
Tubuh Evan melemas, ia terduduk dilantai kamarnya.
Mendengar suara Regi hal yang paling Evan tunggu disetiap harinya. Tapi kenapa hal yang ditunggu itu justru menyakiti perasaannya?
Kenapa Regi justru berkata yang sudah jelas ia tau, kalau perkataannya bisa membuat Evan merasa menderita.
Mau menangis namun rasanya air mata enggan keluar, sehingga rasa sesak itu berkumpul didalam dada Evan.
Apa yang lebih menyiksa dari hal ini? tidak ada! Ini hal yang paling menyakitkan dan tidak masuk diakal yang tidak bisa Evan terima.
Regi hanya mencintainya, dan Evan tau itu dengan yakin. Lalu bagaimana bisa Regi dengan mudah mengatakan bahwa dia berkencan dengan pria lain, lalu Regi dengan tega memintanya melupakan dirinya? ini tidak masuk diakal!
" Apa yang sebenarnya terjadi?! aku yakin ada yang mereka sembunyikan! tapi apa?!! " geram Evan dalam hati
" Si*l! " pekik Evan sambil memukul keras lantai kamarnya.
" Jika gak ada satupun yang mau memberi tauku, apa yang terjadi! baiklah akan aku cari tau hal itu sendiri! "
***
Sementara itu di rumah sakit
Pintu kamar inap Regi terbuka perlahan, sontak saja Jessie dan Kayla yang sedang sarapan langsung menoleh kearah pintu
" Paman~ " ucap Jessie dan Kayla
Jessie dan Kayla langsung berdiri dan menunduk pelan memberi hormat
" Oh selamat pagi " ucap Samuel sambil membalas menundukan kepala
Samuel melihat kearah tempat tidur Regi
" Regi belum bangun? " tanya Samuel
" Belum paman, tidurnya pulas " jawab Kayla
Atensi Samuel kembali melihat Jessie dan Kayla, beserta bungkus makanan yang masih ada isinya.
" Oh kalian lagi sarapan, lanjutkan saja "
" Iya paman, mari sarapan " ucap Kayla
Samuel hanya tersenyum menanggapi tawaran Kayla.
Dari pada memikirkan sarapan, Samuel justru lebih khawatir dengan Regi.
Samuel yang setiap hari bersamanya, sudah tau betul kebiasaan Regi seperti apa.
Regi selalu terbangun sekitar jam 7 pagi, dan akan kembali tidur sekitar jam 9 atau jam 10 pagi, pada akhir - akhir ini semenjak kehamilannya membesar.
Tapi kenapa hari ini, waktu sudah menunjukan pukul setengah 9, Regi masih tertidur dan belum bangun juga.
Samuel merasa ada yang mengganjal.
" Paman~ mau ke kantin? "
" Eh? "
Samuel mendelik,
Gelagat Jessie terlihat ada yang tidak beres. Tidak mungkin tanpa alasan Jessie tiba - tiba memberanikan diri mengajak Samuel —secara tersirat — ke Kantin
" Ya boleh, " jawab Samuel
Jessie yang sedang duduk langsung bangkit berdiri
" Mau kemana Jes? " tanya Kayla
" Mau ke kantin bentar "
" Ikut dong "
" Haish, udah kamu disini aja jagain Regi "
" Ya udah kalau gitu nitip coklat panas ya "
" Iya, nanti dibeliin. Bawel " omel Jessie
Jessie segera beranjak keluar dari dalam kamar ruang inap tentu saja bersama Samuel bersamanya
" Ada apa? " tanya Samuel tepat setelah pintu kamar inap tertutup
" Kita bicara di kantin aja ya paman, "
...
Kantin —
" Jadi ada apa? "
Jessie dan Samuel duduk bersama di salah satu meja kantin, sambil ditemani segelas teh hangat
" Sebenarnya tadi pagi, Regi sudah bangun. Dia menghubungi Evan, dan tanpa sepengetahuannya, aku menguping pembicaraan mereka "
" Menghubungi Evan? "
" Paman jangan salah paham, Regi menghubungi Evan karena ingin hubungan mereka benar - benar berakhir " ucap Jessie
" Sebenarnya, Evan masih sering mencari Regi lewat Darren. Hampir setiap saat, Evan selalu menanyakan kabar Regi lewat Darren "
***
Sementara itu,
Jerman, 07.09 am
Bagaimana Ava bisa tau kalau hari ini adalah hari ulang tahun Evan? jawabannya karena Ava melihatnya dari kartu mahasiswa Evan tanpa sengaja ketika mereka sedang kerja kelompok bersama.
Untuk seseorang yang punya ketertarikan, Ava jadi selalu ingin tau lebih tentang Evan.
Dan inilah harinya, sebuah buket bunga cornflowers serta kue ulang tahun dengan rasa serba coklat itu menjadi pilihan Ava untuk Evan
Ava menjinjing tas kue tersebut dan membawa buket bunga ditangannya ketika sedang berjalan menuju kamar asrama Evan
" tok... tok... tok... " Ava mengetuk pintu kamar Evan
" Evan ini aku Ava " ucap Ava senang
Namun tidak aja jawaban dari dalam ruangan
" tok... tok... tok... " Ava kembali mengetuk pintu
" Evan kamu didalam? "
Masih tidak ada jawaban.
Ava mulai merasa aneh dan curiga. Ava memberanikan diri langsung membuka pintu kamar Evan
" Eh? "
Kosong! tidak ada siapapun didalam kamar. Bahkan bukan hanya kosong tidak ada orang, buku - buku serta koper Evan tidak ada
Seketika Ava merasa panik! bahkan tas kue yang ia pegang jatuh seketika karena Ava begitu merasa terkejut dan panik!
Buru - buru Ava meraih ponselnya, dan menghubungi Evan
[[ call mode 📲 ]]
Evan : Haloo
Ava : Thanks God, kamu menjawabnya
Evan : Ava
Evan : Kamu kenapa? kok kayak panik gitu?
Ava : Evan kamu kemana?
Ava : Kok kamu gak ada di asrama?
Ava : Barang - barang kamu juga udah gak ada
Evan : hm~ maaf
Evan : tapi sepertinya hari ini aku akan pulang kembali ke Korea
Ava : Heuh apa? pulang ke Korea?
Evan : Iya maaf membuatmu panik
Evan : Maaf juga gak sempat pamit sebelumnya
Ava : Bu-bukan begitu...
Ava : Tapi kenapa?
Evan : Eh um itu...
Ava : Kamu dimana sekarang?
Evan : Aku sudah dibandara
[[ call end — ]]
...
" Lho kok tiba - tiba dimatikan? " bingung Evan sambil melihat layar ponselnya
***
Sementara itu Ava panik! Mendengar Evan akan kembali pulang ke Korea secara tiba - tiba membuat dirinya panik dan cemas seketika
" Gak! ini gak bisa dibiarkan! Aku akan menyusulnya "
Secepatnya Ava lari keluar kampus lalu mencari Taxi menuju bandara.
Ava tidak mau kehilangan Evan.
***
1 Jam telah berlalu. Evan kini tengah berada di dalam gate pesawat, menunggu pengumuman untuk masuk ke pesawat
...
Ava akhirnya tiba di bandara. Secepatnya Ava segera berlari kedalam bandara untuk mencari keberadaan Evan
" Evan kamu gak boleh pergi " ucap Ava dalam hati dengan getir
...
" Your attention please, passengers of Korean Airlines on flight number KA038 to Seoul please boarding from door A12, Thank you "
Evan mendelik ketika mendengar pengumuman tersebut. Perlahan Evan bangkit berdiri dari duduknya.
Evan sadar kepulangannya kali ini akan berdampak besar pada kehidupannya. Tapi Hatinya tidak boleh Ragu! Dia membutuhkan penjelasan.
Evan membutuhkan jawaban dari diam nya Darren, Jessie dan Kayla. Serta Evan butuh bertanya langsung pada Regi. Karena Evan tau, walau mulut Regi berusaha berbohong padanya, namun matanya tidak bisa! Mata Regi selalu berbicara jujur pada Evan.
" Selamat tinggal, Jerman " ucap Evan sambil menyeret pelan kopernya
*** TO BE CONTINUED ***