
" Kak, dia sama sepertiku "
" Um... "
" Kak, Regi takut... "
Jeje menggenggam tangan Regi dengan erat.
Jeje seakan bisa merasakan keresahan dan kegelisahan Regi, ketika Jeje memegang tangan Regi yang gemetar.
***
Malam itu pukul 7. Kondisi hari itu hujan turun dengan deras. Jeje tengah bersimpuh dihadapan Samuel
" Kumohon... " ucap Jeje bersimpuh didepan Samuel
" Jeje apa yang kamu lakukan? "
Jeje berdiri dan kembali duduk di sofa setelah bersimpuh.
" Kenapa kamu melakukan semua ini? "
" Maafkan aku telah membuat paman bingung seperti ini, aku sendiri juga bingung dan khawatir harus bagaimana menghadapi situasi Regi yang seperti ini "
" Sebenarnya apa yang terjadi. Tidak mungkin kamu bersikap tiba - tiba seperti ini. Apa yang terjadi? "
" Sebenarnya tadi aku dan Regi... "
Jeje menceritakan semua yang terjadi padanya dan Regi, siang tadi.
Jeje menceritakan tentang kegelisahannya dan juga rasa gemetar pada diri Regi
" ... Paman, jika benar paman serius dengan ucap paman yang kemarin. Aku minta tolong paman, tolong bantu Regi. Regi dia tidak akan bertahan menghadapi semua ini sendiri "
Samuel terdiam.
Apa yang Jeje katakan, sebenarnya merupakan alasan yang sama kenapa Samuel menawarkan ingin menikahi Regi.
Samuel tau, Regi tidak akan bertahan jika menghadapi semua ini sendiri.
" Bantulah Regi paman, aku mohon padamu "
Kali ini Jeje sudah sampai batasnya. Air matanya yang telah ia pendam, sudah tidak bisa Jeje bendung lagi.
Air mata Jeje menetes dan mengalir secara bersamaan ketika ia meremas tangannya ketika mengepal.
Jeje tertunduk dan terisak.
" Besok, aku akan ke bukit "
" Apa? "
" Besok aku akan menemui ibuku, aku akan meminta restu darinya, sebelum aku melamar Regi " ucap Samuel
" Be-benarkah? "
Samuel menggangguk.
Perlahan Jeje tersenyum dan membungkuk
" Terima kasih paman... Terima kasih "
Jeje masih menangis, namun kali ini ia merasa begitu senang. Setidaknya, Regi masih memiliki kesempatan dalam memperbaiki kehidupannya. Jeje merasa begitu bersyukur ada Samuel mau mendampingi Regi
***
10.09 am
Bukit, adalah wilayah tempat dimana ibunya Samuel tinggal, bersama adiknya Naomi
" Apa?! Apa yang baru saja kau katakan? " Kaget Renata
Samuel bersimpuh, didepan ibunya yang tengah berdiri dihadapannya
" Ijinkan aku menikahinya "
" Apa kau sudah tidak waras?! Apa kau sudah kehilangan akal?! " pekik Renata
" Kuharap ibu mau merestui kami "
" Samuel, kau gak bisa bersikap seperti ini. Kau baru saja meminta ibu untuk merestui hubunganmu dengan anak muridmu "
" Sudah kukatakan alasannya, kuharap ibu mengerti "
" Bagaimana ibu bisa mengerti? ini sama saja kau mengorbankan hidupmu. Memangnya ini tanggung jawabmu hah? apa anak itu hamil anakmu? tidak kan? "
" Bu, aku tidak bisa membiarkannya hidup menderita. Dia masih begitu muda, bagaimana bisa aku melihat hidup muridku hancur "
" Memangnya apa urusanmu?! Itu salahnya! Tapi kenapa kau yang mau bertanggung jawab?! "
Samuel terdiam
" Samuel, kau itu guru! bukan dewa! jadi bersikaplah seperti manusia! Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang "
" Ibu benar, aku bukan dewa yang bisa menyelamatkan banyak orang. Jadi biarkan aku menyelamatkan satu orang saja. Biarkan aku menyelamatkan Regi "
Renata menatap Samuel jengkel. Anaknya ternyata lebih keras kepala dari apa yang ia bayangkan
" Bu, aku akan tetap menikahinya "
" Astaga Sam! "
" Aku harap ibu tidak akan terlalu mengkhawatirkan ku "
" Jadi kau benar akan melakukannya, walau ibu tidak merestui "
Samuel terdiam. Namun dalam diamnya Samuel seakan menegaskan bahwa dirinya tidak sedang main - main
" Baiklah ibu mengerti. Ibu tidak tau seberapa hebatnya ibu bisa melahirkan anak sepertimu, bahkan mau membantu orang lain sampai seperti ini "
" Maafkan aku ibu... "
" Baiklah jika ini maumu, ibu akan merestuimu. Bawa Regi bertemu dengan ibu secepatnya "
" Terima kasih. Terima kasih banyak bu " ucap Samuel lalu membungkukan badannya, memberi ucapan terima kasih lebih layak pada ibunya
" Lalu, apa kau sudah bicara pada Gwen? "
" Gwen? "
" Yang ibu dengar dari Gwen, kalian sedang dalam proses rujuk demi Seira "
...
Tanpa sepengetahuan Renata dan Samuel yang sedang berbicara di ruang kerja Renata, Naomi adik perempuan Samuel telah menguping, dan mendengar semua percakapan yang terjadi didalam
" Astaga! Kakak akan menikah lagi " ucap Naomi sambil membekap mulutnya sendiri. Naomi merasa begitu terkejut
...
" Apa?! " pekik Gwen " Apa yang baru kamu katakan?! " Gwen tengah bertelfon
[[ Call mode 📲 ]]
Naomi : Aku juga kaget sama seperti kakak
Naomi : Aku juga terkejut
Gwen : Samuel dia...
Naomi : Aku tidak percaya dia akan menikahi muridnya yang tengah hamil
Gwen : Apa dia sudah gila?!
Gwen : Apa Samuel sudah kehilangan akal sehat
Naomi : Ibu juga bilang begitu
Naomi : Ibu sangat marah pada kakak
Gwen : Apa yang ibu katakan?
Gwen : Ibu pasti menolaknya kan?
Gwen : Ibu tidak akan memberi restu kan?
Naomi : Ng~ itu...
Gwen : Katakan Naomi!
Gwen : Apa yang ibu katakan!
Naomi : Ibu bilang...
Naomi : Ibu bilang ibu merestui kakak
Gwen : A-apa?!
Naomi : Ibu juga terpaksa bicara begitu
Naomi : Kakak sangat keras kepala
Naomi : Kakak bilang dia akan tetap menikah
Naomi : Walau Ibu tidak memberi restu
Gwen : Keterlaluan!
Gwen : Bagaimana bisa ibu merestuinya
Naomi : Kakak keterlaluan
Naomi : Ibu sampai tidak berdaya karena kakak
Gwen : Aku tidak terima
Gwen : Aku akan temui Samuel
Gwen : Akan ku cari tau siapa gadis yang mau dia nikahi
Naomi : Bagaimana bisa kakakku menikahi gadis yang sedang mengandung, bayi orang lain?!
Naomi : Ini tidak masuk akal sama sekali
Gwen : Ini gila
Gwen : Ini tidak waras
***
Sementara itu Samuel baru saja sampai dirumahnya.
Pertanyaan Ibunya terngiang jelas diingatannya
" Bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini pada Gwen, terlebih lagi pada Seira. Apa mereka akan mengerti? atau perlukah ku membuat mereka mengerti? " ucap Samuel dalam hati
*suara bel rumah*
Baru saja Samuel berganti pakaian. Bahkan Samuel belum sempat duduk beristirahat, tapi sudah ada seseorang yang mau bertamu kerumahnya
Bel rumahnya berbunyi terus. Seakan orang yang tengah menekan bel tersebut sudah tidak sabar menunggu.
" Iya tunggu~ " gumam Samuel sambil berjalan untuk membukakan pintu
Bunyi bel terus terdengar. Entah sudah berapa kali orang tersebut menekan tombol bel rumah Samuel
" ya siapa? " ucap Samuel sambil membuka pintu
Samuel sedikit terkejut melihat Gwen, ketika ia membuka pintunya.
" Gwe—... "
PLAK!!
Gwen menampar Samuel dengan cepat ketika Gwen melihat Samuel dihadapannya.
Samuel kehabisan kata - kata. Samuel mengusap pelan pipinya yang terasa panas karena tamparan tangan Gwen.
Bukannya Samuel terkejut. Samuel yakin tidak mungkin Gwen sembarangan menamparnya jika bukan karena suatu alasan yang menyakiti hatinya.
Samuel yakin kalau saat ini pastilah Gwen telah mengetahui bahwa dirinya akan menikah lagi. Itulah satu - satunya alasan saat ini yang memungkinkan Gwen bertindak seperti ini kepada dirinya.
Dan seketika itu rasa bersalah Samuel pada Gwen muncul.
Samuel tau pasti, bahwa saat ini Gwen pasti sedang menahan rasa sakit didalam hatinya. Sakit karena keputusannya untuk menikahi Regi.
" Maafkan aku... "
" A-pa katamu?! Maaf?!! "
*** TO BE CONTINUED ***