
“Kalau begitu, Yi Cai … bagaimana menurutmu tentang hal ini? Apa kau punya rencana?” tanya Jia Rong seraya menampilkan senyum misterius.
Pertanyaan dari Jia Rong sontak membuat Yi Cai menajamkan netranya, membelalak menatap wajah Jia Rong dan Jia Yun secara bergantian.
Yi Cai menunjukkan telunjuknya ke depan dadanya sendiri sembari berkata, “Aku? Apa kau meminta pendapatku?” Yi Cai mengulanginya untuk memastikan jika Jia Rong benar-benar mempertanyakan hal yang dibahas kepadanya.
“Ya, kau. Siapa lagi? Jia Yun, maksudmu? Aihhh … tidak mungkin dia buka suara. Dia tidak suka berpendapat, lebih banyak melakukan tindakannya,” ujar Jia Rong.
Tidak tahu harus mengatakan apa. Yi Cai pribadi tidak terlalu mengerti dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. Jikalau pendekar kembar Jia Rong dan Jia Yun tak memberitahunya, ia pasti tidak tahu dan tidak ingin ikut campur ke dalamnya.
“Aku … sebenarnya aku … .” Yi Cai sengaja menggantung perkataannya, di samping Jia Rong dan Jia Yun yang semakin serius menyimaknya. “Aku … aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak tahu masalah politik dan peperangan, apalagi tentang insiden penculikan. Asal kalian tahu, aku juga baru datang ke Yongzhou,” ungkap Yi Cai berterus terang.
Seketika, keduanya berhenti memasang sikap seriusnya.
“Aiihh … aku kira kau orang yang telah lama menetap di Yongzhou,” balas Jia Rong sembari menghela nafasnya.
“Maaf, ya. Aku sendiri bukan warga asli Negara Yongzhou. Aku hanya seorang pengelana yang tinggal jauh dari kerumunan manusia,” ungkap Yi Cai.
“Jadi begitu. Tidak masalah. Kita bisa menyelidiki masalah ini secara bersamaan. Apa kau bersedia ikut perburuan malam bersama kami?” tawar Jia Rong.
Yi Cai membisu. Ia sedikit ragu, antara iya, dan tidak. Dalam dirinya, selain tujuannya untuk mencari gurunya yang tak lain Master Topi Bambu, ia tak memiliki tujuan lain.
Dia harus segera menemukan gurunya. Namun, ia pun tak tahu harus mencarinya di mana. Di samping itu, Yi Cai pun tak terlalu memahami rute-rute Yongzhou.
“Sejujurnya, aku memiliki alasan datang ke Yongzhou. Tapi, sudahlah. Aku akan ikut bersama kalian. Tapi, jangan salahkan aku ya, jika nantinya hanya menjadi beban,” ujar Yi Cai mersa tidak enak.
“Eheyy … untuk apa kau menjadi beban. Dalam pertemanan, tidak ada yang dinamakan beban. Jika teman kita mengalami kesulitan, sudah sewajarnya kita membantunya. Benar, begitu?” tutur Jia Rong.
“Teman?” Kata itu sungguh menyentuh hati Yi Cai. Tidak disangka, jika ada orang yang menyatakan pertemanan dengannya.
“Ya, teman. Kita bertiga duduk seperti ini, apa tidak layak disebut teman? Kita sudah duduk selama lebih dari satu jam. Itu artinya, kita telah berteman selama itu,” cetus Jia Rong.
“Kalian … .” Yi Cai tak bisa berkata-kata, selain kedua matanya yang menampilkan bening berkaca-kaca. Dia benar-benar terharu dengan kebaikan Jia Rong dan Jia Yun kepadanya.
“Yaampun. Jangan bilang kau ingin menangis. Cengeng sekali,” ledek Jia Yun dengan suara datarnya.
“Huss! Jia Yun!” tegus Jia Rong.
“Kenapa? Apa yang kukatakan salah? Yi Cai ini sangat berlebihan. Begitu saja sudah membuatnya terharu,” celetuk Jia Yun.
“Tentu saja aku terharu. Kalian tidak mengerti apa yang kurasakan. Memiliki seorang teman, ternyata sangat membahagiakan sekali,” ungkap Yi Cai, sembari berusaha menahan airmatanya agar tak pecah.
“Aihh … sangat berlebihan,” celetuk Jia Yun.
“Sudah, sudah. Sepertinya, kita terlalalu lama bersantai seperti pengangguran. Ayo! Kita harus segera berangkat!” himbau Jia Rong.
Tanpa banya berkata, ketiganya pun bergegas bangkit dari tempatnya, setelah Jia Rong menaruh beberapa uang koin di atas meja.
Mereka bertiga berlalu meninggalkan kedai. Sebenarnya, mereka tidak tahu tujuan mereka. Namun, satu hal yang teringat di benak mereka pertama kali, yang harus mereka periksa adalah kamp tempat para pengungis berlindung.
“Jia Rong, apa sebaiknya kita bertanya ke penduduk setempat? Mereka pasti tahu,” usul Jia Yun.
“Ah, benar. Bodoh sekali. Kenapa aku tidak kepikiran ya?” umpat Jia Rong kepada dirinya sendiri.
“Tidak sekalian kita bertanya kepada pelayan kedai the tadi,” gumam Yi Cai.
Perkataan Yi Cai terdengar begitu jelas di telinga Jia Rong dan Jia Yun. Pada saat itulah, mereka menyadari kebodohan dan kelalaian mereka sendiri.
“Sebaiknya, kita bertanya kepada siapa?” tanya Jia Rong.
“Siapa saja yang kita temui,” jawab Yi Cai.
“Siapa yang bakal kita temui di tengah hutan seperti ini?” balas Jia Rong.
Krik ... krik … krik … Suara jangkirik hutan terdengar begitu nyaring. Karena berjalan terlalu jauh tanpa tujuan, mereka pun tidak sadar jika mereka telah mengambil rute di tengah hutan. Mereka baru menyadarinya setelah memperhatikan ke sekelilingnya.
“Ah, benar juga. Sekarang, kita berada di tengah hutan,” gumam Yi Cai sembari menggaruk-garuk kepalanya yang terasa tak gatal sama sekali.
“Jia Yun, kau pasti membawa kompas penunjuk arah. Berikan padaku!” perintah Jia Rong.
Jia Yun mengernyitkan alisnya, karena heran dan penasaran dengan alasan Jia Rong yang ingin meminjam kompas penunjuk arahnya.
“Kenapa? Kenapa aku harus memberikannya padamu?” tanyanya.
“Aku ingin merusaknya!” cetus Jia Rong.
“Hei, tidak akan kuberikan jika kau hanya ingin merusaknya. Mimpi saja!” celetuk Jia Yun sembari menatap Jia Rong dengan tatapan terbelalak.
“Bodoh! Untuk apa juga aku meminjamnya, jika hanya ingin merusaknya? Kegunaan kompas penunjuk arah untuk apa? Tentu saja untuk mencari arah. Banyak tanya! Cepat berikan!” desak Jia Rong.
Meski sedikit kesal dengan perkataan Jia Rong yang semena-mena, tetapi sedikit segan ia akhirnya memberikan kompas penunjuk arah miliknya kepada Jia Rong.
“Nah!” Jia Yun memberikan kompas penunjuk arah miliknya kepada Jia Rong.
Jia Rong bergegas menyambutnya. Tak ingin mengulur waktu lebih lama, Jia Rong langsung menggunakan kompas penunjuk arah milik Jia Yun untuk menemukan arah mata angin.
Untuk membuat kompas penunjuk arah mata angin bergerak dan menunjukkan fungsinya, Jia Rong harus menggunakan kekuatan magisnya sebagai pemicu.
Selanjutnya, Jia Rong menyalurkan sihirnya kepada kompas penunjuk arah tersebut. Tatkala jarum kompas penunjuk arah itu bergerak, itu pun berhenti tepat di pusatnya yang menunjukkan arah Utara.
“Di sana arah Utara,” tunjuk Jia Rong ke arah jarum jam 12.
Sedangkan Yi Cai, dia hanya terdiam merenung. Ia tidak tahu alasan Jia Rong menggunakan kompas penunjuk arah untuk mencari arah mata angin.
“Lalu, apa hubungannya dengan mencari kamp para pengungsi?” tanya Yi Cai.