
Cekrek... Cekrek ... 📸
Minggu pagi di Munich - Jerman, terasa sangat menyenangkan. Apalagi bulan ini, bulan Juni, Jerman mulai memasuki musim panas
...
Evan sedang berjalan berkeliling taman kampus hanya untuk sekedar berkeliling dan melakukan hobby-nya yaitu berfoto
" Morning~ "
" Ava... "
Ava tiba - tiba datang, mengagetkan Evan
" Kamu sedang apa disini? "
" Aku mencarimu di dorm, tapi gak ada "
" Ada apa? "
" Um~ ini aku membawakan ini "
Ava memperlihatkan tas yang ia jinjing pada Evan.
" Itu apa? "
Sebenarnya bukan Evan tidak tau, kalau tas yang dibawa Ava adalah tas bekal. Evan hanya heran untuk apa Ava memperlihatkan tas bekal tersebut pada Evan.
" Kita sarapan bareng yuk, makan di taman dekat danau "
" Eh? "
" Ayolah... "
Ava main menarik tangan Evan begitu saja, dan bukan sifat Evan yang bisa langsung menolak tawaran seseorang, terlebih lagi Ava adalah rekan dalam satu proyeknya di kampus.
...
" Ini semua kamu yang buat sendiri? " tanya Evan tidak percaya ketika melihat ada roti isi daging lapis, sup jagung, salad sayur dan tidak lupa dengan susu dingin didalam botol kaca
" Di dorm perempuan, biasanya memang sangat lengkap. Kami biasa memasak disana " jelas Ava
" Di dorm laki - laki juga ada dapur, tapi biasanya hanya untuk memasak pasta instan atau mie rebus... "
" Hahaha, kalian para laki - laki, terlalu malas untuk memasak. Padahal makan makanan instan terlalu sering tidak terlalu bagus "
" Sebenarnya Ibuku membawakanku kimchi " ucap Evan
" Benarkah? aku memasak nasi di dorm, bagaimana kalau nanti malam ku buatkan nasi goreng kimchi? "
" Jangan, itu akan merepotkanmu saja "
" Tidak merepotkan sama sekali, kita sama - sama orang Korea yang sedang bersekolah di negri orang, sudah sewajarnya saling membantu "
" Hahaha baiklah, akan kuberikan kimchinya sepulang dari sini "
Ava tersenyum manis memandangi Evan, walau harus curi - curi pandang.
" Oh ya, ini kameramu? " tanya Ava, sambil meraih kamera milik Evan " Boleh aku lihat? "
" Hanya foto seorang amatir " ucap Evan merendah
" Memangnya kamu pikir aku ini juri, yang mau menilai sebuah karya? Aku hanya mau melihat "
" Hahaha baiklah~ "
Ava menekan menu galery pada layar sentuh di kamera milik Evan
Sebuah potret pemandangan yang baru saja Evan potret beberapa saat lalu, yang pertama kali Ava lihat.
Sementara Ava melihat - lihat hasil potretan Evan, Evan duduk menghadap tepi danau sambil meminum segelas susu dinginnya.
Lagi - lagi —ketika melamun— pikiran Evan melayang pada seseorang yang ia rindukan
" Regi... " gumam Evan pelan, sangat pelan.
Setiap saatnya Evan selalu merindukan Regi, merindukan wajahnya, senyumannya, tawanya, candaannya. Semua yang ada didalam diri Regi, Evan merindukannya.
Evan selalu berharap Regi bisa berada tetap disisinya, menghabiskan waktu berdua sampai mereka menua bersama.
Sementara itu Ava semakin jauh menggeser setiap slide foto yang Evan miliki didalam kameranya.
Kini Ava tiba pada saat foto wisuda Evan kemarin, saat SMA.
" Apa ini teman - temannya? " tanya Ava dalam hati, ketika melihat Foto, Evan bersama dengan Darren, Jessie, Kayla dan juga Regi.
Evan tampak bahagia. Senyumannya terlihat begitu lepas tanpa beban. Sorat matanya menunjukan betapa bahagianya saat itu. Evan terlihat begitu bersinar
Ava semakin jauh menggeser setiap slide foto
Kini tiba foto Regi menarik perhatian Ava.
Walau tidak hanya Regi seorang diri, tapi hampir setiap slide yang Ava lihat selalu ada Regi didalamnya. Foto Regi mendominasi gambar - gambar setelahnya.
" Siapa dia? apa dia pacarnya Evan di Korea? "
Ava melirik pelan melihat Evan.
Evan yang tengah melamum dengan tatapannya yang tidak se-bercahaya seperti di foto.
Evan yang Ava lihat secara langsung seakan memiliki baban. Entah beban apa, Ava tidak tau pasti. Tapi satu yang pasti, Evan tidak seceria seperti Evan didalam foto, Evan seakan memiliki sesuatu yang ia tinggalkan.
" Sepertinya dia bukan tipe cowok pendiam " ucap Ava dalam hati " Tapi kenapa disini Evan terlihat seakan begitu tertutup? "
Ava menebak dengan tepat! Evan memang bukanlah tipikal laki - laki pendiam. Evan termasuk cowok yang suka ceplas ceplos, dan menyenangkan.
Apalagi jika Evan bersama Regi, Evan selalu menunjukan jati dirinya sebagai cowok penuh perhatian tanpa ada rasa malu.
Evan selalu bisa membuat nyaman semua orang disekitarnya. Dengan celotehan jujurnya yang kadang menyebalkan namun mengundang gelak tawa dalam satu waktu, membuat Evan menjadi sosok yang selalu dirindukan keberadaannya.
" Um~ ini siapa? " sahut Ava sambil menunjukan foto Regi pada Evan
" Regi? Sahabat? "
Evan mengangguk pelan
" Kalian pacaran? "
Evan tersenyum pahit seketika Ava bertanya padanya
" Dia juga pacar pertamaku... "
" Oh benarkah? jadi itu sebabnya kamu sering melamun? kamu meninggalkan pacarmu, lalu LDR ? "
" Kami sudah putus, Regi yang memutuskan hubungan kami sebelum aku pindah kesini " jawab Evan sambil tersenyum pahit
" Eh? benarkah? Kenapa? " tanya Ava.
Sebelumnya Ava terkejut, mendengar jawaban Evan. Tapi entah mengapa rasa sesak yang sebelumnya sempat masuk beberapa saat, kini keluar kembali dan terasa begitu melegakan di dalam diri Ava.
" Aku tidak mau membahasnya, maaf "
" Oh begitu, maaf aku bertanya "
" Gak apa - apa. Hanya saja ini aku rasa ini adalah masalah pribadi yang gak bisa aku ceritakan begitu saja... "
" Aku mengerti kok, kamu tenang saja "
Ava tersenyum pahit, sementara Evan tersenyum dengan senyuman paksa.
" Um~ ayo dimakan lagi rotinya " ucap Ava, sebelum suasana terasa lebih canggung diantara mereka
***
" Regiii~ "
Regi menoleh melihat kearah pintu, asal suara bising itu tiba.
" Jessie, Kayla ... kalian disini? " kaget Regi tersenyum senang
" Baby~ sayangku... huhu aku kangen " ucap Jessie setengah berteriak, karena terlalu senang
" Ih Jessie, kan sudah dibilang sama perawat kalau kita gak boleh teriak - teriak! " omel Kayla
" Apa sih Kay, lebay~ deh "
" Ssst~ jangan bertengkar nanti ketahuan penjaga " ucap Regi terkekeh
" Baby~ kamu kenapa bisa sakit sih huhuhu~ " ucap Jessie dramatis
" Wah Re~ perut kamu sudah membesar, beneran nih aku akan jadi bibi? " tanya Kayla
" Mana, mana... aku mau lihat " Ucap Jessie sambil sedikit menyingap selimut Regi
" Kalian ini... " —Regi
" Woah hebat! beneran besar " kagum Jessie
" Re~ aku kangen sama kamu. Aku sedih pas tau kamu masuk rumah sakit begini. Apa karena kehamilanmu, kamu sakit begini? " tanya Kayla sambil meraih bahu Regi untuk dirangkul
" Aku sekarang udah gak apa - apa kok. Aku bahkan sudah diperbolehkan pulang, kalau kondisiku sampai besok tetap seperti ini "
" Memangnya kamu sakit apa? "
" Kata dokter sih tekanan darahku rendah, dan aku terlalu banyak pikiran hingga mempengaruhi pola makanku jadi gak teratur ... "
" Astaga Regi kenapa bisa banyak pikiran hah? memangnya kamu mikirin apa? " omel Jessie
" Kebiasan deh Jessie, ngomel terus mirip ibunya " gumam Kayla
" Tenanglah Jes, aku gak apa - apa " ucap Regi
" Apa ini karena dia? kamu masih memikirkan dia? "
" Dia siapa Jess? Evan maksud kamu? " —Kayla
" Astaga Kay! aku sengaja tidak menyebut namanya, kenapa kamu justru memperjelas!! "
" Enggak Jes, bukan itu yang aku pikirkan... " —Regi
" Lalu apa? "
" Jessie, kalau kamu bertanya begitu, secara otomatis Regi jadi mikirin masalahnya lagi " omel Kayla
" Oh iya bener juga. Maaf ya Regi bukan maksudnya aku begitu... "
" Sudah gak apa - apa, oh ya tadi ketika kalian jalan kesini, apa kalian gak bertemu dengan paman? "
" Paman? Maksunya pak guru Re? " tanya Kayla
" Ya Lord, Kay! jangan panggil pak guru lagi! canggung tau! " gerutu Jessie
" Iya, iya paman Sam~ benarkan? " ucap Kayla
" Iya paman... apa kalian gak bertemu dengannya? katanya dia mau beli sarapan, tapi belum kembali sudah 1 jam "
" Cie yang mulai khawatir~ " ucap Jessie menggoda Regi
" Oh yang benar saja Jess~ siapa yang gak khawatir kalau punya suami setampan paman Sam~ kalau aku jadi istrinya, setiap 1 menit sekali pasti telfon untuk memonitor dia dimana— "
" Kamu kan ada Darren~ " ucap Regi dan Jessie secara bersamaan.
" Jeez! penting banget ya bahas dia " ucap Kayla malas
Regi dan Jessie tertawa bersama, menertawakan Kayla yang terlihat lucu ketika sedang cemberut.
Mereka bertiga melepas tawa bersama, sementara Samuel melihat mereka dari balik pintu.
" Sudah lama aku tidak melihatnya tersenyum seperti itu.... " ucap Samuel dalam hati
Samuel tersenyum tipis, ikut merasa bahagia ketika melihat Regi tertawa bersama kedua sahabat baiknya.
*** TO BE CONTINUED ***