
“Kita harus menemukan tabib sihir,” ungkap Yi Cai.
“Yi Cai, apa kau gila? Di tengah hutan seperti ini, bagaimana kita bisa menemukan seorang tabib?” Jia Yun benar-benar tak habis pikir tatkala mendengar pernyataan dari Yi Cai.
“Kita pasti bisa menemukannya. Sebelum itu … .”
Belum sempat Yi Cai menyelesaikan perkataannya, Jia Yun bergegas bangkit dari posisinya dan mencengkram erat kedua bahu Yi Cai.
Jia Yun menatap manik mata Yi Cai dengan tatapan terhunus seraya berkata, “Yi Cai, aku tidak ingin menunda waktu lagi. Jika aku sendiri dapat menyelamatkannya, maka beritahu aku bagaimana caranya. Mencari tabib sihir hanya akan menunda waktu dan memperparah kondisinya. Jika aku bisa melakukannya, aku tidak perlu bantuan darimu lagi. Kau cukup memberitahuku bagaimana caranya. Aku sendiri yang akan melakukannya. Yi Cai, tolong bantu kami. Terakhir kali ini saja. Aku mohon,” pinta Jia Yun dengan sungguh-sungguh.
Bukannya Yi Cai tak ingin membantunya, tetapi ia pun tak tahu cara teraman lainnya, selain menemukan tabib sihir untuk Jia Rong.
Yi Cai menatap tubuh Jia Rong sekilas, sejenak kemudian menatap wajah Jia Yun yang tetap serius memohon kepadanya. Lalu, Yi Cai pun angkat bicara, “Jia Yun, bukannnya aku tidak ingin memberitahumu. Sejujurnya, selain dengan cara merawat Jia Rong kepada tabib sihir, aku benar-benar tidak tahu cara teraman lain untuk menyelamatkannya,” ungkap Yi Cai.
“Bohong! Yi Cai, jangan membohongiku. Aku tahu kau adalah orang yang berpengetahuan luas. Kau pasti memiliki jalan lain, meskipun jalan itu berbahaya. Seberbahaya apa pun jalannya, aku pasti akan melakukannya. Aku harus menolong Jia Rong, meski harus mengorbankan nyawaku sendiri,” cetus Jia Yun.
“Apa kau bodoh?! Untuk apa kau menyelamatkannya, jika kau sendiri harus mengorbankan nyawamu? Kau pikir … Jia Rong akan senang jika kau melakukan pengorbanan seperti itu? Berpikirlah lebih logis, sekalipun kita dihadapkan sesuatu yang sulit untuk dihadapi. Lalu, bagaimana misalkan Jia Rong berhasil diselamatkan dengan mengorbankan nyawamu sendiri? Seperti kau yang tidak ingin kehilangannya, Jia Rong juga pasti tidak ingin kehilanganmu! Alhasil, dia hanya akan terus hidup menderita dan tersika ketika dia tahu bahwa kau mengorbankan nyamu, hanya demi menyelamatkannya. Berhenti melakukan tindakan bodoh dan diam saja jika kau tidak mengetahui apa pun. Di samping itu, aku juga tidak sehebat itu. Jujur, aku tidak sehebat yang kau bayangkan. Aku bahkan hanya seorang kultivator tingkat rendah, tidak seperti kalian. Jangan terlalu memandang tinggi diriku. Kenyataannya membuatku merasa malu,” balas Yi Cai. Ia terlihat sedih mengucapkannya.
Di saat seperti ini, berdebat dengan Jia Yun bukanlah hal tepat yang harus dia lakukan. Apa pun itu, selama bisa meringankan kondisi Jia Rong, Yi Cai harus mengusahakannya.
Dia pernah mendengar jika bunga patah hati dapat membantu menyeimbangkan energi Qi dalam tubuh seorang kultivator. Di tenga hutan seperti tempat mereka berada saat ini, Yi Cai sangat yakin jika dia dapat menemukan tumbuhan bunga patah hati yang pernah dia baca di dalam buku pengobatan tradisional seorang kultivator.
“Jia Yun, kita harus mencari bunga patah hati,”himbau Yi Cai.
Sontak Jia Yun yang tadinya terlihat putus asa, kini membinarkan kedua manik matanya. Dia menatap Yi Cai dengan penuh harap.
“Bunga patah hati? Untuk apa? Apa bunga itu akan membantu memulihkan kondisi Jia Rong?” cecarnya.
“Baiklah, tidak masalah. Selama bisa menyelamatkannya, meski hanya sementara, kita tetap harus melakukannya,” cetus Jia Yun.
Tanpa banyak bicara dan omong kosong lagi, Yi Cai dan Jia Yun pun berpencar untuk mencari bunga patah hati, setelah mereka menempatkan Jia Rong di tempat teraman.
***
“Putri Tao Hua, apa kau tidak berpikir untuk kembali ke sekte?” tanya seorang pelayan yang senantiasa mengikutinya.
“Hekh!” Gadis yang disebut dengan nama Tao Hua itu menyeringai kesal. “Kenapa harus kembali? Aku sudah sangat bosan tinggal di sekte yang suram itu. Kenapa juga aku harus terlahir di tempat suram yang mengekangku setiap hari? Bisa bebas seperti ini … untuk apa kembali? Apa aku gila?” celetuknya.
“Tapi Putri … bagaimanapun, tempat itu adalah rumahmu. Puan pasti akan mengkhawatirkanmu jika kau terus berkeliaran seperti ini,” ujarnya memberikan nasihat.
Sontak saja, perkataan pelayannya membuat Tao Hua terhening dalam diamnya. Tatapannya tidak fokus, dia berusaha menahan airmata yang hampir berlinang membanjiri pipi ranum merona miliknya.
“Ayah … dia tidak mungkin mengkhawatirkanku. Mengurungku seperti itu sudah membuktikan jika di malu memiliki anak sepertiku. Aku hanya seorang gadis lemah yang tak memiliki bakat apa pun di matanya. Sudah 10 tahun lebih dia tak pernah berbicara padaku dan terus mengurungku. Untuk apa dia mengkhawatirkanku? Aku yakin jika ia sendiri lupa bahwa dia memiliki seorang putri,” tuturnya, suaranya terdengar sendu.
“Putri … Puan tidak seperti yang Anda pikirkan. Puan pasti memiliki alasan lain untuk tetap mengekang kebebasanmu. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya dan sampai melupakannya. Semua hanya untuk kebaikan Anda,” ujar pelayannya.
“Xiao Liu, kau adalah pengikutku sejak kecil. Seharusnya, kau membelaku dan selalu berada di pihakku. Kenapa aku merasa seakan-akan kalian semua merundungku? Aku pikir, aku akan menjadi satu-satunya orang yang berada di pihakku, tapi ternyata … kau sama dengan mereka. Kebaikanku, kebaikanku, lagi-lagi kebaikanku. Berhenti mengatakan omong kosong semacam itu! Aku sudah sangat muak mendengarnya. Kebaikan semacam apa yang kalian sebutkan demi diriku? Mengurungku setiap hari tanpa seorang pun teman? Mengekang kebebasanku menghirup udara segar? Apa bedanya dengan dijadikan tahanan tak berguna? Dibandingkan menjadi tahanan tak berguna, sudah seharusnya aku melarikan diri dari tempat mengerikan itu!” cetusnya dengan nada ketus karena kekesalan telah membangkitkan emosinya. “Xiao Liu, jika kau tetap berpikiran seperti itu, tidak ada gunanya kau mengikutiku. Aku tidak butuh siapa pun yang tak berada di pihakku. Kau bisa kembali dan biarkan aku pergi sendiri!” perintahnya.
“M-maaf, Putri. Jika perkataanku cukup menyinggung, mohon maafkan. Tugasku adalah melindungi Anda. Aku tidak akan kembali dan membiarkan Anda berkeliaran di hutan yang luas ini, tanpa seorang pun pelindung,” pintanya memohon pengampunan dari tuannya.
“Baguslah jika kau sadar dengan perkataanmu. Tapi ingat, jika sekali lagi kudengar kau mengatakan omong kosong dan memintaku kembali, aku tidak segan-segan mengusirmu. Biarkan saja aku mati di alam liar, daripada mati membusuk di dalam rumah yang seperti sel penjara,” cetusnya.