IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 24




Happy Birthday to You~


Happy Birthday to You~


Happy Birthday, dear Evan~


Happy Birthday to You ~


...


Setahun yang lalu, tepat pada malam ini. Regi, Jessie, Kayla, dan Darren dengan sengaja datang malam - malam ke rumah Evan hanya untuk merayakan hari Ulang Tahun Evan yang ke 18 tahun


Mereka dengan sengaja datang ditengah malam untuk memberikan kejutan pada sahabat mereka, terlebih Regi yang saat itu sudah menjadi kekasih Evan


Masih teringat diingatan Regi dengan jelas, setiap gambaran yang terjadi malam itu.


Mereka tertawa bersama ketika melihat ekspresi Evan yang bingung —ketika itu— sekaligus senang, saat terbangun dari tidurnya, dan melihat Regi serta para sahabatnya datang membawakan kue serta bernyanyi untuknya


Evan terlihat begitu bahagia, walau Darren sedikit mengejeknya. Darren meledeknya karena tahun itu, Evan telah lepas dari masa jomblonya.


Sambil meniup lilin dari Kue yang Regi pegang, Evan merangkul Regi dengan hangat.


Sementara Jessie dan Kayla menyayikan lagu selamat ulang tahun dengan gembira.


Malam itu merupakan perayaan ulang tahunnya yang terhebat bagi Evan. Bagaimana tidak, Evan merayakannya dengan para sahabatnya, serta kekasih yang sudah ia cintai sejak lama.


Merayakan bersama kekasih tercintanya merupakan kebahagian sendiri untuk Evan. Bagaimana tidak, karena mendapatkan Regi bukanlah hal yang mudah untuk Evan.


Tapi! Malam ini! Di dalam kamar asramanya, Tepat dimalam hari ulang tahunnya, Evan justru terduduk diatas tempat tidurnya.


Dengan menggunakan earphone, Evan menunduk menonton video ulang tahunnya, tahun lalu yang tersimpan didalam ponselnya.


Rekaman itu membangkitkan perasaannya kala itu. Namun lama kelamaan perasaan hangat yang ada didalam video itu, berubah menjadi rasa sakit yang menyesakan dada Evan.


Evan merasa begitu sedih sampai rasanya ia ingin menangis. Mengingat dirinya saat ini benar - benar merasa hanya seorang diri.


Sahabatnya, Jessie dan Kayla kini sudah tidak pernah mau menjawab telfonnya atau sekedar membalas pesan chatnya, ditambah kabar dari Darren tentang Regi yang katanya telah berkencan dengan Samuel.


Kalau mengingat semua itu, rasanya hati Evan benar - benar terasa hancur karena terkhianati.


Evan kesal! Evan marah! tapi dirinya tidak bisa berteriak atau melampiaskan. Evan hanya bisa terdiam didalam kamar asramanya.


...


Di sisi lain, tepatnya di rumah sakit tempat Regi dirawat inap


06.50 am


Semalam, Jessie dan Kayla menginap di rumah sakit, menemani Regi. Sementara Samuel tidur dirumah dan Darren menyewa hotel kecil depan rumah sakit.


Sudah hampir 10 menit yang lalu Regi terbangun, karena kakinya tiba - tiba saja terasa kram.


Semenjak terbangun sampai saat ini, Regi sulit memejamkan matanya kembali.


Regi teringat, kalau hari ini adalah hari ulang tahun Evan. Bayangan Evan kembali muncul dalam benaknya.


Sama seperti Evan, Regi mengingat kembali pada malam satu tahun lalu, malam ulang tahun Evan yang ke 18 tahun.


" Evan itu masih terus tanyain kamu ke Darren. Semenjak kamu blokir nomernya dia, sementara aku dan Jessie gak mau jawab chatnya dia, dia selalu menghubungi Darren dan menekannya... " — Kayla


Regi jadi teringat ucapan Kayla kemarin.


Regi menjadi merasa bersalah. Hanya untuk menutupi dirinya, Jessie, Kayla dan Darren sampai harus terus berbohong pada Evan


Regi merasa, Evan gak bisa terus seperti ini. Regi tau persis betapa tersiksanya Evan, jika Evan masih terus saja memikirkannya.


...


pukul 12.59 waktu Jerman


Evan sudah sedari tadi berbaring dan berusaha memejamkan matanya agar tertidur, Tapi entah kenapa dirinya tidak bisa tertidur sama sekali. Merasa mengantukpun tidak!


*bunyi ponsel berdering*


Dengan tidak bersemangat Evan meraih ponselnya, yang berada diatas meja disamping tempat tidurnya. Evan yakin sekali kalau Darren lah yang menghubunginya selarut ini.


Tanpa melihat nama penelfonya atau tidak menyadari, Evan langsung menjawab


[[ Call Mode 📲 ]]


Evan : Hallo ~


Regi : Selamat ulang tahun, Van


Evan : Re-regi?!


Regi : ...


Evan : Ini beneran kamu Re?


( Evan melihat layar ponselnya, untuk memastikan ia tidak salah orang )


Regi : Iya, ini aku


Evan : Akhirnya kamu telfon aku Re


Evan : Aku tau Darren salah!


Evan : Aku tau dia salah!


Evan : Lihat saja akan ku bentak dia nanti!


Regi : Apa maksudnya?


Evan : Aku senang kamu telfon aku lagi Re


Evan : Aku kangen kamu "gigi"~


Evan : Kenapa baru telfon aku sekarang?


Regi : Evan sebenarnya aku telfon kamu karena —


Evan : Kamu kangen aku kan?


Regi : Van...


Evan : Kamu kenapa baru telfon aku?


Evan : Aku frustasi tau gak, nunggu kabar dari kamu


Evan : Rasanya aku mau pulang ke Korea aja


Regi : Hiks...


Evan : Eh? kenapa kamu menangis?


Evan : Kamu terharu ya? Kamu kangen aku kan?


Regi : Hiks...


Regi : Evan aku mohon jangan begini


Regi : Stop dan dengarlah aku bicara


Evan : Eh ada apa?


Evan : Kenapa?


Evan : Kamu kenapa semakin nangis Re?


Regi : Kita sudah putus


Regi : Jadi kumohon, stop memikirkan aku


Evan : Re-regi... apa maksud kamu?


Regi : Stop tanya Darren tentang aku


Regi : Stop cari aku


Regi : Aku mohon


Evan : Ta-tapi kenapa?


Evan : Re... Kamu lagi bercandakan?


Evan : Kamu gak beneran serius kan?


Regi : Apa aku bicara kurang jelas?


Regi : Sejak malam itu, kurasa hubungan kita sudah selesai


Evan : Re, kamu bercandakan?


Evan : BILANG KALAU KAMU BERCANDA!


Regi : Hiks...


Regi : Kumohon Van, berhenti! jangan kamu begini


Evan : Kamu kenapa tiba - tiba begini?


Evan : Kita dulu juga sering bertengkar


Evan : Walau gak bicara berbulan - bulan, tapi kita bisa baikan lagi...


Regi : Ini gak sama Van!


Regi : Jadi kumohon jangan cari aku


Regi : Dan aku gak akan mencari kamu juga


Evan : Apa... A-apa ini karena Samuel?


Evan : Apa benar karena dia? "


Regi : Evan...


Evan : Kamu berkencan dengannya hah?!


Evan : Benar kamu berkencan dengannya?!


Regi : Hiks...


Regi : Iya benar!


Regi : Sekarang aku berkencan dengan paman


Regi : Kami memutuskan untuk serius


Regi : Jadi ja—


Evan : SI*L!


Evan : Jadi semua itu benar!


Evan : Kamu tega Re!


Evan : Kamu keterlaluan!


Regi : Hiks...


Evan : Baiklah aku mengerti


Evan : Kamu telfon aku cuma mau bilang ini kan?


Evan : Terima kasih atas ucapan selamat ulang tahunnya, Re!


Regi : Ev—


Evan : Terima kasih sudah menghancurkan hatiku


Evan : Terima kasih sudah menghancurkan segalanya!


Regi : Baiklah akan ku tutup telfonnya!


( nada sambung terputus— )


...


Regi memadamkan layar ponselnya.


Sambil menggenggam erat ponselnya, Regi menangis namun sebisa mungkin Regi tahan agar tidak bersuara. Regi tidak mau Kayla atau Jessie sampai tau dia menangis


Rasanya sesak. Rasanya menyakitkan. Regi bahkan tidak tau kalau rasanya bisa sesedih ini.


Ketika Evan menjawab telfonnya, menjelaskan betapa Evan memang sudah lama menunggu Regi untuk menghubunginya. Mendengar suaranya yang bahagia, membuat hati Regi semakin terasa tersayat, ketika Regi mencooba meminta Evan untuk tidak lagi mencarinya.


Regi sadar perbuatannya ini pasti sangat melukai perasaan Evan. Tapi Regi seakan tidak punya pilihan lain, selain mempertegas hubungannya dengan Samuel, semua ini agar Evan mau menjauhinya.


Evan tidak boleh lagi memikirkan dirinya, apapun alasannya!


*** TO BE CONTINUED ***