
"Arggghhhh!" teriak Evan frustasi. "Kamu tega Re! ... kamu tega melakukan semua ini sama aku Re!" ucap Evan emosi.
Regi terisak, berusaha menahan tangisnya.
"Sampai begini Re, kamu tega sama aku! Jadi ini yang kalian rahasiakan, hanya aku saja yang gak tau! Kamu keterlaluan Re! Apa maksudnya hah?! Apa maksudnya kamu menikah dengan dia!" pekik Evan.
Regi hanya bisa diam tanpa menjawab apapun lagi.
"Aku salah apa Re, sampai kamu setega ini sama aku hah?! salah aku apa?!! kenapa Re? kenapa..."
"Evan..." ucap Regi lirih.
Lalu Evan menoleh tanpa mau menjawab Regi yang memanggilnya. Evan menunggu kalimat yang akan Regi katakan selanjutnya.
Tapi Regi tidak kunjung melanjutkan kalimatnya, sehingga membuat Evan semakin geram.
"Apa?! kamu mau bilang apa lagi?"
"Lupakan aku Van... kumohon lupakan aku."
"Ini gak masuk diakal! sama sekali gak masuk diakal!"
Evan menggebrak meja, seraya ia bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan Regi begitu saja.
"Hiksss..."
Regi hanya bisa bergeming sambil menahan isak tangisnya.
Tubuhnya menahan getaran yang bergejolak dari dalam dadanya. Regi tidak bisa membendung kesedihannya lagi.
Kini semua sudah terjadi, dan Evan telah mengetahui sebagian dari rahasia yang sudaj Regi sembunyikan rapat - rapat darinya, 1 tahun ini.
Regi sadar kalau rahasianya cepat akan terbongkar, tapi Regi tidak menyangka akan terbongkar secepat ini.
"Evan..." lirih Regi.
***
Bagiku Regi adalah saudara. Dia satu - satunya orang yang ada disisiku saat semua orang berusaha menyingkirkanku.
Bahagianya adalah bahagiaku
dan Sedihnya, juga kesedihanku.
Evan memang salah seorang dari sahabatku, tapi ketika ku tau dia menyakiti Regi, kala itu juga dia menjadi musuhku.
Regi berhak mendapatkan kebahagiannya yang lain. Sekalipun aku tau, kalau yang ia cintai hanyalah Evan.
—Jessie
***
Masih di kampus, namun berbeda tempat dengan Regi dan Evan.
Jessie dan Kayla sedang duduk santai di taman kampus sambil meminum boba yang baru mereka beli di kantin.
"HAH?! APA?!" pekik Jessie.
"Teriaknya kurang keras Jes~" sinis Kayla.
"Serius kamu Kay?"
"Sumpah, gak bohong!"
"Jadi Evan sudah pulang"
"Katanya sih liburan gitu..."
"Terus dia datang sama pacar barunya?"
"Hoo~ bener banget! pacarnya nyebelin! Darren muji - muji dia terus!" dengus Kayla kesal.
"Ha?"
"Kok ha sih Jess?"
"Penting ya pakai bahas Darren!"
"Ya pentinglah~ ..."
"Geez!"
Jessie menatap malas Kayla, sahabatnya. Entah kenapa kalau sudah bicara tentang Evan, mood Jessie jadi memburuk.
"Cukup kamu aja ya Kay, jangan sampai aku ketemu juga sama Evan." ucap Jessie malas.
Namun tiba - tiba saja wajah Kayla memerah. Pupil matanya membulat sempurna.
"Jes, sepertinya dosa kamu terlalu banyak." ucap Kayla dengan wajah menyesal.
"Ha? ngomong apaan sih Kay? kok tiba - tiba aneh gitu?!" omel Jessie.
"Doa-mu langsung dijawab, dan mendapatkan penolakan." ucap Kayla
Jessie mengendikan bahunya heran sambil menggeleng samar.
Kayla menunjuk pada sosok pria yang sedang berjalan kearah mereka.
Jessie pun menoleh ke belakangnya, tepat searah dengan arah telunjuk Kayla.
"Orangnya dateng dong..." gumam Kayla dengan mimik wajahnya yang seolah pasrah.
Evan berdiri menghadap Jessie dan Kayla.
"Ternyata kalian disini, aku cari kalian kemana - mana." ucap Evan.
"Kok kamu bisa ada disini, Van?" tanya Kayla
"Mau apa mencariku dan Kay?" ketus Jessie.
"Ada yang mau aku tanyakan kepada kalian." ucap Evan. "Ini serius..."
Wajah Evan berubah masam, Evan terlihat seperti kebingungan.
"Kalau mau tanya tentang dimana Regi, kita gak tau." ucap Jessie.
"Jess aku mohon kali ini kalian jawab jujur padaku." ucap Evan. "Aku tau satu tahun ini selama aku pergi, kalian menyembunyikan sesuatu dariku."
"Kamu jangan bicara sembarang Van, kita gak menyembunyikan apa - apa." ucap Kayla sambil menoleh melihat Jessie
Dan Jessie mengangguk samar.
"Kayla kamu bisa diam dulu gak?!!" bentak Evan.
Kayla dan Jessie pun ikut tersentak. Mereka tidak menyangka Evan akan berteriak kepada mereka.
Evan masih belum bisa menghilangkan amarahnya semenjak meninggalkan Regi di kafe.
Evan berusaha menahan amarahnya didepan Jessie dan Kayla. Namun Kayla seolah ingin mempermainkannya, Evan jadi tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Kok kamu jadi bentak - bentak aku sih Van?!" ucap Kayla yang terlihat sudah ingin menangis.
"Van, kamu apa - apaan sih? kenapa bentak Kayla?" omel Jessie kesal.
Jessie merangkul Kayla, dan berusaha menenangkan Kayla.
"Aku mau tanya sesuatu dan aku harap kalian bisa jujur menjawabnya kali ini." ucap Evan.
"Apa?... kamu mau tanya apa?!" ketus Jessie.
"Apa benar Regi sudah menikah? dan ia menikah dengan mantan guru kita, Samuel?"
Deg!
Jessie dan Kayla seketika saling pandang.
"Apa?..." ucap Jessie sedikit gugup..
"Jawab saja, apa kalian tau tentang ini?" tanya Evan geram.
"Bagaimana kamu bisa... um..." ucap Jessie terbata - bata.
"Jadi ini benar? ... Semua ini benarkan, kalau Regi sudah menikah dengan mantan guru kita?!"
"Gak, kami gak tau apa - apa." ucap Jessie tegas, namun tidak berani menatap mata Evan.
"Yuk Kay~ kita ke kelas." ucap Jessie sambil bangkit berdiri dari duduknya.
Claire yang masih shock dibentak oleh Evan, hanya bisa mengangguk dan mengikuti Jesie ketika tangannya ditarik perlahan.
"Aku sudah tau tentang semuanya, Regi yang mengatakannya langsung padaku!" ucap Evan.
Suaranya terdengar bergetar seakan Evan memendam kesedihan mendalam.
Jessie dan Kayla menoleh kebelakang, melihat Evan yang berdiri tertunduk disebrang mereka.
Jessie dan Kayla bergeming sesaat. Jika benar Regi sudah mengatakan semuanya, apa mereka masih perlu berbohong?
Evan menaikan kembali pandangannya ke Jessie dan Kayla.
Dengan senyum kecut Evan bicara...
"Please, bilang kalau kalian sedang membohongiku. Bilang kalau kalian sangat membenciku, hingga menghukumku seperti ini. Katakan padaku, ini hanyalah candaan kalian. Aku janji, aku gak akan marah. Tapi please, bilang kalau semua ini gak benar." lirih Evan.
Melihat Evan yang lemah seperti ini, membuat Jessie dan Kayla juga menjadi tidak tega. Tapi mau apa lagi, Jessie dan Kayla tidak bisa memenuhi keinginan Evan, untuk mengatakan bahwa semua ini hanya gurauan mereka saja.
"Van..." ucap Jessie. "Ku dengar kamu sudah memiliki kekasih baru."
Evan mendongak melihat Jessie.
"Apa?" —Evan
"Sebaiknya jangan dekati Regi lagi."
"Jessie apa maksudmu?"
"Sebagai seorang teman, aku hanya bisa memberikan kamu saran seperti itu." ucap Jessie.
"Bagaimana bisa..." ucap Evan lirih
Jessie dan Kayla kembali mendelik melihat Evan dengan iba.
"Selama ini aku selalu menjaganya. Hampir seumur hidupku aku selalu menjaganya! Bagaimana bisa berakhir seperti ini?!! Bagaimana bisa dia melakukan semua ini padaku" ucap Evan kesal.
"Yang terpenting kamu sudah tau sekarang." ucap Jessie.
"Sebaiknya kamu tinggalkan Regi, Van." sambung Kayla.
Melihat Evan lemah seperti ini, bohong jika Jessie dan Kayla tidak ikut merasa sedih.
Namun apa daya, kenyataan tetap tidah bisa dirubah. Waktu tidak bisa kembali diputar mundur.
Jessie dan Kayla akhirnya pun pergi menjauh, meninggalkan Evan dengan suma rasa sakitnya.