ICE & FIRE IMMORTALITY

ICE & FIRE IMMORTALITY
TEKA-TEKI TAK TERPECAH



“Sudah dipastikan, tak ada satu pun keturunan Pangeran Yongping yang selamat pada masa itu,”cetus Baginda raja.


“Kalau begitu … siapa sosok bintang misterius yang juga seorang keturunan kerajaan?” Peramal itu tak berhenti memikirkan tentang sosok bintang yang hampir menyeimbangi cahaya milik Putra Mahkota.


Baginda raja hanya termenung, seraya menatap satu bintang yang tengah mereka bahas saat ini.


“Siapa pun dia, aku merasa bahwa dia adalah pertanda buruk. Jika kita berhasil menemukannya, akan kupastikan tidak akan membiarkannya menghancurkan silsilah keluarga kerajaan,” cetus Baginda Raja. “Kalau begitu, aku akan kembali. Terimakasih karena kau telah memberitahuku kabar ini. Hal bagus mengetahuinya sebelum semuanya terlambat,” ujarnya.


“Yang Mulia tidak perlu berterimakasih. Sudah seharusnya saya melakukannya untuk melindungi keluarga kekaisaran,” balas sang peramal bintang itu.


Baginda Raja pun berlalu meninggalkan menara pemantau, untuk kembali ke istananya. Setibanya di Istana, ia pun lekas mengurus urusan Negara, seperti yang biasa dilakukannya. Akan tetapi, pikiran gundah gulan yang merajai pikirannya, membuatnya tak fokus seperti biasanya.


Kemudian, ia pun memutuskan untuk menutup dokumen dan menghentikan kegiatannya. Baginda raja bangkit dari tempatnya, lalu berjalan keluar kamarnya. Ia berdiri di depan balkon, sembari menatap langit jingga.


“Yang Mulia, apa yang anda lakukan di sini? Yang Mulia, anda bisa masuk angin.” Dari sampingnya, tampak seorang kasim/ penasihatnya yang datang untuk mengomeli Baginda Raja yang berdiri di luar, ketika angin pada sore hari itu cukup kencang.


Reflek, Baginda Raja menoleh ke arah sumber suara dan mendapati kasim pribadinya datang, dengan membawakan jubah hangan di tangannya. Kemudian kasim itu pun, menyelimuti tubuh Baginda Raja dengan jubah itu.


Baginda raja tak mengatakan apa pun. Ia kembali menatap langit sore yang dihiasi mega berwarna jingga kemerahan.


“Yang Mulia, apa ada sesuatu yang mengganggu anda?” tanya sang Kasim.


“Tentu saja ada banyak hal yang menggangguku selama ini. Menjadi seorang penguasa Negara, mengharapkan hidup tenang dan santai, semuanya hanyalah lelucon biasa. Bagaimana aku bisa tenang, ketika aku sadar di luar sana, banyak rakyatku yang kelaparan karena kekeringan melanda,” tutur Baginda raja.


Kasim pun mebisu tak bisa berkata-kata, karena semua yang dikatakan oleh Baginda raja memang benar adanya. Tak ada seorang penguasa yang benar-benar menikmati hidupnya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang biasa yang berkehidupan sederhana.


“Meskipun demikian, anda tetap harus menjaga kesehatan. Jika sesuatu terjadi kepada anda, bagaimana para rakyat bisa hidup lebih tenang, daripada sekadar kelaparan? Yang Mulia, anda adalah seorang Raja yang hebat,” cetus sang Kasim.


“Tentu saja, karena aku juga memiliki kasim yang hebat sepertimu. Kau adalah orang yang membimbingku sejak kecil, hingga aku setua ini. Maaf karena melarangmu pensiun, karena aku masih membutuhkan nasehat dan arahan darimu,” balas Baginda raja.


“Tidak masalah. Jika anda masih sangat membutuhkan saya, saya pastikan untuk tetap mendampingi anda, sampai saya mati,” ucap sang Kasim.


“Jelas-jelas aku tahu apa yang kau cita-citakan. Kau ingin pensiun karena kau ingin menghabiskan masa-masa tuamu bersama dengan keluargamu yang sangat jarang kau temui selama hidup ini. Keegoisanku-lah yang menahanmu di Istana mengerikan ini,” tutur Baginda raja.


“Kalau begitu, aku ingin menanyakan satu hal kepadamu.” Baginda Raja mulai membuka pembicaraan inti yang lebih serius.


“Yang Mulia bisa menanyakan apa saja. Sebisa mugkin, saya akan menjawabnya,” ujar Kasim.


“Menurutmu … bagaimana dengan Putra Mahkota?” tanyanya.


“Putra Mahkota? Anda ingin bertanya tentang kepribadiannya, atau kemampuannya?” tanya Kasim.


“Semuanya. Aku ingin tahu semua pendapatmu tentangnya,” cetus Baginda Raja.


“Saya tidak berani berkomentar tentang Putra Mahkota. Namun, jika anda meminta saya, saya akan mengatakannya dengan jujur, berdasarkan pandangan satu sisi dariku.” Kasim itu pun mulai berkomentar tentang Putra Mahkota. “Mengenai Puta Mahkota, jika dilihat dari sudut pandang soal kemampuan dan kekuatan, dia adalah anak yang cukup hebat dan cepat tanggap dalam belajar. Aalagi ketika pelindung roh dalam dirinya sudah dibuka segelnya, tidak diragukan lagi jika dia pun akan menjadi seorang Master roh terkuat, di samping pelindung spiritualnya adalah seekor naga agung. Namun, kekurangan Putra Mahkota, dia terlalu kejam dan arogan. Sikapnya itu membuat para menteri meragukan Putra Mahkota akan menjadi seorang penguasa yang baik dan bermurah hati kepada rakyatnya,” tutur Kasim panjang kali lebar.


Baginda raja terhening dalam diamnya, sembari mendengarkan pendapat Kasim dengan seksamam. Memang benar, tidak diragukan lagi. Penilaian Kasim Huang memang tidak salah, dan Huang adalah nama kasim itu.


“Tunggu … ada satu hal yang menarik perhatianku. Roh spiritual Naga,” gumam Baginda raja. Ia mulai menyambungkan kecurigaannya terhadap satu hal yang baru saja dia ketahui.


“Apa maksud anda?” timpal Kasim.


“Kasim Huang, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan kepadamu,” ujar Baginda raja.


“Em? Tentang apa itu?” tanyanya.


“Seseuatu yang membuatku merasa terganggu dan membuat hatiku merasa tak tenang,” ujarnya.


“Anda bisa mengungkapkannya juga. Sebisa mungkin, saya akan membantu anda mencari solusi masalahnya,” ucapnya.


“Hal ini masih bersangkutan dengan Putra Mahkota, dan … takdirnya,” ungkap Baginda raja. Kemudian, ia pun melanjutkan pembicaraannya, “Siang tadi, aku pergi ke Menara pengawas perbintangan. Di sana, aku bertermu Ketua Peramal. Dia memberi informasi tentang munculnya satu bintang yang sinarnya mulai menyaingi sinar bintang milik Putra Mahkota. Dari situ, dapat dilihat bahwa bintang asing itu bukanlah bintang biasa. Pemilik bintang itu pastilah seorang keturunan Kaisar. Namun, tidak ada yang bisa memastikan dari mana nasab kekaisarannya berasal, karena selalu ada keganjalan dalam keturunan kaisar. Dan untuk menemukannya, kita harus mencari seorang pemuda yang memiliki roh pelindung seekor naga, karena hanya keturunan kaisar-lah yang memiliki roh pelindung spiritual naga,” jelasnya panjang kali lebar.


Kasim pun tak kalah terkejut, tatkala ia mengetahui bahwa ada seorang keturunan kaisar yang hidupnya tersembunyi. Akan tetapi, untung saja hal itu sudah diketahui lebih awal, lewat menara pengawas perbintangan. Namun Baginda Raja merasa bahwa akan sangat sulit untuk menemukannya. Sekali pun ia menyelidiki roh pelindung, tidak semua orang di Dunia Continent yang berfokus pada kultivasi. Contohnya, banyak para rakyat yang lebih memilih hidup demi keluarga, hanya demi mengisi perut setiap harinya.


“Satu hal yang sangat kuyakini. Pemilik bintang ini, tidak mungkin hanya ingin hidup seperti rakyat biasa. Jika benar begitu, bagaimana mungkin bintang miliknya mulai bersinar terang?”