IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 26




" Evan! " Teriak Ava


Evan menghentikan langkahnya dan menoleh,


Ava tengah berlari menghampirinya.


" Evan! "


Secepat kilat Ava segera menarik lengan Evan kedalam pelukannya


Terlihat beberapa penjaga berlari dari arah belakang Ava.


Mata Evan terbelalak melihatnya. Apa Ava telah menerobos masuk kedalam gate pesawat?!


" Ava... "


Evan menarik tubuh Ava mundur.


Lalu mereka juga sempat saling menatap lekat, sebelum akhirnga Ava kembali memeluk lengan Evan lagi.


***


Ruang keamanan bandara ~


" Jadi kau menerobos masuk karena pacarmu mau pergi? "


" Heuh? bu—bukan... " sangkal Ava " Dia bu—... "


" Maafkan kami pak security~ maafkan " Evan menunduk sesaat.


" Ya sudah, kalian pulanglah! Kalian juga sudah mengisi form. tidak akan mengulanginya. Jadi jangan diulangi lagi kejadian seperti tadi. " ucap petugas tersebut.


Evan dan Ava keluar dari ruang pos keamanan.


" Heran, jaman sudah ada ponsel seperti saat ini, kenapa tidak dipergunakan dengan baik "


Petugas keamanan tersebut menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir.


...


Ava dan Evan kini sudah diluar dari lobby bandara.


" Kamu kenapa kesini? " tanya Evan heran.


" Kamu mau kemana? Kamu mau pergi begitu saja? "


" Aku kan sudah bilang, kalau aku akan kembali ke Korea. "


" Ya tapi kenapa? kenapa mendadak seperti ini? "


" Ada hal yang harus aku lakukan, "


" Hal apa? "


" Sudah lah Ava, aku sebaiknya pergi sekarang. Karena kamu, keberangkatanku jadi tertunda. "


" Apa ini karena pacar kamu, yang kemarin kamu ceritakan? "


" Eh? "


" Apa benar karena dia, sehingga kamu ingin pulang mendadak seperti ini? "


Evan terdiam dan menurunkan pandangannya.


Evan mungkin tidak menjawab pertanyaan Ava, tapi hanya dengan menatap matanya Evan, Ava memiliki semua jawaban dari pertanyaannya.


" Dia tidak mencintaimu, jika dia mencintaimu dia tidak akan membuatmu menjadi seperti ini. " ucap Ava


Evan tersulut emosi secara tiba - tiba karena ucapan Ava.


" Seseorang yang mencintai dengan tulus, sudah pasti dia akan membuat perasaan nyaman. Bukan sebaliknya. " —Ava


" Jika setelah ini kamu pulang,... lalu apa? kamu mau berbuat apa dengannya? Jika dia tidak mencintaimu lagi kamu bisa apa? " —Ava


" Aku memang tidak mengerti apa yang terjadi diantara kalian. Tapi aku merasa sangat yakin, kalau hanya kamu yang menderita disini. " —Ava


" Karena yang aku tau, cinta itu membuat nyaman. Bukan sebaliknya. " —Ava


" Kamu pulang sekarang, hanya akan membuat hidup mu semakin menderita. Kamu akan kehilangan semuanya, kuliahmu, cita - citamu, harapan keluargamu, dan... "


Ava menggantungkan kalimatnya. Ava seolah merasa tidak yakin untuk melanjutkan ucapannya.


Evan memutar arah matanya melihat Ava.


" Dan juga aku, " ucap Ava yang sudah merasa tidak peduli lagi dengan tanggapan Evan.


Ini adalah rasanya. Ini ada isi hatinya, untuk apa Ava pikir untuk ditutupi lagi.


" Aku rasa aku sudah tidak punya rasa malu mengatakan semua ini. Tapi aku merasa hal yang ku lakukan saat ini adalah hal yang tepat untuk aku lakukan. "


" Atas dasar apa kamu melakukan semua ini? "


Ava sedikit tercekat melihat sikap Evan yang mendadak dingin padanya.


" Akhir tahun kamu bisa pulang, setidaknya bertahanlah sampai hari itu tiba. Jangan sia - siakan semua yang sudah kamu lakukan sampai sejauh ini. Jangan sampai kamu salah mengambil keputusan, lalu berakhir dengan penyesalan. " ucap Ava


" Jika dia memang untukmu, kalian pasti akan bersama. " ucap Ava.


***


" Paman jangan salah paham, Regi menghubungi Evan karena ingin hubungan mereka benar - benar berakhir " ucap Jessie


" Sebenarnya, Evan masih sering mencari Regi lewat Darren. Hampir setiap saat, Evan selalu menanyakan kabar Regi lewat Darren "


" Apa Evan sudah tau semuanya? " tanya Samuel.


Jessie menggelengkan kepalanya.


" Ku rasa belum. Dari yang kudengar, Evan sepertinya belum tau. " jawab Jessie.


Samuel menghembuskan nafas dengan berat.


" Lagi pula saat ini juga sudah tidak akan ada bedanya, dia tau atau tidak. "


" Paman, maaf aku lancang bertanya seperti ini, ... tapi apa paman menyukai Regi? " tanya Jessie.


Samuel terkejut dengan pertanyaan Jessie yang tiba - tiba.


Ingin Samuel menjawab. Namun jawaban tepat seperti apa yang harus Samuel katakan, sementara Samuel sendiri tidak yakin dengan perasaannya.


" Paman, aku tau kalau Regi sangat menyukai Evan. Tapi aku yakin perasaan bisa berubah seiring waktu yang berjalan diantara paman dan Regi. "


" Jessie kamu jangan salah paham, aku dan Regi... perasaanku tidak seperti itu. "


" Apa maksud paman? "


" Aku memang menyayangi Regi. Dan mungkin itu alasan aku menikahinya. Tapi, ... "


" Tapi paman hanya menganggap Regi sebagai anak kecil? paman hanya merasa kasihan dan iba kepadanya? itu maksud paman? "


Jessie mulai meninggikan suaranya. Kalimatnya mulai menyudutkan Samuel.


Samuel merasa bingung. Ia kesal karena Jessie menyudutkannya. Namun Samuel lebih kesal dengan perasaan tidak jelas yang ia rasakan kepada Regi.


" Paman, Regi butuh paman. Evan hanya menyakitinya. " ucap Jessie.


Jessie bangkit berdiri dari duduknya. Sambil membawa pesanan Kayla, Jessie beranjak pergi meninggalkan Samuel.


...


Kamar inap Regi,


Jessie membuka pintu kamar, membuat Regi dan Kayla yang sedang berbincang, spontan menoleh melihatnya.


" Jessie, paman mana? " tanya Regi


" Eh? "


" Bukankah tadi kamu pergi sama paman, Jess? " sambung Kayla.


Jessie memutar kedua matanya bingung.


" Hha~ iya tadi aku bersama paman. Tapi... "


Tidak lama pintu ruang inap kembali terbuka.


Ketiga sahabat itu pun menoleh ke pintu.


" Re, kamu sudah bangun? " tanya Samuel.


" Paman? " ucap Regi.


Kehadiran Samuel mengalihkan pembicaraan mereka, membuat Jessie bernafas dengan lega.


" Bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik? " tanya Samuel.


" Sudah paman, apa aku sudah boleh pulang? "


" Iya, hari ini sudah boleh pulang. Tadi aku sudah menanyakannya pada perawat yang berjaga "


" Syukurlah~ " ucap Regi.


" Syukurlah ya Re... " ucap Kayla


" Mulai saat ini jaga kesehatan. Ingat kandunganmu sudah membesar. " sambung Jessie.


" Iya~ tenang saja. Aku akan melahirkan anak yang sehat nanti, lihat saja. Hahaha " —Regi.


" Kamu sudah sarapan? aku bawakan bubur kesukaanmu. " ucap Samuel.


" Iya aku mau, aku mau bubur " ucap Regi bersemangat.


Regi tersenyum. Ia terlihat bahagia seolah tidak terjadi apa - apa sebelumnya.


Padahal Samuel dan Jessie tau, kalau sebenarnya jauh didalam lubuk hati Regi, perasaanya terluka.


Pagi tadi, Regi menangis ketika mengakhiri hubungannya dengan Evan.


Namun lihatlah sekarang, ia tersenyum seolah tanpa beban.


Beruntung Jessie mengatakan semuanya, setidaknya Samuel tidak benar - benar tertipu oleh sikap Regi yang biasa saja.


Setidaknya Samuel bisa mengambil sikap, untuk sekedar menghibur Regi. Atau mencoba membuat Regi bahagia dan melupakan Evan.


— TO BE CONTINUED —