
Pernahkah kamu mencintai dalam diam?
Jika jawabanmu pernah, maka kamu mungkin merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
Aku tidak butuh kata cintanya, asalkan dia tetap disampingku, dan mengijinkan aku untuk tetap disampingnya, mendampinginya, bagiku itu semua sudah cukup.
Mungkin terlalu mula untuk meminta kepastian. Dia juga masih belum sembuh dari rasa sakit hatinya, yang terluka karena cintanya.
Aku akan selaly disampingnya, karena aku yang akan mengobati lukanya.
—Ava
***
2 Bulan Kemudian.
"Evan, ini..."
"Apa ini?"
Evan terlihat bingung ketika Ava datang, lalu menyodorkannya 2 lembar kertas padanya.
"Ini tiket nonton. Saudaraku gak bisa pergi, jadi dia memberikannya padaku."
Wajah Ava memerah, ketika mengajak Evan untuk menonton theater malam ini, bersamanya.
Alasan klasik, untuk mengajak pergi seseorang agar terkesan tidak sengaja.
Tapi Evan tau betul, kalau alasan yang Ava buat untuknya, hanya untuk sekedar menghindari jawaban penolakan.
"Kamu gak mau ya?" tanya Ava sambil menurunkan pandangannya dari Evan.
Ava terlihat getir, sambil menggit bibirnya sendiri.
"Kalau aku gak mau, kamu apakan tiketnya? kenapa gak ajak yang lain?"
"Eh itu?! ... " wajah Ava memerah. Entah bagaimana Ava harus menjawab pertanyaan Evan yang sudah menyudutkannya.
"Hahaha aku bercanda..." Evan terkekeh sambil menepuk pucuk kepala Ava. "Ayo kita pergi nanti malam."
"Be-benarkah? kamu mau?"
Evan mengangguk pelan sambil disertai senyuman manisnya.
Berbedar! Rasanya berdebar seketika didalam hati Ava. Ingin rasanya Ava melompat girang saat ini, karena terlalu bahagia mendengar jawaban dari Evan.
"Baiklah, jam 7 di gedung theater." ucap Ava.
"Oke jam 7. " ucap Evan memastikan kembali.
Ava beranjak keluar dari dalam kelas Evan. Sesekali Ava menoleh kebelakang hanya untuk melihat Evan kembali.
Ava terlihat sangat menggemaskan. Semua orang yang melihatnya juga pasti akan segera sadar, kalau saat ini gadis itu sedang jatuh cinta.
Lalu Evan? Apa Evan peka terhadap Ava?
Jawabannya, tentu saja Evan peka. Bagaimanapun juga Evan tidak buta untuk melihat cinta Ava terhadap dirinya.
Hanya saja Evan tidak mau terburu - buru kali ini.
Mungkin saja benar, kalau dirinya dan Regi tidak berjodoh saat ini.
Mungkin benar yang dikatakan Darren kalau Regi saat ini sudah punya kekasih lain.
Dan Mungkin benar, jika Regi telah membuangnya beserta perasaan Evan, ketika terakhir kali mereka bekomunikasi lewat telfon genggam mereka masing - masing.
Namun bagi Evan, ini tidak semudah itu. Cintanya tidak mudah hilang begitu saja lalu dapat digantikan dengan cinta yang lain.
Karena Evan merasa sudah terlalu dalam mencintai Regi.
***
Sesuai janji Evan datang tepat pukul 7 di theater.
Sementara ketika Evan datang, Ava suda disana. Berdiri disisi pintu masuk theater, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri perlahan.
Ava belum melihat kedatangan Evan.
Melihat hal itu, membuat Evan merasa sedikit tergelitik.
Entah kenapa kejadian ini jadi mengingatkan Evan pada kenangannya bersama Regi.
Saat itu Regi sedang berada di parkiran motor. Ia menunggu Evan yang belum kunjung datang menghampirinya.
Regi berusaha menghubungi Evan, namun Evan tidak menjawab.
Evan sesekali suka sekali menjahili Regi, hanya untuk melihat wajahnya yang cemberut, tapi sangat menggemaskan.
Apalagi kalau Regi sudah mengomel dan berteriak padanya, bukannya sakit karena dipukuli oleh Regi, Evan justru terkekeh karenanya.
Regi yang begitu menggemaskan dimata Evan.
Tapi~ ... kejadian menyenangkan itu, kini hanya sepenggal cerita menjadi duri sakit di dalam lubuk hati Evan.
Yang entah sampai kapan, duri itu akan terus menancap.
"Ava..."
Ava menoleh ketika namanya dipanggil.
Suara khas Evan seketika menenangkan hatinya yang sempat khawatir, takut jika Evan berubah pikiran dan tidak jadi datang.
"Akhirnya kamu datang,..."
"Apa aku telat? Kamu sudah menunggu lama ya?"
Ava menggeleng samar dengan senyum manis ciri khasnya.
Dan senyuman Ava semakin menggembang, ketika melihat Evan yang begitu ia idamkan berdiri disampingnya.
"Kenapa masih berdiri disana? ayo..."
Ava terkesiap dari lamunannya. Ava tidak menyadari kalau Evan sudah berjalan mendahuluinya beberapa langkah.
"Eh?..."
Deg!
Tiba - tiba saja Evan membuat Ava berdebar. Tiba - tiba Evan menggenggam tangan Ava dan menariknya pelan mengikuti langkahnya masuk kedalam theater.
"Ya Tuhan, apa yang paling membahagiakan dari ini?" ucap Ava dalam hati
Ava begitu bahagia, ketika merasa cintanya mulai disambut baik oleh Evan.
Ava merasa bersyukur untuk hal ini.
Tidak salah pikir Ava menyukai Evan, dan mau sedikit bersabar menghadapinya.
Evan tau bagaimana caranya menghargai suatu perasaan.
...
Selama menontin bioskop, Ava sama sekali tidak fokus menonton filmnya. Ava justru lebih sering mencuri kesempatan untuk bisa melihat wajah Evan lebih dekat.
Sambil meminum sodanya melalui sedotan, Ava sering kali menoleh melihat Evan, membuat Evan yang sedang fokus menonton jadi peka dan ikut menoleh melihat Ava.
Dan ketika pandangan mereka bertemu,
Evan hanya tersenyum menenangkan.
Dimata Ava, Evan seakan memberikan jawaban, kalau kini Evan adalah miliknya.
Entah keberanian apa yang merasuki perasaan dan logika Ava, sehingga Ava berani membaringkan kepalanya diatas bahu Evan.
Evan terkejut ketika Ava melakukannya. Namun Evan tidak bisa menolaknya, Evan justru membiarkan Ava melakukan apa yang ingin dirinya lakukan.
Evan pun kembali fokus menonton filmnya. Sementara Ava, ia terlalu bahagia, sampai - sampai tenggelam dalam kebahagiannya sendiri.
***
22.00 p.m
Evan mengantarkan Ava sampai didepan Dormnya.
"Terima kasih ya atas hari ini, menyenangkan sekali." ucap Evan.
"Aku juga sangat bahagia." ucap Ava merona.
"Lain kali Aku yang akan mentraktirmu nonton hhe~ "
"Akan aku tunggu." ucap Ava manis.
"Oke, kalau begitu selamat malam, selamat istirahat. Sampai besok"
Evan memutar balik tubuhnya, bersiap kembali menuju dorm-nya.
"Evan tunggu!" ucap Ava
Mendengar panggilan Ava, sontak Evan kembali menoleh kebelakang.
"Ya A—..."
Cup~
Belum sempat Evan menyelesaikan kalimatnya, sebuah kecupan kecil nan manis berhasil mendarat di bibir Evan.
Yup! Ava tiba - tiba saja menciun Evan tepat di bibirnya.
"Selamat malam, " ucap Ava tersipu malu.
Walau malam hari, tapi Evan bisa melihat dengan jelas wajah Ava yang memerah setelah mengecup bibirnya.
Evan bergeming. Jujur saja ini terlalu cepat bagi Evan. Evan tidak tau harus bersikap bagaimana.
"Ke-kenapa tiba - tiba saja menciumku?"
"Um~ anggap saja itu hadiah kecil dariku untukmu."
"Apa hadiah?"
Ava mengangguk samar.
"Aku gak bisa bohong terlalu lama lagi, dan lagi pula aku juga yakin kamu tau bagaimana sebenarnya perasaan aku ke kamu"
"Ta—tapi..."
"Aku tau, dan kamu gak usah jawab sekarang. Aku sudah katakan, anggap saja sebagai hadiah kecil. Tidak perlu kamu kenang jika kamu tidak menyukainya."
"Tapi bagaimana bisa?"
"Eh?"
"Kamu sudah melakukannya, sekarang biarkan aku yang membalasnya..."
"E-evan..."
Evan dengan cepat menarik lengan Ava, lalu meraih pinggang Ava, dan merapatkan pada tubuhnya.
Cup~...
Evan dengan ketepatannya yang akurat. Berhasil mencium bibir Ava dengan satu kali hentakan.
Ciuman yang hangat dan bergairah.
Ava bisa merasakan gejolak darahnya yang berdesir tanpa bisa Ava kendalikan.
Cukup lama, dalam hitungan detik mereka berciuman seolah melepas kerinduan yang sudah lama dipendam.
— TO BE CONTINUED —