IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 21




" Kalau kamu butuh sesuatu, langsung kabari aku "


" Baik paman, paman gak perlu khawatir "


Regi tersenyum. Tersenyum dengan lebar.


***


Regi kembali lagi pada kesadarannya, setelah sebelumnya ia sempat memutar kembali ingatannya, pada kejadian 7 bulan lalu yang bisa dibilang merubah keseluruhan hidupnya.


RUMAH SAKIT


10.05 am


" Re... "


" Ung~ "


Perlahan - lahan Regi membuka matanya, ketika ia sedang merasa begitu pulasnya bermimpi


" Eh paman? "


" Maaf aku membangunkanmu "


" Paman sudah kembali? apa aku ketiduran? " Regi mengusap kedua matanya, yang masih terasa berat karena mengantuk


Samuel mengangguk


" Aku sudah cukup lama kembali setelah keluar mencari sarapan tadi. Tapi ketika aku kembali, aku lihat kamu tertidur begitu pulas sampai aku tidak ingin membangunkanmu "


" Apa ada sesuatu paman, sampai paman membangunkanku sekarang? "


" Tadi perawat datang dan membawakan mu buah. Katanya tadi pagi kamu sarapan tidak banyak. Jadi perawat bilang, sekarang kamu harus makan ini jika mau cepat pulih "


" Tentu saja aku mau makan, aku ingin cepat pulang "


Samuel tersenyum. Ia senang Regi tidak menolak makanannya kali ini.


Samuel memberikan Regi semangkuk buah apel yang sudah dikupas dan dipotong kecil.


Sementara itu, Regi pelan - pelan mulai duduk dan bersandar dikasurnya.


Namun ketika itu, Regi sadar kalau sedari tadi Samuel terus memperhatikannya


" Ada apa paman? apa ada yang salah? "


Samuel tampak ragu ingin bertanya


" Re, apa badanmu ada yang terasa sakit? atau ada yang tidak nyaman? "


" Eh? enggak paman, semuanya baik - baik saja "


" Benarkah? kamu yakin? "


" Kenapa? kok paman bertanya sampai begitu? "


Tiba - tiba jari Samuel mengusap pelan pipi Regi.


Regi membatu ketika jari Samuel mengusap wajahnya dengan lembut.


" Eh? " Regi terkejut mendapati jari Samuel basah seketika Samuel menyentuh pipinya.


Tanpa Regi sadari, ia tengah menangis dalam tidurnya. Regi meneteskan banyak air mata.


" Ada apa? "


" Eh? " Regi buru - buru mengusap air matanya


" Apa ada yang menganggu pikiranmu? "


" Ah tidak paman... tidak ada apa - apa, semuanya baik - baik saja "


" Kamu yakin? Tadi sebelum aku membangunkanmu, kamu terisak dalan tidurmu seakan merasa sedih "


Awalnya Regi menggeleng serta tersenyum, menandakan seolah - olah tidak terjadi apa - apa. Namun ketika Samuel menatap dirinya lebih lekat, rasa bersalah itu kembali muncul dalam ingatan Regi.


Regi tertunduk lesu


" Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu sedih seperti ini?


Regi masih ragu untuk mengatakan ke gundahannya pada Samuel. Namun walau begitu, Samuel masih terus menunggu jawaban dari Regi.


" Aku— Aku tadi bermimpi. Dan dimimpiku itu, aku merasa sedih karena aku telah memisahkan seorang ayah dari anaknya... "


" Re... "


Samuel spontan menatap malas. Dirinya seakan sudah tau Regi mau berkata apa dan akan mengarah kemana.


Samuel memalingkan wajahnya, seakan menolak dan tidak mau membahas hal ini dengan Regi sekarang.


" Jujur saja, aku juga tidak ingin memikirkannya paman... Tapi, ini semua tetap terasa berat untuk ku pikul sendiri. Bagaimana bisa aku mengambil paman dari Seira, hanya untuk melindungi diriku sendiri? aku merasa begitu egois... "


Regi perlahan tapi pasti mulai menangis. Sebenarnya Regi sudah sekuat tenaga menahan untuk tidak menangis, tapi hatinya telah bergetar. Regi tidak kuasa mengendalikan air matanya.


" Kenapa membahas hal ini lagi? kan itu sudah berlalu, kita sudah menikah sekarang "


" Seandainya paman rujuk dengan Gwen saat itu, dan tidak memilih menikahiku, mungkin saat ini paman sedang bermain dengan Seira. Bukan justru menjagaku di rumah sakit, seperti sekarang ini"


" Terus mau kamu apa? kamu mau aku meninggalkanmu sekarang? "


Bibir Regi mulai terlihat begetar, seakan menahan tangis yang jauh lebih besar.


" Sini... "


Samuel tiba - tiba menarik Regi kedalam pelukannya.


Deg!


" Paman... "


" Sampai kapan kamu memikirkan hal itu? Menikah denganmu bukanlah sebuah pilihan untukku. Aku Menikahimu, karena aku memutuskan semua itu. Aku mau! Bukan karena aku memilih antara kamu atau Seira "


" Paman... hiks~ "


Samuel mengelus pelan rambut belakang kepala Regi dengan lembut. Setenang mungkin Samuel mencoba bicara dengan Regi, agar Regi tidak bertambah emosional


" Usia kandunganmu sudah masuk 6 bulan itu artinya, bayimu sekarang sudah bisa mendengarkan dan merasakan ibunya. Jika kamu menangis dan selalu menyalahkan diri sendiri, itu tidak akan baik untuk calon bayimu Re... "


Suara isak Regi masih terdengar, namun intesitasnya sudah berkurang. Regi perlahan menenangkan dirinya.


" Jangan pernah merasa bersalah. Jangan membuat pernikahan kita menjadi suatu kesalahan? " ucap Samuel sambil menatap Regi dengan lekat


***


[[ Video Call Mode ]]


Jessie : KAMU DIRUMAH SAKIT?!!


Regi : Aku udah gak apa - apa


Regi : Kamu gak usah teriak begitu Jess


Kayla : Iya ih Jessie apaan sih?!


Kayla : Regi jangan diteriakin!


Kayla : Kasian tau, Regi lagi sakit


Jessie : Astaga Re, kenapa kamu baru bilang sekarang?


Regi : Kamu bisa jenguk aku besok Jess~


Kayla : Coba kalau masih di satu wilayah yang sama


Kayla : Malam ini juga aku akan kesana


Regi : Bagaimana kuliah kalian?


Regi : Lancar?


Jessie : Re, maaf aku berbohong sebelumnya


Regi : Heuh? bohong apa?


Kayla : Aku juga Re...


Kayla : Maafkan aku


Regi : Hadeh kalian ini, kenapa jadi minta maaf?


Regi : Memangnya kalian salah apa?


Jessie : Sebenarnya kita belum mendaftar kuliah tahun ini


Regi : Heuh?


Kayla : Maaf kita berbohong sama kamu Re


Regi : Apa maksudnya kalian belum mendaftar kuliah?


Jessie : Jujur saja aku Kayla ingin kita masuk kampus bersama


Jessie : Kita mau kuliah bareng kamu Re


Jessie : Jadi kita menunda, agar kita bisa daftar kuliah bareng


Regi : ya Tuhan


Regi : Kalian...


Kayla : Kamu jangan merasa bersalah ya Re


Kayla : Ini kemauanku dan Jessie


Jessie : Itu benar


Jessie : Yang Kay~ bilang itu benar


Jessie : Kamu jangan marah


Regi : Bagaimana bisa aku marah pada kalian?


Regi : Kalian sampai menunda kuliah, karena aku


Regi : Aku ingin meminta maaf,


Regi : Tapi Kay, sudah melarangku untuk merasa bersalah


Jessie : Jangan merasa bersalah Key


Jessie : Kita hanya terlalu menyayangimu


Jessie : Kita bersahabat untuk selamanya


Jessie : Gak akan ada yang tertinggal di belakang


Kayla : Apa yang Jessie bilang benar Re~


Kayla : Kita akan masuk kampus bersama


Regi : Aku jadi mau nangis


Regi : Aku terharu


Jessie : Aku dan Kayla besok akan kesana menjenguk


Jessie : Kamu mau dibawain apa?


Regi : Tidak ada


Regi : Aku sudah sangat bahagia kalian mau datang


Regi : Dari rumah kesini kan jauh


Jessie : Kalau kami menginap bagaimana?


Jessie : Menganggu paman gak?


Regi : Menginaplah disini bersamaku


Regi : Aku yakin paman tidak keberatan


Kayla : Yipeee~ menginap


Kayla : Kita bisa ngumpul bareng lagi


*Ketiga sahabat itu berbagi tawa satu sama lain, membuat Samuel yang berada didekat Regi, ikut memperhatikan dan tersenyum karena senyuman mereka juga.


Sebenarnya Samuel telah memberi kode bahwa dia mengijinkan Jessie dan Kayla menemani Regi besok malam, bahkan sebelum Regi bertanya sekalipun, Samuel telah mengangguk pelan, setuju.


*** TO BE CONTINUED ***