IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 15 FLASHBACK PART TEN



" Maafkan Naomi, dia... "


" Tidak apa ibu, aku paham "


" Tolong jangan dimasukan ke hati. Naomi hanya butuh waktu untuk bisa menerimamu. Kamu pasti paham maksud ibu "


Regi mengangguk


" Kalian pulanglah sebelum sore. Setelah ini kita akan berkumpul antara kedua keluarga sebelum hari pernikahan " ucap Renata


" Ibu sudah mengatakan semuanya pada Samuel. Dia akan menjelaskan padamu nanti. Ya sudah itu saja yang mau ibu katakan. Sampai jumpa lagi "


***



Samuel tengah mengendarai mobilnya, bersama Regi yang duduk disampingnya


" Re... "


" Ya paman "


Regi menoleh pelan. Mengalihkan pandangannya yang sedari tadi hanya melihat keluar jendela mobil


" Aku malu sekali padamu atas sikap Naomi yang seperti tadi, aku sekali lagi minta maaf "


" Paman gak perlu merasa bersalah, ini bukan salah paman sama sekali "


Walau Samuel tengah fokus menyetir mobilnya, namun Samuel tidak bisa menampik perasaanya khawatirnya.


Sesekali Samuel menoleh kesamping hanya untuk melihat wajah Regi.


" Semua jadi terasa salah, sekalipun paman sudah mengatakan alasan sejujurnya kita menikah "


" Re... "


" Ini bukan salah paman, bukan salah kak Naomi juga yang bicara seperti itu. Karena memang semua kesalahan itu berawal dari aku. Jadi... hiks... "


Regi menundukan pandangannya sambil menahan isak tangisnya yang terus menyeruak keluar


" Jadi... hiks, apa lagi yang bisa kuharapkan? bukankah paman ada bersamaku? bagaimana hiks... aku bisa lebih egois dari pada ini? Bahkan kak Naomi tidak perlu minta maaf, karena apa yang dia katakan, semuanya adalah kebenarannya "


Samuel terdiam mendengarkan Regi terisak. Samuel merasa ia tidak bisa berkata apapun untuk membuat Regi merasa lebih baik.


Namun Samuel mengangkat sebelah tangannya dan menepuk pelan pucuk kepala Regi


" Menangislah sampai kamu merasa lelah. Lalu tidurlah dan bangun dengan perasaan yang lebih baik. Kamu anak baik Re~ dan aku tau itu lebih baik dari Naomi "


Regi semakin menangis dengan keras setelah mendengar kalimat yang Samuel katakan.


Rasanya terlalu sesak untuk Regi tanggung semua penderitaan ini sendiri. Mendapatkan begitu banyak kasih sayang dari Samuel, tidak mengurangi rasa bersalahnya, tapi justru menambah rasa beban dalam dirinya.


Samuel rela berkorban bersamanya, Samuel rela membantunya, Samuel yang dia kenal sebagai gurunya siap menggenggam tangannya tidak peduli apa yang dunia akan lakukan pada Regi, Samuel akan terus menggenggam tangannya mulai dari saat itu.


***


Hari ini adalah harinya.


Sebelumnya Samuel sudah mengatakan pada Regi bahwa ibunya meminta Regi untuk mengenal Seira, anak perempuan Samuel.


" Bagaimanapun juga Regi akan menjadi istrimu. Jadi sudah seharusnya juga dia menerima Seira. Walaupun Seira tinggal bersama Gwen, itu tidak akan merubah kewajibanmu pada Seira. Jadi Regi harus paham mengenai hal ini " ucap Renata


Begitulah kalimat yang Renata sampaikan pada Samuel.


Sebenarnya tanpa disuruh Renata, Samuel juga akan membicarakan hal ini kepada Regi. Namun kenapa rasanya kalau bicara sekarang, Samuel merasa ini bukanlah saat yang tepat.


" Paman, ada apa? " tanya Regi


" Eh? Kenapa Re? "


" Paman menyetir sambil melamun? "


" Eh tidak... kamu tenanglah. Aku tidak melamun "


Regi tersenyum tipis


" Seira kemungkinan akan menolakmu. Jadi kuharap kamu bisa... um~ " ucap Samuel bingung


" Tidak mudah menerima orang asing untuk menjadi keluarga, apalagi sebagai seorang ibu. Aku bisa memahaminya "


" Dia masih kecil, dia tidak akan mengerti sekalipun aku menjelaskannya " ucap Samuel


" Paman, aku tau kondisi seperti ini juga tidak akan mudah paman hadapi sendiri. Jadi paman jangan khawatir, Aku mengerti. Paman tidak perlu cemas berlebih. Cukup lebih kuat dari padaku, itu sudah lebih dari cukup "


" Regi... "


" Semenjak kejadian kemarin aku tersadar, mulai saat ini dan seterusnya aku tidak akan lagi bersembunyi dibalik punggung paman. Aku akan menghadapi semua resiko ini bersama paman. Aku yakin aku lebih kuat dari yang aku bayangkan "


Samuel tersenyum. Ucapan yang Regi katakan melegakan perasaan khawatirnya.


" Walau Seira tidak bisa menerimaku, aku tidak akan berusaha memaksanya. Aku ingin dicintai bukan yang lain " ucap Regi


" Wah, sejak kapan kamu jadi dewasa seperti ini? "


" Aku akan jadi istri paman sebentar lagi, aku rasa aku harus mulai memantaskan diri "


" Lakukan apa yang mau kamu lakukan. Tapi jangan memaksakan diri "


" Baik paman, aku mengerti "


***


" Ayah~ "


Si kecil Seira berlari kecil menghampiri Samuel


Regi berdiri disamping Samuel dengan tidak nyaman.


Bagaimana Regi bisa merasa nyaman, dimana Gwen mengamatinya dengan tatapan sinis


" Ayah datang untuk mengajakku jalan - jalan kan? "


" Iya " ucap Samuel tersenyum


" Ayah siapa dia? " tanya Seira bingung


" Kenalkan ini bibi Regi "


" Bibi Regi? "


Seira tanpa tau apa - apa, tersenyum melihat Regi.


" Apakah bibi akan ikut kita juga? " tanya Seira


" Ya sudah ayo ayah kita pergi "


" Baiklah. Kita pergi dulu ya Gwen "


" Lho ibu gak ikut? " bingung Seira


" Eh? Ibu gak bisa ikut sayang " ucap Gwen " Kamu jalan - jalan sama ayah dan um... "


" Ibu gak ikut tapi bibi ikut? " tanya Seira dengan tatapan tidak suka


" Eh itu.. " gumam Seira


" Seira gak mau pergi kalau ibu gak ikut! "


Seira berteriak lalu berlari ke dalam rumahnya


Samuel dan Regi saling menatap. Bukan Regi tidak menduga akan jadi seperti ini, tapi melihat tatapan Seira membuat Regi yakin, ini akan lebih sulit dari yang Regi bisa bayangkan.


" Seira sepertinya tidak mau pergi saat ini. Jadi kuharap kalian... um.. pergilah " ucap Gwen


" Gwen bisa kita bicara? " tanya Samuel


" Apa? "


...


Gwen membawa Samuel dan Regi duduk bersama di ruang tamu.


Boneka beruang berwarna pink yang Regi bawa, menarik perhatian Gwen.


Entah kenapa Gwen jadi membayangkan bahwa Regi sedang mau berusaha merebut perhatian Seira. Gwen merasa tidak suka akan hal itu.


" Apa yang kalian mau bicarakan? Maaf aku tidak menawari minum. Aku tau kalian tidak akan lama. Lagi pula rasanya aku tidak bisa berpura - pura menganggap kalian sedang bertamu " ucapan Gwen terdengar bergetar


" Kami tidak masalah, kami tidak akan lama. Aku kesini hanya mau bilang bahwa pernikahan kami tinggal menghitunh hari —.. "


" — apa?! secepat itu?! "


" Aku dan Regi telah memutuskan tanggalnya. Kami akan menikah 3 hari lagi... "


" Tapi kenapa?! kenapa secepat itu, bahkan sebelum kamu menceritakan semuanya pada Seira?! Kamu tega Sam? "


" Sebenarnya aku berniat mengatakannya hari ini, tapi melihat kondisi Seira yang seperti itu rasanya sulit aku mengajaknya keluar "


" Kenapa harus bicara diluar? kenapa tidak kamu katakan sekarang dikamarnya "


Samuel tertunduk, lalu mengangguk pelan.


" Baiklah, ayo Re, kita bicara pada Seira "


Regi baru saja mau berdiri, namun tangan Gwen menghalanginya


" Kamu pergilah dan bicara pada Seira duluan. Aku mau bicara dengan Regi sebentar. Hanya sebentar saja, lalu dia akan menyusulmu "


" Tapi... "


" Paman duluan saja kesana, nanti aku menyusul "


" Kamu yakin? "


Regi mengangguk


" Iya paman, aku gak apa - apa "


" Baiklah "


Samuel beranjak terlebih dahulu. Kini tinggalah Regi dan Gwen hanya berdua.


Gwen menyoroti Regi dengan tatapan dingin dan merendahkan.


" Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? "


" Apa maksudmu bicara begitu? "


" Boneka beruang itu, apa Sam yang menyuruhmu membelikannya? "


Regi menurunkan pandangannya dan mengangguk


" Ya, paman bilang Seira menyukai boneka "


" Apa? Paman? Kamu memanggil Sam dengan sebutan itu? memalukan? "


Regi menaikan pandangannya


" Apa yang salah denganku memanggilnya paman? itu bukan suatu kata penghinaan. Justru aku menghormatinya, maka dari itu aku memanggilnya paman "


" Kamu pasti sudah gila dan kehilangan akal. Bagaimana bisa kamu mengencani Sam, yang bahkan menjadi kakakmu saja gak pantas "


" Sepertinya kamu salah paham. Aku tidak sedang mengencaninya. Bahkan kami tidak memiliki perasaan satu sama lain. Tapi pernikahan ini sangat penting untukku. Ku mohon kamu bisa mengerti "


" Apa?! beraninya kamu bicara seperti itu padaku! "


" Maafkan aku " Regi menurunkan pandangannya sesaat


" Seira tidak akan merestui kalian "


" Apa? "


" Anak itu tidak akan menerima wanita lain menjadi ibunya. Baginya hanya satu ibunya, yaitu aku! "


" Kamu benar. Siapapun tidak akan bisa menggantikan sosokmu dalam hidup Seira. Aku juga tidak berusaha untuk merebut hatinya. Aku hanya akan berusaha untuk diterima. Itu saja. "


" Kamu menyedihkan! dan sangat menyebalkan. Kamu perempuan yang tidak tau malu. "


Regi berdiri lalu mendudukan kepalanya


" Aku akan menyusul paman "


" Apa? "


Regi membalikan badannya dan melanjutkannya dengan melangkah, lalu menjauh dari Gwen


" Astaga beraninya dia! " kesal Gwen sambil memukul kesal sisi kursinya.


Regi tau, sikapnya mungkin sedikit keterlaluan. Tapi ini semua terpaksa Regi lakukan, karena Regi tidak mau membuat Samuel semakin khawatir karena dirinya.


Regi juga harus bisa menghadapi semuanya, bukan hanya selalu bersembunyi dibalik punggung Samuel.


*** TO BE CONTINUED ***