
Berapa kali sudah kita pacaran lalu berpisah?
Rasanya setiap kita bertemu, hal itu selalu terjadi.
Kini aku jadi teringat akan satu hari dimana aku yakin untuk memintamu sebagai kekasihku.
Bukan karena wajahmu yang cantik, aku jadi menyukaimu.
Sifatmu juga bukan, bahkan kita terkadang tidak nyambung satu sama lain.
Tapi karena didekatmu aku nyaman. Aku belajar arti sabar darimu, dan kamu juga selalu begitu.
Aku merasa kamu juga tidak tahan dengan sikap kita yang bertolak belakang.
Tapi ketika kamu berkata, kekurangan itu selalu ditutupi dengan sifat yang diri ini tidak miliki, aku jadi tersadar.
Kalau kamu tercipta memang untuk melengkapi diriku.
—Darren & Kayla—
***
Di sebuah sekolah menengah atas milik negri, Samuel berkerja kembali menjadi seorang guru.
Di sekolah, tepatnya di ruang guru.
"Pak... Pak guru Samuel..." panggil salah seorang guru wanita.
Samuel menoleh. Samuel yang sedang memeriksa tugas sekolah murid - muridnya, jadi menundanya sebentar.
"Bu guru Yuna..." ucap Samuel pelan. "Ibu memanggil saya?"
"Pak, maaf tapi dari tadi ponsel bapak begetar. Sepertinya telfon penting pak."
"Eh?"
"Bapak baik - baik saja?"
"Oh iya, saya baik - baik saja. Terima kasih bu guru Yuna." ucap Samuel.
Samuel segera meraih ponselnya, dan melihat siapa yang telah menghubunginya.
"Claire?... tumben Claire telfon, apa terjadi sesuatu dirumah?"
Claire adalah pengasuh Katia dirumah, sementara Samuel kerja dan Regi kuliah.
Tanpa pikir panjang kembali, Samuel segera menjawab panggilan daru Claire
[Call Mode 📲]
Samuel : Ya Claire ada apa?
Claire : Maaf menganggumu
Claire : Katia dari tadi suhu badannya tinggi
Claire : Kurasa dia demam.
Samuel : Demam?
Samuel : Kau sudah hubungi Regi?
Claire : Sudah
Claire : Tapi tidak ada jawaban.
Claire : Jadi ku menghubungimu.
Claire : Aku mau membawa Katia ke rumah sakit.
Samuel : ya sudah, bawa saja Katia sekarang ke rumah sakit.
Samuel : Aku akan segera menyusulmu.
Claire : Baik.
[Call End]
***
Samuel mencoba menghubungi Regi, tapi percuma tidak bersambung. Sepertinya ponsel Regi sedang dalam keadaan mati.
"aku harus ke rumah sakit sekarang!"
Samuel segera meraih kunci mobilnya, dan bergegas menuju rumah sakit.
***
Samuel mengendarai mobilnya dengan tenang, namun tetap berusaha cepat agar segera sampai di rumah sakit.
Tiba - tiba ponsel Samuel berdering kembali. Samuel harap Regi lah yang menghubunginya.
[Call mode 📲]
Samuel : Hallo...
Jeje : Sam...
Samuel : Jeje?
Jeje : Iya ini aku Jeje
Jeje : Kau ada dimana?
Samuel : Aku sedang dijalan
Jeje : Oh..
Jeje : Eh apa kau tau kenapa ponsel Regi susah sekali dihubungi?
Samuel : Mungkin hp nya low,
Samuel : Aku juga mencoba menguhubunginya...
Samuel : Tapi tidak tersambung.
Jeje : Haish! Regi kebiasaan lupa carg ponselnya.
Samuel : ...
Jeje : Oh ya, Aku juga mau memberi tau,
Jeje : Kalau aku sudah kembali pulang.
Samuel : ...
Jeje : Jadi datanglah ke rumah untuk makan malam bersama
Jeje : Ajak juga keponakanku yang cantik itu. Hahaha...
Samuel : ...
Jeje : Hei Sam, kenapa diam saja dari tadi
Jeje : Kau mendengarkan aku kan?
Samuel : Iya aku mendegarkan.
Samuel : Maaf, tapi aku sedang buru - buru.
Samuel : Aku sedang menyetir mobil.
Jeje : Buru - buru?
Jeje : Memangnya kamu mau kemana?
Samuel : Katia masuk rumah sakit
Samuel : Claire bilang Katia demam.
Jeje : Hah apa?!
Jeje : Katia sakit?!
Jeje : Apa sakitnya parah?
Jeje : Sampai - sampai dilarikan ke rumah sakit?
Samuel : Tenanglah, aku juga belum tau pasti
Samuel : Aku sebentar lagi sampai dirumah sakit.
Samuel : Akan aku tutup dulu telfonnya.
Jeje : Terus kabari aku, tentang Katia.
[Call End —]
***
Pukul 4 Sore.
Dengan langkah terburu - buru Regi berjalan di lorong rumah sakit.
Tak lama, akhirnya Regi tiba di salah satu kamar yang sebelumnya sudah diberitaukan, bahwa Katia dirawat disana.
Perlahan Regi membuka pintu kamar inap tersebut.
"Paman..."
Orang yang pertama kali Regi lihat ketika memasuki ruang inap tersebut, adalah Samuel.
Samuel yang tengah berdiri di sisi ruangan. Tangannya sibuk membuat susu formula untuk Katia.
"Oh Regi, kamu sudah datang."
"Maafkan aku paman, ponselku low... aku baru tau ketika aku sampai rumah. Aku minta maaf Paman..." ucap Regi menyesal.
"Tenanglah Re, kamu jangan sampai panik."
"Paman bagaimana keadaan Katia?"
"Panasnya belum turun, kemungkinan Katia mengalami radang."
"Kemungkinan?"
"Dokter khusus bayi baru sebentar lagi akan datang memeriksanya." ucap Samuel " Tapi sebelumnya juga ada dokter jaga yang sudah memeriksanya, lalu untuk sementara Katia sudah diberikan kompres untuk meredakan panasnya." jelas Samuel.
"Syukurlah..."
"Kamu tenang saja, semuanya akan baik - baik saja."
"..."
Regi menatap Katia sedih, dan Samuel menotis akan hal itu.
"Tenanglah, Katia akan baik - baik saja."
Samuel merangkul Regi dan mengusap pelan lengannya. Samuel berusaha menenangkannya.
***
Pukul 10 malam.
Regi tertidur di sofa dekat dengan ranjang Katia.
Tiba - tiba ada seseorang yang datang lalu mengguncang pelan bahu Regi yang sedang tertidur.
"Regi..." bisik orang tersebut.
"Hng..."
Regi mengerjabkan matanya perlahan.
"Kakak..." kaget Regi.
"Sssttt... jangan berisik."
"Bagaimana kakak bisa ada disini?" tanya Regi bingung, berbisik.
"Sam yang kasih tau aku kalau Katia dirawat disini." jawab Jeje.
"Paman?..." gumam Regi. "Paman sekarang dimana?"
"Sam lagi ngobrol sama ayah dan ibu di kafetaria."
"Ayah dan Ibu disini?"
"Iya, makanya kakak kesini. Cepat kamu temui ayah dan ibu, kakak akan menggantikanmu menjaga Katia."
"Baiklah..."
Regi pun beranjak keluar dari dalam kamar ruang inap.
***
Sementara itu di Kafetaria rumah sakit...
Sambil menyesap teh dan kopi hangat, Samuel, Natalia dan Wilson duduk bersama dalam satu meja.
"Bagaimana kabarmu Sam?" tanya Natalia. "Kalian telah pindah tapi tidak pernah memberi kabar."
"Maafkan aku..."
"Walau kalian sibuk, paling tidak kabari kami." ucap Wilson.
"Sam bagaimana, apa Regi merepotkanmu? Semenjak Katia lahir, apa dia semakin sering menyusahkanmu?" tanya Natalia cemas.
"Anak itu, sudah aku katakan untuk aku saja yang mengurusnya, tapi dia keras kepala ingin mengurus Katia seorang diri." ucap Natalia.
"Regi sangat mandiri. Setiap sebelum berangkat kuliah, Regi selalu menyempatkan memandikan dan memberi makan Katia. Dan setiap dia pulang Kuliah, dia lakukan hal yang sama. Ku lihat Regi melakukannya tanpa pernah mengeluh." ucap Samuel.
"Benarkah?"
"Terkadang Regi juga suka memasak makan malam." sambung Samuel kembali.
"Regi, memasak?" heran Natalia sambil menatap suaminya sesaat.
"Hha iya, dia memasak. Dan masakannya enak sekali." ucap Samuel sedikit tersenyum.
"Sam..." ucap Wilson.
Samuel pun menoleh pada Wilson. Sepertinya Wilson akan mengatakan sesuatu yang serius kepadanya.
"Sam, aku tau ini bukanlah pernikahan yang kau dan Regi pernah bayangkan akan terjadi. Pernikahan ini terjadi karena kesalahan Regi, aku sadari itu sebagai ayahnya." ucap Wilson.
"Regi masih terlalu muda untuk berumah tangga. Anak itu masih terlalu kecil untuk mengerti urusan rumah tangga." —Wilson.
"Tapi kau menerimanya, dan aku sangat senang untuk itu." —Wilson.
"Anda tidak perlu khawatir untuk itu, aku tidak pernah mempermasalahkan hal ini pada Regi. Aku tau dia masih sangat muda, masalah rumah tangga Regi akan belajar pada prosesnya." ucap Samuel
"Kadang aku juga berfikir. Bagaimanapun juga, pernikahan tetaplah pernikahan. Walau pernikahan kalian terjadi karena suatu hal. Tetap saja ini sebuah pernikahan yang sah."
"..." —Samuel.
"Regi harus mengerti, kalau ia punya tugas sebagai istrimu."
Samuel menundukan pandangannya. Ia sedikit gusar dengan arah pembicaraan ini.
—TO BE CONTINUED —