
"Aisshhh ... Yi Cai! Kau ini memang egois, ya!" protes Jia Yun.
"Hei, perhatikan kata-katamu! Aku sudah menyelamatkan kalian berdua. Beraninya kau ... Mengatai aku egois?! Hei! Seharusnya aku biarkan saja roh jahat itu menghisap kering darah kalian. Atau ... Kubiarkan saja roh jahat mengendalikan tubuh Jia Rong. Di samping itu, aku juga sudah menyalurkan setengah energiku untuk menyadarkanmu. Seharusnya aku biarkan saja kalian terkubur di gua itu." Yi Cai tidak terima dengan perkataan Jia Yun yang mengatakan bahwa dirinya egois. Oleh sebab itu, dia menimbang satu persatu kebaikannya dengan bangga.
"Aiiih ... Jika kau tidak ikhlas, kau bisa meninggalkan kami saja. Kenapa juga harus menolong kami? Lebih baik tinggalkan saja," balas Jia Yun.
"Hei, Kau! Aiiissh, sudahlah." Yi Cai hampir menaikkan nada bicara, tetapi ia mengurungkan niatnya karena tak ingin memperpanjang perdebatan tak tak berguna. "Malas berdebat denganmu. Andai kubiarkan saja kalian mati konyol di tangan roh jahat," gerutunya dengan nada pelan.
"Sudahlah, aku masih waras. Aku yang harus mengalah. Bagaimana pun, Terimakasih," ucap Jia Yun.
"Tidak, aku tidak perlu ucapan Terimakasih darimu. Seharusnya benar-benar harus meninggalkanmu saja," celetuknya.
"Kau tidak akan melakukannya," sahut Jia Yun.
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Yi Cai dengan tujuan menguji Jia Yun.
"Tidak ada alasan lain. Alasannya, karena itu kau. Kau tidak akan pernah membiarkan orang lain dan menyelamatkan diri sendiri. Sekalipun tujuanmu bukan untuk menyelamatkan kami, tapi aku yakin kau tetap akan menghancurkan roh jahat biasa itu. Kenapa? Karena kau tidak ingin membiarkan kejahatan merajalela dan mengacuhkannya begitu saja. Jika kau membiarkan roh jahat itu tetap bebas, sudah pasti akan terjadi huru-hara. Bukan hanya tentang menghilangnya para pengungsi dan seluruh penduduk desa itu, tetapi mungkin akan ada target lain yang dituju. Kau pasti tidak ingin hal itu terjadi. Bukan begitu? Ya, karena itu kau. Kau seperti itu," tutur Jia Yun.
Yi Cai tertegun tak bisa berkata-kata, ketika Jia Yun mengemukakan pendapatnya tentang dirinya, di samping Yi Cai yang tak memahami dirinya sendiri.
"Hei, kau! Berlebihan sekali. Aku tidak sebaik yang kau bayangkan. Seperti yang kau katakan, aku adalah orang yang egois, itulah diriku yang sebenarnya." Yi Cai berusaha menyangkal penilaian Jia Yun tentangnya.
"Siapa juga yang berpikir kalau kau baik? Aku hanya mengutarakan pendapatku saja. Kau saja yang terlalu percaya diri. Akhirnya kau mengakui betapa egoisnya dirimu," balas Jia Yun.
"Hei!"
"Dingin sekali ... Dingin. Sangat dingin." Jia Rong meracau secara tiba-tiba.
"Jia Rong, apa kau sudah sadar?" tanya Jia Yun.
Jia Yun bergegas memeriksa kondisi Jia Rong ketika ia mendengar Jia Rong mengatakan sesuatu.
"Tidak, Jia Rong belum sadarkan diri. Sepertinya, dia akan sedikit merepotkan," ucap Yi Cai.
"Tenang saja, kau urus saja dirimu sendiri. Aku yang akan mengurusnya," balas Jia Yun.
"Eh?" Yi Cai tak mengatakan apa pun lagi, ketika Jia Yun mendorong tubuh Yi Cai dan mengambil alih posisinya untuk berada lebih dekat dengan Jia Rong.
'Perlu elemen api untuk menghangatkan tubuh Jia Rong. Tapi, elemen api dalam tubuhku tidak stabil karena baru saja membaurkannya menjadi elemen air. Elemen api dalam tubuhku sangat lemah. Jika kau memaksakan diri untuk menghangatkan tubuh Jia Rong dengan elemen api dari energi di dalam tubuhku, takutnya ... Bukannya malah menghangatkannya, aku malah memperparah kondisinya,' batin Yi Cai.
Meskipun Jia Rong telah berhasil diselamatkan, tetapi energi dingin milik roh jahat yang mengaliri darahnya belum sepenuhnya dinetralkan. Perlu energi elemen api untuk menghangatkannya. Akan tetapi, tetap tak bisa dilakukan secara asal.
Roh jahat memiliki dari suku iblis memiliki elemen api. Namun, tidak dipungkiri bahwa energi dingin akibat sentuhan dari roh jahat, monster, atau makhluk sejenisnya, eneng dingin mereka pasti akan sangat berpengaruh terhadap darah manusia yang hangat.
Sedang memanaskannya dengan elemen api, juga bukanlah sesuatu yang baik. Di samping, Jia Rong bukanlah seorang manusia biasa, melainkan seorang kultivaror yang melatih budidaya di jalan pedang.
Resep penyembuhan energi Qi dalam tubuhnya pun sudah pasti berbeda dari manusia normalnya. Dia memerlukan seorang tabib kultivator.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" terus Yi Cai tatkala dia melihat aku Jia Yun yang hampir saja menyalurkan energinya kepada Jia Rong.
Jia Yun melirik Yi Cai sekejap, tetapi ia tampak tak perduli lagi. Ia pun berkata, "Aku harus menyelamatkannya bagaimanapun caranya. Membiarkannya seperti ini tidak akan membuat energi dalamnya netral," cetus Jia Yun.
"Jia Yun, hentikan!" sentak Yi Cai.
"Kau tidak perlu memgkhawatirkan kami. Sekiranya kau berpikir bahwa kami adalah beban, maka tinggalkan. Tinggalkan saja kami!" cetus Jia Yun.
Di saat seperti ini, tak ada yang bisa mengalahkan kekeraskepalaan Jia Yun. Walaupun dia sering bertengkar dengan Jia Rong, bagaimapun Jia Rong adalah satu-satunya keluarga yang dia punya. Jia Yun tidak akan membiarkan Jia Rong menderita, juga tidak akan membiarkan tersiksa hingga mati karena ketidakseimbangan energi Qi dalam tubuhnya.
Energi Qi dalam tubuh seseorang yang tak seimbang, memang tak bisa diremehkan. Jika energi semakin tak seimbang dan saling bentrok, saling melawan antara panas dan dingin, maka pembuluh darah akan pecah dan meledak. Jia Yun tak ingin hal itu terjadi kepada Jia Rong.
"Jia Yun, hentikan! Dengarkan penjelasan dulu!" Sedangkan Yi Cai pun tak ingin Jia Yun bertindak impulsif tanpa memikirkan sebab-akibat terlebih dahulu.
"Tidak ada banyak waktu. Aku harus segera membantunya menyelaraskan energi tubuhnya. Yi Cai, jangan menghentikan!" larang Jia Yun.
"Jia Yun, kau harus memikirkan terlebih dahulu. Jangan bertindak impulsif tanpa memikirkan detail-detail tertentu. Kau ... Apa kau ingin energi dalam tubuh Jia Rong semakin bentrok? Lalu, apa yang akan terjadi? Bukannya semakin membuat keadaannya semakin membaik, tapi kau akan semakin memperparahnya. Bahkan, energinya akan meledak. Aku haya tidak ingin kau menyesal dan merasa bersalah karena sesuatu yang kau lakukan tanpa kau pikirkan," tutur Yi Cai.
Perkataan Yi Cai sepontan menghentikan tindakan Jia Yun. Dia berhenti mengalirkan energinya ke dalam tubuh Jia Yun. Ia menatap lurus ke depan, dengan tatapan kosong. Ia terlihat tak berdaya dan putus asa.
Di samping, dia sangat mengkhawatirkan kondisi Jia Rong yang semakin tak stabil. Benar yang dikatakan oleh Yi Cai. Energi yang disalurkan oleh Jia Yun, bukannya semakin membuat Jia Rong membaik, tetapi membuat Jia Rong melihatnya semakin memburuk.
Kemudian, Jia Yun mengangkat kepalanya, menatap Yi Cai dengan tatapan putus asa.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Jia Yun dengan mata berkas-kaca.