkan kuliahnya tahun depan. Aku akan pastikan hal itu terjadi " ucap Samuel yakin


" Kamu bisa mengurus semua itu Sam? " tanya Natalia


" Aku yakin ku bisa " jawab Samuel kembali



" Lalu tentang masalah pernikahan itu sebaiknya kau pikirkan lah kembali " ucap Watson " Aku tidak mau kalian sampai salah langkah, lalu ada penyesalan diakhir "


" Saya mengerti maksud anda Pak " sahut Samuel


" Beberapa minggu kemarin aku sempat melihat ada seorang wanita dan anaknya datang kerumah mu? apa itu mantan istrimu? " tanya Natalia


Samuel sebenarnya malas menjawab jika menyinggung masalah ini. Tapi mau tidak mau Samuel harus menjawabnya, walau berat


" Iya benar, kemarin mantan istriku dan putri kami datang kerumah " jawab Samuel


" Ku lihat mantan istrimu sering datang, apa kalian sedang mencoba untuk rujuk? "


" Eh itu? Um... "


" Sam, kami tau kau berniat baik mau membantu Regi, tapi kami juga berharap, tidak akan ada lagi masalah yang muncul "


Samuel hanya bisa terdiam. Samuel tidak mau memaksa, namun Samuel tidak mau juga membohongi hati nuraninya yang masih bersikeras mau menolong Regi.


***


" Nah apa enak? " tanya Jeje


Jeje sedang mengendarai mobil dan Regi duduk disebelahnya sambil meminum vitamin.


Jeje dan Regi sedang dalam perjalanan pulang dari supermarket.


" Rasa enak, menyegarkan " jawab Regi


" Bibi itu bilang, vitamin ini bagus untuk ibu hamil "


" Untung saja bibi itu gak bertanya macam - macam, aku sampai pucat ketika bibi itu bertanya siapa yang hamil "


" Untung kamu perginya sama kakakmu yang cerdas ini "


" Kakak bilang untuk istri kakak~ hho padahal menikah saja belum "


Jeje mengulum bibirnya, tersenyum


" Menurutmu apa Easter akan menerima lamaranku? "


" Kakak mencintainya kan? "


" Aku sangat mencintainya, dan rencananya aku akan melamarnya bulan besok "


" Bulan besok? Kenapa sepertinya terburu - buru? "


" Kakak dapat panggilan kerja akhir bulan besok di Jepang, jadi selama 8 bulan kakak akan menetap di Jepang "


" Je-jepang? maksud kakak Jepang, Jepang? "


" Hha~ iya Jepang Jepang... "


" Wah selamat ya kak, aku senang mendengarnya "


" Tapi... "


" Tapi? Kenapa tapi? "


" Kakak tiba - tiba merasa berat untuk pergi "


" Kenapa kakak tiba - tiba merasa begitu? "


" Kakak merasa sebaiknya kakak batalkan saja kontraknya, karena kakak gak mau meninggalkan kamu sendirian "


" Apa maksud kakak? "


" Kakak berfikir, kalau bukan kakak yang melindungi kamu siapa lagi? Kakak merasa gak tenang meninggalkan kamu sendiri disini. Apalagi kakak pergi hampir 1 tahun lamanya "


" Kenapa kakak sampai berfikir begitu? " tanya Regi sedih


" Re, kakak bilang begini bukan buat kamu merasa sedih atau jadi pikiran kamu, tapi... "


" Regi gak apa - apa kak. Memang sebelum Regi bilang kesemua orang kalau Regi hamil, semua ini terasa berat. Tapi! Sekarang kan ibu, ayah dan kakak sudah tau yang sebenarnya. Jadi Regi sudah gak ada beban "


" Regi, kakak tau kamu kuat. Kakak yakin kamu bisa melewati semua ini walau terasa berat. Tapi, kakak tidak bisa bilang kalau kakak tidak mencemaskan mu "


" Tapi pekerjaan ini juga sama pentingnya untuk hidup kakak. Kakak selalu bilangkan, kalau kakak mau bekerja di luar negri, untuk menambah pengalaman kakak sebagai seorang Animator. Apalagi ini Jepang. Dulu kita selalu menonton kartun setiap pagi, telat berangkat sekolah hanya karena shinchan masih belum bersambung~ Kakak tau betapa sukanya kita ketika itu. Lalu kita berjanji untuk kuliah di bidang yang sama, agar bisa jadi animator yang hebat "


" Re... "


" Sebenarnya ini bukan hanya tentang mimpi kakak. Ini juga bagian dari mimpiku. Tapi, Melihat kondisiku yang sekarang rasanya aku sudah tidak mungkin bisa mengejar mimpiku... "


" Regi kamu jangan bilang begitu "


" Kakak pergi saja, kesempatan gak akan datang untuk yang kedua kalinya. Jangan sampai satu hari setelah kakak membatalkan kontrak itu, kakak terbangun dengan perasaan yang menyesal "


" Regi, kakak hanya bingung mau meninggalkanmu "


" Kakak jangan bingung, karena aku akan baik - baik saja "


" Re... "


" Percayalah, aku akan baik - baik saja kak. Aku kan hebat. Aku adiknya kakak yang kuat. Lagipula kita bisa terus berkabar. Jadi kak, kakak jangan ragu lagi pergi "


" Baiklah~ Tapi kamu harus janji. Setiap hari kabari kakak, oke? "


" Aku mengerti kak "


Namun ketika mereka berbalik kembali untuk melihat kedepan


" Kakak!!! " Pekik Regi


" Oghh! " kaget Jeje yang langsung menginjak rem secara mendadak


" Kyaaa! " teriak Regi


Seseorang tiba - tiba saja menyebrang tepat ketika mobil Jeje melintas.


Namun Jeje berhasil mengerem


" Kak, apa... apa kita menabraknya? " tanya Regi gemetar


" Sebentar akan kakak cek dulu "


Jeje melepaskan seatbelt nya dan keluar dari dalam mobil


" Anda tidak apa - apa? " tanya Jeje panik, ketika melihat ada seorang gadis yang tersungkur jatuh didepan mobilnya


" Ti-ti— "


Gadis itu terlihat ketakutan. Penampilannya kacau


" Kakak " sahut Regi panik, sambil menghampiri Jeje


Regi ikut melihat gadis yang tengah tersungkur


" Ya Tuhan, kau tidak apa - apa? "


Regi membantu gadis itu berdiri


" Aku tidak apa - apa "


" Kau yakin kau tidak terluka? " tanya Jeje


Gadis itu terlihat sekali sedang panik atau lebih tepatnya terlihat ketakutan


" Jia! " Seorang Ibu - ibu teriak sambil berlari menghampiri gadis yang tersungkur itu.


" Lepaskan aku! " ucap gadis yang bernama Jia itu dengan kasar.


" Tapi... "


" Ku bilang lepaskan aku! "


Gadis itu berteriak secara tiba - tiba. Membuat Regi dan Jeje bingung sekaligus tersentak


" Jia! " Teriak ibu tersebut sambil terus berlari mengejar gadis yang bernama Jia tersebut.


Namun ternyata tidak hanya ibu itu yang mengejar Jia, ada ibu - ibu lain, bahkan bapak - bapak yang ikut mengejar.


" Maaf " Jeje menghentikan salah satu pria yang ikut mengejar Jia


" Ada apa? "


" Maaf, kenapa gadis itu dikejar? " tanya Jeje


" Jia maksudmu? "


Jeje hanya mengendikan bahunya sedikit. Jeje merasa tidak yakin dengan nama dari gadis itu


" Dia saat ini sedang hamil 3 bulan " ucap pria tersebut


" Apa hamil? Tapi kenapa dia berlari begitu " kaget Jeje


" Iya, tapi ayah bayinya menolak untuk menikahinya. Sementara warga lain sudah tau semua, jadi mereka menuntut Jia untuk segera dinikahkan. Tapi Jia justru menolak untuk dinikah paksa, dan dia sekarang kabur "


" Ni-nikah paksa? " seru Regi terkejut


" Iya benar, warga berniat mengusir Jia, jika Jia tetap membesarkan anak itu tanpa ayah "


" Diusir? " —Jeje


" Iya, hukum masyarakat itu sangat mengerikan. Kasian orang tuanya, harus menanggung malu seperti ini "


Regi meremas ujung bajunya gelisah.


" Kau, jagalah dirimu. Jangan sampai kau bernasip sama seperti gadis malang itu " ucap pria itu sambil melihat Regi


" A-ap—.. "


" Sudahlah, aku harus membantu yang lain membawa Jia "


" Baik pak, terima kasih " ucap Jeje sambil menunduk sesaat


...


Jeje dan Regi kembali masuk kedalam mobil


Wajah Regi berubah muram. Kegelisahan terlihat sekali terpancar dari sorot matanya.


" Re... "


" Kak, dia sama sepertiku "


" Um... "


" Kak, Regi takut... "


Jeje mendadak kembali khawatir melihat Regi. Wajah Regi berubah pucat. Regi gemetar ketakutan, dan sialnya Jeje bisa merasakannya, dari tangan Regi yang gemetar


*** TO BE CONTINUED ***