IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 40



Kejujuran...


Pengorbanan...


Apa artinya semua itu jika semua dibuat berdasarkan ego?


Kenapa situasi ini membuat kedua kata itu seakan bertolak belakang?


Tidak kah bisa keduanya berjalan bersama?


Bukankah kejujuran akan membuat pengorbanan terasa lebih mudah?


Jika demikian, kenapa harus memilih salah satu diantaranya?


Tanya hatimu.


—IF I STAY


***



Tok...Tok..Tok...


Darren mengetuk pintu kamar inap Katia, sebelum ia membuka kenop pintunya secara perlahan.


"Kalian..." kaget Regi ketika melihat Darren dan Kayla.


"Re..." Kayla mengangkat sebelah tangannya, yang memegang sebuah kantungan berisi berbagai jenis camilan. "Ini aku membawakan untuk yang jaga."


"Wah makasih ya, jadi merepotkan." ucap Regi, sambil menerima kantungan tersebut.


"Jessie belum datang?" tanya Darren.


"Belum, memangnya kalian janjian mau kesini?" tanya Regi.


"Iya kita sengaja mau jenguk Katia." jawab Kayla.


"By the way kok sendiri Re, Katia mana?"


"Katia lagi diruang perawatan bayi, dia sedang di Nebu."


"Nebu? maksudnya di Nebulizer?" tanya Darren.


Regi mengangguk sekilas untuk menjawab pertanyaan Darren.


"Kok sampai di Nebu, memangnya keponakan aku sakit apa Re?" tanya Kayla.


"Flu, tapi butuh di Nebu buat obatnya."


"Kasihan Katia..." ucap Darren.


"Udah gak apa - apa kok, Katia sudah lebih baik." ucap Regi tersenyum.


"Re, kita bisa lihat Katia gak? aku kangen... makanya aku kesini." ucap Kayla


"Kamu mau melihatnya?" tanya Regi.


"Memang bisa?" —Kayla.


"Bisa... tentu saja bisa. Aku akan mengantar kalian menemuinya."


Regi mengaggukan kepalanya, untuk meng-iya-kan permintaan Kayla.


Lalu Regi, Kayla dan Darren segera menuju ruang bayi bersama - sama.


Namun! tanpa sepegetahuan mereka, Evan berjalan mengikuti mereka dari belakang secara diam - diam.


"Ternyata keputusan aku gak salah untuk ngikutin Darren, mereka kesini untuk menemui Regi... Tapi, sedang apa Regi disini? siapa Katia?... apa Regi sudah punya anak?... Ah enggak! Aku gak boleh berfikir seperti itu... jangan pikir yang aneh - aneh dulu. Kita lihat siapa Katia!"


***


Tidak lama kemudian Regi, Kayla, Darren, dan tentu saja ada Evan dibelakang mereka, sampai di ruang perawatan khusus bayi.


Dari balik kaca besar, Regi, Kayla dan Darren bisa melihat banyak bayi yang sedang dalam perawatan.


"Itu dia." ucap Regi sambil menunjuk ke Katia yang sedang di Nebu.


"Awh kasihan keponakan bibi..." Kayla tidak tega melihat Katia yang sedang di-uap


"Gak apa - apa Kay, Katia biar cepat sembuh." ucap Regi.


"Iya... cepat sembuh ya kesayangan bibi."


"Oh ya Re, paman mana? kok gak kelihatan?" tanya Darren.


"Eh? ... oh paman sedang ikut donor darah." jawab Regi.


"Donor darah ?" gumam Kayla.


"Iya Kay, ada acara donor darah disini, dan paman ikut untuk jadi pendonor."


"Oh pantas tadi aku sempat lihat banyak banner tentang donor darah, waktu masuk kesini." sambung Darren.


"Golongan paman termasuk susah dicari. Oleh karena itu dia ingin sekali ikut kegiatan ini."


"Memang golongan darah paman apa?" tanya Kayla.


"AB." jawab Regi.


"Eh sama denganku dong..." —Kayla. "Apa aku ikut donor darah juga ya?"


"Sudah deh Kay, jangan aneh - aneh di rumah sakit." ucap Darren.


"Kok aneh sih, aku juga mau jadi pendonor." omel Kayla.


"Benar kata Darren Kay, udah deh jangan bertingkah." sambung Regi.


"Ish Regi..." decak Kayla


" Tapi ya, paman tuh memang berbeda. Selain tampan, baik lagi. Memang sempurna." ucap Kayla.


"Eh, Kayla baby~ kamu sadar gak kalau lagi memuji suami sahabat kamu sendiri." ucap Darren menyindir.


"Iya tau! gak usah cemburu gitu!" ucap Kayla mendengus.


"Hahaha... kalian dari SMA gak berubah, masih aja suka bertengkar karena hal kecil." ucap Regi terkekeh.


Darren dan Kayla saling tatap malu - malu.


"Hhhe~" Darren menepuk kepala Kayla sambil tersenyum.


"Ish Darren apaan sih." tepis Kayla malu - malu.


Regi tertawa kecil melihat tingkah manis kedua sahabatnya.


"Oh ya Re..." sahut Derren.


Regi mendelik. "ya..."


"Bicara soal golong darah, Katia ikut golongan darah kamu atau... um..."


Regi tau arah pertanyaan Darren.


Regi pun langsung menggeleng samar.


"Katia memiliki golongan darah yang sama dengan ayahnya, ia sama dengan Evan."


"Evan..." gumam Darren.


Disisi lain...


Deg!


Jantung Evan berdegup dengan kencang.


"Aku?... Katia?... Ayahnya?..."


Pucat! Mendadak Evan berkeringat dingin.


Kenyataan tentang apa lagi ini?... pertanyaan itu mendadak muncul dibenaknya


...


Sementara itu, tiba - tiba saja Regi kembali terlihat muram ketika ia harus mengingat kembali kenyataan tentang Evan, yang merupakan ayah biologis Katia.


"Um... sebaiknya kita kembali ke kamar, sambil menunggu Katia dipindahkan kembali." ucap Regi.


Kayla dan Darren mengangguk setuju.


Sambil mengobrol mereka berjalan bersama, kembali ke kamar inap Katia.


...


Evan masih berdiri disamping pintu ruang perawatan bayi sambil menyamarkan diri dengan memakai jaket hoodie-nya.


Ketika Regi, Kayla dan Darren sudah pergi menjauh, Evan memberanikan diri masuk ke ruang perawatan tersebut


Sama seperti Regi, melalui dinding kaca, Evan mencoba menengok kedalam ruangan tersebut untuk mencari bayi yang bernama Katia.


Di dalam ruangan tersebuh hanya ada satu bayi yang sedang di- uap.


Dan seingat Evan, tadi Regi mengatakan kalau Katia sedang di - *uap.


"Mungkinkah itu Katia?" tanya Evan dalam hati*.


Pernyataan Regi tentang siapa ayah Katia, membuat Evan jadi kepikiran.


Evan tidak bisa begitu saja melupakan semua yang telah ia dengar. Evan takut, jika apa yang ia takutkan benar - benar terjadi kepadanya.


"Kalau apa yang dikatakan Regi benar, berarti Katia itu adalah anak..."


Gemetar. Evan merasa takut dan gemetar secara tiba - tiba.


Tapi bagaimana bisa?! ... Apa yang sudah aku lakukan?! ... Hh! Malam itu! ya Malam itu pasti terjadi sesuatu! ... Argh sial! kenapa aku tidak bisa mengingat apapun!"


Evan bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Ma...Malam itu..."


Evan tersadar pada satu hari. Satu hari yang sudah ia lupakan.


"Evan?! sedang apa kau disini?" tanya Jessie heran.


Tiba - tiba saja ada Jessie disana, ia datang bersama seorang pria yang baru pertama kali Evan lihat.


Tidak berbeda dengan Evan, Jessie pun juga sama kagetnya melihat Evan ada di ruang perawatan Katia.


"Ka..Kamu sedang apa disini Hah?" tanya Jessie sedikit gugup.


Evan hanya bisa menatap lemah Jessie. Jujur saja Evan sudah bosan dibuat bingung seakan dipermainkan oleh orang - orang disekitarnya.


Dari tatapannya, jelas sekali Evan ingin jawaban sebenarnya, dari semua pertanyaan disekitarnya.


Evan ingin kejujuran!


Namun, apakah Jessie kali ini akan menjelaskan secara jujur dari apa yang telah terjadi, kepada Evan?


Atau Jessie akan tetap diam, seperti saat ini.


"Jess..."


"Van, kamu gak seharusnya ada disini!"


Mendengar ucapan Jessie, membuat tatapan Evan berubah dingin kepada Jessie.


—TO BE CONTINUED—