
“Arrgghh, sakit sekali,” lirih Jia Yun.
“Jia Yun, apa kau baik-baik saja?” Yi Cai bergegas membantu Jia Yun bangkit dari posisinya, seraya menanyakan keadannya.
“Aku baik-baik saja. Yi Cai, kenapa kau tiba-tiba mendorongku?” protes Jia Yun sembari mengelus punggungnya yang terasa nyeri karena membentur permukaan tanah begitu kuat.
“Jia Yun … .” Ucapan Yi Cai menggantung begitu saja tatkala keduanya mendengar tawa lantang seseorang.
“Hahahaha. Bukankah semua ini terasa dramatis?”
Reflek Jia Yun dan Yi Cai menatap ke arah sumber suara. Keduanya tercengan ketika dikejutkan sesuatu yang begitu mengganjal.
“Jia Rong?” gumam Jia Yun.
“Jia Rong? Apa kau yang baru saja berusaha menyerang Jia Yun?” Yi Cai tak ingin berbasa-basi, dan langsung bertanya ke inti permasalahan.
Sebelumnya, baru saja terdengar suara tawa yang begitu lantang. Ternyata, suara tawa tersebut adalah suara tawa Jia Rong. Sosok yang tampak persis seperti Jia Rong itu tampak semakin mencurigakan.
“Bukan Jia Rong. Dia bukan Jia Rong,” tegas Jia Yun.
“Siapa dia? Kenapa dia menyerupai Jia Rong?” gumam Yi Cai.
“Kenapa? Apa kalian terlalu terkesima melihatku dengan penampilan ini? Ah, sayangnya aku tidak terlalu menyukainya. Wajah ini memiliki duplikat. Andai saja ini wajah satu-satunya di dunia, aku pasti akan menyukainya,” cetusnya. Sosok yang sangat mirip dengan Jia Rong itu meracau sendirian.
“Siapa kau? Kenapa kau harus menggunakan wajah itu? Jika kau ingin menipu kami, aku rasa kau tidak berhasil. Kau bukanlah Jia Rong. Di mana dia?!” teriak Jia Yun dengan lantang.
Perkataan Jia Yun sama sekali tak menggugahnya. Sosok itu malah menggaruk-garuk lubang telinganya dengan sengaja, semata untuk meremehkan perkataan Jia Yun.
“Aishh … aku sangat benci orang-orang yang meneriakiku. Kalian berdua, kalian pikir kalian akan selamat, setelah kalian menentangku? Ah, benar. Aku hanya iseng saja menginginkan wajah ini. Aku tahu kalian tidak tertipu, dan hanya berusaha terlihat tertipu. Dan juga, aku sengaja menyuruh kalian berdua berjalan-jalan keluar dan melihat semua ilusi yang kubuat ini. Bukankah menakjubkan? Orang-orang ini terlihat sangat asli. Sungguh penduduk desa yang damai dan makmur. Kehidupan yang banyak diinginkan manusia di dunia. Beginilah … kalian lihat sendiri. Mereka terlihat hidup bahagia, aman, dan makmur,” ucapnya sembari menampilkan senyum terbaiknya. Namun, sejenak kemudian ia melunturkan senyumannya. Mimik wajahnya mulai berubah lebih serius dari sebelumnya. “Sialnya, semua ini hanyalah ilusi. Haaargggh!” Dia mengaum lantang, hingga seketika pemandangan ilusi tentang penduduk desa yang aman tentran, kini musnah.
Desa yang tadinya terlihat damai dan tentram, beserta penduduknya yang ramah, kini semuanya musnah dalam sekejap. Semua ciptaan ilusi itu menghilang, kini tinggallah penampakan desa yang lusuh. Sangat lusuh, dari penampilan yang dilihat oleh Yi Cai, dan kedua temannya saat pertama kali menginjakkan kaki ke dalamnya.
“Ternyata, beginilah penampilan asli desa ini. Desa ini hanyalah desa terlantar yang lama tak berpenghuni. Semua hanyalah perangkap ilusi,” gumam Yi Cai seraya memainkan logika dan asumsinya.
“Yi Cai, apa dari awal … kita sudah tertipu?” tanya Jia Yun.
“Bagaimana menurut kalian? Bukankah semua ini menakjubkan? Dengan kekuatanku, aku bisa menciptakan kemakmuran yang diidamkan banyak orang. Bagaimana? Apa kalian tertarik? Jika kalian tertarik, aku pasti akan membantu kalian mewujudkan satu persatu keinginan kalian. Semua yang ada di di dunia ini tidak akan mustahil untuk kalian miliki. Kalian cukup hebat untuk membantu rencanaku. Jika kalian bersedia menjadi pengikutku, aku akan mewujudkan semua yang kalian inginkan.” Membujuk Yi Cai dan Jia Yun.
Serempak Jia Yun dan Yi Cai beradu tatapan. Yi Cai pun angkat bicara terlebih dahulu, “Jia Yun, tetap tenangkan pikiran dan batin. Bujukannya sangat kuat. Dia tidak sekadar membujuk, tetapi juga memanipulasi pikiran kita.” Yi Cai memperingati Jia Yun tatkala dia menyadari bahwa Jia Yun terlihat mulai terpengaruh.
Yi Cai dapat menyadarinya lewat tatapan mata Jia Yun yang mulai sayu. Kekuatan spiritual Yi Cai dan Jia Yun sangat lemah karena energi kuat yang menahannya dari dalam dan luar. Itulah mengapa, keduanya akan mudah terpengaruh bujuk rayuan dari sesosok yang menyerupai Jia Rong. Akan tetapi, jangan lupa selain Yi Cai berlatih kultivasi pedang dan kultivasi hati, dia juga menerapkan kultivasi roh pelindung.
Alasan mengapa banyak kultivator yang memilih berlatih lewat jalan roh pelindung dibandingkan pedang, yakni sesuai dengan namanya, roh pelindung. Roh pelindung akan melindungi tuannya dengan sekuat jiwa raga. Roh pelindung tidak mudah terpengaruh dengan segala macam ilusi dari energi spiritual jahat yang tercipta di dunia. Namun, satu kelemahannya, jika roh pelindung kalah dan tak berhasil menyelamatkan tuannya, maka pemiliknya pun akan mati bersama roh pelindungnya.
Apa yang direncanakan oleh Yi Cai kali ini?
Mungkinkah, dia akan mengalihkan kultivasi roh pelindung cadangannya?
“Jia Yun!” serunya berusaha menyadarkan Jia Yun yang semakin terlena dengan bujuk rayu makhluk yang menyerupai Jia Rong. “Jia Yun!” sentak Yi Cai.
“Arrrrghhh! HIAAAATTTT!!!!” Tanpa aba-aba, Jia Yun menyerang Yi Cai, hingga membuat Yi Cai terpental jauh karena pukulan kuat dari Jia Yun.
“Srtttt … sakit sekali,” lirihnya. Namun, Yi Cai tak ingin berlarut memperhatikan rasa sakitnya. Karena, tak ada waktu untuk semua itu.
Jia Yun telah berubah. Dia terpengaruh dengan energi jahat yang mulai merasuk ke dalam tubuhnya. Dia tak mengenali teman, ataupun lawan. Terlebih, dia menganggap Yi Cai sebagai musuhnya. Kali ini, keselamatan Yi Cai benar-benar terancam.
Di sisi lain, makhluk yang menyerupai Jia Rong tengah menampilkan senyum semiriknya. Meski dia gagal mempengaruhi keduanya, dia berhasil mempengaruhi salah satunya.
Yi Cai tak terpengaruh bujuk rayunya. Sedangkan Jia Yun, kini pikirannya telah berhasil dimanipulasi oleh makhluk itu. Kekuatan spiritual Jia Yun dikembalikan, kala ia telah berada di bawah pengaruhnya. Itulah mengapa, Jia Yun sempat memberi pukulan keras kepada Yi Cai.
Bagi makhluk licik itu, tak masalah jika Yi Cai tak terpengaruh. Asalkan dia bisa mengendalikan Jia Yun, maka Yi Cai yang lebih lemah pada akhirnya akan bertekuk lutut di hadapannya.
“Jia Yun, sadarlah!!!” teriak Yi Cai, berusaha menyadarkan Jia Yun untuk mengembalikan hati nuraninya.
“Hahahaha!!! Lucu sekali. Hebat, hebat! Kau membuatku takjub. Jika dipikir, kau memang aneh. Kalian adalah seorang kultivator jalan pedang. Aku pikir, tak ada seorang pun yang berhasil lolos dari pengaruh kesadaran spiritual yang dikendalikan olehku. Kau adalah yang pertama. Mungkinkah … kau bukan hanya seorang kultivator jalan pedang? Atau mungkin … kau juga mengamalkan kultivasi roh pelindung? Aiihh … kau sangat berani,” pujinya secara berlebihan, walau ia tak berniat untuk memberi pujian melainkan sindiran.
“Siapa kau? Apa yang kau rencanakan pada kami?!” sentak Yi Cai.