IF I STAY

IF I STAY
CHAPTER 23




" Paman... " ucap Regi sambil menengok kearah pintu.


" Eh paman " Jessie dan Kayla sontak saja berdiri lalu membungkuk sedikit untuk memberi hormat


" Hha~ kalian apa kabar? "


" Paman apa kabar? " tanya Jessie


" Aku baik, rasanya sudah lama sekali gak bertemu kalian~ " —Samuel tersenyum renyah


" Iya, padahal dulu 3 tahun selalu bertemu ya paman di sekolah, " celoteh Kayla begitu saja


" Eh Kay!! " kesal Jessie pelan, sekalian menyikut pinggang Kayla pelan.


" Eh maaf, maksud Kay... "


" Tidak apa - apa~ " seru Samuel


" Terakhir aku bertemu paman saat acara pernikahan " ucap Jessie mencoba lebih mengakrabkan diri


" Oh iya benar. Oh ya kata Regi kalian akan menginap? " tanya Samuel, sambil mengeluarkan satu persatu belanjaannya dari dalam kantung plastik


" Paman beli apa? " tanya Regi


Samuel menoleh, kini atensinya kembali pada Regi


" Ini minumlah, aku membeli ini "


Samuel memberikan susu khusus ibu hamil dalam kemasan kotak kecil. Regi menerima dengan baik pemberian Samuel. Lalu meminumnya dengan perlahan


" Bagaimana? apa rasanya enak? atau sama saja dengan susu yang kemarin? " tanya Samuel sedikit cemas


" Yang ini enak paman, rasanya tidak buat mual " jawab Regi


" Oh syukurlah~ kalau begitu aku akan membelikan lebih banyak untukmu... "


Samuel mengusap pelan pucuk kepala Regi.


" Ekhemm~ mesra -uhuk!- nya " ucap Jessie dengan senyum - senyum kecil


Samuel dan Regi menoleh bersamaan melihat Jessie yang berpura - pura tidak menyadari kalau dia tidak sadar sedang ditatap oleh Regi dan Samuel.


Lalu dengan cepat Regi dan Samuel kembali saling menatap dengan canggung


" Eh? Um~ aku berangkat sekarang saja ya " ucap Samuel sambil tersenyum canggung. Bahkan Samuel sampai menggaruk tengkuknya, padahal tidak gatal sama sekali. Samuel menahan rasa malu


" I-iya paman... "


Samuel segera keluar kembali dari dalam ruang inap. Jantungnya berdegup kencang bahkan rasanya mau melompat keluar.


" Aih~ senangnya yang sudah menikah " ucap Jessie menggoda Regi


" Iya ih~ Regi buat iri saja. Paman baik sekali, dia sangat memperhatikanmu "


" Benar, aku juga setuju. Paman pria yang sangat baik, kau beruntung Re... "


" Kalian, kenapa membuatnya jadi merasa malu begitu? " ucap Regi seakan merengut


Jessie dan Kayla terkekeh. Begitupun dengan Regi yang akhirnya ikut tertawa bersama mereka.


***


18.09 pm


[[ Video Call Mode 📲 ]]


Darren : Selamat Ulang Tahun!


Darren : Woah gak kerasa udah 19 tahun aja Van


Darren : Kalau kau disini, sudah pasti malam ini kita makan bersama sambil minum soju


Evan : Ulang Tahunku kan masih besok Darren!


Darren : Benarkah?


Evan : Haish!


Darren : Hahaha sorry bro~


Evan : By the way~ Kau mau kemana?


Evan : Kayaknya repot banget?


Darren : Oh ini, aku mau pergi


Darren : Mau nyusul Kayla sama Jessie


Evan : Memangnya mereka kemana?


Darren : Mereka lagi dirumah sakit


Darren : Jenguk Regi


Evan : Apa?!! Regi sakit?!


Darren : Eh? um... itu...


Evan : Apanya yang itu hah?!


Evan : Kau pasti kelepasan bicara kan!


Darren : Van, bisa gak kalau kau pura - pura gak denger


Darren : Kalau Kayla atau Jessie tau, aku keceplosan begini


Darren : Mereka pasti akan membunuhku


Evan : Apa?


Evan : Kenapa?


Evan : Kenapa mereka mau membunuhmu?


Evan : Kalian kenapa begini?


Evan : Kenapa ketika aku pergi,


Evan : Kalian seakan - akan seperti menjauhiku hah?!


Darren : Bukannya begitu


Evan : Apanya yang bukan begitu?!


Darren : Kau gak paham Van


Darren : Aku juga sulit bicara ini


Evan : Kalian menyembunyikan apa hah?


Darren : Gak ada Van, gak ada yang disembunyiin


Evan : Kau pikir aku bisa percaya hah?


Darren : Haish


Evan : Kalian sengaja menyembunyikan sesuatu, dan aku tau


Evan : Kalau kau gak mau kasih tau


Evan : Akan aku cari tau hal itu sendiri


Darren : Tapi Van


Evan : Dan mulai saat ini kita putus hubungan


Evan : Kau bukan sahabat apalagi saudara bagiku lagi Darren!


Darren : Masa semudah itu bilang gak ada hubungan!


Evan : Sahabat macam apa yang menipu sahabatnya, hah?!


Darren : Siapa yang menipumu hah?!


Darren : Kau juga pasti akan menyesal kalau mendengar kenyataannya!


Evan : Apa?!


Evan : Kenyataan apa yang membuat aku menyesal?


Darren : Um itu...


Evan : Apa?


Darren : Regi berkencan


Evan : Eh?


Darren : Haish! aku kan sudah bilang


Darren : Lupain aja Regi


Evan : Apa maksudmu bilang begitu


Evan : Regi berkencan?


Evan : Sama siapa?


Darren : Um itu...


Evan : Apa dia masih bersama paman?


Darren : Eh?


Evan : Benarkah dia masih bersama paman?!


Darren : Sudahlah gak usah dibahas lagi


Darren : Kalian kan sudah putus


Darren : Ya sudah putus saja


Darren : Regi sudah bisa move on sekarang


Darren : Kau kapan?


Evan : Regi move on?


Evan : Oh yang benar saja!


Evan : Regi sangat mencintaiku


Evan : Dan kau juga tau itu!


Darren : Terserahlah


Darren : Kini hubunganku dan Kayla yang akan terancam


Darren : Nanti ku hubungi kau lagi


Darren : Sampai nanti


***


Jerman


Evan terduduk lemas dilantai. Tangannya masih menggenggam erat ponselnya.


" Yang benar saja! Bagaimana bisa Regi melakukan semua ini. Bahkan ketika aku pergi! " ucap Evan dalam hati


Evan memejamkan matanya. Didalamnya bergejolak rasa marah, kesal, kecewa dan sesal.


Evan kembali menyalakan ponselnya. Evan memeriksa kembali history terakhir dari chatnya dan Regi


" Keterlaluan! Ternyata masih di blokir! si*l " umpat Evan kesal


***


Di rumah sakit


" Katanya, Darren sebentar lagi sampai. Dia masih di kereta " ucap Kayla, walau atensinya masih pada layar ponselnya.


" Darren mau kesini? " tanya Regi


" Iya, katanya kampusnya libur 3 hari. Jadi dia mau pulang menemuiku " ucap Kayla datar


" Hoo~ senangnya yang mau dijenguk pacar " ucap Regi terkekeh


" Senang apanya? Pacaran sama Darren dari SMA itu rasanya gak banget. Darren tuh gak punya pendirian "


" Kay, harusnya kamu bersyukur. Darren itu setia loh orangnya, walau kadang suka nyebelin! " ucap Jessie datar


" Setuju, Darren itu sayang kamu banget Kay~ "


" Iya, aku juga tau itu. Makanya aku gak mau putus sama dia. Susah cari cowok yang mau ngertiin aku yang suka lemot ini "


" Ho~ kamu sadar Kay? " kaget Jessie


" Wah hebat! " —Regi


" Oh ya Re~ kamu ingat gak besok hari apa " tanya Kayla


" Eh? " —Regi


" Astaga Kay! penting banget bahas itu sekarang?! "


" Aku gak lupa, besok Hari ulang tahun Evan kan? "


" Harus banget dibahas ya? " gerutu Jessie


" Jess, Regi juga perlu tau kalau Ev— "


" Kay cukup ya! " gertak Jessie


" Evan kenapa Kay? "


" Udah lah gak usah bahas dia " —Jessie


" Evan itu masih terus tanyain kamu ke Darren. Semenjak kamu blokir nomernya dia, sementara aku dan Jessie gak mau jawab chatnya dia, dia selalu menghubungi Darren dan menekannya... "


" Benarkah? "


" Re gak usah dipikirin, " —Jessie


" Darren kadang mungkin merasa begitu tertekan. Evan sahabat kita, tapi kita harus merahasiakan semua ini darinya "


" Kamu tau kan, aku gak mungkin cerita yang sebenarnya sama Evan " —Regi


" Aku tau... " —Kayla


" Sebenarnya aku juga kasihan sama Darren, dia sering merasa terpojok dengan semua ini. Tapi aku juga gak mau kalau Darren sampai bicara yang sebenarnya ke Evan " —Regi


" Aku juga merasa bersalah padanya, Kadang aku merasa karena aku keras pada Darren, Kay~ jadi harus ikut keras pada Darren " —Jessie


" Itu gak benar! aku juga gak mau kalau Darren sampai bicara jujur dengan Evan. Kamu jangan merasa bersalah Jess~ " —Kayla


" Ini semua karena ku. Kalian jadi harus membohongi Evan " —Regi


" Jangan bilang gitu Re... " —Kayla


" Bukan kamu yang salah, tapi Evan! Dia bersalah sudah membuatmu menderita seperti ini "


Regi tertunduk, sementara Kayla dan Jessie merangkul Regi, untuk saling menguatkan.


*** TO BE CONTINUED ***