
" Paman... " ucap Regi sambil menengok kearah pintu.
" Eh paman " Jessie dan Kayla sontak saja berdiri lalu membungkuk sedikit untuk memberi hormat
" Hha~ kalian apa kabar? "
" Paman apa kabar? " tanya Jessie
" Aku baik, rasanya sudah lama sekali gak bertemu kalian~ " —Samuel tersenyum renyah
" Iya, padahal dulu 3 tahun selalu bertemu ya paman di sekolah, " celoteh Kayla begitu saja
" Eh Kay!! " kesal Jessie pelan, sekalian menyikut pinggang Kayla pelan.
" Eh maaf, maksud Kay... "
" Tidak apa - apa~ " seru Samuel
" Terakhir aku bertemu paman saat acara pernikahan " ucap Jessie mencoba lebih mengakrabkan diri
" Oh iya benar. Oh ya kata Regi kalian akan menginap? " tanya Samuel, sambil mengeluarkan satu persatu belanjaannya dari dalam kantung plastik
" Paman beli apa? " tanya Regi
Samuel menoleh, kini atensinya kembali pada Regi
" Ini minumlah, aku membeli ini "
Samuel memberikan susu khusus ibu hamil dalam kemasan kotak kecil. Regi menerima dengan baik pemberian Samuel. Lalu meminumnya dengan perlahan
" Bagaimana? apa rasanya enak? atau sama saja dengan susu yang kemarin? " tanya Samuel sedikit cemas
" Yang ini enak paman, rasanya tidak buat mual " jawab Regi
" Oh syukurlah~ kalau begitu aku akan membelikan lebih banyak untukmu... "
Samuel mengusap pelan pucuk kepala Regi.
" Ekhemm~ mesra -uhuk!- nya " ucap Jessie dengan senyum - senyum kecil
Samuel dan Regi menoleh bersamaan melihat Jessie yang berpura - pura tidak menyadari kalau dia tidak sadar sedang ditatap oleh Regi dan Samuel.
Lalu dengan cepat Regi dan Samuel kembali saling menatap dengan canggung
" Eh? Um~ aku berangkat sekarang saja ya " ucap Samuel sambil tersenyum canggung. Bahkan Samuel sampai menggaruk tengkuknya, padahal tidak gatal sama sekali. Samuel menahan rasa malu
" I-iya paman... "
Samuel segera keluar kembali dari dalam ruang inap. Jantungnya berdegup kencang bahkan rasanya mau melompat keluar.
" Aih~ senangnya yang sudah menikah " ucap Jessie menggoda Regi
" Iya ih~ Regi buat iri saja. Paman baik sekali, dia sangat memperhatikanmu "
" Benar, aku juga setuju. Paman pria yang sangat baik, kau beruntung Re... "
" Kalian, kenapa membuatnya jadi merasa malu begitu? " ucap Regi seakan merengut
Jessie dan Kayla terkekeh. Begitupun dengan Regi yang akhirnya ikut tertawa bersama mereka.
***
18.09 pm
[[ Video Call Mode 📲 ]]
Darren : Selamat Ulang Tahun!
Darren : Woah gak kerasa udah 19 tahun aja Van
Darren : Kalau kau disini, sudah pasti malam ini kita makan bersama sambil minum soju
Evan : Ulang Tahunku kan masih besok Darren!
Darren : Benarkah?
Evan : Haish!
Darren : Hahaha sorry bro~
Evan : By the way~ Kau mau kemana?
Evan : Kayaknya repot banget?
Darren : Oh ini, aku mau pergi
Darren : Mau nyusul Kayla sama Jessie
Evan : Memangnya mereka kemana?
Darren : Mereka lagi dirumah sakit
Darren : Jenguk Regi
Evan : Apa?!! Regi sakit?!
Darren : Eh? um... itu...
Evan : Apanya yang itu hah?!
Evan : Kau pasti kelepasan bicara kan!
Darren : Van, bisa gak kalau kau pura - pura gak denger
Darren : Kalau Kayla atau Jessie tau, aku keceplosan begini
Darren : Mereka pasti akan membunuhku
Evan : Apa?
Evan : Kenapa?
Evan : Kenapa mereka mau membunuhmu?
Evan : Kalian kenapa begini?
Evan : Kenapa ketika aku pergi,
Evan : Kalian seakan - akan seperti menjauhiku hah?!
Darren : Bukannya begitu
Evan : Apanya yang bukan begitu?!
Darren : Kau gak paham Van
Darren : Aku juga sulit bicara ini
Evan : Kalian menyembunyikan apa hah?
Darren : Gak ada Van, gak ada yang disembunyiin
Evan : Kau pikir aku bisa percaya hah?
Darren : Haish
Evan : Kalian sengaja menyembunyikan sesuatu, dan aku tau
Evan : Kalau kau gak mau kasih tau
Evan : Akan aku cari tau hal itu sendiri
Darren : Tapi Van
Evan : Dan mulai saat ini kita putus hubungan
Evan : Kau bukan sahabat apalagi saudara bagiku lagi Darren!
Darren : Masa semudah itu bilang gak ada hubungan!
Evan : Sahabat macam apa yang menipu sahabatnya, hah?!
Darren : Siapa yang menipumu hah?!
Darren : Kau juga pasti akan menyesal kalau mendengar kenyataannya!
Evan : Apa?!
Evan : Kenyataan apa yang membuat aku menyesal?
Darren : Um itu...
Evan : Apa?
Darren : Regi berkencan
Evan : Eh?
Darren : Haish! aku kan sudah bilang
Darren : Lupain aja Regi
Evan : Apa maksudmu bilang begitu
Evan : Regi berkencan?
Evan : Sama siapa?
Darren : Um itu...
Evan : Apa dia masih bersama paman?
Darren : Eh?
Evan : Benarkah dia masih bersama paman?!
Darren : Sudahlah gak usah dibahas lagi
Darren : Kalian kan sudah putus
Darren : Ya sudah putus saja
Darren : Regi sudah bisa move on sekarang
Darren : Kau kapan?
Evan : Regi move on?
Evan : Oh yang benar saja!
Evan : Regi sangat mencintaiku
Evan : Dan kau juga tau itu!
Darren : Terserahlah
Darren : Kini hubunganku dan Kayla yang akan terancam
Darren : Nanti ku hubungi kau lagi
Darren : Sampai nanti
***
Jerman
Evan terduduk lemas dilantai. Tangannya masih menggenggam erat ponselnya.
" Yang benar saja! Bagaimana bisa Regi melakukan semua ini. Bahkan ketika aku pergi! " ucap Evan dalam hati
Evan memejamkan matanya. Didalamnya bergejolak rasa marah, kesal, kecewa dan sesal.
Evan kembali menyalakan ponselnya. Evan memeriksa kembali history terakhir dari chatnya dan Regi
" Keterlaluan! Ternyata masih di blokir! si*l " umpat Evan kesal
***
Di rumah sakit
" Katanya, Darren sebentar lagi sampai. Dia masih di kereta " ucap Kayla, walau atensinya masih pada layar ponselnya.
" Darren mau kesini? " tanya Regi
" Iya, katanya kampusnya libur 3 hari. Jadi dia mau pulang menemuiku " ucap Kayla datar
" Hoo~ senangnya yang mau dijenguk pacar " ucap Regi terkekeh
" Senang apanya? Pacaran sama Darren dari SMA itu rasanya gak banget. Darren tuh gak punya pendirian "
" Kay, harusnya kamu bersyukur. Darren itu setia loh orangnya, walau kadang suka nyebelin! " ucap Jessie datar
" Setuju, Darren itu sayang kamu banget Kay~ "
" Iya, aku juga tau itu. Makanya aku gak mau putus sama dia. Susah cari cowok yang mau ngertiin aku yang suka lemot ini "
" Ho~ kamu sadar Kay? " kaget Jessie
" Wah hebat! " —Regi
" Oh ya Re~ kamu ingat gak besok hari apa " tanya Kayla
" Eh? " —Regi
" Astaga Kay! penting banget bahas itu sekarang?! "
" Aku gak lupa, besok Hari ulang tahun Evan kan? "
" Harus banget dibahas ya? " gerutu Jessie
" Jess, Regi juga perlu tau kalau Ev— "
" Kay cukup ya! " gertak Jessie
" Evan kenapa Kay? "
" Udah lah gak usah bahas dia " —Jessie
" Evan itu masih terus tanyain kamu ke Darren. Semenjak kamu blokir nomernya dia, sementara aku dan Jessie gak mau jawab chatnya dia, dia selalu menghubungi Darren dan menekannya... "
" Benarkah? "
" Re gak usah dipikirin, " —Jessie
" Darren kadang mungkin merasa begitu tertekan. Evan sahabat kita, tapi kita harus merahasiakan semua ini darinya "
" Kamu tau kan, aku gak mungkin cerita yang sebenarnya sama Evan " —Regi
" Aku tau... " —Kayla
" Sebenarnya aku juga kasihan sama Darren, dia sering merasa terpojok dengan semua ini. Tapi aku juga gak mau kalau Darren sampai bicara yang sebenarnya ke Evan " —Regi
" Aku juga merasa bersalah padanya, Kadang aku merasa karena aku keras pada Darren, Kay~ jadi harus ikut keras pada Darren " —Jessie
" Itu gak benar! aku juga gak mau kalau Darren sampai bicara jujur dengan Evan. Kamu jangan merasa bersalah Jess~ " —Kayla
" Ini semua karena ku. Kalian jadi harus membohongi Evan " —Regi
" Jangan bilang gitu Re... " —Kayla
" Bukan kamu yang salah, tapi Evan! Dia bersalah sudah membuatmu menderita seperti ini "
Regi tertunduk, sementara Kayla dan Jessie merangkul Regi, untuk saling menguatkan.
*** TO BE CONTINUED ***