
" Tidak sendiri? Apa maksud paman? Evan sudah tidak disini. Aku tidak mungkin memintanya kembali "
" Evan mungkin sudah pergi. Tapi aku masih disini. Aku akan bersamamu Regi "
" A—apa maksud paman? "
" Kita menikah saja! "
" Apa? "
" Iya sebaiknya kita menikah saja! "
Regi terperangah. Otaknya seakan membeku dan seakan berhenti berfikir.
Menikah? Menikah dengan paman?
Sekelumit pertanyaan dan perasaan rumit itu tiba - tiba Regi rasakan.
" Gak paman. Aku menolaknya! "
" Pikirkanlah Regi, kehidupanmu mulai detik ini tidak akan sama lagi. Karena kamu gak akan hidup sendiri, akan ada bayi yang membutuhkan ibunya "
Regi terdiam mencerna apa yang Samuel katakan.
Pernikahan bukan lah sesuatu yang bisa dengan mudah diputuskan. Apalagi pernikahan itu tidak berlandaskan cinta.
Jika pernikahan ini terjadi, ini bukanlah pernikahan yang dipaksa namun akan menjadi pernikahan yang terpaksa.
" Aku tidak akan memaksamu, tapi pikirkanlah tawaranku ini... "
Regi menggeleng. Regi terdiam dalam kebingungannya.
" Minumlah tehnya, sebelum dingin. Ini ada bubur makanlah. Aku tau kamu pasti belum makan "
Hidung Regi memerah, matanya juga sudah berkaca - kaca kembali. Regi seakan sedang menahan untuk tidak menangis.
" Bayimu tidak bersalah, kamu gak berhak merenggut kehidupannya, bahkan sebelum dia dilahirkan "
" Aku bisa apa paman? ini salahku. Aku tau bayi ini tidak bersalah, tapi bagaimana bisa aku menghadapinya... "
" Jika kamu tidak mau memberi tau Evan tetang semuanya, sebaiknya pikirkan kembali tawaranku. Anggaplah aku membantumu "
" Apa maksud paman membantuku, Kita tidak bisa menikah begitu saja. Aku... aku tidak bisa "
" Aku menikahimu bukan untuk membuatmu menjadi istriku... "
" Apa? "
" Pernikahan ini mungkin bukanlah pernikahan yang kamu inginkan. Tapi aku harap melalui pernikahan ini bisa menjadi jalan keluar agar... "
" Apa paman sedang mencoba menyelamatkanku? "
Samuel menatap lekat Regi, begitupun Regi yang menatap lekat Samuel dengan berurai airmata.
" Apa paman sedang berusaha menyelamatkan kehormatanku? "
Samuel diam tidak menjawab. Samuel tidak mau membuat Regi merasa rendah apa lagi merasa tersinggung.
" Ku mohon kamu jangan salah sangka, ini semua kulakukan kerena aku merasa... "
" Paman kasihan padaku? "
Samuel kembali kehabisan kata - kata. Walau memang benar Samuel merasa kasihan dan iba, tapi keputusannya untuk menikahi Regi tidak hanya berdasarkan hal itu.
" Hhh... " Regi tersenyum miring " Aku memang gak berguna... "
" Kalau kamu mau menangis, menangislah Re. Menangislah sampai kamu merasa lelah. Tapi kumohon jangan melakukan atau hanya berfikir nekat seperti tadi "
" Maafkan aku paman... "
" Bisakah aku menikahimu? "
" Apa? "
" Aku ingin menikahimu, agar aku bisa memastikan kamu baik - baik saja, dan melindungimu juga bayi didalam kandunganmu? "
" Kenapa paman melakukan semua ini? "
" Pertanyaannya, kenapa aku tidak bisa melakukannya? Aku hanya merasa dan ingin melindungimu, karena kamu memang pantas mendapatkannya. Kamu anak yang baik Re, dan aku tau kamu pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk anakmu "
" Pa—paman... "
" Pikirkanlah, kamu pasti tau mana yang baik untukmu dan bayimu "
Samuel menepuk bahu Regi sembari berlalu berjalan.
Namun langkah Samuel berhenti. Matanya terbelalak melihat seseorang.
Bukan! Bukan seseorang, melainkan 3 orang tengah berdiri menatapnya.
Tampak jelas dimata Samuel ketiga orang yang tengah menatapnya, kini sedang menahan emosi.
Regi yang merasa aneh dengan sikap Samuel yang tiba - tiba bergeming disampingnya, membuat Regi ikut menoleh.
Awalnya Regi menoleh hanya melihat Samuel, lalu Regi menoleh kearah yang sama tempat Samuel menatap.
Regi terperanjat kaget. Regi segera berdiri dan menyingkirkan kasar kursi yang sedang ia duduki.
" Ibu... " ucap Regi gemetar
Dari balik ruangan gelap, perlahan Ibu, ayah serta kakaknya Regi maju perlahan mendekati Regi.
Regi menelan salivanya berat. Rasa takut menjalar kesulur urat nadi Regi. Bagaimana caranya ia menghadapi semua ini? Regi merasa belum siap.
Namun tiba - tiba saja Samuel menggenggam tangan Regi erat. Regi tersentak. Samuel menggenggam tangan Regi begitu erat sampai Regi tidak mampu menggerakan tangannya.
Apa yang Samuel lakukan menarik atensi Jeje, kakak laki - laki Regi.
" Apa yang paman lakukan? Kenapa paman ada disini malam - malam? Apa yang kalian lakukan? "
" Kakak... "
" Samuel, ada apa ini? " tanya Wilson, ayah Regi
" Um~ ... " Samuel bingung bagaimana atau dari mana ia harus menjelaskannya terlebih dahulu.
" Regi, ada apa ini nak? Kenapa Samuel mengatakan kamu akan menjadi seorang ibu? " bingung Natalia, Ibunda Regi.
" Apa yang telah kau lakukan hah?! Apa yang telah kau perbuat pada adikku! Jawab!! "
Jeje menarik Samuel, seakan bersiap memukulnya.
" Hentikan Kak! Ini bukan salah Samuel " pekik Regi, berucap sebelum Jeje benar - benar meninju Samuel.
" Salah? Apa yang salah Regi? " Tanya Natalia kembali.
Bibir Regi bergetar ketika ingin berbicara.
" Bu... " ucap Regi menahan tangis
Samuel, Jeje dan Wilson sontak ikut menatap Regi.
" Bu Regi... "
Regi mengepalkan tangannya, wajahnya tertunduk dengan air mata yang menetes, walau sudah sekuat tenaga Regi menahannya.
" Regi sekarang tengah mengandung, usia janin Regi sekarang 4 minggu "
" Apa?! Apa yang baun saja kamu katakan nak? "
" Apa Re?!! " kaget Jeje
" Ya Tuhan... " sesal Wilson
" Regi hamil bu... " ucap Regi terisak
Natalia tiba - tiba saja merasa lemas, pandangannya terasa kabur. Natalia terjatuh.
Namun sebelum Natalia benar - benar jatuh, Jeje, Wilson dan Samuel dengan cepat bergerak menahannya, sehingga Natalia tidak benar - benar sampai terjatuh ke lantai.
" Tolong bawa ibu duduk " ucap Natalia lirih pada Jeje yang berhasil menangkap Natalia terlebih dahulu.
Jeje menggendong Natalia menuju sofa bersama Wilson.
" Bagaimana sekarang paman? "
" Hadapi saja, kamu jangan khawatir aku bersamamu Regi "
...
Samuel dan Regi menyusul yang lainnya ke ruang tengah, dimana Natalia tengah berbaring.
" Ibu... " Regi menghampiri Natalia
" Regi, siapa ayahnya? "
" ... " Regi menunduk.
" Katakan Nak, apa Samuel ayah dari bayi yang sedang kamu kandung? "
" Benarkah itu kau?! " geram Jeje " Beraninya kau! "
Jeje sudah bersiap untuk menghajar Samuel, namun Samuel hanya berdiri terdiam.
Untung saja Wilson berhasil menghalangi Jeje, sehingga Jeje tidak sampai bisa memukul Samuel.
" Hentikan Je! Kita harus dengar dulu penjelasan Regi! " bentak Wilson
" Tapi ayah! dia... "
" Ini bukan karena paman, bu... paman tidak ada hubungannya dengan ini "
" Apa? kalau bukan Samuel, lalu siapa Re?! kalau bukan dia kenapa dia memintamu berfikir? "
" Paman hanya mau membantuku " ucap Regi lirih.
" Regi sayang, sebenarnya apa yang terjadi? Ibu mohon katakan pada ibu... "
...
Regi duduk dengan tertunduk, sementara yang lainnya menyoroti Regi kecuali Samuel yang memang Samuel telah tau semuanya.
" Jadi siapa ayahnya? " tanya Regi.
" Aku tidak bisa mengatakannya saat ini "
" Regi sayang, kalau kamu gak mengatakan yang sebenarnya bagaimana bisa kita semua tau " ucap Natalia pelan.
" Aku tidak bisa mengatakannya bu, setidaknya sekarang "
" Kenapa kamu keras kepala Re? " kesal Jeje.
" Kalau kakak sudah tau, lalu apa? Kakak mau membunuhnya? "
" Setidaknya, kita bisa memintanya bertanggung jawab " —Wilson.
Regi menggelengkan kepalanya pelan.
" Sam, apa kamu tau sesuatu? " tanya Natalia.
Samuel hanya menggeleng pelan. Samuel terpaksa berbohong pada semuanya, karena Samuel merasa Regi juga berbohong untuk suatu alasan.
" Lalu, jika kamu gak tau apa yang terjadi, sedang apa kamu malam - malam disini bersama Regi Sam? " tanya Wilson.
Samuel terdiam sesaat.
" Ayah, paman disini, dia... " ucap Regi.
" Aku kesini untuk Regi " sela Samuel.
" Apa? " ucap Jeje dengan nada tinggi.
" Aku ingin menikahinya " ucap Samuel sedikit berat mengatakannya.
Kini semua orang menyoroti Samuel, seakan Samuel lah penjahatnya.
Samuel menarik nafas dalam, ketika itu Samuel sadar. Apa yang telah ia ucapkan tidak bisa ia tarik kembali.
Ini merupakan keputusan kedua terbesar dalam hidupnya.
*** TO BE CONTINUED ***