IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 39



Didalam mimpiku aku melihatnya.


Ia menggenggam tanganku lalu ia tersenyum kepadaku.


Ia menarik ujung jemariku,


Agar aku ikut berlari bersamanya.


Ah~ indahnya hari itu ketika aku mengingatnya.


Senyumnya mengingatkan aku padamu, Regi...


—Evan


***



"Regi harus mengerti, kalau ia punya tugas sebagai istrimu."


Samuel menundukan pandangannya. Ia sedikit gusar dengan arah pembicaraan ini.


"Tolong untuk hal ini jangan memaksa Regi." ucap Samuel. "Aku tidak masalah dengan hal itu."


Wilson dan Natalia terdiam sesaat.


"Jadi maksudmu, kau mau bilang kalau pernikahan ini tidak berarti untukmu... karena kau hanya mau menyelamat Regi dari statusnya saja."


"Bukan... bukan maksud ku seperti itu."


"Lalu kau mau bangun rumah tangga yang seperti apa? Kau menghendaki kondisi rumah tangga kalian akan tetap seperti ini?"


"..." —Samuel terbungkam.


"Aku hanya berharap rumah tangga putriku bisa seperti layaknya pasangan normal lainnya. Bukan seperti ini, dimana kalian pisah ranjang."


"Aku hanya tidak mau memaksanya. Karena aku tau, kalau ini juga pasti berat untuknya." —Samuel.


"Kau mencintainya?... Apa kau mencintai Regi?" tanya Natalia.


Deg!


Samuel merasa belum pasti dengan perasaannya. Apakah perasaanya tetap sama seperti dulu atau sudah berubah, Samuel belum tau dan belum yakin.


"Sudah banyak yang kau korbankan untuk Regi, Sam... dan kalian layak untuk bahagia seperti sebagaimana sepasang suami istri." —Wilson


"Jika kau mencintai putriku, jadikan dia istrimu yang layak." ucap Natalia.


"Aku percaya padamu Sam, dan aku tau ini memang tidak mudah. Tapi ku mohon jangan jadikan rumah tangga anakku, hanya sebatas hubungan balas budi."


Samuel hanya bisa terdiam.


Samuel mengerti sekali keinginan Natalia dan juga Wilson. Samuel sangat mengerti.


Namun Regi, Samuel sendiri belum bisa memastikan perasaan Regi kepadanya. Begitu juga perasaannya.


Hal ini yang membuat Samuel sedikit ragu untuk mencoba mendekati Regi.


Karena jika memang semua ini memang harus dimulai, Samuel ingin rasa itu benar - benar ada, dan tidak ada keraguan apapun didalamnya.


...


"Ayah, Ibu..." panggil Regi


Secara serempak, Samuel, Natalia dan Wilson menoleh melihat Regi yang datang mengarah ke meja mereka.


"Re, kamu kesini... lalu Katia?" tanya Samuel.


"Kak Jeje yang menyuruhku kesini, sekarang dia yang menjaga Katia di kamarnya." jawab Regi


"Oh iya ada Jeje, jadi dia ke kamar Katia?"


Regi mengangguk menjawab pertanyaan Samuel.


"Ibu..." ucap Regi sambil memeluk Natalia.


"Re, kamu mau makan? aku pesankan minum dan makanan untukmu ya." ucap Samuel sambil bangkit berdiri.


"Tidak usah paman, aku bisa memesannya sendiri." tolak Regi halus.


"Sudah kamu tunggu disini saja, biar aku yang membelikannya untukmu."


Samuel langsung beranjak begitu saja, lalu segera memesankan makanan untuk Regi.


...


"Ayah, Ibu, bagaimana kabar kalian?" tanya Regi.


"Bagaimana kabar kami?... Kamu kenapa sudah pindah tapi gak kabarin ibu sih Re..."


"Maaf bu, Regi pindah kesini langsung sibuk mengurus kuliah. Paman juga sibuk dengan pekerjaannya." jawab Regi menyesal.


"Eh sudahlah..." ucap Wilson. "Ngomong - ngomong, kenapa hanya ibu saja yang dipeluk, putri ayah apa tidak kangen dengan ayahnya?"


"Ayah..."


Regi segera memeluk Wilson yang duduk disebelahnya.


"Regi kangen ayah..."


"Ceritakan, bagaimana kuliahnya, apa menyenangkan?" tanya Wilson.


"Hum, sangat menyenangkan..."


"Benarkah?... syukurlah kalau begitu." —Wilson.


"Ini semua berkat paman, paman yang selalu mendukungku untuk kuliah."— Regi


"Re, dari tadi ibu mendengar kamu memanggil Samuel paman... mau sampai kapan kamu menyebut suamimu seperti itu?" tanya Natalia menyayangkan.


"..." Regi merasa bingung untuk menjawabnya.


"Ibu sudahlah..." sahut Wilson sambil menoleh melihat Natalia.


"Iya ayah, tapi mau sampai kapan Regi begini..." ucap Natalia.


"Paman..."


"Sam, kau ini." ucap Natalia.


"Hahaha sudahlah... Oh ya Re ini roti dan teh hangatnya." ucap Samuel sambil meletakan teh hangatnya, dan memberikan Regi sebungkus roti lapis.


"Terima kasih paman..."


"Iya sama - sama. Makanlah..."


Regi tersenyum.


Ya, sifat inilah yang terkadang membuat Regi kagum kepada Samuel.


Samuel sangat pengertian kepada diri Regi.


***


Kini waktu menunjukan pukul 7 pagi.


Sinar matahari sudah mulai masuk melalui sela - sela tirai kamar Evan.


Terlihat tidak bersemangat, Evan duduk diatas kasurnya.


Semalam ia berusaha untuk tidur, tapi tidak bisa.


Evan semalaman terus terjaga sampai pagi datang.


Evan terjaga karena sepanjang malam ia terus menerus memikirkan tentang Regi.


"Ya Tuhan, ... Regi sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?!! kenapa Re... kenapa?! kenapa harus menikah?! sebenarnya apa yang terjadi?!!"


"ARGHHH!"


Evan segera bangkit berdiri dari tempat tidurnya.


Ia segera meraih kunci mobil serta jaketnya, Evan bergegas pergi dari rumahnya.


"Aku gak bisa begini! ... Kita harus bicara Re! Kamu harus jelasin semuanya!"


***


Evan telah sampai didepan rumah Regi. Berulang kali Evan membunyikan bel, Tapi tidak ada siapapun yang membukakannya pintu.


Evan mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi Regi.


Tapi nihil! Regi tidak menjawab telfonnya.


"Haish, Kemana Regi?!"


***


Sementara itu, dirumah Darren.


"Darren cepetan dong!" omel Kayla.


"Iya sebentar lagi." ucap Darren


"Kenapa gak panggil orang bengkel aja sih untuk perbaiki mobilnya?"


"Sabar dong Kayla, lagian ini cuma ganti ban doang, ngapain manggil bengkel segala. Aku juga bisa."


"Bisa kok lama?"


"Ish kamu ini!"


"Jessie sama Glen udah jalan ke rumah sakit."


"Iya... ini juga udah selesai Kayla..."


"Lama!"


"Nah udah nih, ayo kita berangkat."


"Serius udah?"


"Ayo dong cepet masuk mobil, dari tadi kan kamu ngomel terus. Sekarang mobilnya udah siap, kamu justru gak mau naik, gimana sih?"


"..."


"Ayo kita berangkat sekarang."


"Iya - iya..."


Kayla langsung saja masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Darren.


Kini mobil Darren sudah melaju.


"Loh Darren mau kemana sepagi ini?" gumam Evan curiga.


Tanpa sengaja Evan yang berniat menghampiri Darren, justru berpapasan dengan Darren yang baru berangkat pergi bersama Kayla.


Tepat setelah mobil Darren melaju, mobil Evan melaju mengikutinya dari belakang.


***


Tak lama kemudian Darren dan Kayla tiba dirumah sakit, dimana Katia dirawat.


Ya memang Darren dan Kayla datang dengan sengaja kesana untuk menjenguk Katia; Jessie dan Glen —Kekasihnya— juga berniat hal yang sama.


Tak lama mobil Darren tiba di rumah sakit, mobil Evan juga tiba setelahnya.


"Rumah sakit?... Mau ngapain Darren sama Kayla pagi - pagi ke rumah sakit?... siapa yang sakit?" gumam Evan yang semakin bingung.


Evan segera keluar dari mobilnya, agar ia bisa menyusul Darren dan Kayla.


Tanpa sepengetahuan Darren dan Kayla, Evan mengikuti mereka dari belakang.


Entah kenapa Evan jadi dibuat penasaran karena Darren dan Kayla tiba - tiba saja datang kerumah sakit sepagi ini.


—TO BE CONTINUED—