IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 14 FLASHBACK PART NINE



" Mereka datang " ucap Naomi terkejut " Bagaimana ini ibu? oh astaga?! "


" Apanya yang bagaimana? cepat kita sambut mereka! "


***



Samuel memarkirkan mobilnya, sementara Regi menatap nanar keluar, dari dalam jendela dalam mobil.


" Ayo " ajak Samuel


Bersama - sama, Regi dan Samuel keluar dari dalam mobil.


" Oh ya aku hampir lupa lauknya " ucap Regi, yang kembali membuka pintu belakang mobil, dan mengambil tas bekal makanan.


...


Samuel tiba didepan pelataran rumahnya, dan menekan bel rumahnya.


" Bu ini aku " ucap Samuel yang berbicara melalui intercom bell rumahnya


*suara kunci pintu terbuka*


Sesaat sebelum masuk kedalam rumahnya, Samuel mendapati wajah Regi yang kian menegang.


Dengan berani Samuel memegang tangan Regi dan menggenggamnya hangat.


" Tenanglah, ada aku disini " ucap Samuel


Samuel membawa Regi dengan menuntunnya.


Rumah Samuel memiliki halaman yang cukup luas. Bisa dibilang, Samuel adalah anak dari salah satu orang terkaya dan terpandang disana. Semua ini dikarenakan, Samuel merupakan anak dari seorang Perwira, dengan pangkat yang lumayan tinggi.


Samuel dan Regi sudah mulai masuk kedalam rumah inti


" Ibu " seru Samuel


Renata dan Naomi tengah berdiri diruang tamu, mereka sudah bersiap untuk menyambut Samuel dan Regi


Sementara Regi terkejut melihat kedatangannya disambut.


...


" Silahkan diminum tehnya " ucap Renata.


Kini semua orang tengah berkumpul diruang keluarga.


Suasana terbilang cukup canggung. Regi merasa dia diantara diterima dan tidak diterima.


" Ibu, sudah ku bilang tidak perlu memasak sebanyak itu " ucap Samuel pelan


" Mana mungkin kamu mau datang, ibu tidak memasak untukmu "


" Oh ya bu, kenalkan ini Regi "


Regi akhirnya mendelik setelah hampir 5 menit mereka berkumpul, Regi terus menerus menunduk tidak berani bertemu pandang


" Iya " ucap Renata


" Perkenalkan, saya Regita saya... um ... "


" Kamu murid kakakku kan? "


" Eh? iya "


" Kamu sangat beruntung bisa bertemu dengan kakakku disaat yang sulit ini " ucap Naomi pelan namun terasa begitu dingin


" Iya, terima kasih " ucap Regi yang sudah tidak tau harus berkata apa lagi


Naomi bukan tanpa sengaja mengatakan hal yang tajam itu. Naomi sengaja menusukan ucapannya yang tajam bagai jarum peniti itu. Satu atau dua ketika tertusuk memang tidak akan terasa terluka. Tapi jika sering ditusukan, siapa orang yang akan tahan.


" Oh ya bu, ini saya membawakan daging rendaman jahe untuk ibu " ucap Regi, sambil memberikan memajukan bungkusan makanannya lebih mendekat pada Renata


" Ibumu yang menyiapkannya? "


" Iya benar, ini ibuku yang menyiapkan " jawab Regi tersenyum


" Baiklah terima kasih " ucap Rena


Renata memang berucap terima kasih, tapi menyentuh pemberian Regi atau tampak senang pun tidak.


Pertemuan dilanjutkan dengan makan siang.


Makan siang tidak senyaman atau sehangat yang Regi bayangkan. Tapi tidak juga semenakutkan yang Regi bayangkan.


***


Di halaman belakang rumah, Regi dan Samuel duduk berdua sambil menikmati buah apel yang telah dikupas


" Ibuku sudah tau tentang alasan kita menikah. Jadi aku harap kamu tidak cemas atau merasa takut "


" Aku tidak tau harus bilang apa. Aku hanya bisa berucap terima kasih pada paman. Paman tidak membuat pernikahan ini penuh kebohongan. Justru paman seakan sedang mengangkat drajatku dan bayiku ini "


" Memang sudah seharusnya begitu. Bagiku semua harus jelas, baru bisa dijalani. Yang seperti kubilang, kita menikah memang bukan berdasarkan Cinta, melainkan sebuah komitmen. Namun pernikahan tetaplah pernikahan "


" Paman benar, anak ini akan memiliki ayah sebaik paman. Hal baik apa lagi selain berkat ini "


" Jadi kamu gak perlu khawatir. Semua sudah merestui kita "


Regi tersenyum menatap Samuel begitupun dengan Samuel yang membalas senyum Regi.


Bohong kalau Regi bilang dirinya tidak bahagia. Regi begitu bahagia. Namun tidak bisa juga Regi bohongi kalau ada sesuatu yang tidak lengkap. Ada suatu ke khawatiran yang begitu mendasar di dalma hatinya.


Regi tidak bisa membohongi diri, kalau dirinya masih mencintai Evan.


" Kak, kakak dipanggil ibu " seru Naomi menghampiri Samuel dan Regi


" Benarkah? "


" Ibu mau bicara penting katanya "


" Oke, um~ Regi aku akan segera kembali "


Regi menggangguk.


Samuel bangkit lalu beranjak. Kini tinggalah Regi dan Naomi berdua


" Aku tidak menyukaimu "


" Apa? " kaget Regi


" Ku katakan dengan jelas, aku tidak suka kamu menikahi kakaku "


" Apa maksudmu "


" huh~ Mungkin kakakku akan tetap menikahimu dan bertanggung jawab atas bayimu. Mungkin ibuku akan menerima pernikahan ini. Tapi tidak denganku! "


Regi tersentak dalam hatinya. Bagaimana bisa Regi mendengar kalimat penolakan yang begitu tiba - tiba seperti ini


" Aku tidak bisa berpura - pura menyukaimu. Sungguh aku mencoba tapi aku tidak bisa. Aku tidak peduli kamu mau terima ucapanku atau tidak, tapi dimataku kamu gak layak sama sekali mendampingi kakakku. Dia mungkin terlalu baik atau bahkan terlalu bodoh, sehingga sampai memutuskan menikahi gadis sepertimu "


" Ga- gadis sepertiku? "


" Iya gadis sepertimu. Maksudku, coba lihat dirimu yang begitu naif, kamu hamil dengan orang lain tapi kakakku yang bertanggung jawab! Apa karena kakakku seorang duda sampai kamu berfikir menjadikan kakakku sebagai ayah dari bayimu "


" Aku tidak begitu... "


" Lalu apa? apa namanya ini? Kegilaan? tidak waras? Apa namanya ini kalau bukan namanya memanfaatkan? Kalian bahkan terang - terangan akan menikah! Apa ini terlihat main - main untukmu? "


" Aku tau kamu adalah adiknya paman, tapi tidak seharusnya juga kamu mengatakan hal yang menyakitkan seperti ini! "


" Pa-paman? kamu bahkan memanggil calon suamimu, yaitu kakakku, dengan sebutan paman! "


Regi terdiam


" Kamu pasti sudah gila! "


" Apapun aku akan memanggilnya itu bukan urusanmu sama sekali "


" Kamu masih kecil tapi sudah berani meninggikan suaramu pada orang yang lebih tua?! "


" Kakak yang duluan bicara keras padaku, bagaimana bisa ku diam saja "


" Batalkan! "


" Apa?! "


" Batalkan pernikahan kalian! "


" Naomi! " Samuel membentak


Sontak saja Naomi dan Regi tersentak melihat kedatangan Samuel


Mata Naomi terbelalak ketika melihat Samuel berdiri menatapnya dengan raut wajah marah


" Apa yang baru saja kamu lakukan? Apa yang kamu katakan pada Regi?! "


" Ka-kakak... "


" Kamu gak berhak mencampuri urusan kakak "


" Tapi kak, bagaimana bisa kakak akan menikahi kotor seperti dia! " ucap Naomi gemetar


" Naomi beraninya kau! "


PLAK!


Wajah Naomi tertampar begitu keras, ketika Renata datang dan menamparnya


" I- ibu ... " ucap Naomi menangis ketika melihat wajah marah serta kecewa Renata


" Ibu pikir kamu sudah cukup dewasa untuk berfikir sebelum bicara! Bagaimana bisa kamu berkata hal yang kejam kepada calon istri kakakmu! "


" Ibu kenapa menamparku! Seharusnya Ibu menampar wajahnya! " ucap Naomi terisak sambil menunjuk Regi


" Pergilah sebelum ibu menamparmu lagi! "


Naomi mendengus kesal sebelum akhirnya pergi dari hadapan mereka semua.


" Regi kamu gak apa - apa? " tanya Samuel sambil meraih dan merangkul Regi


" Maafkan Naomi, dia... "


" Tidak apa ibu, aku paham "


" Tolong jangan dimasukan ke hati. Naomi hanya butuh waktu untuk bisa menerimamu. Kamu pasti paham maksud ibu "


Regi mengangguk


" Kalian pulanglah sebelum sore. Setelah ini kita akan berkumpul antara kedua keluarga sebelum hari pernikahan " ucap Renata


" Ibu sudah mengatakan semuanya pada Samuel. Dia akan menjelaskan padamu nanti. Ya sudah itu saja yang mau ibu katakan. Sampai jumpa lagi "


Renata kembali masuk kedalam rumah. Entah kemana Renata beristirahat, karena setelah pembicaraan di halaman belakang, sampai Regi meninggalkan rumah tersebut, baik Renata ataupun Naomi tidak terlihat lagi.


Dan dari apa yang ibunya Samuel katakan, Regi merasa dirinya tidak ditolak, tapi tidak juga diterima.


Mungkin dalam kalimat yang disampaikan, Renata mengatakan bahwa dirinya merestui pernikahan ini. Tapi dari raut wajah dan pancaran mata, Regi bisa sedikit merasakan adanya aura kepedihan yang melekat. Seakan tidak bisa merekalan.


*** TO BE CONTINUED ***