
Apa arti sebuah nama?
Bagiku nama adalah sebuah doa sepanjang usiaku.
—Regita
***
"Jadi siapa namanya?" tanya Samuel.
Samuel tampak bahagia sekali ketika menimang anak Regi didalam pelukannya.
"Um..."
"Kamu belum menyiapkan nama untuknya?"
"Aku teringat satu nama dalam benakku."
"Benarkah? siapa?"
"Katia, aku ingin menamai anakku Katia, paman."
"Katia?..."
"Katia yang berarti murni. Dia terlahir suci, biarkan aku saja dan Evan yang menanggung semua dosanya. Jangan anak ini. Dia harus bahagia."
Regi menatap sendu Katia yang berada di dalam pelukan Samuel.
Sementara Samuel menatap iba Regi.
"Um~ Katia ya... baiklah mulai saat ini kamu akan dipanggil Katia, anak manis" ucap Samuel seakan sedang menggoda Katia.
...
Menjadi seorang ibu bukanlah suatu pencapaian yang mudah. Dan Regi tidak menyangka, kalau kini di usianya yang masih terbilnag sangat muda, ia sudah dalam tahapan tertinggi dalam menjadi seorang wanita.
Kini kehidupannya mungkin akan sedikit berbeda. Tapi semua itu tidak akan menjadi masalah, karena Regi memiliki Katia didalam hidupnya.
***
Saat ini semua anggota keluarga Regi telah datang ke rumah sakit, untuk menjenguk Regi pasca kelahiran.
"Cantiknya cucu Oma~" ucap Natalia sambil mengendong Katia
"Coba sini Opa mau lihat juga..." sambung Wilson.
"Permisi, bayinya mau dibawa lagi." ucap seorang perawat yang datang menghampiri.
"Eh? sudah mau dibawa lagi Suster?"
"Mau dimandikan, nanti akan diantar lagi kesini" ucap perawat tersebut dengan ramah.
"Oh baiklah..." —Regi
"Tuan Samuel, apa anaknya sudah diberi nama?" tanya Perawat tersebut.
"Eh?" Samuel terkesiap. "Sudah..."
"Baiklah kalau begitu," jawab perawat itu tersenyum."Kalau begitu bisa tolong ke ruang administrasi untuk dibuatkan Akta lahir."
"Oh baiklah."
Samuel segera bangkit berdiri dan mengikuti perawat tersebut keluar dari dalam kamar inap Regi.
Samuel menutup pintu, sebelun akhirnya dia benar - benar keluar dari dalam kamar inap Regi.
"Re,..." Natalia langsung menyambar Regi. "Dari tadi ibu mau bicara, tapi gak enak ada Samuel disini."
"Ada apa bu?"
"Bagaimana reaksi Samuel pada Katia?"
"Reaksi apanya?"
"Apa dia biasa saja, atau..."
"Hha~ Ibu gak usah khawatir, paman sangat menyukai Katia. Dari tadi paman terus menggendong Katia, sebelum ayah dan Ibu datang."
"Syukurlah~ Ibu pikir Samuel akan bersikap biasa saja."
"Tidak Bu... Paman sangat menyayangi Katia."
Natalia tersenyum simpul.
"Ayah merasa Katia sangat mirip denganmu." ucap Wilson.
Regi menggeleng pelan.
"Tidak, ... Katia terlalu mirip dengan ayahnya." ucap Regi seakan menyesal. "Setiap aku melihat wajah Katia, aku selalu teringat dia."
"Evan?" ucap Natalia.
"Eh?"
Regi dan Wilson serentak mengernyitkan keningnya, bingung.
"Evan?" —Wilson
"I-ibu... bagaimana bisa..."
"Ibu sudah tau siapa ayah Katia dari lama, Re."
Natalia menurunkan pandangannya.
"Jadi Evan anaknya Archie yang sudah..." ucao Wilson sedikit gagap.
Wajar sekali Wilson terkejut mendengar kabar ini. Karena anak sahabatnya sendiri yang sudah merusak masa depan putri satu - satunya Wilson.
"Ayah tenanglah..." ucap Natalia sambil memegang tangan Wilson, berupaya menangkan.
"Tapi itu semua sudah berlalu. Sudah tidak ada gunanya dipermasalahkan sekarang." ucap Regi.
"Tapi kenapa Re? ... kenapa kamu gak cerita pada ayah kalau Evan..."
"..." Regi bergeming. Regi seakan tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya.
"Ayah, biarkan semua itu berlalu. Tidak ada gunanya lagi kita bahas sekarang. Mungkin memang inilah jalan yang terbaik."
Natalia mengingat kejadian 8 bulan yang lalu, dimana ia sudah mengatakan semuanya kepada Julie ibu dari Evan, tapi Julie tidak menggubris apapun sampai saat ini.
Dari sana Natalia mengambil kesimpulan, kalau Julie memang tidak mau bertanggung jawab.
Jika sudah begitu, lalu apa lagi yang mau Natalia tagih, dari seseorang yang bahkan tidak punya perasaan terhadap ibu dari cucunya sendiri.
Bagi Natalia cukup sudah Evan dan keluarganya menggores luka di dalam hati Regi. Tidak perlu ada yang mengungkit masalah ini lagi.
"Tapi..." sanggah Wilson.
"Regi kini sudah bahagia bersama Katia dan Samuel. Jadi biarkan Regi bangun kebahagian keluarganya sendiri."
Wilson hanya bisa terdiam. Apa yang istri—Natalia—nya katakan cukup menyadarkannya kalau sudah tidak ada gunanya menaruh dendam.
Kini lebih baik ia melakukan yang terbaik untuk anak dan cucunya.
***
5 Bulan berlalu begitu cepat. Begitu cepat hingga tidak terasa semuanya mulai berubah kembali.
Samuel menghendaki Regi untuk kuliah kembali. Samuel tidak ingin Regi berhenti dalam meraih cita - citanya, menjadi seorang ibu bukanlah alasan untuk Regi menyerah pada pendidikannya. Sebisa mungkin Samuel akan mendukung Regi.
2 Bulan yang lalu Regi, Samuel dan Katia kembali ke rumah Samuel yang berada di Selatan. Rumah yang bertetangga langsung dengan rumah Regi.
Kini semua tentangga sudah tau kalau Regi dan Samuel telah menikah. Kehidupan mereka bahagia dan berjalan sebagiman mestinya.
***
Kampus.
"Re, aku suka kamu!"
Regi terkejut ketika salah seorang kakak kelasnya tiba - tiba saja menyatakan cintanya, di koridor kampus.
"Eh?! kamu sudah gila ya?!" hardik Jessie.
"Hum! seenaknya nembak cewek! kita tuh disini mau kuliah bukan pacaran!" sambung Kayla.
"Ayo Re, kita pergi dari sini."
Jessie dan Kayla menarik tangan Regi menjauh dari pria tersebut.
Ketika dirasa sudah berjalan menjauh...
"Hahaha... eh kalian lihat gak tadi ekspresinya?" ucap Kayla terbahak.
"Hum~ lihat mukanya pucat bingung gitu..."
"Sembarangan aja nembak istri orang." ucap Jessie
"Hm... dasar gak tau diri." sambung Kayla.
"Tapi kan dia emang gak tau kalau Regi udah menikah." ucap Jessie.
"Yeuh gimana sih Jes~ tadi ngomong apa sekarang ngomong apa" ucap Regi.
"Ya mau gimana lagi, walaupun baru masuk kuliah tapi kan kita cukup terkenal" sahut Jessie.
"Hum, kemarin aja ada yang ngajak aku nonton." ucap Kayla.
"Kalay Darren tau, bisa abis itu anak yang ajak kamu jalan." ucap Regi.
"Glen juga, pasti dia ngomel kalau tau ada cowok yang ngegodain Jessie." sahut Kayla
"Emang ada?" tanya Regi sambil menoleh melihat Jessie.
"Anak fakultas kedokteran. Ajak jalan kemaren."
"Gila, kita emang kece!" seru Kayla.
"Hahaha~"
Ketiga sahabat itu tertawa.
Mereka akhirnya bisa menepati janji merek untuk masuk Kuliah bersama, setelah 1 tahun menundanya.
Kalau dipikir semua yang awalnya terlihat sulit, ternyata bisa dilewati dengan mudah.
Hanya cukup bersabar dan menjalani semuanya dengan tulus dan ikhlas.
Regi akhirnya bisa mewujudkan keinginannya bersama Jessie dan Kayla. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari ini.
***
—TO BE CONTINUED—